
📞Memanggil Caroline...
Meskipun itu adalah hal yang mustahil untuk dilakukan sekarang. Lim terus saja mencoba. Tapi saat ini nomor wanita itu memang tidak bisa lagi dihubungi.
“Aku mohon Caroline...Kau harus baik-baik saja.” Harap Lim. Tak henti-hentinya.
Semua orang sedang berharap sebuah keajaiban saat ini, tapi apakah keajaiban akan datang di saat seperti ini? Semua menunggu dengan harapan yang sama, bahwa keluarga mereka sedang baik-baik saja.
Lim sudah mengecek dan memang benar nama Caroline tercantum sebagai penumpang di maskapai tersebut. Dan belum ada kepastian apakah pesawat tersebut hanya sedang mengalami masalah teknisi atau sebaliknya, sesuatu yang buruk sedang terjadi. Beberapa sumber mengatakan bahwa cuaca memang sangat buruk beberapa menit sebelum pesawat lepas landas.
“TIDAK BISAKAH KALIAN MEMASTIKANNYA? SEMUA ORANG DISINI SEDANG BERTANYA-TANYA. BERI KAMI PENJELASAN !.” Marah Lim pada beberapa petugas.
“5 menit lagi. Kami akan mengumumkan. Mohon bersabar Tuan. Kami tidak bisa gegabah dalam memberikan informasi.” Ucap salah satu petugas.
Sementara di Apartemen.
Carmel sedang sibuk membereskan semua barang-barangnya. Sama hal nya dengan kekhawatiran Lim sekarang, di sini pun Carmel juga sedang khawatir. Ia bingung apakah kali ini, dia harus menunggu Lim dan memberi pria itu kesempatan lagi, atau malah sebaliknya, inilah waktu jika ia benar-benar ingin pergi.
“Anggap lah aku memang egois untuk saat ini. Karena aku berharap bahwa pria itu akan menjelaskan sesuatu padaku sekarang. Tapi ia malah mengkhawatirkan nona Caroline.
Tapi untuk apa menunggu ,sementara semua pertanyaan akhirnya terjawab... Saat ini aku juga sedang terluka, saat ini aku juga sedang membutuhkannya, tapi lagi-lagi aku kalah. Dia selalu menempatkan ku di urutan terakhir dalam prioritasnya.”
....
Dalam posisi terduduk, Carmel memperhatikan ke sekitar. Seakan ini adalah terkahir kalinya ia bisa melihat dan berada ditempat ini.
...Hiks...Hiks...Hiks...
Air mata yang tertahan kan kembali jatuh, terlalu banyak kenangan yang tidak mudah untuk dilupakan di tempat ini. Sudah banyak hari, dan tahun yang terlewati di sini. Dan Carmel sangat merindukan kenangan itu.
“Aku benar-benar mencintaimu Lim. Tapi aku tidak tahan jika harus sesakit ini...Ini bukan yang pertama kalinya, tapi ini harus jadi yang terakhir kalinya aku terluka untuk alasan yang sama.”
...****************...
Kembali ke Airport.
Pesawat yang Caroline tumpangi, akhirnya kembali terhubung ke menara pemantauan. Semua orang bernafas lega sekarang. Tidak terkecuali Lim, yang saat ini masih memikirkan tentang marahnya Carmel padanya.
Tapi ia tidak mungkin meninggalkan bandara sekarang, sebentar lagi pesawat Caroline akan mendarat, dan ia masih harus memastikan keadaan wanita itu baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian...
“Sayang...” Ucap Caroline, berlari kencang, ke pelukan Lim. Yang masih belum siap untuk mengatakan apapun.
“Apa kau baik-baik saja?.” Tanya Lim.
“Apa kau begitu mengkhawatirkan ku. Aku baik-baik saja sayang. Apa kau tahu, aku hampir berpikir tidak akan pernah melihatmu lagi. Aku pikir aku akan mati konyol...”
“Itu tidak akan terjadi. Lihat lah kau baik-baik saja sekarang.” Ucap Lim, menepuk pundak Carol.
“Aku hampir mengacaukan semuanya. Maafkan aku Lim.”
“Caroline, dengar aku !.” Lim melepas tangan Caroline yang melingkar di tubuhnya.
Wanita itu hanya menatap nya dan memberikan senyum tipis dari bibirnya.
“Tidak Lim..Akulah yang mengacaukan semuanya. Seharusnya aku tidak kembali dan mengacaukan rencana mu. Aku tahu kau sedang sibuk mempersiapkan pernikahan kita kan ?.” Carol kembali ingin memeluk Lim. Tapi Lim menghindarinya dan mundur perlahan.
“Jangan... Jangan lakukan itu lagi.” Lim menolak sentuhan Carol.
“Kenapa? Apa kau marah padaku? Lim aku minta maaf, jika ini membuatmu marah.” Raut wajah Carol berubah sedih.
“Kau tidak salah. Akulah yang harus minta maaf. Caroline, aku sama sekali tidak pernah berencana untuk menikah denganmu. Hari itu saat aku mengatakan jangan pernah merindukanku lagi. Aku serius ! .”
“Lim... Aku tidak mengerti apa maksudmu? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku?.”
“Ya ! Aku menyembunyikan banyak hal darimu.” Tegas Lim lagi.
“Tidak... Kau hanya bercanda kan? Ayolah Lim, aku baru saja tiba di sini. Kau bohong kan !.” Suara lirih mulai terdengar dari nada bicara wanita itu.
“Carol... Aku serius, banyak hal yang ku sembunyikan darimu. Dan aku ingin mengatakan itu sekarang padamu.”
“Tidak...Tidak...Aku tidak ingin mendengarkan apapun. Aku ingin kau menikahi ku.” Ngotot Carol. Menggeleng-geleng kan kepalanya.
“Aku tidak bisa. Jika aku menikahi mu, kita akan sama-sama menderita. Karena aku tidak bisa mencintaimu..Dan.”
“DAN APA LAGI !.” Tangis Carol akhirnya pecah.
“Tenanglah...”
Plak.
Carol menampar wajah Lim begitu keras.
“Kau menyuruhku tenang ? Bagaimana bisa aku tenang ! Kau jahat Lim...Kau jahat... Aku tidak pernah menuntut apapun, selain menunggumu. Aku menunggumu, sampai kau benar-benar siap dengan semua ini. Tapi semudah ini kau bilang tidak bisa mencintaiku ! Lalu selama ini apa? Apa itu hanya sandiwara Hah....Katakan padaku....” Carol memukul dada Lim sekuat tenaga, meluapkan semua rasa sakit hatinya.
“Kau tahu Carol, aku sudah bersamamu hampir puluhan tahun. Sejujurnya aku sudah memberi banyak waktu untuk hatiku, menyadari bahwa hanya kau satu-satunya wanita dalam hidupku. Namun sebanyak apapun waktu yang ku tunda, sebanyak itu juga perasaanku tidak pernah berubah... Di mataku kau tetap Caroline yang sama. Caroline sahabat terbaik ku.... Maaf hanya itu perasaan yang ku miliki untukmu.”
“Aku akan menunggumu. Sampai kau bisa mencintaiku. Aku tidak masalah jika harus menunggumu lagi....” Ucap Carol Frustasi.
“Aku tidak bisa.” Tolak Lim.
“Siapa dia? Siapa wanita itu? Apa dia tidak tahu bahwa kita sudah bertunganan. Kenapa dia berani menganggu, sesuatu yang bukan miliknya...WANITA MURAHAN MACAM APA YANG MEMBUAT MU BERPALING DARIKU !!..” Carol sangat yakin Lim melakukan semua ini karena ada wanita lain di hubungan mereka.
“Dia bukan apa yang ada dipikiranmu. Jika bukan karena mu. Aku tidak akan ke sini... Jika ini tidak menyangkut nyawa seseorang, aku tidak akan datang untuk mu hari ini.” Balas Lim.
“Cih. Aku tidak butuh simpatimu. Aku butuh kau... Kenapa kau membuatku seperti ini?.”
“Itu sebabnya aku harus menghentikan semuanya. Aku lelah Carol. Aku lelah dengan ini semua, aku lelah menyakitimu... Dan aku tidak bisa menyakiti wanita itu lagi. Dia sudah banyak mengalah untuk ini semua... AKU TIDAK INGIN KEHILANGANNYA, KITA HARUS MENGAKHIRI INI SEBELUM TERLAMBAT.”
“Siapa dia?.”
“Carmel. Aku mencintainya.”
“Wanita itu... Sejak awal seharusnya aku tahu. Itu sebabnya saat aku memintamu memecatnya kau tidak melakukannya... Dia pasti menggoda mu kan.”Tebak Carol.
“Hubungan kami bukan hubungan seperti itu. Aku sudah mengatakan semua padamu. Aku harus pergi sekarang. Maaf Carol...” Lim segera berlari meninggalkan Carol yang masih berderai air mata.
“LIM...LIM.....” Teriak Carol, tapi pria itu tetap pergi meninggalkannya.Tetapi Lim tidak sedangkal itu, ia masih sempat meminta seseorang untuk mengantar Caroline bertemu dengan Ibunya.
Bersambung....