
Setahuku, kurikulum saat ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Dikatakan bahwa efek dari penerapan kurikulum tersebut membuat peningkatan di bagian prestasi pada tiap-tiap sekolah. Dari jadwal yang kuterima, aku pikir akan menyukai tiga tahun ke depan. Berdasarkan beberapa informasi yang bergelimpangan pada forum sekolah, ada banyak kegiatan menyenangkan maupun menegangkan pada masa pembelajaran, aku sempat menduga kalau itu semacam ujian khusus.
Ketika pembelajaran mencapai waktu-waktu terakhir sebelum menuju istirahat, semua orang tetap terfokus pada apa yang sedang dipelajari. Berdasarkan ekspresi, aku pikir pandangan mereka sudah mengubah bagaimana cara yang benar untuk menilai tentang berbagai segi dari Pak December.
Baru sekarang aku menikmati jalannya pembelajaran, ini jauh berbeda dengan saat aku sedang menjadi pelajar di Sekolah Menengah Pertama. Sementara penjelasan sedang berlangsung, sempat ada yang bergurau tetapi dibiarkan begitu saja, aku cukup setuju untuk ini, karena tidak semua waktu harus difokuskan ke papan, lagi pula mereka pada akhirnya juga akan berhenti. Selain itu, memang suasana kelas seperti kali inilah yang menyenangkan, berjalan lancar, efektif, dan tidak kaku, sangat sesuai dengan dugaanku yang menganggap kalau sekolah ini sedikit lebih maju daripada yang lain.
Saat mengetahui bahwa istirahat akan segera tiba, Pak December menghentikan pembelajaran dengan beberapa kalimat khasnya. Lalu setelah berkata “Jangan keluar sebelum bel berbunyi” akhirnya dia sendiri yang malah keluar terlebih dahulu.
Dan dengan ketidakhadirannya, suasana kelas berubah sangat cepat, mereka sepertinya sedang membicarakan topik yang sama, yaitu Pak December. Bahkan aku sempat mendengar para gadis berkata “Sepertinya aku menyukai Pak December” ataupun “Dia mirip ayahku di rumah, keren”. Ya, aku tidak akan menyanggahnya, karena pada kenyataannya memang begitu. Bagaimanapun, hal tersebut memberikan sebuah sinar harapan yang menerangi seluruh murid di kelas D.
Yang tidak luput dari perhatianku salah satunya adalah Grizelle. Dia yang awalnya memberikan kesan tegas dengan memukul meja ketika kemunculan Pak December pada hari pertama, sempat mengeluarkan sedikit senyum lega ketika pembelajaran berlangsung. Aku yakin dia yang merupakan orang yang sangat mementingkan semua hal yang berhubungan dengan sekolahnya, sekarang hatinya pasti sedang berbunga-bunga. Setidaknya kenyataan yang mengatakan kalau dia mendapat seorang guru yang sempurna tidak dapat diabaikan hanya dengan memalingkan wajah. Dan hebatnya, meski pelajaran telah selesai, dia tetap aktif belajar sekarang.
Merasa kalau setidaknya manusia itu adalah makhluk yang butuh istirahat, aku memanggilnya dengan sapaan yang unik.
“Hey, Kutu Buku!”
Grizelle menoleh dengan wajah yang sedikit cemberut. Memang itulah yang aku incar, ekspresi wajahnya.
“Siapa yang kau panggil Kutu Buku?”
“Yang menanyakannya.”
Tanpa balasan, dengan cepat dia memalingkan wajahnya dariku. Selagi kembali membaca buku, raut wajahnya tidak berubah. Aku pikir itu cukup imut, tidak terlihat seperti sengaja dibuat-buat, lagi pula tidak ada alasan untuk membuatnya.
Tetapi tentu saja aku tidak langsung menyerah. Karena selain niat utamanya hanya iseng semata, tetap saja aku ingin agar dia setidaknya meluangkan waktu untuk beristirahat. Meski berpikir demikian, aku juga kurang tahu bagaimana cara seseorang yang rajin belajar beristirahat. Mengingat seperti yang pernah kudengar entah di mana, beberapa orang di luar sana menghabiskan waktu istirahat mereka dengan membaca sesuatu yang mereka sukai. Sedangkan Grizelle, dia terlihat sangat menyukai buku, jadi aku bingung apa sekarang dia sedang bekerja keras melalui belajar atau sedang menghilangkan rasa bosan dengan membaca dan menulis sesuatu.
“Bagaimana menurutmu tentang Pak December?” tanyaku.
Berkata begitu, yang Grizelle lakukan adalah tetap terfokus pada bukunya. Aku tahu, sebenarnya dengan jelas terlihat kalau dia sedang mencoba sebisa mungkin untuk mengabaikan segala hal dariku. Namun, kelemahannya yaitu merasa tidak nyaman saat ditatap oleh orang lain, pada akhirnya tetap membuatnya diharuskan untuk menolak keinginannya.
Jadi dari sanalah aku selalu dipermudah dalam mengobrol dengan Grizelle. Walaupun aku tahu cara tersebut bisa dikatakan licik, tetap saja selalu menjadi salah satu dari beberapa pilihan yang bisa kugunakan.
“Dia bekerja dengan baik, itu saja tidak lebih.”
“Maksudnya?”
“Apa kau sudah mau berteman denganku?”
Meskipun keakraban yang kurasakan sekarang sudah lebih dari cukup untuk menganggap kalau kami adalah teman, tetap saja aku hanya ingin mendengar saat dia berkata “Ya, kita adalah teman” kepadaku. Sebenarnya tujuan lain dengan aku menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya juga untuk memperlunak obrolan, dan untuk sekarang, lebih ke memperlama saja.
“Sudah kubilang aku tidak membutuhkannya.” Dia kembali pada bukunya.
Kemudian tak lama berselang, bel istirahat pertama akhirnya berbunyi. Kebanyakan orang memilih untuk keluar kelas, meskipun begitu, bedanya sekarang bukan hanya Grizelle saja yang tidak beranjak dari tempat duduknya, melainkan ada beberapa lainnya yang punya kegiatannya sendiri-sendiri.
Kalau aku, mustahil hanya duduk saja menghabiskan waktu dengan kebosanan. Selain itu, istirahat termasuk sesuatu yang diciptakan untuk digunakan oleh para murid, dan bahkan di beberapa sekolah kenamaan lainnya ada sebuah peraturan yang mengharuskan para siswa untuk benar-benar menggunakan waktu istirahat dengan sebaik-baiknya, tidak boleh di dalam kelas untuk membaca ataupun menulis sesuatu.
Karena menyadari betapa pentingnya istirahat, aku ingin agar Grizelle juga ikut menyadarinya. Tapi aku pikir dia sudah tahu akan hal itu, karena dia sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang melakukan sesuatu tanpa memikirkan konsekuensinya.
“Kalau begitu aku pergi dulu, Grizelle.”
“Baguslah.”
Dengan begitu, aku memutuskan untuk meninggalkan kelas. Sesaat setelah melewati pintu, rasanya sebelumnya aku menemukan sesuatu yang unik. Sementara mencoba mengingatnya, aku bersandar pada pintu yang baru saja kututup.
Tidak butuh banyak waktu, aku tahu tentang anak panah dari kertas yang terpajang di dinding. Namun, sekarang sudah tidak ada, dan sepertinya dari sejak tadi pagi memang begitu.
Apa Ryuga sudah menyerah dengan anggota baru?
Selagi memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut, aku berjalan menyusuri koridor tanpa tujuan yang jelas. Siapa tahu dengan melakukannya, aku bisa sampai ke surga—tidak, maksudku ke kantin untuk sarapan.
Dari pagi sebelum berangkat sekolah, seperti biasa perutku belum terisi makanan maupun minuman. Sekarang dengan hanya bermodalkan harapan, aku ingin agar sebuah kantin tiba-tiba muncul di depanku. Bayangkan jika ada seporsi makanan yang seolah mengatakan “makan aku”, sudah pasti itu akan habis dalam waktu kurang dari 5 menit.
Dalam perjalanan, aku sempat melewati beberapa kelas satu lainnya yang berada di lantai satu. Tidak bisa kusangkal karena di sini begitu ramai dengan murid yang hanya mengobrol entah tentang apa. Berdasarkan waktu istirahat pertama yang dikatakan hanya 15 menit, aku pikir hal tersebut menjadi alasan utama kenapa mereka tidak sampai pergi jauh, misal ke gedung klub, mengingat ke sana saja sudah memakan banyak waktu dari istirahat mereka. Selain itu, istirahat pertama memang dikhususkan agar pikiran para murid kembali menjadi segar untuk melanjutkan pembelajaran yang sama. Serta tidak lupa, waktu-waktu seperti saat ini juga bisa digunakan untuk sarapan bagi seseorang yang belum maupun sudah terisi perutnya.