
Lim menahan pergelangan tangan Carmel.
“Jika kau ingin mejelaskan yang terjadi barusan. Aku benar-benar tidak masalah Lim. Untuk apa beralasan sejauh ini.”
“Itu tidak seperti yang kau lihat.” Ucap Lim, menjelaskan.
“Tidak seperti itu. Tapi kenyataannya memang seperti itu kan Lim !.” Tanya Carmel.
“Mel Please....”
“Ya baiklah aku mengerti... Aku juga tidak ingin berdebat, sudahlah...”
“Kenapa kau disini?.” Tanya Lim.
“Kenapa? apa tidak boleh ? Tapi kau benar, seharusnya aku tidak disini. Aku pikir aku akan baik-baik saja, ternyata aku tidak bisa Lim, ternyata sangat menyakitkan sekali melihat kekasih ku sendiri bermesraan dengan wanita lain. Padahal aku sendiri juga tidak pantas memilik perasaan seperti itu kan...”
“Mel...”
“Ya ok fine... Aku minta maaf...Lepaskan aku sekarang. Ayo kita kembali.” Carmel menarik tangannya dari genggaman Lim.
“Mel...Mel...” Tahan Lim.
“Apa lagi...”
“Aku minta maaf... Aku yang salah.” Ucap Lim, kembali menahan Carmel.
“Kita memang salah Lim. Kau dan aku salah. Sejak awal kita telah salah. Jadi jangan kaget jika kita akan saling menyakiti. Aku sudah belajar banyak tentang itu...” Ungkap Carmel.
“Maafkan aku sayang...”
“Ya...Aku juga minta maaf... Maaf untuk kali ini aku benar-benar harus mengatakan ini. Aku cemburu Lim...Sangat !!! .”
“Carmel...”
“Jangan berdebat lagi. Please, kita kembali sekarang...” Pinta wanita yang sedang berusaha menutupi kecemburuannya itu.
“Tidak...” Tolak Lim.
“Tidak kenapa, semua orang menunggu, AYO !!!.”
“Tidak sebelum aku melakukan ini...” Ucap Lim, menarik Carmel, menciumnya secara paksa.
Tiiiiiuuuuuu.....Duuuuuaaaarrrr....
Orang bilang saat kau mencium pasanganmu pada letusan kembang api terakhir, itu pertanda harapan baik akan datang padamu. Mungkinkah hal itu akan berlaku bagi Lim dan Carmel. Tidak ada yang tahu....
“Kenapa kau melakukan ini.”
“Karena aku mencintaimu.”
“Kau selalu mengatakan itu.”
“Aku mengatakannya bukan sebagai alasan, tapi begitulah kenyataannya. Bagaimana aku bisa mengatakan hal lain, jika itu yang kurasakan.” Ucap Lim. Yang kini memeluk Carmel begitu erat.
“Kita kembali sekarang...”
“Sebentar lagi sayang... Aku masih ingin seperti ini beberapa menit lagi.” Lim menahan Carmel tetap dalam pelukannya.
Beberapa menit kemudian. Lim dan Carmel kembali. Dengan 2 genggam ice cream ditangannya.
“Sayang....” Sambut Carol, saat melihat Lim.
“Ini...” Ucap Lim memberi pada Carol.
“Dan ini untuk mu, nona Carmel... Terima kasih sudah menemaniku.” Ucap Lim, kemudian memberi ice cream nya pada Carmel.
“Terima kasih Tuan Lim... Baiklah kalau begitu aku dan Daren pulang sekarang.”
“Ya...” Jawab Lim dan Carol bersama.
...****...
Keesokan hari nya...
“Aku akan merindukanmu sayang...” Ucap Holy kepada putranya dan juga Caroline.
“Aku juga ibu...” Jawab Carol.
Entah kenapa dari semua orang yang berada di Airport hanya Lim, satu-satunya orang yang tidak perduli dengan semua itu.
“Lim, jaga Caroline... Ingat kau harus menjaganya dengan baik untuk ku...Putri cantikku ibu akan merindukanmu.” Lagi-lagi Holy menunjukan betapa ia sangat menyayangi Caroline.
“Lim...” Ucap Giorgino.
“Aku sudah bilang nikahi Caroline dan kau tetap bisa bertemu dengan wanita itu...” Bisik Giorgi lagi.
Lim hanya diam, ia tidak ingin membahas itu lagi sekarang. Karena Giorgi dan Lim adalah dua orang yang sama-sama keras kepala, tidak mudah untuk mengubah apa yang mereka kehendaki.
....
Tok...Tok...Tok...
Seseorang mengetuk meja kerja Carmel.
“Tuan Chen...” Ucap Carmel segera memberi hormat pada pria tampan itu.
Semua mata memandang kearah Carmel dan Chen Xu, seakan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan kedua orang itu.
“Tuan Chen Xu dari Evergrande Group. Apa yang dia lakukan disini. Dia tidak mungkin memiliki urusan dengan Bos kan...” Tebak Karyawan lainnya.
“Jika tidak. Apa mungkin....”
“Apa mungkin dia dan Carmel...”
“Tidak- Itu tidak mungkin !.”
“Kita lihat saja apa yang ingin dia lakukan sebenarnya.”
“Tuan Chen, ada keperluan apa ke sini...” Tanya Carmel.
“Apa ini soal....”
“Tidak bukan itu. Apa sedang butuh teman makan siang. Apa kau mau menemaniku.” Tanya Chen.
“Aku?.” Carmel menunjuk dirinya sendiri
“Ya. Apa aku sedang berbicara pada orang lain?.”
“Ta-piii....”
“Sudah jangan banyak berpikir...” Chen langsung membawa Carmel pergi.
“OH..ASTAGA...DIA MEMBAWA WANITA ITU PERGI.” Semua orang menatap iri.
Daren hanya bisa mengumpat dalam hati...
“Aku tidak akan heran lagi melihat Tuan Chen seperti itu. Bahkan Tuan Lim saja bisa takluk.”
.....
📍Bio Bing
“Tuan Chen...Maaf mungkin lain kali jangan seperti ini lagi. Orang-orang akan salah paham melihat ini.”
“Apa kau tidak menyukai ajakan ku ini?.”
“Ehk- Tidak bukan seperti itu.” Sambar Carmel merasa tidak enak.
“Apa kau memiliki kekasih?.”
“Hah...”
“Aku tanya apa kau sudah memiliki kekasih?.” Tandas Chen.
“Mmh.. Soal itu...”
“Ya atau tidak !.” Tanya Chen, tak ingin terlalu bertele-tele.
“Aku memiliki hubungan yang sedikit rumit.” Jawab Carmel.
“Oke baiklah...” Jawab Chen. Meskipun dalam hati Chen sedang menertawai Carmel, karena wanita didepannya ini terlihat sangat tulus dan jujur.
“Apa aku bisa pergi sekarang..” Tanya Carmel.
“Apa kau terlalu terburu-buru?.”
“Lumayan. Ada beberapa pekerjaan yang belum ku selesaikan Tuan Chen.”
“Kita kembali sekarang...” Ajak Chen.
“Kita?.”
“Kenapa kau selalu mengulang ucapan ku? Ya kita siapa lagi ? Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja nona Carmel Abigail. Lagipula aku belum menerima sepeserpun darimu.” Ujar Chen.
“Jika seperti ini, bagaimana aku bisa membayar hutangku. Kau membuatku sangat tidak enak Tuan...”
“Hari ini karena telah menemani ku makan, aku memberi mu potongan 5.000 Yuan. Dan aku tidak ingin kau memanggilku Tuan Chen lagi. Panggil aku Chen mulai sekarang.... Oh dan satu lagi. ini bukan penawaran, ini perintah, jadi kau tidak bisa menolaknya.” Tegas Chen.
“Ya...” Jawab Carmel, meskipun ia tidak begitu setuju, tapi Chen juga sudah memberi perintah, bahwa ini bukan sesuatu yang bisa ditolak olehnya.
Chen Xu memberi senyum simpul.
“Kau tahu kenapa aku memberi mu penawaran ini?.”
Carmel menggelengkan kepalanya.
“Semua wanita, sekalipun dia telah bersuami... Mereka akan tetap mengatakan mereka lajang didepan ku...” Ucap Chen sambil terkekeh.
“Lalu kau mempercayaiku...”
“Ya untuk wanita seperti mu, aku bisa memberi 70% kepercayaan ku untuk mu.” Jawab Chen.
“Chen..Kau terlalu banyak bicara. Ayo antar aku sekarang.” Pinta Carmel
Chen sedikit terkejut, karena Carmel bisa belajar dengan cepat dan tanpa ragu menyebut namanya.
Bersambung...