
Malam harinya setelah selesai dengan aktivitas di hari Sabtu ini yang melelahkan, aku hanya bisa berbaring di lantai yang mana dapat membuat siapa pun mengira kalau ada seseorang yang sedang pingsan. Bagaimana tidak, tubuhku rasanya jadi agak pegal karena barang-barang berat yang sebelumnya kuangkat, mungkin karena sudah lama tidak menggunakan tangan secara berlebihan. Meski sudah menyewa orang yang bertugas untuk itu, entah kenapa pada akhirnya aku juga memiliki peran besar dalam proses pengangkutan.
Tidak, bukan itu bagian pentingnya. Ketika tiba-tiba perutku bergetar akibat sebuah panggilan telepon, aku mengambil ponsel yang berada di sana untuk didekatkan pada telinga. Sejenak tidak ada yang berbicara, rasanya tidak sopan, bukan? Tapi begitulah yang terjadi. Tidak pernah kubayangkan Ryuga malah melakukan hal yang semacam ini, dia seolah berniat mengubah kepribadiannya. Beruntungnya tak lama akhirnya aku mendengar suara langkah kaki seseorang, sepertinya aku tidak sengaja meninggikan volume suara di ponselku.
“Halo, Crayon, maaf tadi aku sedang sibuk.”
“Kalau sibuk jangan menelepon, atau bisa setelah selesai dengan kesibukanmu.”
Aku tidak berniat untuk menggurui, tapi maksud yang tertuang pada kalimat tersebut seharusnya bisa Ryuga tangkap. Tentu saja merupakan hal yang benar, dipikirkan dari mana pun membuat seseorang yang ditelepon menunggu bukanlah termasuk perilaku yang baik. Berkata demikian, aku hanya bisa menjilat ludah jika membandingkannya dengan apa yang sudah kulakukan kepada Grizelle.
“Iya, ini aku sudah selesai.”
Padahal maksudku bukan itu, tapi sudahlah.
“Jadi ada apa?”
“Apa besok kau punya kesibukan?”
Pertanyaannya membuatku terdiam sejenak. Sadar kalau sepertinya akan terjadi sesuatu yang menarik, aku bangkit untuk duduk dengan punggung tegak selagi menghadap dinding dari kejauhan.
“Sepertinya tidak.”
“Bagus sekali. Kalau misal aku mengajakmu untuk berlibur ke pantai besok, apa kau akan menolak?”
“Jelaskan.”
Itu akan benar-benar menjadi menarik, tidak, lebih ke sebuah keajaiban. Lagi pula jika misal sesuatu ini terjadi, aku bahkan tidak pernah menyangka akan merasakannya secepat ini.
Aku sedang berbicara tentang adegan pantai, di mana ada banyak gadis muda yang memasuki masa pubertas mereka sedang mengenakan pakaian yang minim. Tidak ada laki-laki mana pun yang bisa mengalihkan pandangan untuk itu, apalagi jika yang mengajaknya adalah Ryuga, meski belum dijelaskan pun aku sudah punya gambaran tersendiri di dalam kepalaku.
“Sepertinya aku sudah pernah mengatakannya kepadamu, kalau setiap seminggu sekali ataupun lebih, Klub Relawan selalu menyempatkan waktu untuk berlibur. Kebetulan karena besok juga hari Minggu, jadi kami sepakat untuk pergi ke pantai.”
“Itu pasti akan menyenangkan, tapi untuk sekarang aku kan masih belum bergabung dengan klubmu.”
“Tidak masalah, karena semakin banyak lebih baik.”
“Bukan itu, maksudku, memangnya Sherly tidak keberatan dengan ini? Aku tidak bisa membayangkan dia berkata ‘Iya’ kalau ditanya sesuatu yang berhubungan denganku, kecuali jika pertanyaannya negatif sih.”
“Aku belum menanyakannya, biar kutanyakan sebentar.”
Lalu dia mematikan teleponnya, aku bisa tahu dari suara yang diterima oleh telingaku.
Tentu saja, hal sepenting itu seharusnya dia tanyakan lebih awal. Dari sana sebenarnya aku sudah tahu kalau Sherly akan menjawab tidak, atau jika boleh maka mungkin akan ada semacam persyaratan yang dibuat khusus untukku, dan juga untuk merugikanku. Bagaimanapun, dia selalu menganggapku sebagai makhluk hidup paling menjijikkan di dunia ini, jadi bayangkan saja seseorang yang jijik dengan sesuatu malah memilih mendekati sesuatu tersebut.
Bahkan karena itu juga, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keindahan lekuk tubuh milik Sherly. Dari wajah saja sudah secantik itu, apalagi jika berbicara tentang tubuhnya yang jika dilihat dari luar, maka semua orang akan berkata sempurna. Lalu apakah dia akan membiarkan seseorang yang menjijikkan melihat tubuhnya? Tidak, tentu saja tidak.
Lama menunggu jawaban pastinya, aku kembali menerima telepon dari Ryuga saat hendak mencapai puncak tangga sehingga sekarang memilih berdiri di area sekitar bordes.
“Jadi bagaimana, Ryuga?”
Mustahil Sherly berkata begitu, yang kupikirkan hanya Ryuga membujuknya sebisa mungkin yang pada akhirnya membuat Sherly terpaksa mengiyakannya. Tapi tidak apa-apa, karena dengan begitu aku jadi bisa melihat Sherly saat sedang mengenakan pakaian pantai, seharusnya aku bersyukur.
“Kalau begitu aku mau. Tapi pukul berapa tepatnya?”
“Sekitar pukul 7 kami akan berangkat ke rumahmu, jadi bisa kau kirimkan alamatnya?”
“Ya, tunggu sebentar.”
Sementara telepon tidak ditutup, aku membuka aplikasi berbagi pesan lalu mengirimkan alamat lengkap dari rumahku kepadanya, dengan cepat aku bisa melihat tanda telah dibaca olehnya.
“Oh, rumahmu juga di sana, itu cukup dekat.”
“Maksudmu rumahmu juga di sekitar sini?!”
Memang aku sering bersepeda baik di pagi maupun sore hari hanya untuk berkeliling, tapi aku tidak tahu nama setiap keluarga yang rumahnya kulewati. Bagaimanapun, aku juga bukan seseorang pandai bersosialisasi, jadi mustahil dengan yang namanya mengunjungi tetangga.
“Tidak, aku hanya kebetulan lewat karena rumah kenalanku juga ada di sana.”
“Oh, aku pikir rumahmu di sini.”
“Kalau begitu aku akan ke sana besok, jadi bersiap-siaplah.”
“Oke, Bos!”
Dan begitu telepon ditutup, aku kembali berjalan menuju kamarku untuk tidur. Sekarang sudah lewat pukul 7, jadi hanya kurang beberapa menit lagi sebelum mencapai waktu tidur yang telah kutetapkan.
Keesokan harinya setelah selesai mandi, aku dengan sengaja membiarkan kulitku terpapar sinar matahari pagi. Selagi menunggu Ryuga dan yang lainnya datang, aku duduk pada kursi yang berada di halaman depan rumah. Hanya berselang beberapa menit setelahnya, muncul sebuah mobil berwarna hitam mengkilap yang berhenti dengan gagahnya. Tentu itu adalah Ryuga, karena lagi pula tidak banyak kendaraan bermesin yang berlalu-lalang di jalan ini.
Sayangnya tidak seperti yang kuharapkan, maksudnya, AI tidak ada, dari kejauhan yang berjalan ke sini hanyalah dua orang.
“Jadi ini rumahmu, aku tidak pernah menduganya,” kata Ryuga.
Sementara itu, Sherly berdiri di samping belakangnya. Aku tidak melihat sesuatu yang menggambarkan kalau mereka akan pergi ke pantai, selain Sherly yang mengenakan sebuah topi pantai, karena pakaian mereka juga sama seperti biasanya, aku juga begitu sih.
“Kenapa, apa terlihat kurang besar?” Aku berdiri.
Mendengar pertanyaanku, Ryuga memancarkan senyumannya dengan sedikit tawa kecil. Kalau Sherly, ya, jangan ditanya, tapi dia tidak menatapku sejijik ketika aku ketahuan di kelas olehnya.
“Bukan begitu, hanya saja aku tidak pernah melihatmu duduk di luar seperti tadi.”
“... Omong-omong, di mana AI?”
“AI? Oh, dia sudah ada di pantai, karena rumahnya memang di sana.”
Sepertinya aku mendapatkan sebuah informasi yang penting, harus kuingat itu. Walau demikian, aku sepertinya tidak pernah melihat atau bertemu dengan AI di sana sebelumnya. Bagaimanapun, aku ini termasuk orang yang suka bepergian ke berbagai tempat, dan salah satu yang paling kusukai adalah pantai.