
“Emmm, Minggu ini apa kau ada kegiatan yang menarik? Mungkin itu bisa kujadikan sebagai pertimbangan agar bergabung lebih cepat.”
“Ada, tentu saja ada! Tapi belum diputuskan akan ke mana. Seperti yang pernah kukatakan kepadamu, setiap minggu kami selalu berlibur.”
“Itu akan sangat menyenangkan.”
Saat aku memujinya, Ryuga tampak senang karena mengira aku sepertinya akan benar-benar bergabung dengan klubnya. Tentu aku memang berniat untuk bergabung, tapi kondisi yang kualami sekarang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Dari awal juga ada satu hal yang masih mengganjal di pikiranku, jadi aku ingin mengatasi yang satu ini terlebih dahulu. Masalahnya meskipun itu selesai, masih ada banyak hal tidak menyenangkan lainnya yang perlu diatasi. Contoh saja ibuku, jika dia sampai mengetahuinya, maka aku sudah tidak bisa membayangkan saat dia marah-marah nanti.
“Jadi kau akan bergabung dalam minggu ini?”
“Inginnya sih begitu, tapi aku kena skors dalam waktu yang lama, sebenarnya tergantung juga sih.”
Ya, itu adalah masalah utamanya. Karena dengan diskors, aku tidak bisa bergerak di sekolah secara leluasa, apalagi ditambah popularitasku yang tiba-tiba naik sejak kurang dari 1 jam yang lalu, sudah mustahil untuk melakukan rencana penculikan Grizelle agar dia mau mengatakan kejadian detailnya.
Memikirkan itu saja sudah cukup untuk membuatku pusing, sekarang Sherly malah masuk ke dalam ruangan karena mungkin baru sadar kalau perbincangan dengan Pak December telah berakhir.
“Apa hukuman yang orang menjijikkan ini terima?” Dia bertanya kepada Ryuga.
“Tidak ada, kami hanya mengobrol saja dari tadi.”
Wajah Sherly seolah tidak terima, aku bisa merasakannya hanya dengan melihat saja. Tapi kenapa ya? Aku tidak merasa dia kesal cuma karena aku melakukan hal yang tidak senonoh kepada Grizelle, seolah dia itu punya dendam pribadi.
“Ke mana Pak December pergi tadi? Aku ingin berbicara dengannya.”
“Dia tidak bilang apa-apa, tapi mungkin ikut rapat, kau seharusnya tahu kan tempatnya.”
Sherly hanya menanggapinya tanpa bertanya apa pun lagi. Ketika dia berbalik, masih saja tatapan matanya melirikku dengan jijik, padahal tinggal keluar saja. Dan saat dia membuka pintu, orang-orang yang berkerumun di luar berlarian kocar-kacir. Entah kenapa, tapi begitulah yang terjadi.
Tepat setelah pintu tersebut ditutup oleh Sherly, seseorang kembali menepuk pundakku. Ya, seperti sebelumnya karena aku yakin Ryuga akan membahas tentang klubnya.
“Apa benar tentang skors tadi?”
“Iya, malah aku pikir kau sudah tahu.”
“Kalau skors memang sulit untuk kuatasi, tapi akan kuusahakan agar kau bisa secepatnya bergabung.”
“Baiklah, kuserahku itu padamu.”
Aku pikir kemungkinan Ryuga juga akan bisa menyelesaikan masalah tentang skors ini. Memang aku masih bertanya-tanya bagaimana cara dia untuk melakukannya, hanya saja jika semuanya dapat berjalan dengan lancar, kenapa tidak.
Jadi ketika Ryuga mengatakan kalau dia akan mengusahakannya, aku sangat senang karena masih ada seseorang yang berdiri di sampingku. Bukannya menjauhi, dia malah mendukung sebagai seorang teman. Dari awal aku memang merasa kalau dia adalah orang yang baik, mungkin aku memang harus cepat-cepat bergabung dengannya.
“Ryuga, kau sebenarnya aneh.”
Mendengar itu, Ryuga memiringkan kepalanya sebagai bentuk tanggapan, itu biasa digunakan untuk bertanya tanpa harus membuka mulut.
“Kau tahu kan, aku sudah melakukan pelecehan seksual, dan jika normal, seseorang akan memilih untuk menutup mata.”
“... Aku tidak melihat sesuatu yang jahat darimu.”
“Eh?”
“Mungkin kau tidak tahu, sebenarnya aku cukup jeli dalam menilai orang. Dan menurutku, kau seharusnya punya alasan yang jelas untuk itu, bukan hanya sebatas nafsu saja.”
Kalau misal aku seorang perempuan, mungkin aku akan menangis sekarang. Pantas saja ada banyak orang yang menyukai Ryuga, ternyata orangnya memang pandai dalam memilih kata-kata. Mungkin kapan-kapan aku harus belajar kepadanya, tentang bagaimana caranya agar orang lain mau berteman denganku. Kalau menggambarkannya, Ryuga sudah seperti sosok yang selalu kuimpikan. Dia sempurna di segala sisi yang untuk saat ini masih bersembunyi di balik kata mustahil untukku.
“Tapi jujur saja, aku sempat tergoda saat melihat ****** ********.”
“Kalau itu mungkin aku yang salah menilai.” Dia tertawa.
Kami pada akhirnya hanya membicarakan hal-hal yang tidak penting setelah itu. Saat Ryuga berkata ada sesuatu yang ingin dilakukannya, kami akhirnya memutuskan untuk keluar ruangan bersama-sama.
Di luar aku langsung disambut dengan cahaya menyilaukan yang keluar dari hasil tangkapan gambar, singkatnya mereka sedang memfoto. Hanya saja jumlahnya sudah tidak sebanyak sebelumnya, maksudku kerumunan orangnya, mungkin karena kami berbicara dalam waktu yang lama di dalam, jadi mereka bosan. Dan tentu saja itu yang kucari, tapi tidak kuduga masih ada yang menunggu di luar.
Berbeda denganku yang kebingungan, Ryuga menyikapi mereka dengan tenang, dia sudah seperti seorang artis yang dikejar wartawan. Beruntungnya dengan keberadaan Ryuga, membuat semua orang menepi saat menyadari dia akan lewat. Sedangkan aku mengikuti saja karena ini memang sudah seperti sebuah wawancara, orang-orang ini menyeramkan.
Ketika aku dan Ryuga berpisah, ada sebagian orang yang mengerubungi Ryuga sedangkan aku juga dikejar. Kenapa dikejar, karena sekarang aku sedang melarikan diri.
Mereka benar-benar menyeramkan, aku tidak habis pikir kenapa mereka sampai sangat ingin tahu tentang masalahku. Sayangnya aku sangat cepat, jadi hanya perlu berlari mengecoh mereka saja sudah cukup untuk membuatku terlepas. Kebetulan sekarang aku sedang bersembunyi di kantin, sekalian memang berniat untuk membeli sesuatu. Beruntungnya tidak ada yang curiga dengan kehadiranku di sini, jadi aku dapat menarik napas dengan tenang lalu duduk pada salah satu kursi.
Berperilaku normal, aku mulai membaca menu makanan. Yang kupilih hanya makanan manis serta sebuah minuman dingin. Setelah memesannya langsung ke depan—memilih membayarnya lebih awal—lalu kembali lagi duduk di tempat semula, aku menunggu sebentar sampai seseorang datang membawakannya. Dengan kata lain berbeda seperti waktu Ryuga, sebenarnya juga bisa menggunakan cara yang seperti ini, aku tahu itu karena orangnya sempat berkata, “Baik, tunggu di mejamu.”
Ya, sesuai yang dikatakannya jadi aku tinggal menunggu saja. Sebenarnya memang agak unik sih untuk cara memesannya, yang menggunakan hafalan menurutku. Tapi daripada memikirkan itu, aku akhirnya mendapatkan pesananku, seorang gadis kecil yang mengantarkannya.
Semua orang tentu tahu bagaimana nikmatnya minum es setelah lelah beraktivitas. Meski yang tadi belum bisa untuk dikatakan melelahkan, tetap saja aku memakan semua yang telah dipesan dengan sepenuh hati. Setelah pada bagian roti habis, aku duduk dengan menghadap sekitar sambil meminum minumanku. Yang terlihat hanya sekumpulan orang-orang yang sibuk dengan mulut mereka sama sepertiku, hanya saja apa-apaan?!
Secara tidak sengaja aku melihat kedatangan Sherly. Saat ini dia terlihat mencari seseorang, tentu saja dengan wajahnya yang dingin dan tajam. Tapi aku memilih untuk tidak bersembunyi, dan itu membuatku ketahuan sehingga dia berjalan ke arahku.
“Kau menjijikkan.”
“Ya, aku tahu.”
Tapi tanpa kuduga-duga lagi, tatapan matanya yang memandang kalau aku ini makhluk yang menjijikkan hilang. Yang tersisa dari dirinya sekarang hanyalah seseorang yang sulit untuk didekati di mana kedinginannya sampai bisa membuatmu membeku.
Saat akhirnya dia mengangkat kembali wajahnya ke arahku, kami saling bertatapan, dan aku seperti melihat sebuah keindahan yang tidak pernah kulihat. Jujur saja, dia adalah perempuan tercantik yang pernah kulihat.
“Aku sarankan agar kau tidak menemui Grizelle lagi,” katanya.
“Kenapa?”
“Kau memang bodoh, tapi tanpa kujelaskan pun seharusnya kau bisa mengetahuinya.”
Lihat, sudah kuduga mulutnya setajam matanya. Tapi aku menyukai saat dia sedang berbicara, itu sangat menggoda. Sepertinya Ryuga memang salah menilaiku, karena aku akan sangat sulit menahannya jika waktu itu yang berada di posisi Grizelle adalah Sherly. Tapi aku tidak berpikir untuk mencintainya, karena untuk saat ini dia milik Ryuga.
“Dia di mana sekarang?”
“Kau menjijikkan.”
“Ya, aku tahu. Jadi di mana Grizelle sekarang?”
“Sudah kubilang untuk jangan menemuinya lagi.”
Meski kami bertatapan sedekat ini dalam waktu yang lama, aku malah lebih merasa nyaman sekarang. Jika membandingkannya, jelas kami bertolak belakang, maksudku, berbeda dengan Sherly, aku hanya menyenyumi saat dia menatapku dengan tajam.
“Apa Sherly akan masuk sekolah besok?”
“Dia akan masuk.”
“Kalau begitu besok aku juga akan masuk.”
Sherly mengembuskan napas mendengar perkataanku. Tentu saja aku tahu dia tidak akan menerimanya, meski begitu aku ingin agar dia menerima keberadaanku.
Sama seperti Ryuga, jika aku bisa berteman dengannya, maka impianku yang telah runtuh bisa kembali muncul dan mudah untuk diwujudkan. Memikirkannya dari segi mana pun sudah jelas kalau keberadaan Sherly akan membantuku menciptakan keberadaanku sendiri. Sebelumnya saja sudah terbukti betapa hebatnya dia saat berhasil membuat banyak orang berkerumun hanya demi dirinya.
Aku jadi penasaran apa alasan utama kenapa dia dan Ryuga bisa sepopuler itu, karena memang luar biasa. Mereka sudah melebihi yang namanya idola kelas, malah mungkin sudah idola sekolah.
“Sudah kubilang untuk jangan menemuinya lagi. Jika besok aku melihatmu ada di sekolah, maka kau benar-benar tidak akan pernah kumaafkan.”
“Lalu bagaimana dengan sekolahku?”
“Siapa yang peduli.”
“... Jahat sekali.”
Aku tahu dia sangat membenciku, dan dengan dia yang rela untuk mengurungkan harga dirinya agar bisa menyampaikan apa yang menurutnya benar, membuatku berpikir ulang untuk mengikuti permintaannya saja.
“Tapi, Sherly, jika aku tidak melakukan apa pun, maka sesuatu yang buruk akan kembali terulang. Bahkan jika membandingkannya, apa yang kulakukan kepada Grizelle masih jauh lebih baik daripada yang kau pikirkan.”
“Apa itu?”
“Aku tidak bisa mengatakannya.”
Bagaimanapun, aku tidak ingin agar orang yang tidak memiliki urusan seperti dia tahu. Karena apa yang ingin kuungkap bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah dicerna oleh akal dan pikiran manusia. Sementara itu jika bersinggungan dengan dunia yang aku maksud, maka berbagai hal buruk akan datang jika tidak melakukan ketentuan dengan benar. Dan tentu aku tidak ingin agar itu sampai terjadi, apalagi sampai menimpanya. Meski aku tidak menyukai Sherly karena dia selalu menggagalkan setiap rencanaku, aku tetap tidak bisa membiarkan dia menunjukkan perannya di sini. Selain karena untuk menjauhkannya dari bahaya, aku juga tidak ingin dia mengganggu sebuah rencana yang telah kubuat di dalam kepalaku.
Tapi karena aku tidak menjawab pertanyaannya, dia sedikit menunjukkan wajah kesal meskipun hanya sementara.
“Kalau begitu aku tetap tidak akan membiarkanmu bertemu dengan Grizelle.”
“Tapi, Sherly—“
Dia berdiri dari tempat duduknya sebelum aku selesai menyampaikan pembelaanku. Saat dia berjalan pergi beberapa langkah, aku menyempatkan waktu untuk memanggil namanya, karena itu dia menoleh ke arahku lagi.
“Apa kita bisa membicarakan ini lagi di lain waktu? Ada yang ingin kukatakan kepadamu.”
Dia diam sejenak lalu kembali menunjukkan ekspresi yang seharusnya memang dia tunjukkan.
“Kau benar-benar menjijikkan.”
Setelahnya dia pergi dengan meninggalkan kalimat yang sudah biasa keluar dari mulutnya begitu saja. Sedangkan aku baru pergi beberapa saat kemudian.
Untuk saat ini sudah tidak ada lagi yang ingin kulakukan di sekolah, niat awalnya juga ingin menghilangkan kejenuhan jika hanya di rumah, pada akhirnya malah menjadi kacau. Jadi sekarang aku benar-benar memutuskan untuk pulang.
Hanya untuk memastikan, aku sempat mampir di kafe yang mana menjadi tempat Grizelle bekerja. Namun, sudah kuduga dia tidak ada di sini. Selain tempat yang sedang kujadikan tempat untuk bersinggah tersebut, kemungkinan lain tentang di mana Grizelle sekarang hanya di rumahnya. Aku tidak berpikir dia memilih untuk berganti tempat tinggal demi menghindariku, karena juga aku yakin kalau dia tahu kenyataan bahwa aku belum mengetahui dirinya secara lengkap, maksudku alamat rumahnya.
Jadi dengan hanya menghabiskan makanan penutup yang tidak mengenyangkan, aku langsung pulang tanpa berhenti lagi di suatu tempat mana pun.