Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 40



1 Tahun kemudian...


✉️Lim


Jam makan siang nanti aku akan menjemputmu.


^^^✉️Caroline^^^


^^^Tidak perlu, aku akan berangkat sendiri.^^^


✉️Lim


Aku akan menjemputmu ! Tidak ada penolakan


^^^✉️Caroline^^^


^^^Baiklah terserah kau saja tuan pemaksa.^^^


“Permisi tuan jam 1 nanti....”


“Batalkan saja. Aku ada janji hari ini !.” Potong Lim sebelum sekretarisnya, menyelesaikan ucapannya.


“Ya baik tuan...Jadwal akan saya reschedule.” Ucapnya, mengerti bahwa suasana hati bosnya itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.


“Ya .” Jawab Lim acuh.


Huuufft... Lim menghembus nafas panjang. Sambil menatap keluar jendela. Hari ini cuaca cukup cerah untuk melakukan sesuatu, tapi ia malah tidak berselera melakukan apapun. Sejak hari itu, semua sudah berubah. Dan waktu jugalah yang akhirnya, mengubah seorang Lim Abraham menjadi pria yang dingin dan sangat sulit ditebak.


Ia hanya menjalani hidupnya untuk hari ini, dan kemudian di hari esok, ia akan kembali berpikir untuk melaluinya.


...----------------...


Usai makan siang.


“Lim...” Caroline melambaikan tangannya didepan wajah pria itu


“Ya kau ngomong apa tadi?.” Tanya Lim tersadar.


“Aku bilang, setelah ini apa kau akan kembali kekantor?.”


“Seperti nya tidak...”


“Apa ini hanya alasan agar kau tidak bekerja lagi hari ini?.” Tanya Carol menatap sinis.


“Tidak...”


“Lim...Aku bukan orang baru yang mengenalmu kemaren. Tenang lah...” Ucap Carol, kemudian menyentuh tangan Lim dan memberi belaian lembut disana.


“Terima kasih kau selalu ada untuk ku.” Ucap Lim, kemudian balas memegang tangan Carol.


“Kau juga selalu ada untukku. Jadi aku pun harus melakukan hal yang sama untuk mu.”


“Maafkan aku...” Sesal Lim.


“Lupakan semuanya. Jika hari itu kau tidak jujur mengatakan semuanya. Mungkin ini akan menjadi lebih buruk lagi...”


“Kau tahu, aku tidak berniat untuk melukai mu sama sekali.”


“Lim. sudahlah...” Carol tidak ingin mendengar. kalimat penyesalan lagi dari pria itu.


“Sekarang sudah setahun berlalu. Dan banyak yang telah berubah, termasuk kau dan aku...”


“Apa kau tidak ingin mecoba mencarinya lagi...” Tanya Carol.


Hening beberapa saat....


“Kau bilang ini sudah setahun kan. Dan setahun ini juga, kau belum bisa melupakannya.”


“Aku sama sekali tidak ingin membahasnya lagi Carol. Bukankah kau bilang ada janji. Bagaimana jika aku ikut.” Tawar Lim, mengalihkan pembicaraan.


“Tidak.Tidak. Kau akan mengacaukannya...” Tolak Carol.


“Tidak Lim, tidak boleh.” Tegas wanita itu lagi, menolaknya.


“Baiklah. Tunggulah sebentar aku ke toilet dulu. Setelah ini, kita kembali.” Ucap Lim segera beranjak.


Beberapa menit menunggu membuat Caroline sedikit bosan hanya duduk disana. Sampai ia tanpa sengaja melihat dompet Lim yang tertinggal di meja. Sebenarnya, ia tidak begitu tertarik dengan benda itu, tetapi sesuatu mendorongnya untuk melihat sesuatu didalam sana.


Beberapa menit kemudian ...


“Hei...Ayo kita balik sekarang...” Ajak Lim.


“ Ya ...” Seru Carol. Kemudian segera beranjak.


Sesuai janji Lim akan mengantar Caroline pulang terlebih dahulu. Karena wanita itu sudah memiliki janji dengan seseorang malam nanti.


“Sampai kapan kau akan seperti ini terus?.” Celetuk Carol.


“Apanya?.”


“Kau lihat ini...” Carol membuka dompet Lim. Bahakan pria itu tidak menyadari bahwa seseorang telah mengambil dompetnya.


“Kenapa masih ada orang ini? Kau masih menyimpannya ! Aku tahu kau pasti sudah menyimpan itu lama sekali...” Carol menunjukan foto seorang wanita yang tersimpan rapi disana.


“Berikan itu padaku...” Lim langsung merampas dompetnya dari tangan Carol.


“Aku hanya menyimpannya saja...!” Ucap Lim buru-buru menyimpan benda itu di sakunya.


“Menyimpannya untuk apa? Untuk kau kenang atau sebagai pereda rindumu?.”


“Ayolah. Kau tahu aku sama sekali tidak ingin membahas ini kan... Sekarang duduk lah dengan tenang dan pakai sabuk pengaman mu.” Titah Lim.


Untuk kesekian kalinya Caroline dapat melihat bahwa pria disampingnya ini, jelas sedang menyembunyikan penyesalan dan kekecewaannya. Namun Lim berusaha menguburnya dalam-dalam, meskipun itu tidak akan pernah berhasil. Lim jelas tidak pernah serius ingin melupakan Carmel, bahkan ia masih terus menyimpan wanita itu dalam ingatannya, meski tidak ada satupun yang tahu.


Nyittt..


Mobil Lim berhenti tepat di halaman depan rumah Caroline.


“Turun lah. Jika ada sesuatu telpon aku...”


“Kau tidak perlu mencemaskan ku seperti itu. Aku bukan akan kecil lagi... Justru jika kau membutuhkan ku, katakan saja padaku. Aku akan menjadi sahabat yang baik untuk mendengarkan mu.” Seru Carol, kemudian segera turun dari mobil mewah itu.


“Baiklah Lim. Sampai jumpa...” Tambah Carol lagi.


Lim hanya membalasnya dengan senyuman, kemudian melaju pergi.


...****************...


Sementara Di AB Group


Tidak ada yang berubah, Daren, Feng, Karin. Masih setia bekerja disana pada Lim. Dan sejak hari itu juga, tidak ada yang pernah mendengarkan kabar dari Carmel lagi, bahkan Lim pun, tidak pernah benar-benar serius mencari keberadaan Carmel.


Tidak akan ada yang bisa melupakan hari itu. Semua orang tahu bahwa Lim lah yang bersalah atas perginya sahabat mereka itu.


“Ahhh.... Entah bagaimana kabar Carmel sekarang.” Pikir Feng.


“Sudah setahun pun, orang itu masih saja menganggu pikiran kita.” Sambung Karin dengan wajah murung.


“Dia tega sekali, bisa-bisanya dia pergi tanpa mengatakan apapun pada kita semua... Hanya karena pria bajingan itu.” Kesal Feng.


“Hust... Jangan sampai mulutmu itu membahayakan posisi kita. Bagaimanapun kita masih perlu pekerjaan ini. Jika tuan Lim mendengarnya, tamat lah riwayat kita bertiga.” Tegur Daren, sambil berbisik.


“Iya..Iya... Tapi aku masih tidak menerima ini semua. Carmel pasti sangat kecewa, sampai ia tidak mengatakan apapun dan pergi begitu saja.” Raut wajah Feng dan Karin berubah menjadi sedih.


“Bisakah kalian tidak berdrama di siang bolong seperti ini. Pekerjaaan kita masih belum selesai kawan-kawan....”


“Kau tega sekali pada Carmel, padahal Carmel sangat peduli padamu.”


“Bukan begitu. Untuk apa membahas orang yang sudah pergi. Lagipula...Keputusan Carmel sudah benar. Mungkin saja ia sudah menemukan kebahagiaanya sekarang. Jadi berhenti berdrama lagi, aku mulai muak Dengan kalian berdua...” Ungkap Daren. Meskipun ia tidak serius mengatakan semuanya pada dua wanita di hadapannya itu.


Bersambung....