Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 02 bagian III: Menunggu Bel Berbunyi



Tentu aku salah, sepenuhnya salah di sini. Jika seseorang menganggapku sebagai pecundang karena telah mengabaikan lawan jenis yang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan, maka tidak ada penolakan. Tapi aku tetap pada pendirianku, sekarang tidak ada masalah yang datang, jadi aku bisa duduk dengan tenang.


“Maaf.”


Entah kenapa, aku berani mengucapkan itu. Setelah melihat betapa lemahnya Grizelle sebelumnya, rasanya tidak perlu sampai terlalu gugup. Untuk suatu alasan yang ambigu, aku merasa kecanggungan di antara kami telah menghilang, lebih tepatnya hanya aku sendiri karena sejak Grizelle berbicara padaku di awal, dia terlihat sempurna di seluruh bagian.


Tanggapannya memang lambat, tapi dia akhirnya menoleh.


“Untuk apa?”


“Aku melihat kejadiannya, dan hanya diam saja.”


“Ya, kau memang payah. Tapi pilihan bagus karena tidak mencampuri urusanku, kau kan juga tidak bisa apa-apa.”


Selain cuek terhadap orang lain, dia ternyata punya mulut yang cukup tajam, lebih tepatnya dengan mudah berbicara fakta yang dapat menyakiti pendengarnya. Namun, itu semua tidak dapat menutupi kelemahannya, yang mengetahui itu pertama kali sebagai orang luar, adalah aku, mungkin.


“Kau tahu, setidaknya aku bisa mengalahkan 10 orang dewasa, jadi kalau hanya bertengkar dengan satu orang remaja, itu akan sangat mudah.”


“Pertengkaran tidak dapat menyelesaikan apa pun.”


Dia mengatakannya dengan suara yang pelan selagi wajahnya kembali pada bukunya.


Memang, pertengkaran tidak dapat diselesaikan juga dengan pertengkaran, tapi untuk beberapa kasus, hal tersebut sama sekali tidak memiliki peran. Jika salah satu pihak yang ikut dalam kelahiran sebuah konflik mengalami kekalahan melalui kekerasan, maka pihak lain akan memiliki dominasi. Dengan fakta tersebut, kedamaian meskipun semu dapat diciptakan, sehingga tidak dapat menutup kemungkinan konflik dengan sendirinya terkikis oleh waktu. Satu tahun, sepuluh tahun, ribuan tahun dan jutaan tahun, berapa pun itu, kedamaian pasti ada setidaknya pada detik-detik tertentu.


Ketika kami berhenti berbicara, suasana kelas kembali pada keheningan. Sesekali aku mendengar coretan pena di atas kertas, setidaknya hal tersebut sedikit memberikan warna di dalam sini.


“Namaku, Crayon.”


“Aku tidak berniat untuk mengenalmu lebih jauh.”


Ya, itu benar, dia bahkan mengatakannya tanpa menatapku.


“Tapi aku tahu namamu, Grizelle. Jadi kita sudah seperti teman sekelas, bukankah begitu?”


Kali ini mendengar perkataanku, dia melirik dengan wajah yang sedikit kesal. Itu membuatku mengingat kenangan di masa lalu, tentang cerita seorang gadis yang paling sulit untuk didekati di dunia ini.


“Teman kau bilang? Apa hal semacam itu dibutuhkan?”


Aku tahu untuk topik ini dia sangatlah berhubungan, tertarik masuk ke dalamnya. Meski berkata seolah dia bisa hidup tanpa orang lain, aku tahu itu tidak sepenuhnya keluar dari dasar hatinya yang rapuh.


Seseorang yang menyembunyikan sesuatu tentang masa lalu, itu dapat dengan mudah disadari olehku. Aku memang tidak mengetahui secara pasti apa masalah yang sedang menimpanya, tapi dia yang sekarang terlihat mirip sepertiku di masa lalu. Bukannya terlihat keren, malah lebih ke menyedihkan, walau orangnya sendiri pun tidak akan menyadarinya, dan Grizelle memang terlihat keren untuk bagian-bagian tertentu sih.


“Tentu saja. Kau yang sering membaca buku seharusnya tahu lebih banyak dariku.”


“Omong kosong.”


Dia kembali pada kegiatannya, membaca dan menulis. Tetapi aku merasa tidak ingin mengakhiri pembicaraan ini begitu saja, entah karena alasan apa, rahasia hidupnya ingin terus kugali lebih dalam.


“Diamlah, aku sedang belajar.”


Bukan karena merasa bersalah, aku akhirnya memilih untuk menghentikan perkataanku sesuai dengan apa yang diperintahkannya, sedikit tersenyum setelahnya. Tetapi karena itu juga, aku jadi sedikit bosan. Jadi aku duduk secara miring dari kursi dengan menghadap Grizelle selagi mataku menyaksikan apa yang sedang dilakukannya.


Tak lama kemudian, mungkin dia merasa tidak nyaman saat ditatap oleh orang lain, dia jadi balik menatapku.


“Dari tadi kau melihat ke arah mana? Aku akan melaporkannya jika kau terus-terusan menatapku, dasar penguntit.”


Ini pertama kalinya aku dikatakan begitu, sehingga tidak bisa menahan tawa. Apalagi sudah sejak kapan aku berbicara dengannya? Hebat sekali rasanya bisa mengobrol dengan seorang perempuan yang baru dikenal dalam waktu yang lama.


Mungkin karena tipe perempuan seperti Grizelle memang sangat cocok denganku. Dari awal aku sebenarnya sudah menyadarinya, entah kenapa tidak ada rasa canggung ketika berada di dekatnya.


“Dasar orang aneh,” kata Grizelle.


“Aku normal. Oh iya, bagaimana kalau kita berteman?”


Mengingat dia sendiri berkata kalau dirinya tidak akan membuka hubungan dengan orang lain, jadi untuk memastikannya terkadang pertanyaan seperti ini sangat dibutuhkan. Meski seperti sebelumnya, hubungan tidak selalu harus didasarkan pada kata-kata.


“Huh? Sudah kubilang aku tidak butuh teman.”


“Kenapa begitu?”


Grizelle bernapas kasar melihat aku yang sebenarnya sedang berpura-pura tidak memahami situasi.


Bersikap polos sepertinya juga tidak buruk untuk waktu-waktu yang mendukung. Selain tidak perlu memikirkan topik pembicaraan yang bisa saja membuat pikiran menjadi tumpang-tindih, hanya dengan duduk dan mendengarkan orang lain menjelaskan saja sudah dapat membuat sebuah obrolan berlangsung cukup lama.


“Teman itu hanya akan mempersulitmu. Mereka hanya datang saat yang kau berada di atas, lalu pergi saat kau sudah di bawah. Mereka hanya memanfaatkan kelebihanmu untuk kebutuhan diri mereka sendiri, dan kau berkata masih berkata kalau teman itu penting? Bodohnya.”


Itu benar, tapi tidak secara keseluruhan. Dari pengalamanku, hal tersebut tidak pernah kualami sekali pun semasa hidup. Kenapa? Karena temanku sangat sedikit, bahkan hanya satu orang mungkin. Namun, teman dalam hal ini menurutku adalah seseorang yang memang dibutuhkan keberadaannya di dalam menjalani hidup, bukan seperti yang Grizelle gambarkan di dalam kepalanya.


Teman yang datang karena alasan untuk dirinya sendiri, jelas berbeda dari kata teman yang kupikirkan. Setiap orang tentu saja dapat mengartikannya berbeda-beda, sepertiku dan Grizelle. Tapi di mataku, apa yang Grizelle anggap sebagai teman hanyalah sebuah julukan yang tidak mencerminkan arti sebenarnya. Seolah dengan berkata bodoh, dialah yang bodoh dalam kalimatnya sendiri. Salah dalam memilih seseorang untuk dijadikan teman adalah sepenuhnya hal normal, karena kita bukan Tuhan yang mengetahui segalanya.


Tapi dalam kasus Grizelle, dia berkata begitu seolah dengan jelas menyampaikan kalau dirinya pernah mengalami yang namanya dimanfaatkan teman. Setidaknya dari itu, aku dapat menarik banyak kesimpulan tentang dirinya. Itulah betapa berbahayanya setiap kata yang keluar dari mulut, ada banyak fakta tersembunyi yang tidak sengaja terlepas.


“Kalau begitu aku akan menjadi teman yang selalu ada di saat kau membutuhkan sesuatu. Bagaimana, apa itu sudah cukup?”


“Tidak ada jaminan kalau kau akan melakukannya.”


“Ya.”


“Apa maksudnya dengan ‘Ya’?”


Setelah Grizelle bertanya seperti itu, aku beranjak dari tempat duduk lalu berjalan menuju pintu tanpa menjawabnya.