Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 05 bagian VII: Kunci Masa Lalu



“Daripada itu, apa kau sudah mau bergabung dengan klub kami?”


“Kau selalu menanyakan hal yang sama.”


Tentu saja, manusia adalah makhluk yang mudah bosan. Mau bagaimanapun jika mendengar sesuatu yang sama berulang-ulang, bukannya semakin suka melainkan malah mengurangi minat. Sama seperti yang Ryuga katakan, juga sama seperti yang kukatakan, bedanya ajakanku adalah mau atau tidakkah seseorang menjadi temanku.


Sebenarnya aku kembali memikirkannya baru-baru ini. Ryuga itu kan punya aura yang bisa membuat banyak orang suka di dekatnya, dan aku pikir itu bisa kugunakan untuk ke depannya. Bukan niatku memanfaatkannya, hanya saja hal tersebut bisa menjadi manfaat jika aku memilih bergabung dengannya.


Tidak lupa juga, Klub Relawan punya kegiatan yang bagus untuk membentuk hubungan sosial dengan orang lain. Dengan begitu maksudku, misalkan aku membantu seseorang dalam menyelesaikan sesuatu, bisa saja ada kesempatan yang membuatku bisa berteman dengan seseorang tersebut. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, tidak ada kerugian jika aku bergabung dengan Klub Relawan, malah yang kudapatkan hanyalah roda keuntungan yang selalu berputar di sekelingku setiap saat.


Betapa menggiurkannya, bukankah begitu? Ya, tidak ada yang bisa menyangkal kenyataan tersebut. Sudah tidak ada alasan untukku menolak tawaran yang Ryuga berikan, karena aku yakin keinginanku bukan tidak mungkin akan terwujud dalam waktu kurang dari 1 bulan. Terlepas dari semua itu, aku juga jadi bisa untuk menikmati kegiatan menyenangkan yang Ryuga buat setiap minggunya. Dengan kata lain, hidupku yang suram benar-benar sudah bisa diatasi, lalu nikmat apa lagi yang belum mencapai bagian klimaksnya?


Semua yang dibutuhkan untukku menjalani hidup, sudah punya titik terang yang bisa kugapai dengan mudah. Tapi kenapa, kenapa masih ada yang mengganjal di pikiranku? Rasanya itu seolah menyuruh agar aku tidak bahagia terlebih dahulu jika orang menyebalkan itu belum punya peluang yang sama untuk mendapatkannya. Betapa sialnya, kenangan masa lalu kini malah menjeratku ke bawah.


Aku tidak sedang berbicara tentang bagaimana caraku hidup dulu, tapi kenapa pikiranku malah meluapkan semuanya sekarang. Setidaknya aku juga butuh sesuatu yang bisa dikatakan menyenangkan, dan kepalaku jadi pusing saat sudah hampir mendapatkannya.


Sebagai bukti, sekarang aku sedang menunduk selagi salah satu tanganku memegang kepala.


“Apa kau baik-baik saja, Crayon?”


Dari bagaimana aku mendengarnya, Ryuga tampak khawatir di sini. Dia memegangi punggungku sambil mencoba melihat wajahku yang mengeluarkan senyum pahit.


“Iya, hanya sedikit pusing.” Aku kembali membenarkan pose.


“Oh begitu, kau membuatku khawatir. Jadi bagaimana, apa kau mau bergabung dengan Klub Relawan?”


“Sementara waktu masih belum.”


“Kapan waktu tepatnya kau akan bergabung?”


Jika membicarakan tentang klub dengan Ryuga, mau sampai kapan pun tidak akan menemui ujung. Entah karena alasan apa yang sekarang sedang kucoba pecahkan, dia selalu berapi-rapi jika membahas tentang topik yang satu ini. Padahal sebenarnya dia bisa mengajak orang lain untuk bergabung dengan klubnya, misal melalui cara yang dia gunakan untuk menangkapku, aku yakin akan ada setidaknya orang yang bisa didapatkannya. Apalagi jika berbicara tentang murid tahun pertama, seharusnya tidak akan ada kesulitan untuknya.


Meski berkata begitu, pada kenyataannya ada juga beberapa hal yang membuat orang berpaling ketika berbicara tentang Klub Relawan. Salah satunya yang aku maksud adalah Sherly, dia memperlakukan orang lain tanpa menyertakan harga diri dari orang tersebut. Jadi bisa saja ada yang takut, sedang alasannya belum jelas sama sekali.


“Mungkin beberapa hari lagi aku akan bergabung.”


Daripada terkejut, ekspresi Ryuga sekarang lebih ke senang, itu senyum yang paling bagus yang pernah keluar dari wajahnya. Sedangkan bertolak belakang dengannya, Sherly malah semakin menatapku dengan tajam, sampai-sampai rasa jijiknya seolah tertutup keseluruhan.


Aku menghembuskan napas panjang untuk menganggapi mereka berdua secara bersamaan. Terlepas dari semua itu, apa yang sedang kualami lebih dari kata rumit, benar-benar merepotkan.


“Lihat saja nanti.”


“Ayolah, kau pasti akan bergabung denganku kan?” Ryuga menunjukkan wajah penuh harapan.


“Sebenarnya tergantung bagaimana hari selanjutnya berjalan. Ada hal yang belum sepenuhnya kuselesaikan, dan itu benar-benar menghambatku.”


Aku sebenarnya bukan tipe orang yang suka menceritakan apa yang sedang kualami maupun kurasakan kepada orang lain. Hanya saja ada beberapa pengecualian, seperti pada orang-orang tertentu serta saat kondisi yang memungkinkan.


Karena pada manfaatnya, ketika menceritakan isi hati pada orang lain, terkadang mereka akan memberikan pendapat bagus yang berasal dari sudut pandang diri mereka sendiri terhadapmu. Jadi tidak ada semacam rekayasa di sini, dan itu pastinya akan membantu, kecuali saat yang dipilih adalah orang yang salah, maka ceritanya akan berbeda.


“Kau benar, aku tidak boleh memaksa. Tapi jika sudah berubah pikiran, jangan lupa menghubungiku. Ini nomorku,” -dia menyerahkan robekan kertas yang di atasnya berisi sekumpulan angka- “kalau butuh apa-apa panggil aku segera.”


Apa yang dilakukannya membuatku jadi bingung untuk bereaksi. Meski dia sangat ingin anggota baru, bagaimanapun, terlalu berlebihan juga tidak dapat dikatakan baik. Sebenarnya pada kenyataannya memang nyeleneh, dari mana dia bisa menyiapkan nomor itu? Maksudku, apa dia selalu siap siaga atau bisa melihat masa depan.


Walaupun yang terpikirkan olehku hanya demikian, tetap saja aku menerimanya lalu memasukkannya pada saku. Lagi pula nomor orang lain di ponselku tidak banyak, jadi juga tidak ada salahnya.


“Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih atas makanannya, lain kali biar aku yang akan mentraktir.”


Tanpa basa-basi lagi, Ryuga juga hanya tersenyum saja, akhirnya aku beranjak dari kursi untuk kembali menuju kelas. Tujuanku ada 2, yaitu mengambil Kartu Identitas dan mengembalikan uang yang seharusnya menjadi milik Grizelle.


Tentu saja selama perjalanan, pemandangan sekitar yang sekarang jika dibandingkan dengan istirahat pertama jelas berbeda, karena setiap orang memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas yang bersifat lebih daripada sebelumnya mengingat waktu yang diberikan untuk istirahat jauh lebih lama. Berdasarkan hal tersebut, faktanya, aku selalu melihat lebih dari 10 orang setiap pada jangkauan mata. Saat mereka mengobrol, aku mendengar sesuatu yang terkadang bisa dikatakan berguna ataupun yang bahkan seharusnya tidak kudengar saja.


Keramaian yang sedang kubicarakan, tentu hanya di bagian lantai satu saja, di mana kebanyakan diisi oleh anak kelas satu. Tapi aku pikir, sebagian besarnya kemungkinan sedang menjalankan aktivitas klub, serta pasti ada juga yang masih sibuk mencari klub.


Terlepas dari semua itu, sekarang aku bisa sampai ke dalam kelas dengan mudah. Sebelumnya membedakan arah saja sudah sangat sulit, termasuk saat berniat pergi menuju ke kantin, dan saat ini hal tersebut sudah bukan masalah lagi, selama bukan tempat asing maka aku bisa sampai tanpa tersesat.


Di sini, jumlah orangnya hanya 4, terbagi menjadi 2 golongan di mana yang satu berisi 3 orang laki-laki sedangkan satunya hanya Grizelle seorang.