Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 08: Kesepakatan



Aku tahu kalau sekarang aku pergi lagi menuju sekolah, maka Sherly akan benar-benar membenciku, secara keseluruhan seperti yang telah disampaikannya. Meskipun perannya hanya sebagai orang luar, aku tidak habis pikir saat dia mendominasi dalam masalah yang mencoba untukku pecahkan saat ini. Hanya saja meskipun dia telah mengatakan konsekuensinya jika aku tidak menuruti apa yang dia katakan, aku tetap tidak berniat untuk membiarkan semuanya berlalu tanpa campur tangan oleh seseorang yang seharusnya andil kedalamannya.


Sebagai bukti kalau aku serius, dengan menghubungi Ryuga kemarin malam, aku meminta nomor Sherly kepadanya. Setelah mendapatkannya dengan sangat mudah, aku menelepon Sherly untuk menyampaikan bahwa aku akan tetap pergi ke sekolah. Tentu saja dia menyarankan agar aku melakukan hal yang sebaliknya, “Urungkan saja niatmu.” Tapi aku membalas tanpa ragu kenyataan yang sebenarnya telah kubulatkan sejak awal.


Kebetulan aku berangkat sangat pagi sehingga yang kudapatkan di perjalanan hanyalah langit yang masih menyisakan sedikit kegelapan. Tentu saja ada alasan kenapa aku melakukan itu, bahkan sudah ada banyak pemikiran di kepalaku.


Ketika sudah dekat dengan kelas, aku melihat Sherly sedang bersandar pada pintu. Mengingat ini sedang pagi hari, jadi meski kehadiranku tidaklah besar, dia tetap menyadari sehingga mengubah posenya menjadi berdiri tegak menghadap searah denganku.


“Pergilah.”


Suaranya menggema di lorong sekolah yang dingin. Memang itu hanya bervolume kecil, tapi aku bisa dengan jelas mendengarnya meskipun dari awal cara bicara Sherly malah lebih ke berat tak nyaring.


Berlainan dengan perintahnya, aku tetap berjalan maju tanpa jeda yang mencolok. Semakin dekat dengannya, yang kulihat bukanlah tatapan jijik seperti yang biasanya, melainkan tajam disertai berharap agar aku tidak melanjutkan langkah kaki.


Pada akhirnya aku berhasil sampai di depannya sehingga sekarang kami saling menatap satu sama lain.


“Apa Grizelle ada di dalam?”


“Biar kukatakan sekali lagi. Pergilah.”


Aku bisa merasakan amarah dari dalam kalimatnya. Ini benar-benar situasi yang berat, aku sudah lama tidak pernah mengalami yang semacam ini. Yang bisa kukatakan hanyalah memuji tekad dari Sherly, betapa hebatnya dia.


Orang normal yang meremehkanku biasanya akan memilih untuk pura-pura tidak melihat sekarang. Bagaimanapun, aku bukan seorang remaja biasa yang hanya membutuhkan pertemanan. Jadi apa yang membuat Sherly sampai sekeras ini untuk menghalangiku? Tidak mungkin semua yang kumiliki sejak dulu langsung hilang begitu saja hanya karena tidak pernah diasah. Pedang yang karat masih bisa memotong, anak panah yang kehilangan kepalanya masih bisa menancap, dan aku yang masih bisa berpikir jadi seharusnya akan sangat mudah untuk menolak perasaan.


Berdasarkan kenyataan yang dipaksakan tersebut, aku berniat berjalan menuju pintu dari kelasku sendiri. Dalam satu langkah, sebuah pukulan keras menghantam pipiku. Itu lebih kuat daripada yang pernah dia layangkan kepadaku. Bahkan jika mengukur kekuatannya, petinju profesional masih belum tentu bisa mencapainya. Sehingga karena saking kerasnya, rasanya tubuhku seperti akan jatuh dan beruntungnya sempat menopang tubuh menggunakan kaki sebelah kanan.


Akibat dari pukulannya, aku kembali tidak melangkah, tapi tidak mundur.


“Kenapa kau sampai sebegitunya? Padahal hanya orang asing yang tidak mengetahui apa-apa. Bukankah kau terlalu ikut campur?”


“Kau yang tidak mengetahuinya.”


“Apa maksudmu?”


Jelas banyak hal tentang apa yang sedang coba kucari tahu dari Grizelle sudah hampir sepenuhnya ada di kepalaku. Sedangkan dia berkata kalau aku tidak tahu apa-apa, bukankah itu terlalu congkak? Bagaimanapun, aku punya tujuan akhir yang jelas. Bukan hanya untuk mengobati rasa penasaran, melainkan menyelamatkan kemanusiaan.


Sherly tidak memiliki peran, hanya sebuah batu yang menghalangi seseorang untuk keluar dari gua. Keberadaannya tidak dibutuhkan, malah saat dia ngebet ingin agar aku pergi, alasannya sama sekali belum masuk akal. Membela sesama jenis? Iya, tapi juga tidak. Seharusnya dia diam saja, mau kujelaskan pun mustahil orang luar dapat percaya. Selagi ada peluang untuk hidup dengan tenang dan damai, yang dia pilih bukanlah sesuatu yang paling kuinginkan, tapi neraka yang penuh dengan siksaan dari para orang bejat yang bernaung di bawah nama besar keagamaan.


Setidaknya hanya Grizelle saja, karena aku yakin dia punya peran besar dalam hal ini, dan juga memang berhubungan dengan kata lain bukan aku yang mengajaknya. Sedangkan Sherly tidak dibutuhkan, lebih baik dia bermesraan saja dengan Ryuga.


Aku yang kesal dengan Sherly, membentaknya dengan berkata “Jangan meremehkanku, sialan!” setelah tidak terdengar jawaban darinya. Hanya saja bersamaan dengan itu, sebuah pukulan kembali menghantam pipiku, bahkan lebih keras daripada sebelumnya.


“Kau menjijikkan sekali. Apa kau tidak menyadarinya? Jika kau menggunakan Grizelle entah untuk apa yang kau anggap penting, dia bisa menjadi gila. Apa kau tidak memikirkan kemungkinan itu?”


Tentu aku mengetahuinya, siapa yang tidak tahu tentang itu. Tapi jika diam saja, korbannya bisa menjadi lebih banyak. Aku tidak bisa mengatakan itu kepadanya, sekali lagi, aku ingin agar orang luar sebisa mungkin menjauhinya demi mencegah peristiwa mengerikan itu kembali terulang.


“Ya, seperti yang kau bilang, aku tidak memikirkannya. Meski memikirkannya pun, dia tetap cocok untuk dikorbankan.”


Sekali lagi, dia memukulku karena sepertinya tidak bisa menahan betapa kesalnya dirinya terhadapku. Dan kemudian pukulan selanjutnya kembali melayang di pipi yang sebelahnya.


Sebenarnya aku juga ingin membalas pukulannya. Sebab aku ini penganut kesetaraan gender, jadi bahkan meski disuruh membunuh seorang gadis kecil pun, asal alasannya jelas, maka tetap akan kulakukan. Sayangnya jika misal aku memukulnya sekarang, aku pikir kecantikan yang dia miliki akan hilang dalam sekali hantaman, atau malah nyawanya juga ikut terhempas karena itu. Apalagi dia adalah pacar dari temanku, mustahil untuk melakukan hal sekeji yang kubayangkan.


“Kau menjadi terlalu menjijikkan untuk kubilang menjijikkan. Biar kukatakan lagi, pergilah!”


“Tidak.”


Pukulan kembali kuterima.


“Pergilah.”


“Tidak.”


Dia memukulku lagi.


Seterusnya terulang sampai lebih dari 5 kali, hingga akhirnya seseorang membuka pintu kelas D dari dalam. Yang kulihat adalah Grizelle, pakaiannya berbeda dari yang biasanya, kali ini bahkan bajunya lebih terbuka karena berlengan pendek. Hanya saja aku tidak bisa melihat luka itu, karena ditutupi oleh perban putih.


Sementara dengan kehadirannya, membuat Sherly terkejut seolah bertanya kenapa dia malah keluar. Terlepas dari itu, aku masih tetap tidak bisa memalingkan pandanganku dari Grizelle. Memang dia tidak pada ekspresinya yang biasa di mana sedingin es, kali ini dia terlihat ingin menjadi lebih kuat meskipun aku bisa melihat ketakutan bercampur kesedihan di wajahnya.