Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 07 bagian IV: Halangan Terbesar dan Runtuhnya Impian Pemuda



“Ikuti aku.”


Meski ditopang oleh banyak pasukan, Sherly tetap tidak membiarkan satu celah pun tercipta untukku melarikan diri.


Dan sesuai dengan yang dia katakan, aku berjalan mengikutinya dari belakang, sementara aku juga diikuti oleh puluhan orang yang siap siaga untuk menangkapku. Beruntungnya ada Ryuga yang berjalan sejajar denganku, jadi seolah tatapan jijik semua orang sirna akibat keberadaannya.


Aku sempat menanyakan kenapa dia tersenyum, jawabannya hanya karena sedikit lucu. Itu benar-benar membuatku tidak habis pikir, padahal sepertinya dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dan dugaanku terbukti saat dia bertanya tentang semua ini, tetapi aku tetap menjawabnya, meskipun tidak secara rinci, hanya saja dia malah tersenyum. Hingga kembali sampai di ruangan milik Pak December, senyum Ryuga masih bersinar menerangi kesuramanku.


Tapi sebelum benar-benar sampai, Ryuga mendekat ke arah Sherly karena mungkin ingin menyampaikan sesuatu.


“Biar aku yang mengurus Crayon saja,” katanya.


“Ta-tapi ....”


Aku tidak pernah menduga kalau Sherly juga bisa kehilangan kontrol terhadap perkataannya. Bagaimanapun, itu adalah sesuatu yang baru dan segar untuk diingat.


“Biar aku saja, kau yang sekarang hanya terbawa emosi.”


“Baiklah.”


Orang-orang di belakangku malah ada yang berkata “Romantis” saat mereka berdua berbicara. Jadi dari situ, sudah bisa disimpulkan kalau mereka adalah sepasang kekasih. Terlepas dari itu, Sherly selalu menurut dengan perkataan Ryuga, jadi aku pikir mereka memang sudah berpacaran.


Kemudian saat kembali menghadap ke depan, aku disambut tatapan tajam, jijik, merendahkan, semua hal yang menggambarkanku di mata Sherly, saat aku memasuki pintu yang sebelumnya telah Ryuga masuki.


Karena ini bukan pertama kalinya, jadi aku memilih untuk langsung duduk, sedangkan Ryuga sibuk menutup pintu.


Di sini berasap seperti biasa, karena ventilasi udaranya juga tidak banyak, jadi asapnya seolah menumpuk membentuk awan. Lalu saat Ryuga menempati kursi di sampingku, aku bisa melihat dengan jelas wajah Pak December yang menatapku dengan senyum tengil serta sedikit heran.


“Aku tarik kata-kataku.”


“Yang mana, Pak?”


“Kau mirip seperti ayahmu, benar-benar mirip sampai berhasil membuatku tertawa.”


Aku hanya bisa menggaruk kepala melihat pria di depanku tersebut berbicara, disertai tawa kecil yang mengejekku dengan bumbu bercanda. Sedangkan Ryuga malah aneh, seperti biasa dia tersenyum, entah gambaran apa yang ada di kepalanya.


“Jadi, kenapa kau berada di sini? Aku tidak yakin kalau kau sudah mendapatkan permintaan maafnya.”


“Ini hanya salah satu cara agar saya bisa mendapatkan permintaan maaf, juga termasuk kebebasan dalam penerapan cara.”


Pak December memegang dahinya setelah mendengarnya, bagaimanapun, itu sebuah cara yang licik. Tapi aku pikir tidak melanggar hukumanku, karena Pak December hanya bisa menghembuskan napas pasrah.


Kemudian dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Saat diangkat, yang tampak dari sini hanya bagian belakangnya yang berwarna hitam polos. Aku tidak tahu kenapa, tapi dia mulai menunjukkan layar ponselnya kepadaku. Yang kulihat adalah diriku sendiri, di mana sedang mengangkat tangan di dalam kelas yang memang sebelumnya kulakukan.


Kira-kira begitulah, sepertinya impian masa mudaku akan sirna oleh kejadian ini. Bagaimana tidak, ada banyak fotoku dari berbagai sudut pandang yang terpampang di halaman depan di mana dapat membuat siapa pun tahu, dan pada akhirnya juga akan ikut menjauhiku.


Pasrah dengan takdir, aku kembali mengembalikan ponsel kepada orang di depanku.


“Bagaimana tanggapanmu?” tanya Pak December.


Dia tertawa, begitu juga Ryuga, hanya saja tidak nyaring sehingga seolah tertahan. Wajah mereka sangat puas sekarang, padahal seharusnya ikut sedih karena prihatin dengan kondisiku. Sedangkan aku, hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi.


Mau dilihat dari mana pun, kehidupanku sudah benar-benar berakhir. Tujuanku yaitu mendapatkan 10 teman saja masih belum terwujud, dan sekarang aku malah dijauhi oleh banyak orang, bahkan temanku yang sekarang bisa saja menjauhiku nantinya. Jadi kalau menyimpulkannya, ini adalah salah satu hari terburuk yang pernah kualami. Padahal baru 2 atau 3 hari loh, sudah membuat kasus yang tidak bisa dikatakan main-main, memang dari awal aku sudah mustahil untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Kalau mengibaratkannya, aku hanya berjalan menuju neraka melalui tanah surga yang semu. Tidak ada harapan lagi selain hanya keberuntungan, maksudku, meski memilih untuk pindah sekolah sekarang, rasanya aku pada akhirnya juga akan bernasib sama. Yang bisa kulakukan hanya menyesal saja, seharusnya langsung pulang? Tidak, belum tentu itu akan menghindarkanku dari Sherly. Di hari-hari selanjutnya saat berkunjung lagi bisa saja aku malah tertangkap dengan situasi yang lebih buruk.


Perempuan itu, Sherly, dia sangat-sangat menyebalkan, aku jadi membencinya. Mungkin kapan-kapan aku akan memilih untuk membalas dendam, agar sama-sama bisa merasakan apa yang namanya putus asa. Terlepas dari itu, dia terlalu ikut campur, padahal hanya orang luar.


Rasanya kepalaku ingin meledak sekarang. Karenanya, aku membaringkannya ke atas meja sembari meratapi nasib, Ryuga sempat beberapa kali mengusap punggungku, padahal tidak ada manfaatnya.


Akhirnya aku kembali menegakkan posisi dudukku. Sementara yang kudapat adalah Pak December yang berdiri menghirup rokoknya.


“Karena sudah selesai, kalian boleh pergi.”


“Saya mau di sini sebentar, di luar sepertinya masih berbahaya.”


“Ya, baiklah.” Pak December berjalan menuju pintu, sebelum sampai dia berkata, “Jangan lupa menutup pintu lagi saat kalian keluar nanti.”


Saat pintu yang Pak December maksud terbuka, di sana aku bisa melihat dengan jelas wajah Sherly yang kesal terhadapku. Tapi aku mengabaikannya saat Ryuga tiba-tiba menepuk pundakku.


“Apa?”


“Kapan kau akan bergabung dengan Klub Relawan?”


Sudah kuduga dia akan membicarakan topik yang sama lagi. Aku memang sempat mengatakan akan bergabung, tapi tidak sekarang saat situasi sedang kacau. Lagi pula ada beberapa hal yang perlu kusiapkan untuk itu, jadi tidak sembarangan mengisi formulir pendaftaran begitu saja.


“Sudah kubilang beberapa hari lagi.”


“Kapan tepatnya?”


“Daripada mempertanyakan itu, aku tidak yakin Sherly akan setuju jika aku bergabung dengan klubmu, mengingat dia juga termasuk salah satu anggota.”


“Kalau kau mengkhawatirkan soal itu, aku bisa mengatasinya untukmu.”


Aku tidak mengerti apa yang dia maksud “mengatasi” di sini, karena itu bisa menuju pada beberapa pengertian. Hanya saja aku percaya kalau dia bisa melakukannya, kekuatan Ryuga itu sangat besar, hanya saja tersembunyi.