Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 09 bagian III: Momen Baru di Pusat Perbelanjaan



Di percobaan kedua, capit yang bergerak bahkan tidak dapat menaikkan bonekanya sama sekali meskipun aku yakin kalau itu sudah terkait, aku melihat kalau bagian yang digunakan untuk mengapit seolah lemah sehingga tidak punya tenaga untuk memberikan gaya searah.


Sejenak aku melirik kepada AI, dia terlihat berharap agar aku bisa membalaskan dendamnya, dan itu membuatku bersemangat.


Kali ini tidak seperti sebelumnya yang mengandalkan keberuntungan sebab keberadaan drop skill yang mengganggu, aku mulai mengincar ke arah mana capit akan bergerak dengan mempertimbangkan posisi. Hebatnya, aku bisa melihat kalau capit itu mengeluarkan kekuatan penuhnya, hanya saja perhitunganku terkait di mana itu akan mengapit salah, jadi hanya terangkat beberapa sentimeter sebelum akhirnya jatuh.


Tidak menyerah begitu saja, pada percobaan kelima, capit yang berbentuk seperti cakar tersebut kembali terlihat mengeluarkan kekuatan penuhnya, sehingga meskipun gagal, aku bisa menyaksikan boneka yang hampir saja jatuh pada lubang yang mana menjadi tempat untuk mengambil boneka jika menang.


Hingga pada percobaan ke-15, tetap saja tidak ada satu pun boneka yang kudapatkan. Tapi bukan berarti aku sepenuhnya tidak mendapatkan apa-apa, karena di dalam kepalaku, sudah terpikirkan sebuah rencana atas dasar pemikiran yang rasional.


“Kau kan pintar, AI, dari 15 percobaan yang telah kulakukan, di beberapa percobaan capitnya terlihat seperti lebih kuat daripada yang lain. Kalau boleh tahu, pada ke berapakah itu?”


Aku tidak mengharapkan AI menjawab dengan suaranya karena itu memang mustahil, tapi dia memberikan jawaban dengan menggunakan jari tangannya.


Di sana aku mendapatkan angka 3, lalu 5, 9, 12, dan terakhir 14. Dengan kata lain, pola yang menyusun agar capit berfungsi secara normal adalah 3-5-9, lalu jika menghitung dari kelipatannya maka 3 lalu 2 ke 4. Jadi bagaimana operator mengatur penerapan drop skill pada mesin capit ini, gambaran kasarnya aku sudah tahu. Tentu saja hal semacam ini tidak dapat dianggap sebagai sebuah bentuk kecurangan, karena memang begitulah cara kerja kebanyakan mesin capit modern, mungkin jika hadiahnya licin ataupun bergerak, maka capit akan senantiasa berada pada kondisi normalnya. Namun demikian, belum tentu juga hadiah bisa didapatkan. Banyak faktor yang mempengaruhi baik dari kemampuan pemain serta tingkat keberuntungan. Dan dari setiap kegagalan yang terjadi, maka juga akan melipat gandakan keuntungan bagi orang yang memiliki wewenang atas mesin capit tersebut. Jadi operator tidak perlu sampai mematok target tinggi, misal berdasarkan harga hadiah, biaya operasional, hingga keuntungan yang menjadi target.


Lalu aku mencobanya dua kali lagi dan secara sengaja membiarkan capit bergerak tanpa tujuan yang jelas, sehingga gagal. Dan sekaranglah yang kutunggu-tunggu, karena sudah berada di urutan ke-18 dengan kata lain capitnya akan menjadi kuat karena termasuk urutan dari 4.


Pertama yang kulihat tentu saja posisi boneka yang kuincar, lalu menggerakkannya sebisa mungkin ke sana. Saat capit berhasil mengangkatnya, itu mulai berjalan dengan apitan yang sangat kuat sehingga akhirnya aku mendapatkan hadiah pertamaku.


“Sepertinya sudah waktunya untuk pembantaian,” kataku kepada diriku sendiri.


AI berjalan ke sampingku lalu mengambil boneka yang berhasil kudapatkan. Sekarang kami menatap mesin capit bersama dengan jarak yang berdekatan.


Setahuku, setelah ini butuh dua percobaan lagi sebelum akhirnya capit bekerja dengan normal kembali. Jadi dapat simpulkan kalau—


“Peluangnya berapa lagi, AI?”


Aku bertanya demikian karena sudah jelas otak encer dari si peringkat pertama pasti akan dengan mudah memahami maksudku. Bahkan saat dia gagal tadi, aku heran kenapa tidak membaca polanya saja.


Lagi, AI mengatakan dengan jari tangannya kalau itu akan menjadi 21, 23, dan 27. Tapi berbeda dengan sebelumnya, meski sudah mengetahui bahwa di urutan ini capitnya tidak akan kuat, aku tetap memperhitungkannya agar tidak gagal. Hebatnya itu berhasil, karena aku memilih boneka yang terlihat lebih ringan.


Dan sejak saat itu, aku benar-benar melakukan pembantaian besar-besaran. Ada banyak percobaan yang kulakukan, kebanyakan berhasil mengambil boneka-boneka berukuran besar yang harganya jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan memainkan permainan ini satu kali. Merasa tidak enak jika hanya asyik bermain sendiri, aku membiarkan AI mencobanya, dan dia bahkan jauh lebih ahli daripada aku. Memang untuk pola permainan ini sendiri aku sudah mengetahuinya, tapi namanya juga manusia, pasti sempat luput akan sesuatu. Kalau selalu benar, maka sudah tidak bisa disebut manusia lagi, di situlah aku mulai menganggap kalau AI memang bukan manusia. Bagaimanapun, dia berhasil mematahkan kemustahilan dengan memenangkan hadiah tanpa sekali pun kegagalan sejak menggantikanku. Bahkan Kartu Identitasku sengaja kutinggalkan di penggesekan agar tidak ada jeda untuknya membantai mesin capit tersebut.


Hanya saja yang mengherankan kenapa baru sekarang dia seahli ini? Tidak mungkin hanya karena aku membaca penerapan drop skill saja dia langsung mendapatkan semua keterampilan yang dibutuhkan. Tentu yang membuatku bertanya kenapa dia tidak sehebat itu sebelumnya di awal, karena mau dilihat dari mana pun, mustahil manusia melakukannya.


Pada akhirnya, mengingat hadiah pada mesin capit terbagi menjadi dua golongan yaitu yang hadiah utama beberapa boneka berukuran besar yang unik dan hadiah pendukung berupa boneka-boneka kecil yang menumpuk dari dasar, jadi sekarang semua hadiah utamanya sudah kami ambil beserta beberapa boneka kecil juga.


Mungkin karena sadar dirinya mengalami kerugian besar atas ini, seseorang yang sepertinya merupakan pemilik mesin capit tersebut mendatangiku. Kami sempat mengobrol di sana, dia menyuruhku untuk memainkannya beberapa kali lagi untuk membuktikan kalau aku tidak melakukan kecurangan, dan terbukti aku bermain secara bersih, begitu juga AI.


Akhirnya karena merasa kasihan, aku merundingkan beberapa hal dengan orang itu setelah memastikan dengan bertanya kepada AI yang katanya hanya butuh satu boneka—dia hanya menunjuknya, sebuah boneka alien besar berwarna hijau. Terdapat beberapa keputusan yang kami ambil, aku hanya mengambil satu boneka yang telah AI pilih ditambah biaya yang kupakai untuk bermain kembali menjadi milikku lagi, sedangkan semua boneka sisanya diambil orang tersebut. Tentu saja aku tahu kalau itu merugikanku, tapi mau bagaimanapun, aku tidak membutuhkan boneka. Jadi setelah aku berkata demikian, orang tadi sangat senang mendengarnya. Dia membungkuk berterima kasih saat aku dan AI pergi dari sana.


Ya, aku sangat kasihan kepadanya. Bayangkan kalau yang berada di posisinya adalah aku, itu akan mendapatkan kerugian yang banyak sehingga membuatmu tidak dapat tidur semalaman dengan hanya memikirkannya.


“Aku akan membeli minuman, kau di sini saja dulu.”


Tidak ada reaksi apa pun, jadi aku menyimpulkan kalau dia juga ingin satu. Betapa bodohnya kan jika misal aku bertanya seperti ini; “Apa kau mau membeli minuman juga?” karena bagaimanapun meski seorang perempuan berkata tidak, tentu saja akan membuatku merasa tidak nyaman. Walaupun pada akhirnya dia menolak karena diet atau semacamnya, setidaknya aku bisa membanggakan kepekaan diriku suatu hari nanti.


Setelah selesai sehingga kami bisa meminumnya bersama sekarang, aku mulai sadar bahwa kami memang seperti sepasang kekasih. Meskipun hanya aku sendiri yang merasakannya, duduk berdua sambil mendengarkan suara yang tercipta saat menyedot minuman dingin berasa coklat, membuatku teringat pada suasana yang pernah juga kurasakan dahulu.


Daripada terfokus pada pemandangan sekitar, aku malah tidak bisa memalingkan tatapan mataku dari leher bagian belakangnya yang terlihat putih, mulus, dan bersih. Memang aku sudah menduga kalau perempuan sangat memperhatikan tampilan fisiknya, tapi melihatnya lagi secara langsung, apalagi dari dekat, membuatku jadi ingin memakannya. Selain itu, rambut AI yang berukuran tidak terlalu panjang, seolah dengan pasrah membiarkan seseorang melihat sebagian punggung bagian atasnya. Beruntungnya aku bisa menahan semua godaan itu setelah terdengar panggilan telepon dari ponselku sendiri. Saat melihatnya, aku sadar kalau nomor yang meneleponku milik orang asing, tapi aku bisa menduga siapa dalangnya.


Obrolan yang terjadi di antara kami membahas tentang makanan dan minuman yang beberapa waktu yang lalu kupesan, tapi aku tidak menyangka kalau akan secepat ini. Jadi setelah merundingkan beberapa hal dengan orang tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk pulang.


“Apa kau masih ingin di sini? Kalau aku akan pulang, soalnya ada urusan.”


Sementara berkata begitu, aku bangkit dari tempat duduk. AI seperti biasa hanya meresponsku dengan tatapan matanya.


Aku berpikir diamnya merupakan sebuah jawaban kalau dia tidak keberatan jika aku pergi sekarang. Tapi setelah sedikit melangkahkan kaki, aku secara tiba-tiba bisa merasakan kelembutan saat tangan seseorang menggenggam telapak tanganku.


“A-AI?”


Bagaimanapun, mustahil aku tidak terkejut sekarang. Biar kupastikan, ini adalah pertama kalinya aku bersentuhan dengannya secara langsung. Dalam hati aku hanya bisa berkata, “Betapa lembutnya.”


Setelah berhasil menenangkan diri, aku menatapnya dengan sebisa mungkin menunjukkan sebuah senyuman.


“Ada apa?”


Dia tidak menjawab pertanyaanku, memang sudah bisa diduga. Hanya saja tak lama kemudian, dia akhirnya melepas tanganku lalu tanpa aba-aba berjalan begitu saja dengan arah yang sama sambil memeluk boneka alien-nya kembali.


Selagi mencoba menebak alasannya, aku hanya diam saja menatapnya dari belakang. Dan lagi, dia berhenti lalu balik menatapku, seolah menunggu agar aku juga ikut berjalan bersamanya.


Begitulah kesimpulan yang kudapatkan. Bagaimanapun, aku bukan Tuhan yang mengetahui secara menyeluruh isi hati dan keinginan seseorang. Jadi selagi mengira-ngira apa yang terjadi, aku dengan cepat berjalan sehingga bisa kembali selaras di sampingnya.


Sampai di bagian utama dari lantai dasar, titik sentral di sini ditandai oleh air mancur yang kulihat dari lantai 2 sebelumnya. Masalahnya bukan itu bagian pentingnya, yang membuatku heran adalah Osmond sedang duduk pada salah satu kursi yang ada di sana. Di sampingnya tidak ada seorang pun yang duduk selain beberapa alat masak yang dibungkus plastik.


Dia menyadariku lebih awal, tapi tidak menyapaku melainkan hanya senyum-senyum saja dari kejauhan. Aku pikir dia mengira kalau aku sedang berkencan dengan AI, padahal kenyataannya tidak.


Jadi karena dia pun kemungkinan merasa tidak ingin mengganggu kami, sedang aku malah ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tetap saja aku akhirnya tidak berjalan mendekatinya dengan hanya ikut tersenyum saja.


Keluar dari pintu, aku dan AI terpisah setelah dia menaiki kendaraan yang berbeda denganku meskipun jenisnya sama, hanya saja punya jalur yang berlainan.


Pada saat itu kami tidak saling mengucapkan apa pun. Tapi aku pikir tadi adalah pengalaman yang menyenangkan, sehingga masih bisa kupikirkan selama 1 minggu ke depan. Hanya saja tetap tidak bisa kubayangkan kalau aku akan bisa sedekat ini dengannya, dan juga kami sempat berpegangan tangan, jadi beruntung sekali rasanya.