
Ketika kebosanan hampir memakanku seutuhnya, ada sesuatu yang membuatku sempat berpikir kalau hari ini tidak terlalu buruk. Tepatnya saat aku secara sengaja memasukkan salah satu tangan ke kolong meja, terdapat sebuah surat. Waktu melihatnya dari dekat secara diam-diam, itu terlihat seperti sebuah surat pernyataan cinta, warnanya merah muda serta ada tanda love di beberapa bagian. Kalau hanya surat berwarna putih polos, sudah jelas aku akan memilih untuk membiarkannya saja, tetapi ini, benar-benar membuatku haus untuk membukanya.
Di bagian dalamnya, berisi sebuah kertas yang dilipat menyesuaikan volume surat. Aku membacanya dan aku sedih setelahnya. Itu tertulis “Datanglah ke Klub Relawan” dengan menggunakan pena gelap yang tebal.
Apa ini semacam cara baru dalam promosi?
Berpikir demikian, saat melihat kolong meja yang lain ternyata tidak ada. Isi kepalaku kembali dibuat bekerja, siapa yang menduga akan ada undangan khusus semacam itu, setidaknya kekecewaanku jadi sedikit berkurang. Dan juga, aku jadi punya tujuan yang jelas setelah bel istirahat berbunyi.
Demi mencegah sesuatu yang tidak diharapkan nantinya, surat kembali kurapikan lalu memasukkannya ke dalam saku celana sebagai barang bukti.
Selagi menunggu jarum jam bergerak, hanya melihat dan mendengarkan yang bisa kulakukan. Saat-saat seperti ini, aku benar-benar tidak menyukainya, terlalu membosankan. Meski keinginan setinggi langit, yang bisa kuperbuat hanyalah duduk dengan menyanggahkan sebagian tubuh ke atas meja. Rasanya sebentar lagi aku akan terlelap, mata mulai terasa berat dengan kata lain menuntut waktu tidur yang terpakai karena kejadian tadi malam. Namun, sebelum takdir mengizinkanku untuk melakukannya, bel tiba-tiba berbunyi.
Sialan.
Akhirnya dengan bersusah payah aku kembali membenarkan posisi. Sementara menunggu siswa-siswa yang lain keluar dari kelas terlebih dahulu, aku merapikan bajuku karena tampak sedikit berantakan.
Kini, yang masih berada di dalam kelas hanyalah 2 orang, yaitu aku dan perempuan yang sebelumnya memukul meja. Dia terlihat seperti seorang perempuan yang serius, maksudku dalam belajar. Terbukti di saat yang lain memilih untuk beristirahat, dia fokus membaca buku sambil sesekali menulis.
Aku menatapnya dan dia balik menatapku dengan tajam. Pada saat yang bersamaan, dia menyibakkan rambutnya ke belakang telinga.
“Apa ada yang salah?”
“Ti-tidak ada.”
Begitulah akhirnya, percakapan di antara kami hanya berlangsung kurang dari 5 detik. Setelahnya dia kembali membaca buku dengan posisi duduknya yang tegak lurus bagaikan seorang tentara wanita.
Meski berlainan dengan niat awalku yaitu menunggu semua orang sebelum akhirnya keluar kelas, mengingat perempuan di sampingku sepertinya tidak akan berpindah untuk waktu yang lama, aku memutuskan pergi sekarang saja.
Di luar kelas sudah bisa diduga kalau akan ada banyak orang yang berlalu-lalang, walau kebanyakan memilih berjalan satu arah. Tetapi itu bukanlah sesuatu yang unik maupun aneh jika membandingkannya dengan gambar anak panah di depanku.
Seingatku, sebelumnya tidak ada gambar tersebut. Bukan tanpa alasan kenapa aku sampai memikirkannya sekeras ini, karena setelah berjalan searah dengan itu, yang kutemukan adalah hal yang sama. Tepatnya itu muncul beberapa meter dari yang pertama kulihat, sama baik bentuk maupun warnanya. Aku yakin ada semacam tujuan tertentu, misal menggiring seseorang agar sampai di tempat-tempat yang telah ditetapkan.
Bodoh memang, tetapi aku terus mengikutinya hingga pada akhirnya sampai ke halaman sekolah. Dari sini, aku mulai menyadari bahwasanya anak panah tersebut hampir tersebar ke segala penjuru. Omong-omong di luar gedung jauh lebih ramai daripada di dalam, mereka kebanyakan menuju gedung klub yang terpisah dari gedung utama.
Aku kembali melanjutkan penelusuran, ini akan terus berlanjut hingga ujung menunjukkan eksistensinya. Sekarang jalurnya menyamping, aku berjalan selagi mataku menatap ke halaman sekolah yang hampir mirip seperti taman modern yang ada di pusat kota. Meskipun telah berjalan cukup jauh, semuanya masih saja belum berakhir. Namun, aku bisa memastikan satu hal kalau anak panah yang dari tadi kulihat bukanlah mengarah pada lokasi yang berulang, melainkah suatu tempat tertentu yang masih misteri. Hingga melewati lapangan basket, maupun singgah sebentar menyaksikan pertandingan sepak bola di lapangannya tersendiri, aku sadar akan kehadiran sesuatu yang berbeda dengan yang lain.
Saat ini aku sedang berada di depannya, sebuah bangunan yang jauh terpisah. Bentuknya mirip seperti kelas bergaya lama, dan di depannya ada banyak hiasan yang mencolok. Selain itu saat membalikkan tubuh, setiap anak panah yang ada, semuanya mengarah ke sini. Jadi, beberapa hal telah terjawab. Walaupun otakku bisa dikatakan dangkal, apa yang sedang terjadi perlahan-lahan mulai bisa tercerna dengan baik.
Tidak ada bukti yang kuat, tetapi bisa disimpulkan bahwa anak panah yang dari tadi kulihat termasuk bagian dari promosi klub, mungkin surat pada kolong meja juga sama. Aku bisa menarik kesimpulan semacam itu karena pada beberapa pajangan yang berada di sekitar sini, itu tertulis “Klub Relawan” dengan sangat jelas.
Yang mengherankan adalah, kenapa ada sebuah klub yang berdiri di sini? Padahal sudah disediakan gedung tersendiri yang didukung penuh oleh pihak sekolah. Benar-benar mengherankan, tidak ada keuntungan dengan berdiam diri di sini. Jelas sekali siapa yang mau mendatangi klub yang letaknya sangat jauh sampai melewati lapangan, kecuali anggotanya sendiri.
Karena dirasa misteri telah terungkap, aku akhirnya berniat untuk pergi begitu saja. Tetapi sebelum itu terjadi, ada tiga orang dari balik jendela yang menatapku, seolah mereka berharap agar aku setidaknya berkunjung.
Rencana yang bagus, aku pikir apa yang sedang mereka lakukan juga termasuk bagian dari promosi. Dunia sangat mengerikan sekarang, hampir semuanya akan dilakukan hanya demi kepentingan pribadi. Namun, meskipun berpikir demikian, tetap saja tidak enak jika aku mengabaikan mereka dengan pergi begitu saja, lagi pula mata kami sudah saling menatap.
Ah, semoga tidak merepotkan.
Ketika hampir mendekati pintu, mereka hilang, aku harap terus hilang saja karena setelah masuk, telinga langsung disambut dengan bunyi nyaring dari trompet yang ditiup oleh seorang laki-laki tepat di sampingku. Spontan saja aku merunduk seraya menutup rapat-rapat telinga menggunakan telapak tangan.
“Hentikan, ampuni aku!”
Dia akhirnya berhenti sesuai yang kukatakan meskipun disertai dengan tawa kecil seolah menikmati penderitaanku.
Ketika kembali menatap ke depan, ada dua orang perempuan cantik di sana. Ekspresi pada wajah mereka sangat berbanding terbalik, yang satu sadis karena tatapannya tajam sedangkan satunya lagi bahkan tidak menunjukkan satu pun ekspresi di wajahnya. Yang lebih anehnya lagi, di atas kepala mereka bertengger sebuah topi ulang tahun. Pada mulut perempuan yang wajahnya “datar” tersebut, terdapat semacam trompet kecil berbentuk seperti lidah bunglon yang jika ditiup maka akan memanjang. Sebenarnya yang satunya lagi juga punya benda yang sama, tetapi itu hanya digenggam.