
Hanya saja seperti yang kutahu sendiri, aku sudah berjanji untuk tidak pernah lagi berhubungan dengannya. Tentu itu membuatku mustahil untuk mewujudkan apa yang ibu pikir sebaiknya kulakukan. Meski tidak terikat janji pun, aku masih ragu kalau Grizelle akan menerima tawaranku untuk berpacaran, apalagi menikah.
“Baik, Bu, aku akan mengabarinya nanti.”
Telepon langsung dimatikan begitu saja dari sana. Karena itu layar pada ponselku jadi berubah kembali menjadi halaman depan, di mana terdapat wallpaper yang tidak pernah kuganti sejak dulu. Kemudian tanpa perlu menghirup napas tambahan, aku memasukkan ponsel kembali pada saku.
Telah kuputuskan, untuk terakhir kalinya aku menatap ke lantai bawah dengan kedua tangan yang memegang pembatas. Aku tidak mendapati pemandangan baru yang kuharapkan, jadi pergi tak lama setelahnya.
Sampai pada tempat yang kutuju, aku langsung berbicara dengan pemiliknya untuk mengirimkan beberapa makanan dan minuman yang telah kupilih terlebih dahulu, sehingga setelah membayar menggunakan kartu, aku hanya perlu menunggu barangnya dikirim ke rumah nanti.
Setelah meninggalkan tempat tersebut, aku baru menyadari kalau di rumah juga tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghabiskan waktu luang. Jadi aku memutuskan berjalan-jalan begitu saja, tanpa mengetahui arah yang tepat jika ingin pergi ke tempat bermain. Tapi seingatku, rasanya aku sempat melihat sesuatu yang berwarna-warni di lantai bawah. Maka dari itu, aku berjalan kembali ke sana dengan menuruni tangga.
Tepat seperti yang kuduga, bahkan sekarang aku sudah berada di dalamnya. Jika melihat dari luar, siapa pun akan tahu kalau area ini memang dikhususkan untuk anak-anak, di sekeliling didominasi oleh banyak permainan, meski ada toko pun, dagangannya juga untuk anak-anak. Jadi bagaimana bisa seseorang menyebut tempat ini sebagai pusat perbelanjaan, bukankah ada julukan lain seperti tempat bermain?
Terlepas dari itu, permainan yang ada di sini menyenangkan. Aku sempat memainkan semacam bola basket, dan memenangkan hadiah utamanya setelah berhasil melempar masuk semua bola yang ada di keranjang. Memang agak gugup saat ditatap penjaga wanitanya, aku pikir perannya juga hanya untuk mengganggu. Sayangnya, aku menang, dan hadiah yang kudapatkan pada akhirnya tetap uang. Entah jumlahnya berapa, tapi katanya semua sudah dimasukkan ke dalam Kartu Identitas yang sedang kubawa.
Aku pikir untuk seseorang yang kekurangan uang mungkin harus pergi ke tempat ini. Awalnya pendapatku tentang uang adalah sesuatu yang sulit didapatkan tapi aku sudah mendapatkan banyak dari jumlahnya. Namun, sekarang hanya dengan melempar masuk 10 bola basket ke dalam ring yang berjarak lebih dari 5 meter, seseorang sudah bisa membeli sesuatu yang mahal, aku rasa hadiahnya memang tidak main-main.
Lalu berjalan sedikit, aku berhenti pada semacam arena balap yang tentu saja dikhususkan untuk anak-anak, sebenarnya dewasa juga boleh sih. Dan apa yang kulihat saat tiba-tiba dari kejauhan mulai berdatangan gokar yang dinaiki oleh beragam usia pengendara, membuatku terkejut saat menyadari kalau salah satu dari mereka ternyata AI. Dia memang tidak menyadari keberadaanku karena tidak sempat melirik ke sini, tapi hebatnya dia mengemudikannya dengan sangat cepat. Melihat dia bermain, membuatku ikut bermain pada akhirnya.
Aku sempat kebingungan terkait bagaimana caranya menggerakkan gokar berwarna abu-abu yang bentuknya mirip sebuah roket ini, beruntungnya ada seseorang yang memanduku, jadi dengan cepat aku mulai terbiasa. Sayangnya secepat apa pun aku mengemudikannya, pada akhirnya aku tidak bisa mendekati AI sama sekali, karena itu aku memutuskan untuk diam menunggunya hingga melewati jalur ini lagi.
Saat sudah tiba waktunya, aku langsung menancap gas agar bisa selaras dengan kecepatan AI yang berada di belakang. Mungkin cara yang kulakukan benar, dia akhirnya memelankan gokarnya di sampingku meski jalurnya sedang lurus.
“Yo!”
“Bagaimana kalau balapan?”
Itu sebuah ajakan yang gila, bukan? Karena itu juga, AI mulai menancap gasnya sehingga tercipta jarak beberapa meter di antara kami.
Tak diam begitu saja, kami akhirnya benar-benar balapan. Masalahnya AI dapat mengemudikan gokarnya dengan kecepatan penuh tanpa takut menabrak pembatas, karena hebatnya dia bahkan hanya sedikit menurunkan kecepatan saat sampai di tikungan. Jadi jika menggambarkannya, ini masih lebih ke pembantaian. Karena pada akhirnya, aku kalah telak setelah AI menyalipku beberapa kali.
Aku tidak tahu ke mana tujuan AI selanjutnya, tapi sekarang aku sedang mengikutinya. Kalau dipikir-pikir, kami seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. Meski pastinya pendapat seseorang tentang itu akan menganggap kalau aku tidak bisa membahagiakannya, sebab AI bahkan tidak menunjukkan satu pun ekspresi.
Muka datarnya itu membuatku kebingungan untuk merespons. Berbicara dengan menanyakan ke mana kita akan selanjutnya juga belum tentu akan dijawab. Tapi dari banyak tipe perempuan, yang paling nyaman didekati salah satunya adalah yang seperti AI. Kenapa? Karena dia akan membiarkannya, seolah berjalan begitu saja tanpa memedulikan apa pun. Walau begitu, dia juga yang paling sulit untuk diakrabkan. Seperti sekarang contohnya, tidak ada yang kulakukan selain hanya mengikuti.
Sampai pada mesin capit boneka, AI malah seperti tertarik dengan yang semacam itu daripada sesuatu yang perlu tenaga ekstra seperti tadi.
Pertama dia menggesekkan kartu, mungkin sebuah Kartu Identitas. Kemudian memencet beberapa tombol yang terpisah-pisah di bagian sudut, lalu menggerakkan joystick sehingga membuat capit yang berada di dalam juga ikut bergerak. Tapi di percobaan pertamanya, dia gagal. Mencoba lagi, dia gagal lagi. Hingga akhirnya sampai beberapa kali bermain, dia tetap tidak bisa.
“Biar aku yang bermain.”
AI membuka ruang kepadaku, mungkin dia juga sudah kesal karena tidak menang satu kali pun.
Sebenarnya aku juga tidak terlalu mahir bermain permainan seperti ini maupun sejenisnya, karena memang kurang suka. Selain itu, mesin capit yang berada di depanku sekarang sudah pasti dilengkapi dengan pengaturan drop skill, di mana akan menyusahkan seseorang yang berniat untuk membangkrutkan operator dari mesin capit tersebut. Sehingga hanya dengan mengandalkan keakuratan penempatan ataupun analisa posisi hadiah tidak akan cukup untuk mendapatkan benda yang diinginkan.
Untuk cara memainkannya aku sudah tahu, jadi hanya tinggal mengandalkan keberuntunganku supaya hadiah bisa kudapatkan. Kalau berhasil, sudah jelas itu akan menjadi sangat keren, ya, seperti adegan memberikan sebuah boneka kepada perempuan yang disukai setelah perempuan tersebut gagal memainkan mesin capitnya.
Capit yang bergerak lurus ke samping, mulai mengapit sebuah boneka berwarna biru yang terlihat lembut dengan banyak bulu pada permukaannya ketika sudah meluncur ke bawah. Hanya saja sebelum aku bisa mendapatkannya, itu terjatuh di tengah-tengah. Memang sangat disayangkan, tapi aku mencobanya lagi.