
Ketika mendapatkan skors selama “selamanya”, aku langsung memutuskan untuk pulang dengan mengambil tas di kelas terlebih dahulu. Di sana, sudah tidak ada lagi Grizelle yang tenang maupun menangis, tidak ada lagi Grizelle yang belajar di waktu istirahat, serta tidak ada lagi semua hal darinya yang tersisa di atas kursi dan mejanya. Meskipun dia ada, bukan berarti aku akan dengan cepat langsung menyatakan permintaan maafku, dan bukan berarti juga dia akan menerimanya. Jadi aku memilih untuk pergi meninggalkan sekolah dengan memendam tujuan awalku datang ke sini.
Sampai benar-benar keluar dari area sekolah, tidak ada seorang pun yang menghalangiku untuk pergi. Lagi pula aku tidak punya siapa-siapa untuk menerima perlakuan semacam itu, selain beberapa orang yang punya kepentingannya masing-masing.
Berbeda dengan kemarin, aku tidak mampir ke kafe di mana Grizelle bekerja. Hingga sampai ke kembali ke rumah, aku tidak bisa berpikir jernih tentang apa yang seharusnya kulakukan. Ditanya baik buruknya, apa yang kualami lebih ke buruk, hanya saja jika bisa diatasi, maka akan menjadi terlalu baik.
Ketika telah berada di dalam rumah, aku bergegas mengambil ponsel lalu duduk pada sofa yang berada di dalam kamarku sendiri. Memencetnya, yang kupilih adalah ikon aplikasi berbentuk telepon dengan latar hijau. Di sana, aku memilih untuk menelepon ibuku setelah menemukan nomornya tanpa perlu banyak menggeser layar. Tidak butuh waktu lama, akhirnya seseorang mengangkat panggilan telepon yang kukirim.
Sebenarnya sudah jelas pemilik dari ponsel yang nomornya sedang kutuju mengangkatnya dengan cepat, karena aku juga bukan tipe orang yang menelepon hanya untuk menanyakan kabar, tetapi menyampaikan sesuatu yang perlu diketahui.
Suara pertama yang kudengar adalah perempuan muda, kalimat pembuka juga berasal darinya. Saat dia, adikku, Yuna, mengatakan “Halo, Kakak!”, aku langsung saja mendekatkan ponsel ke telinga.
“Di mana ibu?”
“Ibu? Kalau ibu sedang pergi, baru saja.”
“Lalu kenapa ponselnya ada padamu?”
“Eeeeee, itu ceritanya panjang.”
“Oh, baiklah. Kalau ibu sudah pulang jangan lupa untuk meneleponku lagi, oke?”
Jika dianggap tidak penting, Yuna suka sengaja melupakannya. Dia itu pada dasarnya bukan pelupa, tetapi hanya terfokus ke segala sesuatu yang menyenangkan menurutnya. Jadi sebenarnya saat ini aku sudah tidak menaruh harapan agar dia meneleponku lagi nanti, karena begitulah yang memang akan terjadi.
“Okeeee—“
Aku langsung mematikan telepon sebelum dia selesai dengan oke-nya.
Sedangkan hal aneh lainnya tentu saja ada banyak, sangat banyak sampai-sampai pikiranku bingung untuk memikirkan yang mana terlebih dahulu. Hanya saja dari semua itu, yang paling membuatku tertarik sudah jelas Grizelle. Dia dengan tanpa sadar mengatakan kepadaku kalau dirinya merupakan kunci dari semua hal yang kuinginkan. Bagaimanapun, aku harus mendapatkannya, dia benar-benar berharga untuk berdiri di sampingku.
Ketika telah lama memikirkan banyak hal hanya dengan menatap lantai, aku mulai mengetahui apa yang bisa kulakukan. Tapi itu mustahil untuk saat ini, maksudku, aku berniat untuk menemui Grizelle lagi di sekolah secara diam-diam. Hanya saja seperti yang telah kupastikan sebelumnya, kemungkinan dia sudah dipulangkan sekarang. Jadi aku berniat untuk menemuinya besok saat dia masuk.
Tentu aku tahu kalau aku sedang diskors. Namun, jika mengingat-ingat kembali perkataan Pak December yaitu “Kau bebas melakukan cara apa pun” maka mungkin saja aku tetap boleh menginjakkan kaki ke sekolah. Dengan catatan, tidak boleh mengikuti pelajaran di dalam kelas.
Mungkin begitu, skors sendiri belum pernah kualami, jadi cara kerjanya cukup membingungkan.
Meskipun ada beberapa hal yang membuatku menjadi ragu, aku tetap berniat untuk mengunjungi sekolah besok. Hingga akhirnya aku menghabiskan banyak waktu hanya di dalam rumah, aku sudah tidak sabar menunggu kira-kira alur semacam apa yang akan menimpaku.
Sebelum saat malam hari menjelang, yang kulakukan adalah menelepon ibuku kembali untuk menyampaikan bahwasanya aku sedang diskors. Meski aku tahu berita tersebut akan membuat ibu memarahiku, tetap saja ada beberapa hal penting lainnya yang harus disampaikan. Namun, lagi-lagi yang mengangkatnya adalah adikku, kalimat pembukanya juga sama. Dan seperti sebelumnya, dia berkata kalau ibu sedang pergi, jadi aku langsung menutup telepon dan melemparnya dengan sangat kencang ke ... kasur.
Sampai akhirnya sudah mencapai waktunya untuk tidur, tidak ada panggilan telepon yang terdengar dari ponsel yang kuletakkan di samping kepalaku. Tak mau membuang waktu untuk memikirkan hal yang sia-sia, aku langsung memutuskan untuk tidur dan bangun di pagi hari tanpa mengalami Sleep Paralysis untuk kedua kalinya.
Bangun tidur waktu itu terjadi saat jam menunjukkan pukul 5 lewat beberapa menit. Meski bukan waktu yang akan kugunakan untuk pergi ke sekolah, aku tetap mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikiranku. Dan itu benar-benar efektif, karena aku bisa berlama-lama menunggu jarum jam bergerak sampai pada sudut yang telah kutentukan.
Selama itu, aku hanya bermain dengan ponselku untuk memeriksa forum sekolah yang berisikan banyak informasi. Seperti lokasi-lokasi untuk tempat-tempat tertentu, aku cukup menghafalkan pada bagian tersebut, karena dengan mengetahui itu akan sangat berguna nantinya.
Selain lokasi, aku juga sempat bergabung dengan grup obrolan dari para siswa tahun pertama. Di sana ada banyak pesan yang dikirim dalam waktu 1 menit, jenisnya juga beragam seperti menanyakan kabar, promosi, bahkan ada yang menulis, “Adakah yang mau berkencan denganku?” Hanya saja sayangnya itu tidak ada yang menjawab, singkatnya diabaikan.
Setidaknya begitulah, kebanyakan waktu pagi hari hanya kuhabiskan untuk itu. Hingga akhirnya pada layar bagian sudut kanan atas ponsel menunjukkan pukul 9:48, yang artinya istirahat kedua sebentar lagi akan tiba.
Sebenarnya sebagai catatan, aku memang sengaja untuk tidak berangkat bersamaan dengan yang lain, maksudku waktu pagi hari sebelum pelajaran pertama akan dimulai. Karena dengan melakukannya, ada banyak risiko yang bisa saja terjadi kepadaku. Memang tentu ada kelebihan dengan berangkat pagi karena dapat bertemu dengan Grizelle di waktu yang juga pagi sekali di mana kebanyakan murid belum datang, hanya saja aku tidak berpikir kalau dia akan datang di waktu yang demikian. Kenapa? Karena sudah jelas dia akan memilih untuk menghindariku, dengan bersembunyi dibalik kerumunan saat kelas sedang ramai merupakan waktu yang terbaik sehingga aku mustahil untuk macam-macam kepadanya. Sedang tentu saja Sherly pasti sudah memberitahunya hukuman seperti apa yang kujalani, ditambah Sherly itu orangnya pintar jadi dia akan membaca berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.