
Siapa yang akan menduga jika misal aku datang pagi yang menunggu di kursi Grizelle malah Sherly, bukankah itu mengerikan? Ya, karena rencanaku kali ini sebisa mungkin agar tidak bertemu dengannya. Lalu bagaimana jika aku pergi saat istirahat pertama? Itu malah lebih buruk, karena kembali seperti sebelumnya, Grizelle akan tetap bersembunyi di balik keramaian, mengingat waktu 15 menit tidak akan cukup untuk digunakan beraktivitas berat sehingga kebanyakan murid akan memilih berdiam diri di kelas.
Karena kemungkinan buruk yang bisa merugikanku nantinya tersebut, jadi itulah kenapa aku memutuskan untuk berangkat sekarang.
Setibanya di sekolah, waktu istirahat kedua atau utama sudah benar dimulai. Setelah memarkirkan sepeda, aku tidak langsung pergi menuju kelas begitu saja, yang kulakukan hanyalah mengamati dan mengamati. Beruntungnya yang mengenalku hanya sedikit—itu menyedihkan—jadi aku sangat leluasa dalam bergerak. Sebenarnya aku ingin memastikan di mana Sherly berada sekarang, hanya untuk jaga-jaga saja, tapi sebaiknya kalau urusan itu kuserahkan pada keberuntungan saja, karena dia termasuk tipe orang yang sulit ditebak.
Dirasa cukup aman, untuk bagian luar, aku mulai berpindah pada gedung utama. Melewati orang-orang, terkadang membuatku mengalami situasi yang istilahnya asing, bagaimana ya, seolah beberapa wajah perempuan berubah menjadi Sherly, padahal jika melihatnya secara lebih detail tidak. Karena itu aku memilih untuk mempercepat langkah kakiku.
Sesampainya di depan kelas, aku melihat melalui jendela dan tidak mendapatkan apa yang kucari. Singkatnya, Grizelle tidak ada di sana, begitu juga ranselnya. Aku tidak menduga kemungkinan ini, bagaimana bisa? Seharusnya hal semudah ini bisa kusadari dengan sangat mudah. Bagaimanapun, apa yang telah kulakukan tentu saja membuat mental dari Grizelle hancur, dan itu tidak akan mudah sembuh seperti saat jari seseorang terluka karena tergores pisau. Kemungkinan trauma yang dimilikinya memang benar, dan aku sudah membuktikan kalau itu benar, serta sekarang dia sendiri yang menunjukkannya. Aku benar-benar panas sekarang, dia harus kutemui segera kalau tidak aku akan mati penasaran.
Tapi dari kegagalanku yang tidak menduga bahwa Grizelle tidak akan bersekolah sekarang, ada sebuah kemungkinan yang sebenarnya memiliki kemungkinan cukup besar untuk terjadi dan itu sulit untuk diatasi. Yang aku maksud adalah kedatangan Sherly, karena itu aku menyerahkan bagian ini pada keberuntunganku yang tidak terlalu besar, dan gagal.
Ketika tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki seseorang yang berlari di atas koridor, secara refleks aku juga ikut berlari dengan maksud untuk menjauhinya. Sambil sibuk agar tidak menabrak orang-orang di sekitar, aku mencoba menoleh sehingga mengetahui kalau itu memang Sherly. Dia terlihat kesal sekali jadi aku memutuskan untuk tidak berhenti berlari karena itu sama saja dengan bunuh diri.
“Kenapa harus sekarang?!”
Meski aku punya fisik yang bagus sebagai laki-laki, tetapi Sherly masih bisa mengimbangiku. Beruntungnya jarak kami cukup jauh sehingga semakin lama malah semakin menguntungkanku. Jelas karena sebagai seseorang yang dikejar, aku hanya perlu untuk berlari menjauh selagi fokus pada jalan. Sedangkan Sherly, dia tidak tahu ke mana aku akan mengarah sehingga hanya bisa bergerak setelah aku bergerak, ditambah keramaian pada akhirnya pasti akan membuatnya menyerah.
Pikirku sih begitu, hanya saja Sherly benar-benar monster. Dia masih mengejarku sampai sekarang, meski berbelok-belok sampai ditegur oleh orang lain, dia tetap tidak membiarkan jaraknya terhadapku melebar. Putus asa dengan itu, aku memilih untuk bersembunyi pada ruang yang entah untuk apa dibuat karena aku belum sempat melihat bagian atasnya, itu terletak di belokan jadi setidaknya Sherly akan menganggapku seolah menghilang.
Di dalam sini, jauh lebih luas jika membandingkannya dengan kelas. Ada banyak kursi tetapi dilihat dari sana memang seolah mengatakan kalau tempat ini tidak digunakan untuk pembelajaran. Kebetulan aku memutuskan bersembunyi di sudut paling jauh dari pintu, karena itu jelas akan lebih aman. Hanya saja tak lama tiba-tiba Sherly juga masuk, dan aku sepertinya akan tertangkap di sini.
Tidak, bukan waktunya untuk menyerah. Ada satu cara, dan itu seharusnya akan berhasil.
Aku mengambil ponsel pada saku. Memang aneh, itu menolak kebiasaanku yaitu tidak membawa apa pun kalau keluar rumah. Hanya saja kali ini berbeda, tentu aku sudah mempersiapkan semuanya dengan cukup matang, setidaknya beberapa kemungkinan masih lekat di kepalaku.
Sebelumnya, lebih tepatnya sebelum tidur tadi malam, aku sempat menyimpan nomor Ryuga, tetapi tidak meneleponnya melainkan hanya mengirim pesan melalu aplikasi tertentu, dia langsung membalasnya tentu saja, tapi tidak ada obrolan penting yang tercipta. Dan sekarang, aku kembali mengiriminya sebuah pesan, hanya saja kali ini sangat penting.
Begini yang kukirimkan: “Apa kau bsa memelpon Sherly? Sruh dia untuk menemuimu”.
Sangat beruntung, Ryuga langsung membalasnya.
“Aku tidak mengerti.”
Ya, jika aku sedang berada di posisinya juga bisa merasakannya. Masalahnya bukan itu yang kuharapkan, jadi aku kembali mengirim pesan.
“Sudah telepon saja. Kalau kau melakukannya, aku akan bergabung.”
Aku tidak sengaja memencet tombol kirim sebelum apa yang ingin kukirim selesai, jadi aku kembali menambahkan “Dengan klubmu beberapa hari lagi” tanpa menunggu-nunggu lagi. Setelahnya Ryuga tidak membalas lagi, hanya bukti bahwa dia telah melihat pesan yang bisa kupastikan.
Selagi jantungku berdegup kencang, terdengar bunyi panggilan telepon yang bukan berasal dari ponsel milikku. Tapi karena takut dan agar tidak gagal hanya demi sebuah rasa penasaran, aku tetap memilih untuk diam dengan membuka telinga lebar-lebar, karena dugaanku sepertinya benar di mana Sherly sedang membawa ponsel sekarang.
Saat bunyi panggilan telepon berakhir, aku bisa mendengar suara Ryuga dari sini. Walaupun kecil sehingga kurang jelas, tapi aku tetap tahu kalau itu Ryuga. Sedangkan dari volume suaranya ... jangan bilang Sherly sedang di dekatku sekarang.
“Kenapa sekarang?” kata Sherly.
Dari sana aku mulai memastikan dari bawah kursi jarak antara Sherly denganku. Dan—
“Oy, oy, kaki siapa itu ...?” Suaraku sangat pelan tetapi bukan termasuk kata hati.
Karena sadar kalau aku bisa ketahuan dengan mudah, aku jadi benar-benar menyempurnakan posisiku berdasarkan celah pada kursi. Beruntungnya semua kursi yang berada di dalam sini memiliki ukuran yang besar ditambah sangat banyak sehingga seolah tidak ada celah yang membiarkan diriku kelihatan, bahkan membuatku juga sulit untuk melihat dari bawah sini ke sana.
“Iya, aku akan ke sana.”
Setelah Sherly sepertinya selesai dengan telepon niat palsu yang berasal dari Ryuga tersebut, dia akhirnya berjalan menjauh. Tapi tentu saja sebelum itu terjadi dia sempat diam sementara, mungkin sedang memastikan, lalu pergi setelahnya.