
Aku benar-benar takut ketahuan, sehingga memilih untuk duduk sebentar menarik napas lega, kemudian berdiri tegak.
“Tadi sangat menegangkan.”
Mengingat saja bagaimana Sherly mengejarku, membuatku sedikit tertawa. Sudah lama aku tidak berlarian seperti itu, rasanya membuatku semakin memanas. Tapi yang paling penting aku harus berterima kasih kepada Ryuga, bagaimanapun dia telah menyelamatkanku. Tidak, seharusnya aku tidak perlu berterima kasih, karena ini juga semacam tawar-menawar. Maksudku, dia membantuku, sedangkan aku harus bergabung dengan klubnya.
Sempat terdiam untuk berpikir, aku akhirnya keluar dari ruangan ini dengan lega. Di luar tidak ada siapa pun, sangat sepi sehingga membuatku berpikir liar.
Sedang saat ini, sudah tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap di sekolah, karena itu awalnya saat berjalan kembali melewati kelas, aku berpikir, “Pulang saja ya.”
Sampai akhirnya berada di luar, tanpa kuduga aku bertemu dengan Osmond. Dia melambaikan tangannya kepadaku dari kejauhan, jadi aku memutuskan untuk menghampirinya.
“Lama tidak bertemu!” sapanya.
Sekarang dia sedang duduk pada kursi taman. Karena kursi tersebut bisa menampung sampai beberapa orang, aku jadi merasa kasihan saat di sampingnya tidak diduduki siapa pun—sekarang aku.
“Apa kau sudah tidak berjualan lagi?”
“Tidak, mungkin beberapa hari lagi saat ada acara.”
Sebenarnya aku ingin mendapatkan makanan buatannya dengan cara membayar seperti yang kukatakan kepadanya waktu itu. Berdasarkan janji pria di luar sana, menepatinya merupakan sebuah kesenangan tersendiri. Jadi aku benar-benar mengharapkan “beberapa hari lagi” yang dia maksud.
“Lalu bagaimana dengan klubmu? Jangan bilang belum mendapatkan anggota.”
Dia tertawa mendengar perkataanku. Tapi yang menarik perhatianku bukan itu, melainkan otot tubuhnya yang setara dengan atlet binaragawan, melihatnya lebih dekat memberikan kesan seperti itu di pikiranku.
Tidak kalah dengannya, sebenarnya aku juga punya tubuh yang bagus, bahkan lawan jenis akan pingsan kalau sampai melihatnya. Hanya saja yang berbeda dengan milik Osmond adalah bagaimana cara membentuknya, punyaku jauh lebih efektif jika melihatnya dari segi mana pun.
“Kalau klub, aku belum membuatnya, masih fokus mencari anggota saja dulu. Sudah ada satu sih.”
“Laki-laki apa perempuan?”
“... Perempuan, mungkin.”
“Eh...”
“Bagaimana denganmu, apa sudah punya klub?”
Pertanyaannya membuatku berpikir sejenak. Karena itu, aku memegangi kepalaku untuk membentuk pose saat seseorang memang sedang berpikir. Meski tidak ada tujuannya, aku melanjutkan gerakan tangan ke belakang untuk merapikan rambut.
“Sebenarnya belum, mungkin beberapa hari lagi akan menjadi sudah.”
Sepertinya Osmond tidak memahami maksudku, kepalanya bergerak miring sehingga seolah muncul tanda tanya di atasnya. Namun, dia adalah tipe orang yang tidak terlalu memasuki apa yang dianggap sepele, jadi membiarkannya begitu saja.
Kemudian bertepatan dengan gerakan kepalanya, terdengar bunyi panggilan telepon yang sama dengan milik Sherly. Itu berasal dari saku bajunya, mungkin pacarnya yang menelepon, karena wajah Osmond tampak senang.
Selagi dia mengobrol, aku diam saja tidak terfokus ke sana. Hanya saja ya, aku tetap mendengar di mana Osmond mendapatkan gilirannya untuk berbicara. Berbeda dengan telepon yang terjadi di antara Sherly dan Ryuga, suara dari seseorang yang menelepon Osmond sama sekali tidak bisa kudengar. Hingga akhirnya obrolannya selesai, aku tidak bisa memastikan siapa orang yang ada di sana. Ya, lagi pula bukan sesuatu yang penting juga.
“Aku pergi dulu ya, ada hal yang harus diurus.”
“Oh, baiklah.”
Di saat dia sudah pergi, aku jadi punya alasan untuk tetap tinggal di sekolah sampai bel berbunyi. Bukan sesuatu yang perlu untuk dilakukan di mana jika mengabaikannya bisa memiliki dampak besar dalam hidup, hanya untuk bersenang-senang saja. Meski ada risiko ketahuan lagi oleh Sherly, rasa bosan kalau hanya seharian di rumah malah lebih tidak ingin kualami. Karena itu aku langsung berjalan lagi dengan tujuan yang masih dipikirkan selagi mataku memperhatikan sekitar.
Tanpa sadar aku kembali masuk ke gedung utama. Padahal dengan menginjakkan kaki saja di sini sudah membuatku sadar akan betapa berbahayanya Sherly. Meski begitu, aku tetap lanjut berjalan melewati banyak orang yang wajahnya asing. Karena tidak ada tujuan yang jelas di mana dasarnya hanya untuk menghilangkan kejenuhan, aku kembali memeriksa kelas D dan tetap tidak ada Grizelle di sana, jadi aku berniat untuk melewatinya. Hanya saja dari kejauhan aku melihat apa yang tidak ingin kulihat di mana dari awal sudah menjadi konsekuensiku jika berjalan di atas lantai ini.
Dua orang, Sherly dan Ryuga, mereka terlihat serasi. Aku tidak tahu penyebabnya, tapi sepertinya mereka sangat disukai oleh banyak orang di sekitarnya, bahkan ada yang sampai meminta foto, dan itu ditolak oleh Sherly, lalu Ryuga malah menerimanya, jadi pada akhirnya mereka tetap berfoto. Tidak, daripada sibuk dengan itu, aku langsung bergegas bersembunyi di kelasku sendiri. Untung saja di dalam tidak ada orang, jadi aku tidak akan dianggap aneh.
Demi menghindari kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, aku memutuskan untuk bersembunyi di balik meja guru, karena jika misal Sherly melihat ke dalam sini melalui jendela, maka tempat yang kupilih sekarang adalah yang terbaik.
Tapi mungkin karena hari ini keseharianku juga didominasi oleh kesialan, jadi saat ada seseorang yang tidak kukenal menemukanku tanpa sengaja, dia cukup terkejut sehingga melepaskan beberapa kata bernada tinggi yang kemungkinan merambat ke luar ruangan sehingga membuat Sherly juga ikut mendengarnya. Terbukti saat Sherly masuk, dia menemukanku yang sedang bersembunyi dengan berjongkok. Karena kondisi yang sedang kualami benar-benar membuatku terpojok, terpaksa aku harus menyerah.
Sebagai tanda untuk itu, aku berdiri dengan mengangkat kedua tanganku. Sedang yang kudapatkan hanyalah tatapan jijik dari semua orang—kecuali Ryuga yang malah tersenyum—yang tiba-tiba berkumpul memenuhi kelas untuk menyaksikan apa sedang terjadi—aku yakin mereka hanya mengikuti kedua orang yang kukenal ini.
Ya, mau melakukan apa pun, pada akhirnya semuanya akan berefek buruk. Lagi pula sudah tidak ada yang bisa kulakukan juga sebenarnya, mengingat jika melarikan diri, maka semua pasukan yang mengikuti Sherly juga akan mengejarku, walau aku sepertinya tetap akan kuat untuk menghindari mereka. Hanya saja apa yang kudapatkan jika berhasil juga bukan sesuatu yang bagus, mereka malah akan mencoba mencari tahu apa yang terjadi atau sekarang malah sudah tahu. Karena apa-apaan semua orang ini, mereka benar-benar menganggapku menjijikkan.