
“Kenapa kau keluar, Grizelle?”
“A-aku, tidak bisa.”
Grizelle sama sekali tidak mau menatapku, dia seperti seseorang yang sedang merasa bersalah, kebingungan untuk melakukan apa.
Aku memang sudah menduganya, bahkan aku juga bingung untuk memberikan respons. Meski sudah menyiapkan semuanya dari rumah, sekarang rasanya semuanya tiba-tiba menghilang.
Sherly sendiri pun, hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dia mulai berjalan menuju Grizelle sambil kembali mengusirku sebelum akhirnya masuk ke dalam kelas dengan menutup pintu cukup keras.
Saat mereka tidak ada, aku sempat diam sejenak meratapi nasib. Jika memikirkannya lagi, aku memang benar-benar sudah melakukan sesuatu yang sangat buruk. Memang perubahan emosi yang Grizelle alami termasuk dalam beberapa dugaanku, tetapi melihatnya secara langsung, rasanya membuatku malah menjadi perwujudan dari sekelompok orang yang paling aku benci.
Di awal yang kugunakan untuk mengungkap rahasia Grizelle adalah pemaksaan, ancaman dengan dalih pemerkosaan. Jelas berhasil, karena yang membuat mental Grizelle hancur bisa jadi merupakan apa yang tergambar di dalam kepalaku. Tujuanku melakukannya untuk menyelesaikan semua hal yang menurutku salah dan perlu untuk diselesaikan. Namun, bukankah aku sama saja dengan mereka? Caranya bahkan meniru, aku sudah membuat seorang perempuan yang baru berkecimpung denganku selama 2 hari langsung hancur. Tidakkah aku sadar kalau apa yang kulakukan adalah kesalahan? Ya, bahkan menebusnya saja sudah mustahil untuk dilakukan. Tapi aku membutuhkannya, demi ayahku, apa perlu aku mengorbankannya?
Membingungkan sampai-sampai membuatku sulit untuk berpikir. Menentukan banyak hal menjadi sebuah pilihan yang merupakan kebenaran sejati, lebih sulit daripada kesulitan itu sendiri. Kalau melihatnya lebih ke belakang, sudah jelas apa yang kulakukan terlalu terburu-buru. Sangat berbeda denganku yang dulu, sekarang rasanya aku tidak bisa menahan diriku sendiri. Kalau begitu apakah dengan tidak mengganggu kehidupan Grizelle dapat dikatakan sebagai sesuatu yang benar? Aku mengorbankannya, ya, benar-benar iblis.
Setelah mendapatkan jawaban dan sebuah “rencana” di dalam kepala, aku memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Grizelle. Namun, hal pertama yang kulakukan adalah menyampaikan semuanya secara jelas tanpa niat memonopoli. Karena itu aku membuka pintu, di sana terlihat mereka sedang duduk pada bangku yang “seharusnya”.
“Apa aku boleh masuk? Ada yang ingin kubicarakan denganmu dan juga Grizelle.”
Tidak satu pun dari mereka menjawab, apalagi Grizelle yang menundukkan wajahnya, dia bahkan tidak membaca buku. Tapi karena itu juga, dengan kata lain aku diizinkan untuk masuk, karena jika misal tidak, maka Sherly akan berkata tidak.
Saat berjalan masuk, aku sempat menghentikan langkah mendengar Sherly yang memerintahkanku agar duduk pada kursi yang jaraknya jauh dengan mereka, tapi jika diukur maka lebih dekat pada Sherly, karena dia sedang duduk di sebelah Grizelle. Sesuai dengan perkataannya, aku benar-benar menuruti itu.
“Aku akan tetap—“
“Jangan menghadap ke sini,” sela Sherly.
Memang merepotkan, dia seperti seseorang yang punya kewenangan untuk mengatur, tapi mau tidak mau aku harus menurutinya.
“Aku akan tetap bersekolah besok, apa ada sanggahan?”
“Ditolak.”
Kalau seseorang melihatnya, kami seperti sedang melakukan penghakiman, dan Sherly adalah hakimnya.
Karena penasaran dengan bagaimana wajah Grizelle sekarang, aku sempat menoleh dan kembali menghadap ke depan saat Sherly berkata, “Jangan melirik, kalau tidak aku akan mengusirmu.”
Aku jadi ingin menyanggah perkataannya dengan kata-kata tajam. Mau memikirkannya dari sudut mana pun, aku punya hak atas tubuhku sendiri. Sedangkan barusan, aku bahkan tidak bisa memastikan apa Grizelle tetap menunduk ke bawah menyembunyikan ketakutannya atau malah menatapku dengan sedih.
“Kalau begitu bagaimana dengan 2 hari lagi?”
“Ditolak.”
“Senin yang akan datang?”
“Ditolak.”
“Bulan depan?”
“Ditolak.”
“Saat kenaikan kelas?”
“Ditolak.”
Apa-apaan dia?! Kalau begitu aku sama saja dengan tidak sekolah. Dengan demikian, berarti aku harus siap dimarahi ibuku setiap hari. Tidak bisa kubayangkan jika itu sampai terjadi, karena ledakan gunung juga akan tetap terdengar lebih mengasyikkan daripada omelan ibu.
Tapi niat awalku masuk ke dalam sini belum kusampaikan, dan baru akan kusampaikan sebentar lagi. Aku harap reaksinya akan lebih baik dengan tidak hanya menjawab “Ditolak” terus-menerus.
“Bagaimana dengan ini, aku berjanji tidak akan pernah melakukan kontak apa pun dengan Grizelle, tapi aku boleh bersekolah.”
Setelah mengajukannya, aku tidak mendengar jawaban apa pun dari belakangku. Aku yakin mereka sedang berdiskusi di sana, atau yang semacamnya.
Mau bagaimanapun, tawaranku kali ini sudah jelas sangat bisa untuk dipertimbangkan. Karena dengan aku yang berjanji untuk tidak berhubungan dengan Grizelle lagi, maka semuanya akan lancar seperti semua, maksudku untuk mereka. Kenapa? Karena sudah jelas mustahil bagi Sherly untuk terus berada di sisi Grizelle setiap saat, jadi jika menerima tawaran, dia bisa kembali mendapatkan aktivitas normalnya. Selain itu jika memikirkan keuntungan yang Grizelle dapat, maka tentu saja dia bisa menyembunyikan rahasia tentang masa lalunya. Meski perlahan, Grizellle akan mulai tenang menjalani hidupnya sehingga dia bisa kembali menjadi dirinya sendiri ataupun dirinya yang semu, mengingat tidak akan ada satu pun hal yang akan kulakukan kepadanya.
Dan dari sana, aku juga mengharapkannya, di mana Grizelle serius dalam proses belajarnya. Dengan kata lain aku harus melupakan keinginanku untuk mengungkap dalang di balik kasus pada masa lalu yang menimpa keluargaku. Lagi pula jika semuanya masih berlanjut, tidak ada gunanya untuk menyelamatkan seseorang yang tidak kukenal, bukankah begitu seharusnya? Tidak, jelas berguna, karena pendapat tadi hanya akan kupilih di masa lalu. Sedangkan sekarang adalah sekarang, aku harus melupakan itu semua dan bergerak menurut bagaimana alur akan membawaku. Untuk sekarang fokus pada mencari kehidupan yang tenang dan damai terlebih dahulu, ya, itu yang terbaik.
“Apa kau akan memegang janjimu? Karena itu akan berlaku untuk selamanya.”
“Ya, aku berjanji untuk menetapi janjiku apa pun yang terjadi.”
Begitulah aku, ini adalah salah satu kebiasaanku yang masih melekat dalam dirimu sejak dulu. Jadi mau terjadi badai dan tsunami pun, aku akan tetap tidak akan melanggar janjiku, karena itu terlalu menyedihkan untuk dilakukan.
“Kalau begitu kami menerimanya, dengan satu syarat.”
“Eh, apa itu?”
“Jangan masuk sekolah dulu sebelum minggu ini selesai, bagaimana? Seharusnya kau tahu alasannya, atau kau memang lebih bodoh dari yang kukira.”
“Ya, aku mengerti.”
“Kalau begitu pergilah, kau yang sekarang memang menjijikkan, tapi lebih baik dari dirimu yang sebelumnya.”
Aku tidak tahu apa itu pujian atau tidak, tapi aku sangat-sangat berterima kasih.
“Apa boleh aku menyampaikan kata-kata terakhir kepadanya?”
“Tidak, pergilah.”
“Aku mohon, aku belum menyampaikan permintaan maafku.” Kali ini aku benar-benar berbicara secara tulus dari dalam hati.
“... Baiklah, tapi jangan mengatakan hal yang melanggar perjanjian.”
Aku langsung berdiri dengan tegak, lalu saat membalikkan tubuh, aku membungkuk dengan mata tertutup dari awal, tentu sebagai bukti kalau aku masih menepati janji.
“Aku minta maaf, benar-benar minta maaf atas segala hal yang telah kulakukan kepadamu. Aku sudah berniat untuk menggunakanmu, dan itu sangat menyedihkan, itu membuatku jadi tidak ada bedanya dengan mereka. Dari awal aku sama sekali tidak tahu kalau kau memiliki—tidak, lupakan. Sebenarnya aku juga sadar kalau apa yang telah kulakukan kepadamu tidak mungkin akan setara hanya dengan sebuah permintaan maaf, tapi aku tetap ingin agar kau memaafkanmu, bahkan aku bersedia bertanggung jawab untuk menikahimu, tapi aku tahu itu mustahil. Jadi aku benar-benar minta maaf!”
Setelah selesai dengan kalimatku, aku langsung berjalan keluar kelas dengan tanpa melihat reaksi apa yang Grizelle keluarkan. Tentu selama berjalan sebelum akhirnya melewati pintu, yang kurasakan hanyalah sebuah penyesalan yang teramat sangat mendalam. Bagaimana tidak, Grizelle itu bisa kujadikan teman, bahkan kami sudah berteman. Sedangkan sekarang apa? Aku sudah sepenuhnya kehilangan semua hal dari dirinya selain beberapa kenangan di dalam ingatan.
Menyedihkan, rasanya aku ingin menangis. Tapi ketika membuka pintu, yang tampak adalah senyuman dari seseorang yang biasa mengeluarkan ekspresi semacam itu.
“Ryuga?”
Ya, dia adalah Ryuga. Aku tidak tahu apa dia sudah mendengarkan semuanya, tapi yang jelas dia sedang bersandar pada dinding yang terletak tepat di depan pintu.
Karena mungkin agar tidak ada yang tahu, Ryuga memberikanku isyarat agar aku berhenti bicara, dan tentu aku menurutinya.
Setelah menutup kembali pintu, kami akhirnya berjalan bersama melewati lorong sekolah yang belum ada satu pun orang selain kami yang berdiri.
“Apa kau tadi sengaja menguping?”
“Tidak, aku hanya kebetulan menemukan kalian dan memilih untuk menunggu saja.”
Perlahan kesuraman di wajahku hilang saat beradaptasi dengan sinar yang keluar dari Ryuga. Dia memang yang terbaik untuk mengatasi kondisi semacam ini, maksudku seperti yang kualami saat ini.
“Jadi bagaimana, apa kau lega?” Dia bertanya.
“Iya, sangat lega. Tapi Sherly benar-benar menyeramkan, aku kalah telak.”
“Memang seperti itulah dia. Oh iya!”
Aku sudah tahu kalau Ryuga berkata “Oh, iya” maka topik pembicaraannya akan mengarah ke mana. Apa dia tidak tahu kalau manusia itu punya rasa bosan?
“Bagaimana kalau kau bergabung dengan Klub Relawan sekarang?”
Dari pertanyaannya, aku bisa memastikan kalau dia tidak mendengarkan percakapan kami. Karena dengan bertanya demikian, sudah jelas dia tidak tahu dengan persyaratan yang Sherly ajukan kepadaku.
Berpura-pura? Sepertinya tidak mungkin. Lagi pula, Ryuga tidak ada hubungannya dengan masalah yang kualami, jadi tidak ada alasan untuk dia melakukannya.
“Aku pikir itu akan sia-sia?”
“Kenapa begitu?
“Karena ada persyaratan yang harus kupenuhi.”
“Jadi, kapan kau akan bergabung?”
“Beberapa hari lagi, dihitung mulai dari Senin depan.”
Ryuga membuka matanya lebar-lebar saat mendengarnya. Ya, dari awal aku juga sudah mengatakan “Beberapa hari lagi” kepadanya, bahkan tidak bisa kuhitung lagi jumlahnya. Jadi jika mengatakannya seperti ini, aku sedikit merasa bersalah, apalagi dia sudah membantuku kemarin.
“Bukankah itu masih lama?”
“Iya, karena dari persyaratannya, aku hanya boleh bersekolah mulai dari Senin depan.”
Sepertinya setelah aku mengatakannya, Ryuga hanya bisa pasrah. Dia tidak berkata apa-apa atau menanggapi perkataanku dengan kalimat ajakannya, tapi tersenyum kembali tak lama kemudian.
“Kenapa bersedih seperti itu? Aku tidak bilang akan menolak untuk bergabung. Biar kukatakan, sebenarnya dari awal aku sudah memutuskan untuk bergabung dengan klubmu, hanya saja ada gangguan, seperti sekarang.”
“Benarkah?”
Aku mengangguk beberapa kali untuk menanggapinya.
Dia terlihat senang sekarang, dan karena itu juga, aku jadi tidak ingin memikirkan hal lain lagi. Maksudku, sebelumnya pikiranku hanya terfokus agar bagaimana caranya menyelesaikan masalahku dengan Grizelle yang dipersulit oleh Sherly. Jadi setelah semuanya selesai sehingga aku bisa bersekolah dengan tenang, aku benar-benar lega. Sementara mengobrol dengan Ryuga malah membuat perasaanku yang sudah lega menjadi semakin lega, karena aura miliknya sangat efektif untuk menerangi kesuraman.
Hingga keluar dari gedung utama, aku masih bisa melihat senyumannya. Meski awalnya aku tidak menyukai itu karena suatu alasan, sekarang sepertinya aku sudah terbiasa.
Setelah kami berpisah, aku menuju tempat parkir di mana sepeda sedang berada di sana, sedangkan Ryuga hanya melambaikan tangannya dari kejauhan.
Saat melewati gerbang, aku melihat beberapa murid yang mulai berdatangan. Mereka hebat, maksudku, mereka tidak menggangguku sebelumnya, jadi aku bisa menyelesaikan masalahku.