Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 9



Beri Vote


Beri Like


Beri Rate ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️


Beri Komentar


Jika kalian menyukai cerita ini. Dukungan kalian adalah salah satu bagian untuk motivasi author dalam berkarya.


Hari kembali berganti...


Seperti biasanya saatnya kembali pada pekerjaan yang tidak pernah ada habis-habisnya. Tapi satu harapan Carmel, semoga hari ini tidak seburuk hari kemarin.


Carmel dan teman-temanya disibukan dengan beberapa hal untuk launching produk baru perusahaan Abrahan Group yang akan diadakan besok. Disana juga ada Lim dan Caroline yang ikut hadir memantau pekerjaan Carmel dan Tim.


“Psst...Bahkan di tempat seperti ini, mereka terus bergandengan tangan.” Ucap Feng, menatap kearah Lim dan Caroline.


“Sepertinya nona Caroline tidak ingin lepas darinya. Lihatlah... Bukankah dia yang tak melepaskan lengan tuan Lim.” Bisik Karin.


Sementara Carmel sedang mengatur persiapan di belakang. Ia sengaja mencari pekerjaan yang lebih berat dibanding yang lainnya, hanya untuk tidak bertemu dengan Lim.


“Lepas ini tempat umum, tidak enak dilihat orang.” Lim menurunkan tangan Carol perlahan dari lengannya.


“Apa salahnya, semua orang juga tahu aku adalah tunangan mu.”


“Eh lihat...” Feng kembali menyenggol Karin untuk melihat apa yang ada didepannya. Lim melepaskan gandengan Nona Caroline begitu saja.


“Tuan Lim memang orang yang sangat dingin dan kaku.” Seru Karin lagi, setelah melihat kejadian itu.


“Dimana Daren dan Carmel...”


“Mereka dibelakang. Entah kenapa sejak kemarin Carmel sangat aneh, bahkan dia memilih pekerjaan yang lebih berat dari kita, apa dia masih marah.”


“Sebaiknya kita minta maaf lagi padanya.” Ajak Karin.


Lim melihat sekitar, dan ia merasa semua sudah sangat siap disini.


“Duduklah disini, aku tahu kau sangat lelah.” Lim yang sadar bahwa Caroline sedang memijat-mijat kakinya sejak tadi, memintanya untuk beristirahat sebentar, sementara ia berkeliling untuk mengecek semuanya.


....


“Huft....” Carmel mendengus lelah sambil berjongkok di sudut ruangan yang menurutnya cukup strategis untuk beristirahat sejenak, tanpa di ketahui oleh siapapun.


Hening...


“Apa nona Carmel sedang bersembunyi disini.”


“Hah. Astaga...” Carmel terkejut, hampir saja ia mendapat serangan jantung mendadak ditempat itu.


“Apa yang kau lakukan disini?.”


“Bukan urusanmu. Sana pergi...Aku sudah bilang aku butuh waktu untuk berpikir Lim.” Ucap Carmel pelan.


“Aku disini untuk memantau Karyawan ku. Bukankah kau adalah salah satunya Carmel Abigail !.” Seru Lim, membuat Carmel tidak bisa membantah.


Lim mengangkat bahu Carmel perlahan agar wanita itu kembali berdiri.


“Lim jangan seperti ini...” Cegah Carmel.


“Kau telah lalai dengan pekerjaanmu ! Apa pekerjaanmu sudah selesai.” Tanya Lim.


“Maaf Tuan Lim...” Sesal Carmel, dengan nada formal.


“Carmel, kau harus mendapat hukuman karena beristirahat di jam kerja.” Bisik Lim pelan.


“Baiklah. Terserah kau saja... minggir aku mau pergi sekarang”


Namun Lim masih menahan Carmel.


“Lim lepas...” Pinta Carmel lagi.


Cup...Lim mengecup bibir Carmel.


“Lim....” Bisik Carmel pelan, ia tidak ingin ada siapapun yang melihat ini.


“Ini hukuman untukmu.” Bisik Lim lagi.


Lim kembali menyentuh bibir Carmel, menyentuhnya dengan pelan dan lembut, awalnya Carmel sama sekali tidak ingin membalas ******* bibir Lim, tapi pertahannya tidak cukup kuat menahan sesuatu dalam dirinya. Carmel membalas ciuman Lim, membalasnya dengan sangat baik.


Cup.


Lim dan Carmel melepas ciuman itu, sambil mengatur nafas mereka masing-masing.


Lim memeluk Carmel, mengelus rambut panjangnya dan mencium keningnya.


“Kita baik-baik saja kan sekarang?.” Kata Lim bertanya.


“Apa aku pernah bilang bahwa kita sedang tidak baik-baik saja?.”


“Jadi kita baik-baik saja?.” Lim dan Carmel terus melempar pertanyaan.


Carmel mengangguk.


“Maafkan aku.” Lim kembali mengecup kening Carmel, dalam posisi masih saling berpelukan.


“Mmhhh...” Gumam Carmel.


“Beritahu aku dimana aku bisa menemukanmu..” Pinta Lim.


“Aku akan memberi tahu jika aku sudah selesai berpikir.”


“Lepaskan aku sekarang. Jika tidak aku akan marah lagi padamu.” Ancam Carmel.


Lim pun melepasnya perlahan.


....


Sementara itu....


Feng dan Karin sedang mengobrol dengan Caroline.


“Apa kalian kenal dengan seseorang bernama Carmel ?.” Tanya Carol.


“Carmel ? Ya tentu saja...” Jawab Feng bersemangat.


“Apa dia sangat dekat dengan Tuan Lim? Mmmh... Maksudku apa mereka sering membahas pekerjaan bersama.” Carol berusaha mencari tahu sesuatu dari ke dua wanita idiot di hadapannya ini.


“Tidak...Hanya sesekali... Tuan Lim juga sangat sibuk mana mungkin dia memperhatikan Karyawan seperti kami.” Celetuk Karin.


“Dimana Carmel sekarang? Apa dia tidak berkerja hari ini.”


“Tidak. Dia ada di belakang...” Jawab Feng lagi.


Mendengar jawaban itu membuat Caroline bertanya-tanya dimana Lim berada sekarang.


“Bisakah aku melihat kebelakang.” Pinta Carol


“Baiklah sini kami akan mengantarmu nona.” Jawab Feng sopan dan hormat.


Caroline, Feng dan Karin. Mulai mengitari tempat tersebut. Namun ia sama sekali tidak menemukan Lim.


“Dimana Carmel...” Tanya Carol, yang mulai gelisah.


“Entahlah aku juga tidak melihatnya.”


Mereka mulai berjalan di lorong panjang, yang menurut Feng dan Karin sangat mustahil menemukan Tuan Lim di sini. Tapi Carol tetap memaksa untuk ke sana.


Mereka melihat 2 orang yang sedang duduk dipojok sana.


“Lim...” Ucap Carol, meskipun ia belum sepenuhnya melihat orang itu, tapi ia sangat yakin itu adalah Lim dan Carmel.


Carmel menatap kearah Caroline.


“Eh nona...” Sapa Daren. Ternyata orang yang ada disana bukanlah Lim tapi Daren dan Carmel.


“Astaga apa kalian sedang beristirahat di jam kerja jika Tuan Lim melihat ini, bagaimana.” Ucap Karin panik.


Daren dan Carmel segera berdiri...


“Ada apa ini...” Tiba-tiba saja Lim muncul dari arah belakang mereka.


“Eh Tuan Lim....” Ucap Feng.


“Carol kenapa ke sini...?.” Tanya Lim.


“Aku mencarimu sayang... Kenapa lama sekali meninggalkanku.” Carol langsung datang pada Lim dan memanja.


“Ayo pergi dari sini.” Ajak Lim, membawa Carol pergi bersamanya.


“Haaahh....” Carmel dan Daren bernafas lega.


...Flashback On...


Karena merasa cukup lelah, Daren juga memutuskan beristirahat dan mencari tempat teraman untuk bersembunyi sementara.


Daren yakin bahwa Carmel pasti sudah berada disana, karena sejak tadi wanita itu tak terlihat batang hidungnya sama sekali.


Tebakan Daren benar, Carmel memang berada disana. Tapi ia melihat wanita itu tidak sedang sendiri. Ia bersama Tuan Lim.


“Astaga Carmel tertangkap basah oleh Pak Lim.” Daren cekikikan sambil mengintip dari kejauhan.


Awalnya begitulah yang Daren pikirkan. Tapi melihat dua orang itu sepertinya sedang membahas sesuatu yang serius ia semakin penasaran. Sampai akhirnya ia melihat Lim dan Carmel sedang berciuman sangat mesra di sudut sana. Membuat mata Daren terbelangak dengan pemandangan itu.


Ia hanya mematung dan terus bersembunyi, hingga tanpa sengaja ia menyenggol tempat sampah yang ada didekatnya.


Membuat Lim dan Carmel menyadari ada orang lain selain mereka ditempat itu.


“Apa yang kau lakukan disini ?.” Tanya Lim.


“Maaf Tuan, saya tidak sengaja.”


“Daren apapun yang kau lihat tadi, kumohon rahasiakan itu dari semuanya.” Mohon Carmel pada Daren.


“Apa kau mengerti !!!.” Ucap Lim lagi mempertegas permintaan Carmel.


“Ya baik tuan...saya akan merahasiakan ini dari siapapun.” Jawab Daren patuh.


Sementara Carmel hanya bisa menunduk, ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua ini sekarang.


“Lim pergilah sekarang...” Pinta Carmel.


“Ya aku pergi...” Cup. Lagi-lagi Lim kembali mencium kening Carmel.


Dan Daren yang ada disana hanya berpura-pura tidak melihat itu semua.


...Flashback Off...


Bersambung...