
Sebelumnya, aku sempat menunggu cukup lama sampai akhirnya Sherly selesai dengan urusan di dalam kelas. Dan seperti yang telah dikatakannya, urusanku masih belum diselesaikan, jadi sekarang adalah giliranku untuk diatasi.
Masalahnya, aku sempat mengingat kalau Sherly akan melaporkanku ke polisi, bukankah itu sangat berbahaya? Bagaimanapun, dia akan punya banyak bukti terhadap tuduhannya—pelecehan seksual. Pada kenyataannya yang kulakukan memang benar begitu, selain itu aku baru menyadari konsekuensinya sekarang. Hari-hari normal di sekolahku sebentar lagi sepertinya akan berganti menjadi terkurung di balik dinginnya jeruji besi. Tapi sebelum hal tersebut terjadi, dia ternyata menggiringku terlebih dahulu ke dalam ruangan milik Pak December.
Tentu saja sebelumnya dia sempat bertanya kepadaku siapa wali kelasku, dan jawabannya sudah jelas Pak Desember. Tepatnya itu terjadi setelah dia keluar dari kelas, sementara kabar tentang Grizelle sama sekali belum disampaikannya.
Sekarang, di dalam sini, yang mendominasi pandangan mata adalah asap rokok. Dadaku rasanya sesak saat menghidup sesuatu yang tidak diperlukan keberadaannya dalam proses pernapasan. Ketika tumpukan asap pekat bergerak ke samping, dari baliknya muncul seseorang yang namanya tertera di bagian atas pintu. Dia Pak December, di antara jari tengah dan telunjuknya, terapit sebatang rokok yang tidak asing.
Di depanku, terdapat dua buah kursi, seolah memang sudah sengaja jumlahnya disamakan dengan kedatangan kami. Saat Sherly duduk, aku memutuskan untuk mengikutinya. Awalnya sebenarnya aku sempat menduga kalau Sherly akan membawaku ke ruang BK atau semacamnya terlebih dahulu, karena umumnya begitu. Tapi malah pada Pak December? Tidak pernah kuduga.
“Selamat siang, Pak, maaf mengganggu.”
Tentu saja yang berbicara bukan aku, lagi pula melihat wajah Pak December yang terlihat tengil ditambah meremehkan keberadaan kami saja sudah membuatku tidak serius sejak tadi.
“Jadi kedatangan saya ke sini adalah untuk—“
“Sebenarnya kau tidak perlu terlalu sopan kalau denganku.”
Sudah kuduga, guru yang sedang berada di depanku ini merupakan orang yang berbeda dengan umum, maksudku dilihat dari perilakunya. Secara tampilan luar, dia terlihat seperti seorang genius—kenyataannya memang begitu—yang pemalas. Jadi itu tidak membuatku menjadi takut atau semacamnya, malah aku bisa menenangkan diri kembali. Karena apa yang kualami sebelumnya benar-benar membuatku menjadi mendapatkan harapan, di lain sisi, aku malah mengorbankan hubunganku dengan Grizelle untuk mencapainya.
Jika membandingkan siapa yang paling menderita di antara aku dan dia, maka jawabannya tetap Grizelle. Bukan apa-apa, dia perempuan, sedangkan cara yang kulakukan sudah melewati batas yang seharusnya tidak kulewati. Hanya saja aku tidak memikirkan alur lain di mana Grizelle akan mengatakan rahasianya kepadaku dengan hanya bertanya pertanyaan yang normal, mau dilihat dari mana pun, dia itu akan tetap tidak mau menurut. Jadi dengan terpaksa aku memanfaatkan masa lalunya, meski tidak tahu bagian rincinya, setidaknya ada beberapa gambaran kasar di kepalaku.
“Jadi, apa tujuanmu ke sini?”
“Saya ke sini—“
“Aku bertanya kepada lelaki di sampingmu?”
Rasanya sebentar lagi aku akan tertawa. Orang di depanku ini memang menyebalkannya luar biasa, baik di sini maupun saat mengajar, selalu saja ada hal-hal yang membuatku tertawa.
Dan mungkin karena kedudukan Pak Desember adalah guru, jadi setelah pembicaraannya dipotong, Sherly hanya bisa menunjukkan tatapannya yang tajam tanpa aura membunuh, hanya saja wajahnya tetap menunjukkan kalau apa yang akan disampaikannya merupakan sesuatu yang serius.
Karena yang ditanyakan di sini adalah aku, jadi tanpa menunggu pertanyaan diulang, aku langsung memperkuat keberadaanku.
“Saya dibawa ke sini karena dianggap telah melakukan pelecehan seksual.”
Dia mengingat namaku, jadi mungkin aku harus bangga. Tapi bagian pentingnya bukan itu sekarang, karena mau tidak mau aku harus mengakui semuanya.
Memikirkan jawaban yang akan kugunakan untuk pertanyaan tersebut, membuat kepalaku bekerja keras dalam satu waktu. Hanya saja tetap tidak ada yang terpikirkan untuk dapat dijadikan sebagai alasan yang mana membuatku jujur, ditambah tetap bisa dimaafkan.
“Sepertinya ....” Karena jawaban ini dapat membuatku aman, Sherly menatapku dengan tajam, serta tidak pernah dia sampai menganggapku menjijikkan seperti sekarang, jadi aku hanya bisa menerimanya saja lalu lanjut menjawab, “Iya, saya melakukannya.”
“Alasan?”
“... Kalau Bapak tahu tentang Kultus Richord, seharusnya semuanya beralasan.”
Pak Desember terlihat berpikir keras untuk hal ini, kalau dia bisa menyambungkan segala kejadian di masa lampau yang sehubungan, maka jawaban dari pernyataanku akan jadi sangat mudah.
Yang aku maksud, dia terlihat seperti mengenal keluargaku dengan baik, setidaknya anggap saja tahulah tentang siapa keluargaku. Dari situ, seharusnya jika membahas tentang beberapa tragedi paling buruk yang pernah menimpa dunia, salah satunya, pasti ada yang mengarah pada keluargaku. Mengingat kebanyakan orang setidaknya tahu, meski tidak secara detail, tetap saja informasi yang ada punya akar yang sama. Bagaimanapun, waktu tragedi tersebut terjadi, pemberitaan bermunculan di mana-mana, semua media yang bisa digunakan untuk menyiarkan. Dan itu hanya berselang hitungan tahun saja, jadi aku berpikir kalau apa yang kulakukan punya alasan mendukung.
Walau begitu, aku tetap mengakui kesalahanku, emosi benar-benar sulit ditahan. Meski sebenarnya sangat mudah untukku terbebas dari segala tuduhan dengan hanya memanfaatkan beberapa hal yang kupunya, tetap saja salah ya salah. Awalnya aku tidak berniat menyerahkan diriku setelah melakukan itu kepada Grizelle, tapi karena ketahuan, mau bagaimana lagi. Orang yang menyaksikannya juga merupakan orang yang paling tidak kuharapkan, aku mulai berpikir bahwa keberuntungan sedang tidak berpihak kepadaku saat ini.
Tapi pastinya jika ada kesempatan, maka aku akan menyelesaikan masalah yang memang sudah ingin kuselesaikan sejak lama ini. Semuanya akan kupertaruhkan untuk itu, tetapi efek negatifnya, aku akan sangat sulit untuk tidak kembali pada diriku yang dulu, apalagi dia sudah tidak ada.
Benar-benar memeras pikiran, padahal aku sudah tidak berniat untuk kembali ke versi lawas. Dan sekarang aku malah kebingungan karena itu, semuanya pasti juga kebingungan, begitu dengan Pak Desember yang sekarang sedang menggaruk kepala.
“Kalau secara detail, aku tidak tahu. Tapi alasan kau melakukannya sepertinya, yang itu bukan?”
Aku mengangguk dua kali tanpa jeda. Sementara aku tersenyum, Sherly tetap pada ekspresinya.
Dia tidak beralasan untuk membenciku pada awalnya, karena aku memang tidak melakukan apa pun. Namun, kalau sekarang sudah jelas berbeda, karena dia telah menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak disaksikannya.
“Tapi tetap saja kau melakukannya. Jadi, maaf, apa dia sudah tidak memiliki keperawanannya?”
“Masih, masih! Mungkin sih, karena saya belum memasukkannya—eh, tidak, itu hanya ... bagian paha saja, saya memegangnya, iya, pakaian dalamnya ....”
Rasanya aku ingin berteriak dengan penyampaianku yang gagal. Lagi pula, Pak December terlalu pada intinya jika bertanya, dan itu benar-benar menakutkan. Sementara dari pengakuanku tersebut, tatapan jijik Grizelle semakin menjadi-jadi.