
Di kantin, ada banyak orang yang sibuk dengan makanan mereka. Daripada terfokus ke sana, selagi berjalan, aku malah takjub dengan bagaimana desain tempat ini. Kesan modernnya sangat terasa, ditambah luas, dan mewah, aku pikir sekarang sedang berada di restoran bintang lima.
Tetapi yang tidak pernah kuduga sejak awal, seseorang tiba-tiba menyapaku dari kejauhan. Jelas dari suaranya saja aku bisa tahu kalau itu Ryuga. Sebenarnya aku merasa tidak enak jika bergabung dengannya sekarang, karena dia tidak sedang sendirian, melainkan bersama seorang perempuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah, Sherly.
Yang menjadi pertanyaanku, apa mereka berpacaran?
Berpikir demikian, jelas ada banyak bukti yang bisa mendukung. Dari awal juga tidak ada larangan terkait murid yang berpacaran, selama dalam batasan, jadi hubungan semacam itu masih bisa dianggap normal. Hanya saja aku tetap terkejut dengan kenyataan di depanku, bagaimanapun, ini antara Ryuga dan Sherly.
Aku pikir dari kepribadian mereka sama sekali tidak cocok, atau malah mungkin bisa saling melengkapi. Lagi pula saat pertama kali aku memasuki ruang dari Klub Relawan, di mana sedang ada Sherly di dalamnya, dia hanya menatapku dengan tajam dan jijik, sedangkan Ryuga tidak, tapi wajahnya yang sadis tetap tidak berubah.
Sama seperti sekarang, karena Ryuga memanggilku jadi aku tidak bisa menolaknya, Sherly kembali menatapku dari kejauhan seolah memberi isyarat agar aku tidak mengganggu mereka. Namun, pada akhirnya aku tetap duduk pada kursi di samping Ryuga, menghadap Sherly yang setelah ini selesai sepertinya akan membunuhku.
Tanpa isyarat, Ryuga mendorong menu makanan yang berada di atas meja ke arahku. Tentu hal sejelas itu bisa dipahami dengan mudah olehku. Aku langsung membacanya dengan air liur yang seolah akan turun karena kelezatan makanan pada gambar tersebut.
“Pesanlah sesuatu, aku akan membayarkannya,” kata Ryuga kepadaku.
“Kau serius?!”
Kebetulan aku baru menyadarinya, bahwa aku telah tanpa sengaja tidak membawa Kartu Identitas maupun uang yang ada di tas. Beruntungnya dengan tawaran itu, aku jadi tidak perlu lagi bolak-balik yang mana bisa membuatku pingsan karena kelaparan.
Ryuga yang menawarkanku, hanya mengangguk saja saat aku bertanya. Dia benar-benar orang yang baik, berbeda dengan perempuan di depanku.
“Kalau begitu hamburger dan minuman yang ini saja, sepertinya cukup menyehatkan.”
“Baiklah, tunggu di sini sebentar.”
Sebenarnya aku kurang tahu bagaimana cara kerja kantin ini dalam menerima pesanan, jadi aku cukup terkejut saat Ryuga berjalan pada kerumunan orang di depan sana.
Selain itu, sebentar lagi sepertinya aku akan mati. Karena dengan perginya Ryuga, aura membunuh yang Sherly pancarkan menjadi semakin meningkat. Aku tidak pernah menduga kalau dia adalah tipe perempuan yang punya sifat seperti “itu”, sejenis dere-dere. Betapa menyeramkannya, seolah aku ini hanya tumpukan sampah di atas genangan lumpur. Tapi kalau dipikir-pikir, ketakutanku sekarang lebih ke rasa bersalah karena telah mengganggu kencan mereka jika memang mereka berpacaran. Jadi seharusnya tidak perlu sampai setakut ini, lagi pula tidak sepenuhnya benar kalau mereka berpacaran. Oleh karena itu, yang perlu kulakukan sekarang hanyalah tenang dan tanyakan kenapa dia terlihat tidak menyukaiku.
Maksudku, berpura-pura polos memang diperlukan, karena cara seperti ini pernah kulakukan sebelum-sebelumnya.
“Apa aku punya salah?”
Awalnya aku berpikir kalau cara ini berhasil, sehingga saat aura membunuhnya hanya sebatas tatapan tajam dan jijik, aku jadi sangat bersyukur di dalam hati. Hanya saja pada kenyataannya, dia melakukan itu karena Ryuga sudah datang. Terbukti saat tiba-tiba seseorang memegang bahuku, saat menoleh ternyata orangnya adalah Ryuga.
Kini Ryuga duduk dengan membawa makanan yang dipesan olehku. Rasanya tidak enak jika mengambilnya begitu saja, apalagi dua orang di dekatku sekarang tidak terlihat sedang menyantap sesuatu, jadi memilih untuk menunggu aba-aba saja.
“Kenapa belum memakannya, Crayon?”
“Apa kalian sudah makan? Aku merasa tidak enak jika memakannya sendiri.”
“Kami sudah selesai, kau makan saja.”
“Baiklah, terima kasih.”
Aku benar-benar memakannya sekarang. Hamburger ini rasanya enak, dagingnya besar dan empuk, serta hanya mengandung sedikit minyak. Menurutku ini hamburger terbaik yang pernah kumakan sejauh ini, karena dari dulu aku memang jarang memakannya. Namun, di saat aku beralih pada bagian minuman—pahit!
Sejak lama aku memang menyukai sesuatu yang menyehatkan, ada alasan yang jelas untuk itu. Termasuk minuman, sejenis jamu yang pahitnya luar biasa. Tetapi tentu saja aku meminumkannya pada waktu-waktu tertentu. Sekarang aku malah meminumnya sebagai pendamping sarapan, yang sudah jelas merupakan kesalahan dalam pemilihan waktu.
Jika sekarang aku sedang sendirian, maka aku akan memuntahkannya segera. Hanya saja ada Ryuga dan Sherly, jadi jika melakukannya, sudah jelas itu bukan sesuatu yang bagus. Mau tidak mau aku harus menelannya, lagi pula aku sebenarnya sudah cukup terbiasa dengan ini. Juga, pada akhirnya aku tetap menghabiskannya, serta hamburger tadi tidak lupa.
“Kau tahu, Ryuga, temanmu, AI, dia satu kelas denganku.”
“Berarti kau juga di kelas D?”
“Iya. Tapi di mana dia sekarang? Saat pembelajaran tadi dia tidak ada.”
Ryuga melemparkan pertanyaanku tersebut kepada Sherly dengan sebuah isyarat melalui kepala. Hal semacam ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah memiliki hubungan sejak lama, jadi aku semakin berpikir kalau mereka berpacaran.
“Aku tidak tahu,” jawab Sherly.
Aku terkesan saat keluar kata dari mulut Sherly, maksudku, ini adalah kesekian kalinya aku mendengarnya tetapi tetap tidak merasa bosan. Suara Sherly itu terdengar dingin, tidak terkecuali siapa pun orangnya. Serta nilai tambahnya, aku pikir juga terdengar sangat menggoda, seolah setiap kata yang keluar mengalir bersamaan dengan napas yang berasal dari daerah bersalju.
Jika itu sebuah musik, maka aku pasti sudah mengunduhnya untuk dimasukkan ke dalam daftar musik, mengingat sekarang pun aku masih mau untuk mendengarnya 1000 kali lagi.
“Tadi pagi aku sempat melihat AI, tapi karena tidak ada perlu, jadi aku mengabaikannya,” kata Ryuga.
“Tunggu sebentar, AI kan kelas satu, sedangkan kau kelas ....”
“Dua.”
Sebenarnya aku sudah tahu kalau Ryuga kelas dua, hanya memastikan saja. Sedangkan Sherly, aku pikir dia juga kelas dua, dari kelihatannya sih.
Tapi dengan fakta tersebut, aku tidak berniat memanggil Ryuga “Selamat pagi, Senior Ryuga” ataupun Sherly “Selamat pagi, Senior Sherly” karena itu akan terdengar memalukan. Sebenarnya ada beberapa pengecualian untuk itu, hanya saja tetap tergantung situasi.
“Jadi bagaimana caramu bisa kenal dengan AI, apa rumah kalian dekat?”
“Tidak. Aku juga baru-baru ini mengenalnya.”
Terjadi jeda sejenak setelah Ryuga mengakhiri pembicaraannya, hingga pada akhirnya dia kembali melanjutkan kalimatnya.