
“Jika kau muak. Kau pikir aku sedang bahagia atau bersenang-senang saat ini ! AKU SAMA MUAK NYA DENGAN MU---.”
“YA KARENA ITU AKU MENGHENTIKANNYA.”
“Menghentikan apa? KAU PIKIR DENGAN MENGHENTIKAN INI SEMUA, PERASAANKU JUGA AKAN BERHENTI SAMPAI DISINI?.” Tanya Lim lagi.
“Lim sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?.”
“AKU HANYA INGIN SATU. DAN KAU TAHU APA YANG PALING KU INGINKAN ! AKU HANYA MAU KAU TETAP BERSAMAKU !.”
“Gila....”
“AKU TIDAK PERDULI CARMEL ! AKU HANYA INGIN KAU.” Lim kembali meninggikan nadanya.
“Tidak lagi. Aku sudah cukup denganmu Lim.”
“Lalu siapa yang pantas denganmu? Chen Xu !!! Kau ingin bersama orang itu. Apa yang kau lihat dari nya? Aku bahkan lebih memiliki segalanya dibanding ORANG ITU..”
“Kau benar Lim. Dia yang seperti itu saja, tidak pernah sebanding denganmu. Kau memang memiliki segalanya, kau memang berkuasa--- Tapi sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apapun tentang hubungan ku dan Chen Xu, karena itu bukan kapasitas mu, sebagai atasan ku....Mmmh”
Lim tiba-tiba saja mencium bibir Carmel secara paksa, hingga wanita itu memberontak dan terus memukulnya. Membuat Carmel terpaksa menggigit bibir Lim dan membuatnya berdarah.
“Ahhh...” Ringis Lim, menghentikan aksinya itu. Sementara melihat Lim yang tengah lengah, Carmel memanfaatkan keadaan untuk segera pergi meninggalkan Lim.
Tak.
Tak.
Tak.
Carmel berlari menjauh Lim.
“Dasar brengsek...” Umpatnya.
Carmel meninggalkan kantor dengan wajah kesal dan sedih.
“Hei kau mau kemana?.”
“Maaf hari ini aku tidak enak badan. Semua pekerjaan akan aku selesaikan di rumah dan segera aku kirimkan via email.” Ucap Carmel kemudian membawa semua laporan yang ada di atas mejanya, lalu pergi.
“Kenapa lagi sekarang?.” Tanya Feng.
“Entahlah. Beberapa hari ini, anak itu memang sedikit aneh.” Seru Karin.
“Kurasa dia memiliki masalah. Tapi kenapa dia tidak pernah menceritakan apapun pada kita. Dan Tuan Lim juga sama, emosinya juga mudah berubah-ubah. Pasti Carmel di marah habis-habisan olehnya. Kasihan Carmel.” Pikir Feng lagi.
“Lagi pula itu hanya gosip belaka. Apa dia yakin Carmel mengkhianati perusahaan. Tuan Lim memang kejam, pasti dia tidak memberi kesempatan pada Carmel untuk menjelaskan apapun.”
Lagi-lagi pikiran Feng dan Karin selalu meleset tentang Carmel. Sementara itu Daren duduk dimeja kerjanya, mencoba acuh meskipun sebenarnya dia tahu bahwa Carmel dan Lim pasti habis berdebat pelik tentang hubungan rumit mereka.
Tak lama berselang, Lim kembali muncul dan mencari keberadaan Carmel.
“Dimana orang itu?.” Tanya Lim.
“Dia pulang, tidak enak badan Tuan..” Jawab Feng.
.....
“Itu wanita nya...” Mendadak saja begitu banyak media di yang menanti Carmel di lobby AB Group.
“Nona...? Apa benar Tuan Chen Xu memiliki hubungan spesial dengan ada?.”
“Apa benar kalian sudah sering menghabiskan waktu bersama ?.”
“Bagaimana kalian bisa kenal?.”
“Seberapa jauh hubungan anda dengan Tuan Chen Xu?.”
Carmel tampak sangat kebingungan menghadapi orang-orang yang tidak memberi cela untuknya pergi dari sana.
“Nona...Bagaimana?.”
“Maaf biarkan aku lewat .” Jawab Carmel sambil menunduk.
“Jadi apa benar ini hubungan rahasia nona?.”
“Maaf. Aku harus pergi.” Ucap Carmel yang masih berusaha menghindar.
“Nona, sekali beri tanggapan tentang Tuan Chen di matamu.”Orang-orang itu tetap memaksa.
“MINGGIR ! .”
“TIDAK ADA HUBUNGAN APAPUN ANTARA DIA DAN CHEN XU ! .” Lim datang dan menerobos kerumunan orang yang menghalangi jalan Carmel.
“Tuan Lim, apa tanggapan anda !.”
“Jadi apa itu benar nona?.”
“Jika kalian masih ingin bekerja lama ditempat kalian, tinggalkan tempat ini sekarang !.” Ucap Lim.
“Tapi Tuan...”
“AKU TIDAK SEDANG INGIN BERBAIK HATI ! JADI SEGERA HAPUS SEMUA YANG KALIAN AMBIL HARI INI ! SEKARANG !!!.” Bentak Lim.
Semua orang mundur perlahan, tapi Lim tidak ingin hanya itu saja, sampai ia memastikan tidak ada satupun tentang Carmel, baik foto ataupun video yang dibawa keluar dari tempat itu.
“Ini adalah hinaan bagi perusahaan ku, jika ada satu lagi berita yang beredar menyangkut karyawan ku, kalian semua yang tanggung akibatnya.”
Semua orang terdiam tidak berani mencela ucapan Lim, karena ancaman yang diberikannya.
“Satu lagi berita yang beredar hari ini, aku tidak ingin lagi melihat itu. PERGI DAN TINGGALKAN TEMPAT INI. Aku tidak ingin kaki-kaki kotor kalian menginjak tempat ku lagi.” Usir Lim.
“Ikut aku...” Lim membawa Carmel pergi dari tempat itu.
“Tidak aku tidak mau..”
“Kau mau orang-orang itu melakukan apa lagi terhadapmu !.”
Setelah mendengar ucapan Lim, akhirnya Carmel terpaksa mengalah dan ikut bersama pria itu.
“Masuk...” Ucap Lim.membuka pintu mobil untuk Carmel.
Carmel masih berdiam.
“Masuk...” Titah Lim lagi.
Akhirnya Carmel mau masuk ke sana.
Di perjalanan Carmel hanya diam, begitu pun dengan Lim.
Tap. Lim tiba-tiba saja meraih tangan Carmel dan menggenggamnya.
Carmel menariknya.
“Jangan dilepas...Biarkan tetap begini.” Pinta Lim.
“Tidak mau !.” Tolak Carmel.
“Semakin kau keras kepala, semakin aku mencintaimu Carmel...” Ucap Lim, terus mengunci tangan Carmel.
“Lepas Lim. Turunkan aku disini.”
“Kau mau kemana?.”
“Aku mau pulang !!!.”
“Kau tidak berpikir, orang-orang tadi menunggu mu disana !.” Singgung Lim lagi.
Carmel terdiam lagi. Karena mungkin saja yang dikatakan Lim itu benar.
“Apa kau tidak bisa merasakan ini Mel...Aku benar-benar sangat mencintaimu. Apa kau tidak bisa melihat itu sama sekali ?.”
“Lim kita sudah selesai dengan pembahasan itu, apa kau mengerti !.”
“Aku akan berhenti membahas ini. Jika kau mengatakan bahwa kau mencintaiku. Apa kau mau mengatakannya sekarang?.” Pinta Lim.
“Kau mau membawaku kemana?.”
“Pulang bersamaku !!.”
“Lim. Turunkan aku disini....”
“Lim berhenti....”
“Stoppppp....” Pinta Carmel, berkali-kali dia meminta, berkali-kali juga ia tidak didengarkan.
“Carmel aku tahu kau juga mencintaiku... Aku tahu kau marah padaku. Aku tahu kau juga menderita karena ini. Aku minta maaf padamu. Aku minta maaf karena tidak bisa selalu menjaga mu, tidak bisa berada didekat mu, dan yang paling ku sesali, aku tidak ada saat kau membutuhkanku--- Ku akui aku bukan pria yang sempurna Mel, tapi DEMI TUHAN, AKU SANGAT MENCINTAIMU ! Terlepas di manapun aku berada atau bersama siapapun aku saat itu. AKU BERSUMPAH, AKU TERUS MEMIKIRKAN MU---.”
“Dasar pembohong !!!.” Ucap Carmel.
“Itu kebenaran...” Tegas Lim.
“Dimana kebenaran yang kau maksud Lim? Apa kau hanya memikirkan ku? Kau tidak mungkin hanya memikirkan ku. AKU TAHU ISI KEPALA MU ! Bagaimana bisa ada aku, sedangkan hari-harimu hanya untuknya. Kau hanya datang padaku, hanya saat kau ingin meniduri ku...”
“Mel... Itu tidak benar!.”
“Itu benar ! Kau hanya datang hanya untuk melakukan itu. Lalu setelah puas.. Kau pergi begitu saja... Kau kembali bersama wanita itu lagi. Jika aku memang berarti bagimu, kenapa kau selalu memiliki alasan untuk kembali dan bersamanya lagi? Kenapa kau membuatku seperti itu Lim ? Kau ingin menjadikan ku pasangan atau simpanan mu ? .” Ucap Carmel terbata-bata.
“Carmel...”
“DIAM ! Aku belum selesai... Kau marah aku bersama pria lain. Apa kau tidak berpikir betapa marahnya aku... Bukankah kau membuatku selalu melihat itu selama bertahun-tahun, melihatmu bermesraan dengan nona Caroline. Aku tahu Lim, aku hanya wanita biasa... Aku bukan seorang putri raja atau seorang wanita dari kalangan atas seperti kalian. Aku hanya anak yatim piatu yang sedang beruntung bertemu denganmu 6 tahun yang lalu. Jika tidak ada kau, aku juga tidak tahu, bagaimana nasibku sekarang. Aku sangat berterima kasih padamu Lim---- Apa itu semua membuatku harus membayarnya dengan menjadi kekasih gelap mu seperti ini !.”
“Aku tidak pernah memposisikan seperti itu sayang...”
“Tapi begitulah kau membuatku Lim. Begitulah orang-orang melihatku, jika mereka tahu... Jadi hentikan ini, hentikan semuanya sekarang. Aku menyerah, aku benar-benar menyerah. Tolong jangan mengusik ku lagi. Aku hanya ingin hidup normal, tidak untuk menjadi siapapun lagi. Hanya menjadi diriku sendiri...” Pinta Carmel.
“Aku tidak akan berhenti Carmel. Karena aku serius dengan perasaanku. Jikapun aku harus bersama seseorang, wanita itu pasti hanya kau ! Aku pasti akan memilihmu... Dan begitupula sebaliknya. KAU BILANG AKU EGOISKAN ! Ya kau benar, karena yang aku ingin, hanya aku pria yang bisa memilikimu ! Dan aku tidak peduli dengan siapa dan darimana kau berasal. Aku sudah sudah tahu semua itu, dan aku tidak pernah meragukan mu, untuk hal sekecil apapun. Aku tidak akan membuatmu selamanya seperti ini Mel. Beri aku waktu dan kesempatan. Aku janji setelah ini aku akan memberikan hubungan yang layak untuk kita ! .”
Carmel menggeleng, tanda bahwa ia menolak permintaan Lim.
“Sekali ini saja...” Pinta Lim.
“Aku tidak mau harus kecewa dan sakit lagi.” Ucap Carmel.
“Tidak lagi. Tidak akan pernah lagi.” Ujar Lim.
Carmel berdiam, ia tidak menerima ataupun menolak ucapan Lim.
Srrttttttt...
Lim menghentikan mobilnya.
Clek. Lim melepas seat belt-nya. Dan langsung memeluk Carmel.
“Aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu Mel...” Ucap Lim.
Carmel hanya diam tidak berucap dan membalas pelukan dari Lim, pandanganya kosong dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Bersambung...