
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau berbicara soal Grizelle, maksudku, dia terlalu rajin belajar. Padahal setahuku, lebih baik setidaknya dia berjalan beberapa meter lalu duduk lagi, atau bisa juga belajar sambil berjalan santai. Kenapa? Karena itu bisa memperlancar peredaran darah, sepertinya begitu.
Sebelum duduk di kursi, aku sempat menghentikan langkah saat berada di dekatnya.
“Ayo ikut aku, Grizelle?”
“Ke mana?” Dia menatapku dengan mata yang meragukan.
“Ke luar, berkeliling. Kau pasti juga belum tahu lingkungan sekolah ini.”
Dia malah menghembuskan napas tanpa menjawabnya, tapi melihat dari wajahnya, tentu saja dia sedang menolak.
Dari awal niatku memang cuma bercanda, sudah bisa kuduga jika Grizelle tidak akan mengiyakan ajakanku. Lagi pula aku juga tidak tahu semuanya tentang sekolah ini, jadi jika misal dia memilih untuk tidak menolak, maka semuanya akan berakhir.
Ketika memilih untuk duduk, sambil menyiapkan kursi aku berkata, “Seharusnya kau membaca ulang semua buku yang membahas tentang keinginan manusia.”
Dia kembali menoleh dengan wajah yang dingin, sehingga aku jadi benar-benar kedinginan. Aku mulai berpikir kalau dia adalah tipe orang yang paling tidak suka diremehkan oleh orang yang dianggap lebih rendah. Artinya, dulu dia kan sempat menyuruhku membaca buku yang membahas tentang keinginan manusia, dan sekarang malah aku yang menyuruhnya untuk membacanya.
“Apa maksud dari kalimat itu?”
Saat dia bertanya demikian, dugaanku jadi semakin diperkuat.
“Kalau kau berpikir bahwa keinginan manusia hanya didasari oleh tiga hal, maka kau salah besar.”
“Bukankah yang tertera pada kebanyakan buku selalu berkata demikian? Aku pikir kau yang salah dalam hal ini.”
“Seiring dengan perkembangan zaman, ada beberapa keinginan yang hilang, sedangkan dari kehilangan tersebut, terlahir sebuah keinginan yang baru. Jadi pada dasarnya buku lama yang masih populer bukan berarti dapat dijadikan sebagai tolak ukur. Aku yakin kau membelinya karena itu cukup laku belakangan ini, jadi seolah isinya tercermin pada harapanmu dalam proses pemilihan.”
“Kau mengatakan sesuatu yang tidak penting, aku sudah mengetahuinya. Tapi dari caramu berbicara—tidak, kau berada di peringkat berapa dalam tes penerimaan?”
Pertanyaan yang sulit, bukan sulit mencari jawabannya tetapi cara agar aku bisa mengatakan jawabannya. Mau bagaimanapun, peringkat yang kudapatkan bukan sesuatu yang bisa dikatakan dengan penuh kebanggaan. Terkecuali jika Grizelle juga punya prestasi yang buruk, tapi aku bahkan tidak bisa membayangkan kalau itu memiliki kemungkinan untuk terjadi.
“Kalau yang kau maksud tes pendaftaran, aku itu berada di atas 50.”
Meski setelah mendengarnya ekspresi Grizelle hanya sedikit berubah, aku tahu dia sedang mengejekku di dalam hatinya.
“Tapi berapa tepatnya?”
“... Sepertinya di 99.”
Seharusnya malu, tapi aku bersyukur. Bukan tanpa alasan, karena sekarang Grizelle tersenyum. Sebuah ekspresi yang baru darinya, benar-benar manis melebihi gula. Aku pikir itu adalah dia saat tertawa, meluapkan semuanya melalui sebuah senyum yang tulus. Tidak bisa kubayangkan juga jika dia sampai tertawa, apalagi terbahak-bahak. Jadi aku pikir saat ini dia benar-benar menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk dimiliki.
Perlahan senyuman itu mulai hilang menuju pada wajah normalnya yang dingin di mana seolah menggambarkan ketenangan.
Dan seperti biasanya, saat mengobrol denganku dia masih saja menyempatkan waktu untuk belajar. Kebanyakan juga terjadi bersamaan ketika suaranya keluar tanpa menatapku, jadi responsnya sangat lambat, karena setidaknya butuh beberapa detik sebelum dia akhirnya menanggapiku. Namun, pada dasarnya aku hanya pengganggu yang selalu ingin agar dia terbebas dari sangkarnya, jadi aku tidak merasa sakit hati.
“Bagaimana denganmu?”
“Aku 11.”
“Eh, aku pikir lebih tinggi dari itu.”
Tidak heran karena melihat pada kegiatan Grizelle yang setiap hari hanya diisi dengan belajar dan belajar, seharusnya namanya terletak di urutan 10 ke bawah. Anggapanku sih, sangat jarang ada seseorang yang mau menghabiskan waktunya hanya untuk satu hal saja, karena itu aku pikir setidaknya dia bisa lebih tinggi. Tapi jika berbicara tentang bakat pada diri masing-masing orang, aku tidak bisa menyangkal berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Sebenarnya dengan belajar juga belum tentu dapat membuat seseorang berada di puncak, jelas karena kenyataannya memang begitu.
Menurutku, yang dibutuhkan seseorang untuk berkembang dalam waktu singkat adalah penyesuaian. Bagaimanapun itu sangat perlu, misal seekor singa di lingkungan barunya, hewan yang dijuluki Raja Hutan tersebut pada akhirnya akan kalah jika tidak beradaptasi. Sedangkan hewan-hewan kecil lainnya yang cerdik, membiarkan waktu terus berjalan untuk menyebarkan koloni mereka, sehingga berkembang menjadi sebuah keberadaan yang tidak bisa dianggap remeh.
Mendasarkan hal tersebut kepadaku, kalau aku sih bukan penyesuaian, hanya saja pada kenyataannya memang mendapatkan peringkat yang kurang bagus. Tapi kalau dipikir-pikir ada juga kelebihan dengan aku seperti itu, karena akan mempermudahku dalam bergerak.
Ketika percakapan kami berhenti untuk sementara waktu, aku mengambil Kartu Identitas yang berada di dalam tas. Untuk berjaga-jaga siapa tahu aku tiba-tiba lupa lagi, langsung saja aku memasukkannya pada saku. Di sana ada uang yang seharusnya menjadi milik Grizelle, jadi aku menggunakan saku yang lain untuk Kartu Identitas.
Selesai dengan itu, aku kembali menutup tas sehingga terdengar bunyi yang khas. Tetapi tiba-tiba, seseorang membuka pintu kelas dengan sangat keras, itu membuatku terkejut, apalagi ketiga orang yang duduk cukup dekat di sana.
Yang melakukannya adalah kakak dari Grizelle, wajahnya terlihat sedang terburu-buru sekarang.
Saat sampai pada Grizelle dengan langkah kaki yang ditekan—di sampingku sekarang—dia mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya.
“Berikan uangmu!”
Itu benar-benar membentak, sehingga membuat ketiga laki-laki yang tadi mengobrol pergi agar tidak berimbas pada mereka.
Aku pikir aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Kebingungan untuk melakukan apa karena dituntut untuk berpura-pura mengabaikan, dapat membuat siapa pun merasa tidak enak. Lagi pula jika bukan termasuk sesuatu yang perlu diurusi, mengabaikan merupakan jalan terbaik yang bisa dipilih.
Bahkan sekarang aku jadi kebingungan untuk merespons. Memilih pergi dan melihat saja Grizelle dipukul seperti waktu itu, atau diam di sini untuk melakukan sesuatu tergantung pada situasi. Jelas dari kedua pilihan tersebut, aku akan memilih untuk diam dengan menyiapkan sebuah tinju jika misal laki-laki yang Grizelle panggil kakak tersebut mencoba melakukan hal yang macam-macam.
“Tapi aku masih membutuhkannya untuk membayar—“
“Cepatlah, aku sedang terburu-buru!”
Yang membuatku heran, kenapa Grizelle sampai setakut itu. Dia jauh berbeda dengan dirinya yang biasa, seolah ada rasa bersalah di dalam dirinya. Padahal saat kami berbicara, dia selalu mencerminkan bagaimana model seorang wanita sempurna yang tidak bisa diremehkan. Namun, pada kenyataannya saat dia berbicara dengan laki-laki itu, betapa lemahnya dirinya.