Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 01 bagian IV: Tujuan Hidup



“Halo, kau pasti siswa tahun pertama. Dengan kedatanganmu ke sini, apa bisa kuanggap kalau kau berniat untuk bergabung dengan klub kami?”


Lelaki tadi bertanya begitu saja setelah meletakkan trompet besar di tangannya ke lantai.


Pertanyaan yang diajukannya sempat membuatku berpikir keras untuk sementara waktu. Sebagai remaja yang cukup peka dengan lingkungan, tidak enak rasanya jika langsung bilang kalau “Aku tidak tertarik” begitu saja. Tetapi aku juga tidak mau bergabung dengan klub ini, entah kenapa meskipun jauh dari kata suram, tidak ada ketertarikan di dalam hatiku. Sedangkan pilihan terakhir masih ada, tapi itu akan membuatku menelan ludah sendiri. Maksudku dalam hal ini adalah pura-pura tertarik terlebih dahulu, ajak mereka mengobrol, dengarkan keuntungan dan kerugian jika bergabung ke klub ini meskipun dari awal niatnya memang tidak ingin bergabung, lalu pada bagian akhir cukup berkata “Aku akan memikirkannya dulu” atau semacamnya.


Sayangnya sedang tidak ada pilihan lain sekarang, jadi untuk sementara aku akan memakai cara terakhir.


“Mungkin saja.”


“Kalau begitu, ayo kita bicarakan ini di kursi yang ada di sana.”


Dia terlihat senang dengan jawabanku yang tidak jelas maksudnya tersebut. Dari wajahnya, keluar senyum penuh ketulusan sampai-sampai matanya tertutup pada saat yang bersamaan.


Sesuai perkataannya yang mengarahkanku pada kursi berjumlah enam yang mengelilingi sebuah meja, kami duduk berhadap-hadapan dengan kata lain pada sisi yang berbeda. Sedangkan kedua rekannya yang lain, berdiri menyaksikan kami dari kejauhan, seolah sedang ada perbincangan serius walau pada wajah mereka tidak berkata demikian.


“Pertama, perkenalkan namaku Ryuga, dan aku adalah ketua klub di sini. Kalau boleh tahu siapa namamu?”


“Aku ... Crayon.”


Dia sedikit terkejut mendengar namaku. Ya, aku juga tahu kalau itu unik. Lagi pula, itu sebenarnya hanya julukan, nama asliku jauh lebih bagus.


“Baik, Crayon, apa ada semacam alasan khusus kau datang ke sini, selain tertarik untuk bergabung? Kau tahu kan, ruang klub kami letaknya sangat jauh.”


“Aku mengikuti anak panah yang kalian pasang.”


Lelaki di depanku yang bernama Ryuga tersebut tertawa keras untuk ini, padahal sedang tidak ada yang membuat lelucon atau semacamnya. Dia lalu menoleh ke perempuan yang tatapannya tajam tadi, spontan saja aku mengikutinya dan mendapati kalau aku sedang ditatap dengan sangat rendah, menjijikkan, dan meremehkan.


“Aku menang.” Ryuga mengucapkannya ke arah perempuan itu dengan suara yang pelan.


“Cih.”


Percakapan kami kembali berlanjut saat Ryuga berpaling ke arahku. Tadi apa maksudnya? Mereka terlihat seperti sedang mempertaruhkan sesuatu. Kalau begitu, yang menjadi korban pertaruhan di sini adalah aku sendiri, sejak kapan dimulainya? Sebaiknya agar tahu lebih banyak, aku berniat untuk menanyakan ini langsung padanya.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?”


Aku pikir dia sedang menyembunyikan sesuatu. Tidak mungkin ada orang yang tiba-tiba mengatakan “Aku menang” tanpa sebab yang jelas.


Selain itu, aku jadi tidak terlalu suka dengan senyumannya. Saat dia begitu, seolah terlihat seperti seorang manipulatif yang dapat mempengaruhi lawan bicaranya. Lagi pula, kalau tidak ada alasan yang mengharuskan seseorang untuk tersenyum, lebih baik menurutku menunjukkan wajah normal saja, meskipun tipe orang yang murah senyum adalah kelebihan tersendiri, dia terlalu sering menggunakannya dan baik dari segi mana pun, itu tidak pernah menambah raut lainnya, selalu sama.


“Oh iya, apa kau sudah tertarik untuk bergabung ke klub ini? Aku jamin kau tidak akan menyesal, karena kami selalu melakukan kegiatan yang menyenangkan setiap hari.”


Definisi menyenangkan tiap orang itu berbeda-beda, tapi pada dasarnya sama asalkan membuat hati seseorang tidak terpaksa untuk menerimanya. Sedangkan pada kasus ini, bergabung ke Klub Relawan sudah jelas akan ada untung ruginya untukku. Mendengar kata “relawan” saja aku sudah bisa tahu apa kegiatan sehari-hari mereka, tetapi seharusnya mereka benar-benar melakukan kegiatan yang menyenangkan meskipun jarang.


Manusia itu bukan robot, jadi jika hanya melakukan kegiatan monoton seperti sesuatu yang berhubungan dengan sukarelawan misal membantu orang lain tanpa imbalan secara terus menerus, maka tentu saja hidupnya akan dipenuhi keluhan mengingat betapa kesepian dan membosankannya dirinya.


Aku di sini, di sekolah baru, niat awalku adalah membuat hidup lebih berwarna. Sejak dulu, hanya sedikit kenangan bagus yang bisa kusimpan, jadi sekarang aku akan membuat semuanya berubah. Menyendiri itu tidak keren, tidak ada yang bisa diajak bermain, mengobrol, berjalan bersama ke bioskop untuk menonton film, dan semua hal menyenangkan yang bisa dilakukan jika punya banyak teman. Karena itu aku mengincar minimal 10 orang selama 3 tahun ke depan, atau jika mungkin maka aku berharap untuk 100 saja, lebih dari itu juga tidak apa-apa.


“Aku masih kurang yakin. Apa kau bisa menunjukkan sesuatu yang bisa membuatku lebih tertarik?”


Mengakhiri percakapan ini sekarang adalah ide yang sangat buruk. Jadi setidaknya saat muncul momen-momen yang bagus, maka aku akan sebisa mungkin menolaknya tanpa harus menyakiti perasaan orang lain.


“Bagaimana kalau kuceritakan saja tentang klub ini?”


“Itu terdengar bagus.”


Ryuga menarik napas panjang. Aku pikir ini akan menjadi sebuah pembicaraan yang lama, sangat lama, hingga bel pulang berbunyi.


“Jadi seperti namanya, klub kami sering melakukan kegiatan yang bersifat positif. Tentu tidak hanya itu saja, terkadang kami sampai terjun langsung ke suatu daerah yang benar-benar membutuhkan, selain itu saat ada festival baik di sekolah maupun di luar, kami juga memiliki peran tersendiri. Agar setiap anggota tidak merasa bosan, setiap satu minggu sekali bahkan lebih biasanya kami mengadakan liburan. Karena itu juga, klub ini akhirnya tidak pernah lenyap dari generasi ke generasi. Sejak dulu klub ini memang sudah didirikan, sebab itu juga jika kau kebingungan kenapa ruang klub kami berada di sini, karena tempat ini sudah seperti sebuah rumah bagi Klub Relawan.”


Itu sebuah cerita yang mengharukan. Tidak ada yang tahu apa yang dikatakannya tersebut benar, atau sengaja dibuat-buat agar aku tertarik untuk bergabung, tapi yang jelas seharusnya ada semacam alasan khusus kenapa dia sampai kelihatan seperti seseorang yang benar-benar butuh anggota baru.


Lagi pula kalau dipikir-pikir lagi, bergabung bersama mereka tidaklah seburuk yang kuduga. Dari ceritanya saja yang tersemat kata “liburan”, jika memang benar, maka sudah pasti itu akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Selain itu jika memilih untuk bergabung, maka temanku bisa bertambah, bisa saja rekan-rekannya yang lain juga mau bersamaku.


Ini bisa jadi pertimbangan.


“Jadi begitu. Boleh aku bertanya?”


Daripada menyebutnya demikian, tujuanku lebih ke memastikan saja. Dari tadi pertanyaan ini terus-menerus menggebu di dalam kepalaku. Sebenarnya masih ada beberapa hal lain yang masih terasa ganjil, sebisa mungkin aku menahannya.