
Hari ini, pada waktu pagi sekitar pukul 5, aku duduk pada sofa yang dari tadi malam kugunakan untuk tidur.
Tidak seperti pahlawan super maupun tokoh revolusioner yang dengan gagah berani melawan kejahatan, mengingat kejadian mengerikan itu saja sudah cukup untuk membuatku merinding. Lagi pula, sekarang belum ada rencana yang muncul di kepalaku. Mengatasinya dengan ilmu pengetahuan adalah satu-satunya jalan, jika menggunakan kekerasan tentu saja akan sia-sia, karena tubuh bahkan mustahil digerakkan.
Bangkit dari posisi, aku berjalan menuju balkon yang mengarah pada halaman bagian belakang rumah. Ketika itu, udara sejuk langsung menerpa kulitku yang kering, tapi itu bukanlah sebuah kekurangan. Berbeda dengan es di antartika, ketika tidur di waktu-waktu seperti ini, maka setiap orang akan terbangun pada siang hari. Seseorang yang juga punya gangguan tidur, dapat dengan mudah terlelap karena suatu alasan yang jelas, suasana menenangkan.
Bagian favoritku saat berada di balkon adalah pemandangan yang terlihat. Kehijauan membentang dari segala sudut penglihatan, ditambah struktur rumahku yang dibuat modern mengikuti perkembangan zaman.
Untuk sementara waktu, aku dibuat berdiam diri di tempat yang sama. Namun, jika begini terus, aku bisa terhanyut di dalamnya sehingga melupakan hal-hal penting yang seharusnya lebih diprioritaskan. Sayangnya, dengan sengaja aku berjalan sangat lambat, meninggalkan balkon rasanya sudah seperti sebuah situasi yang mustahil dilakukan.
Saat waktu penuh kemalasan berlalu, akhirnya aku sampai di dalam kamarku sendiri. Itu terletak di lantai 2 bersama dengan kamar adikku, Yuna, tetapi tidak berdempetan. Sekarang dia sedang berlibur, ibuku juga sama, meninggalkanku sendirian tanpa punya teman untuk diajak berbicara. Selain itu, mereka jarang sekali menghubungiku melalui pesan maupun telepon, walau begitu aku tidak terlalu memikirkannya sih. Lagi pula, sebelumnya kami sudah sepakat tentang ini karena ada penyebab yang sudah jelas tidak boleh diabaikan, yaitu sekolah. Dengan kata lain, sekarang adalah hari pertamaku memulai pembelajaran sebagai siswa tahun pertama di salah satu Sekolah Menengah Atas. Untuk itu, aku bergegas mandi setelah memastikan jam pada ponsel yang tergeletak di atas kasur.
Saat membiarkan air dari shower mengucur deras melalui atas kepala, aku membasuh seluruh tubuhku mulai dari ujung ke ujung. Mengingat ini pagi hari, sudah jelas rasanya dingin bukan main, tetapi itu lebih ke menyegarkan. Sesekali aku mengubah gaya rambutku ke belakang, tidak ada tujuan tertentu tetapi mungkin hanya sebuah kebiasaan.
Keluar dari kamar mandi, tidak ada satu pun kain yang menutupi tubuhku. Bukanlah hal cabul, melainkan kamar mandinya sendiri memang dibuat secara khusus pada masing-masing kamar. Jadi setelah mengeringkan air yang masih tersisa dengan menggunakan handuk, biasanya aku langsung mengenakan pakaian ataupun mengambilnya terlebih dahulu melalui lemari.
Seperti sekarang, aku lebih memilih untuk berganti baju. Meskipun setiap pakaian sekarang telah dibuat oleh bahan khusus yang dicampur cairan tertentu sehingga akan tetap bisa digunakan selama lebih dari sebulan penuh, menyesuaikan penampilan dengan kondisi sekitar merupakan pilihan yang terbaik. Berdasarkan musim panas dan juga hari pertama di sekolah baru, maka mengenakan pakaian yang tidak terlalu gelap mungkin akan bagus.
Sejak beberapa tahun yang lalu, aku, cukup menikmati masa-masa sekolah. Ada beberapa kelonggaran bagi para pelajar, salah satu aturan yang Pemerintah tetapkan adalah menghapus larangan atau membebaskan para siswa dalam mengembangkan penampilan mereka, dengan kata lain tidak lagi diharuskan mengenakan seragam ke sekolah.
Tentu karena itulah, aku mengenakan pakaian sehari-hari sekarang. Dengan penuh kemantapan hati, aku kembali berjalan melewati pintu kamar. Menyusuri tangga, aku menghentikan langkah kaki pada bordes, sementara waktu menatap ke sekitar tanpa tujuan yang jelas. Setelah memastikan tidak ada sesuatu yang perlu untuk dipikirkan lagi, aku memilih untuk keluar rumah dengan cepat.
Di luar pintu aku melakukan sedikit peregangan. Itu sudah bagian dari kebiasaanku sebelum pergi ke sekolah, karena bukan menaiki mobil, aku menggunakan sepeda. Jarak rumahku dengan sekolah tidak terlalu jauh, mungkin butuh waktu belasan menit jika mengayuhnya secara normal.
Melalui jalan lurus yang terhubung dengan jalan raya, ke mana pun arahnya sudah pasti setiap orang akan melewatinya. Dari titik mulai, hingga melewati beberapa rumah, ada sebuah rumah yang di depannya terdapat gerbang hitam besar yang selalu tertutup. Itu adalah rumah teman perempuanku, lebih tepatnya mantan teman, namanya April. Untuk beberapa alasan, sekarang kami pura-pura tidak saling mengenal.
Berbicara tentang April, tidak jauh setelah melewati rumahnya aku kembali melihat pemandangan yang sering kali tampak di pagi hari sebelum sampai ke sekolah.
Rambut panjang berwarna kuning lemon yang teruntai.
Itu milik April, dan saat ini dia sedang berada cukup dekat denganku. Sebisa mungkin aku mengayuh pedal sepeda dengan pelan di belakangnya.
Bertemu dengan April, bukanlah sebuah keajaiban, melainkan masalah tersendiri. Sifatnya yang sejak kecil sudah galak, suka memukul, dan tidak pernah mau mengalah, membuatnya dijauhi oleh hampir semua orang. Meskipun begitu, hal-hal tersebut tidak dapat menutupi fakta bahwa dia adalah seorang perempuan yang cantik, untuk fakta ini aku sendiri bisa menjaminnya karena dulu kami saling mengenal dengan baik.
Menyapanya seperti “Yo!” adalah hal yang rutin kulakukan. Tetapi untuk sekarang aku lebih memilih mengabaikannya dengan hanya lewat begitu saja.
Seperti biasa setelah melewatinya, April melirikku dengan wajah yang serius. Itu sudah normal untuknya, dari sudut pandang orang lain April sudah pasti akan terlihat seperti seorang perempuan galak yang dingin. Dia juga pendiam, tetapi jangan sekali-kali mencoba menyinggungnya, jika itu terjadi maka semuanya akan berakhir.
Seperti dulu, seingatku waktu di Sekolah Dasar, ada sekumpulan anak laki-laki yang mengganggunya, mereka akhirnya mati, secara mental. Besoknya orang tua mereka marah-marah ke sekolah, meminta agar April dikeluarkan untuk beberapa tuduhan yang sudah jelas. Pihak sekolah menelepon orang tuanya, yang datang malah seseorang yang punya posisi tinggi dalam hampir segala bidang, ahli ekonomi dan politik terkenal, itu ibunya sendiri.
Ending yang tidak pernah diduga-duga oleh semua orang, aku sudah lebih awal mengetahuinya. Sedikit tertawa karena itu, apalagi ketika melihat wajah orang tua korban yang melapor setelah kedua belah pihak bertemu secara langsung.
Meski begitu, orang tua April adalah seseorang yang benar-benar sibuk, berada di rumahnya pun sudah seperti sebuah keajaiban. Ibuku dan ibu April, mereka saling mengenal sejak lama. Terkadang mampir ke rumah, aku mengintip pembicaraan mereka dan melihat maupun mendengarkan banyak hal yang mustahil diketahui oleh umum bahkan wartawan.