Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 04: Sleep Paralysis



Aku tidak pernah menyangka kalau menonton televisi akan menjadi kegiatan yang membosankan. Entah kenapa pikiranku selalu menganggap kalau ponsel masih jauh lebih baik. Lagi pula, yang biasa kutonton di TV hanya film-film atau acara-acara tertentu yang menarik perhatian saja, dan akhir-akhir ini sedang tidak ada yang seperti itu. Sedangkan memang berdasarkan fakta, “mereka” sering menampilkan sesuatu yang tidak penting, terutama obrolan hambar yang dimulai dari awal hingga akhir, dan juga temanya adalah sama, penerapan pola berulang.


Merasa kesal dengan kebenaran tersebut, aku memilih untuk membiarkan televisi menyala tanpa mengarahkan pandangan mata ke sana. Melihat jam yang berada pada dinding, arah panahnya sudah menunjukkan lebih dari pukul 7, dengan kata lain masih bukan waktunya untuk tidur, akhirnya aku mengambil ponsel yang berada di sampingku.


Ketika menyalakannya, tidak terjadi yang namanya mata silau karena cahaya gadget. Berbeda dengan orang-orang yang mengalami masalah pada mata mereka, aku tidak perlu sampai meningkatkan kecerahan layar agar bisa melihat dengan jelas. Lagi pula, sebenarnya ponselku dilengkapi dengan fitur yang bisa menjaga mata agar tetap berfungsi secara normal meskipun penggunanya adalah tipe orang yang kecanduan menatap layar.


Kali ini aku menekan tombol pencarian di internet, niatku adalah mencari tahu kebenaran tentang kejadian di malam sebelumnya, secara rasional tanpa menghubungkannya dengan kejadian supernatural. Memang niatnya ada, tetapi aku tidak tahu harus menuju ke mana, maksudnya, untuk mencari sesuatu tertentu maka dibutuhkan juga kata atau kalimat tertentu sebagai kunci pencarian.


Berdasarkan apa yang kualami sebelumnya, itu seharusnya masuk ke dalam gangguan tidur, misal karena aku sering memotong waktu yang seharusnya digunakan tubuh untuk beristirahat sehingga terjadi kejadian seperti kemarin malam atau semacamnya. Jadi pertama-tama, aku mengetikkan “Contoh-contoh gangguan tidur” tanpa disertai rasa ragu. Dan situs web yang muncul tentu saja ada banyak, karena pencarian tersebut merupakan hal yang sudah umum. Namun, “Yang pasti-pasti saja”, maksudku, biasanya yang berada di puncak adalah yang paling populer. Tentu karena fakta tersebut, orang yang baru menggunakan pencarian yang sama akan menetapkan pilihannya pada yang terlihat lebih bisa dipercaya.


“Mungkin mulai dari sini saja,” kataku.


Gambar pada layar langsung berubah seketika setelah aku mengetuknya. Di bagian awal disambut oleh foto dari seorang wanita yang sepertinya sedang bermasalah dengan tidurnya. Sedikit menggeser, semuanya langsung berubah menjadi penuh dengan tulisan, dan iklan.


Sadar kalau sekarang adalah waktunya untuk serius, aku menegakkan posisi dudukku.


Gangguan tidur yang pertama adalah insomnia, aku sudah mengetahuinya dan itu tidak berhubungan dengan kondisi yang kualami, jadi kulewati. Sedangkan dari urutan kedua, semuanya mulai menjadi sesuatu yang asing, sama sekali aku tidak pernah mendengarnya. Karena kenyataan tersebut, dengan kata lain aku diharuskan untuk membacanya. Tetapi untung saja, tidak ada yang namanya sampai menyita banyak waktu, sebab hanya dengan membaca pengertiannya saja, secara keseluruhan sudah cukup bisa untuk dipahami.


Dan akhirnya, di urutan terakhir—dikatakan begitu—muncul apa yang dari tadi sedang kucari-cari. Tertulis “Sleep Paralysis” dengan huruf tebal bagaikan sebuah judul.


Mulai dari sana, aku yang dari awal memang sudah fokus, menjadi tambah fokus mengingat sesuatu yang penting sedang ada di depan mata. Sejak kalimat pertama hingga terakhir, aku hanya beberapa kali berkedip agar tidak melewatkan satu pun kata.


Setelah selesai, rasanya aku benar-benar lega, sebab menurut yang tertulis di sana, apa yang kualami ternyata masih bisa dijelaskan secara medis. Ada beberapa hal yang menyebabkan aku mengalami Sleep Paralysis, seperti kurang tidur, pola tidur yang tidak teratur, posisi tidur, serta stres. Memang akhir-akhir ini aku ada banyak pikiran, tapi tidak sampai stres juga sih.


Meskipun begitu, dikatakan ada juga orang yang mengaitkannya dengan peristiwa supernatural. Karena pada beberapa kasus, terkadang ada yang melihat sebuah bayangan hitam, bahkan sampai penampakan hantu yang mengerikan. Namun pada kasusku, tidak terjadi yang demikian, semoga saja itu hanya lelucon semata.


Sebagai perayaan atas ini, aku pergi menuju kulkas untuk mengambil sebuah minuman. Tetapi saat sampai, aku baru ingat kalau di sana hanya ada makanan ringan saja, tidak ada yang membeli minuman selama beberapa minggu terakhir—kecuali air—jadi pada akhirnya aku kembali ke sofa yang ada di ruang keluarga.


Selagi membaringkan tubuh di atasnya, mataku tertuju pada layar televisi yang sekarang telah berganti acara, tapi pada akhirnya malah mematikannya.


“Apa yang akan kulakukan sekarang?”


Selalu saja aku berkata “Betapa indahnya” jika di sekitarku sedang sepi, padahal yang seharusnya kukatakan adalah “Betapa menyedihkannya”. Namun, sekarang aku adalah keberadaan yang berbeda, seseorang yang berniat untuk berkembang dengan menapaki kenangan masa lalunya. Yang bagus dari ini, aku jadi punya tujuan hidup yang jelas. Tidak ada lagi yang namanya menganggap kalau orang lain hanyalah sesuatu yang tidak berarti, tidak ada lagi yang namanya menganggap kalau masa muda merupakan sesuatu yang bisa disia-siakan begitu saja, dan tidak ada lagi semua hal menyedihkan lainnya dari diriku yang dulu.


Menyebutnya sebagai sebuah revolusi sepertinya sangat cocok, jadi mulai sekarang dan seterusnya anggap saja kalau aku adalah seorang revolusioner.


Meskipun sudah menjadi revolusioner, tetap saja aku tidak menemukan apa pun yang bisa untuk dilakukan. Ketika memilih untuk duduk pada sofa, yang kulihat pada jam dinding sudah menunjukkan pukul 8.


Sejak sebelumnya aku membaca seluk-beluk tentang gangguan tidur, terutama Sleep Paralysis, yang bisa kulakukan untuk mencegahnya adalah menyamakan waktu tidur. Maka dari itu, aku menetapkan pukul 8 sebagai akhir dari aktivitas harianku mulai sekarang.


Sesampainya di kamar, aku langsung melentangkan tubuh di atas kasur setelah mematikan lampu. Tak butuh waktu lama, kegelapan sudah membuat bulu kudukku berdiri, jadi aku kembali menyalakan lampu lalu menuju ke kasur lagi, terlentang seperti sebelumnya.


Terlepas dari bagaimana cara agar seseorang terhindar dari kelumpuhan mendadak ketika sedang tidur, aku tidak bisa memikirkan apa pun selain satu hal, tenangkan diri. Dengan begitu, berbagai macam jawaban akan muncul dengan sendirinya.


Pikirkan secara rasional bahwa Sleep Paralysis bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, karena hampir semua orang juga pernah mengalaminya. Diperkuat dengan penyebab kenapa bisa terjadi, secara medis, jadi ada bukti kuat yang menyatakan kalau Sleep Paralysis masih bisa dikatakan sebagai sesuatu yang normal.


Coba ingat-ingat lagi, sepertinya posisi tidur juga memberikan pengaruh. Sedangkan berdasarkan posisi lamaku ketika sedang mengalami Sleep Paralysis, itu dalam keadaan miring. Namun, bagian terpentingnya dari posisi tidur adalah bagaimana cara agar aku menikmatinya. Dan untuk sekarang, aku rasa tidur secara terlentang bisa jadi sebuah pilihan.


Perlahan-lahan, aku memejamkan mata.


Meskipun disertai rasa ragu, keberanianku masih belum tergoyahkan. Karena lagi pula, bagian menyeramkannya baru akan dimulai saat Sleep Paralysis menyerang. Jadi selama tidur normal seperti biasanya, maka kemungkinan untuk mengalaminya sangatlah kecil. Karena faktanya, Sleep Paralysis tidak terjadi setiap hari, tergantung sebenarnya.


Misalkan saja, sebentar lagi aku terkena Sleep Paralysis, maka sebenarnya tidak ada yang perlu kutakuti, lagi pula tidak akan mati juga. Hanya saja meskipun aku sudah meyakinkan diriku sendiri agar berpikir demikian, entah kenapa tetap saja ada rasa takut.


Apa ini semacam trauma?


Mungkin menyebutnya begitu ada benarnya juga. Jika tidak, maka bagaimana mungkin aku bisa setakut ini.


Setelah mempertimbangkan banyak hal selagi mencoba sebisa mungkin agar rasa takut tidak menggerogoti tubuh, sepertinya sebentar lagi aku akan tertidur. Sedangkan bagian pentingnya baru akan dimulai ketika mata berada di ambang kesadaran, dengan kata lain sesaat sebelum mata benar-benar tertutup sehingga seseorang akan terlelap dalam alunan mimpi.


Sebelumnya pengalaman Sleep Paralysis-ku ditandai dengan sebuah getaran, seolah sedang tersetrum, apalagi ketika mencoba menggerakkan tubuh. Hanya saja sekarang aku sedang tidak berfokus ke sana, lupakan saja dan biarkan pikiran setenang mungkin.