
“Ambil saja, bukankah uang tip adalah hal yang normal?”
Tentu aku bingung untuk bagaimana menanggapi apa yang dilakukannya. Inginnya sih agar dia menerimanya saja sebagai sebuah bentuk pemberian dariku, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kalau aku mengambilnya lagi, bahkan sama sekali tidak ada pemikiran semacam itu di kepalaku.
“Tidak, aku tidak membutuhkannya!”
“Sepertinya kau harus lebih banyak belajar lagi tentang fungsi uang.”
Maksudku, uang bisa digunakan kapan saja. Meski sekarang seseorang yang sudah kaya menganggapnya kalau itu adalah sesuatu yang kurang bernilai, bisa jadi pada masa depan akan berbeda. Lagi pula, Grizelle tidak terlihat seperti seseorang yang sedang tidak membutuhkan uang, aku pikir harga dirinya bisa sedikit diturunkan di sini.
Sedangkan dari tujuan awalku yang hanya berniat menjadikannya sebagai uang tip, jadi aku pikir dia tidak perlu sampai merasa tidak enak seperti itu. Karena pada kenyataannya, uang tip memang sepenuhnya normal dari pemberian pelanggan.
Tetapi meskipun begitu, Grizelle tetap memaksa agar aku menerimanya kembali, bahkan sekarang dia meletakkannya di atas mejaku lalu duduk begitu saja pada kursinya sendiri.
“Aku pikir sebaiknya kau menerimanya saja.”
“Aku tidak butuh kebaikanmu.”
Tidak ada yang bisa kulakukan lagi untuk membujuknya, aku hanya bisa menggaruk kepala tanda sedang pusing.
Memikirkannya lagi, aku merasa jika orang lain melihat tiba-tiba ada sebuah uang dengan nilai tinggi di atas meja, dan hanya dua orang di dalam kelas, itu pun lawan jenis, bisa saja akan menduga hal yang tidak-tidak. Jadi aku memutuskan untuk mengambil uang tersebut meski sebenarnya aku masih belum menyerah untuk kembali menyerahkan pada orang yang seharusnya menerimanya.
Sementara memikirkan bagaimana caranya, aku menoleh ke samping. Di sana, Grizelle sedang membaca buku seperti dia yang biasanya. Tiba-tiba terbesit di kepalaku untuk mengajaknya mengobrol, ya, itu tidak pernah jadi membosankan jika orangnya adalah dia.
“Grizelle!”
Aku memanggilnya untuk menanyakan sesuatu, tetapi dia bahkan tidak menatapku. Entah kenapa karena itu juga, aku jadi merasa tidak ingin mengganggunya untuk sementara waktu. Jadi aku kembali menatap ke depan sembari menunggu seseorang datang.
Pada jam yang terpasang di dinding, sekarang sudah menunjukkan pukul 06:02. Seharusnya berdasarkan waktu tersebut, sebentar lagi akan ada banyak orang yang memasuki kelas.
Berbeda dengan kemarin, di mana semangat para siswa sedang menggebu-gebu untuk menjalani hari pertama di sekolah baru, sekarang rasanya mereka langsung dipenuhi kemalasan saat pembelajaran asli akan dimulai. Dan juga seharusnya kemarin sepertinya sudah ramai sejak pagi, sekarang bahkan orang yang berada di dalam kelas dapat dihitung dengan mudah.
Karena waktu sebelum masuk masih lama, aku memutuskan untuk pergi berkeliling tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Grizelle saat meninggalkan kelas.
Setelah berjalan cukup jauh, di luar hanya ada beberapa orang saja. Ketika sampai di halaman, yang kulakukan adalah duduk pada kursi yang ada di sana seraya mengamati para murid berdatangan.
Sebelum memilih mendaftarkan diri ke sini, tentu aku sudah pernah berkunjung dengan tujuan untuk melihat-lihat, meskipun hanya bagian kecilnya. Dan tidak seperti yang kulihat pertama kali, ada beberapa bagian yang seolah tampak asing. Namun, kesan modern ditambah mewahnya benar-benar tidak ada yang bisa mengalahkan.
Aku sempat mendengar kalau di sekolah ini punya beberapa tempat yang tidak kalah dengan tempat wisata di luar sana. Misal kolam renangnya yang luas dan banyak, aku memang tidak pernah melihatnya secara langsung tetapi aku yakin itu ada. Serta terkadang ada semacam acara khusus yang diadakan dengan biaya yang besar, tentu pihak sekolah yang menanggungnya, dan itu dianggap selalu menjadi pengalaman terindah di ingatan semua murid.
Selain hal-hal tersebut, di sini ada banyak perempuan cantik yang menjadi idaman seluruh kaum laki-laki. Tentu aku juga berpikir sama, hanya saja hal semacam itu tidak memberikan dampak yang besar untukku. Karena untuk beberapa alasan yang jelas, sekarang aku bahkan sudah tidak berniat untuk mencari yang lain lagi.
Setelah menghabiskan banyak waktu hanya untuk sebuah lamunan, akhirnya aku melihat seseorang yang sedang kutunggu kedatangannya. Agar tidak terlihat seperti seorang penguntit, aku berjalan dengan jarak yang cukup jauh dari AI.
Aku pikir dia tidak akan menuju ke ruang klubnya, karena sekarang kami sudah berada di depan kelas. Dan perhitunganku benar, dia duduk pada kursi di depanku, jadi aku harus merayakan ini kapan-kapan.
Sebelum sampai di tempat duduk, Grizelle sempat melirikku sebentar, sangat sebentar sampai aku mengira itu hanya salah lihat. Dia tetap membaca buku di tengah-tengah suasana kelas yang mulai ramai.
Ketika aku duduk, AI malah berdiri, dia sepertinya sudah ingin pergi. Jadi—
“Tunggu sebentar, boleh kita bicara!?”
AI membalikkan tubuhnya, dan pada saat yang bersamaan, rasanya aku seperti sedang bertatapan dengan sebuah boneka. Tidak ada ekspresi yang tercipta, satu pun tidak ada. Benar-benar tidak terlihat seperti seorang manusia, bagaikan campuran antara boneka dan robot.
Bahkan dari kulitnya yang putih, bersih dan mulus, membuatku sempat mengira kalau itu hanya buatan. Selain itu, tubuhnya terlihat sangat rapuh, seolah dengan hanya menyentuhnya saja, semuanya akan runtuh. Ditambah wajahnya yang cantik serta nama anehnya, aku sudah tidak punya jawaban jika disuruh membedakan antara manusia dan robot.
Dia sempat menatapku sementara waktu, hingga akhirnya kembali duduk dengan tenang.
“Maaf jika tidak sopan, tapi apa kau yang meletakkan surat di kolong mejaku?”
Mendengar pertanyaanku, dia hanya diam saja tanpa melakukan reaksi apa pun. Dari sana tentu saja tidak ada kesimpulan yang bisa kudapatkan, malah sekarang aku sedang gugup.
“A, apa kau yang melakukannya?” Aku bertanya ulang untuk memastikan.
Berbeda dengan sebelumnya, kali dia terlihat sedikit membuka mulut. Aku sempat berharap kalau dia akan mengakuinya, meski jawabannya tidak juga bukan masalah. Namun, pada akhirnya dia kembali menutup mulutnya tanpa berkata apa pun lalu pergi begitu saja. Tentu tidak ada yang bisa kulakukan, karena kami juga tidak akrab.
Sebenarnya, sejak aku mencoba bicara dengan AI, ada orang luar yang membuka telinganya lebar-lebar terhadap pembicaraan kami meskipun disertai gaya senormal mungkin agar kami tidak menyadarinya.
Aku menoleh ke samping, maksudku, Grizelle-lah orangnya.