
.....
Carmel mulai menjelaskan semuanya pada Daren, mulai dari awal Lim dan dirinya menjalin hubungan.
“Jadi kau dan Tuan Lim bertemu di Berlin, dan dia adalah seniormu.”
“Ya seperti itulah...”
“Lalu dia menyatakan cinta dan kalian berpacaran ! Tapi saat itu kau sudah jelas tahu Tuan Lim sudah bertunangan dengan nona Caroline...” Daren mengulang setiap kalimat yang Carmel ceritakan padanya.
“Mmh...” Carmel mengangguk.
“Kalian benar-benar luar biasa. Aku pikir seperti inilah cinta segitiga di dunia nyata. Tuan Lim, kau dan Nona Caroline... Tapi aku tidak mengerti kenapa kau terlihat biasa-biasa saja. Apa kau tidak cemburu sama sekali.” Tanya Daren.
“Cemburu? Ya terkadang, tapi aku tahu seharusnya tidak boleh ada perasaan seperti itu dalam diriku... Dan aku tahu, kau pasti berpikir sangat buruk padaku sekarang...” Ucap Carmel tertegun.
“Aku tidak akan menghakimi mu. Kalian yang memilih jalan ini, bukan urusanku...” Tandas Daren.
“Aku mencintainya...Daren, kuharap ini hanya akan menjadi rahasia kita.” Carmel kembali menekan kata rahasia. Ia benar-benar tidak ingin ada orang lain lagi yang mengetahuinya.
....
“Bukankah besok ayah dan ibumu juga akan datang ke acara itu?.”
“Ya, mereka selalu datang...”
“Baguslah. Sudah lama sekali tidak bertemu dengan mereka... Sejak mereka memilih menetap di New York, kita benar-benar tidak pernah berkumpul lagi. Dengan begini keluarga kita akan berkumpul lengkap besok... Ibu ku juga akan datang.” Ujar Carol bersemangat.
Lim hanya tersenyum.
“Tapi tetap saja aku merasa kurang, ayah sudah tidak ada lagi.” Raut wajah Carol berubah sedih.
“Tenanglah. Kami semua adalah keluargamu. aku, ayah dan ibu... Kau tahu mereka juga sangat memperdulikan mu.” Lim mencoba menguatkan Carol.
“Ya... Terima kasih Lim. Apa menurutmu ayah ku sudah bahagia disana?.”
“Ngomong apa kau ini.” Tegur Lim.
“Dia pasti bahagia, karena aku bersama pria pilihannya. Iyakan Lim.... Ayahku begitu percaya kau akan menjagaku.” Ungkap Caroline, membuat rasa bersalah yang semakin besar dalam hati Lim.
...Lim Abraham POV...
Tentu saja itu keliru, nyatanya ayahmu menitipkan mu pada pria yang salah Caroline. Aku sama sekali jauh dari kata baik. Aku memang berjanji menjagamu, tapi aku tidak bisa berjanji untuk membahagiakanmu. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi aku benar-benar tidak bisa.
Aku menyayangimu, tetapi wanita yang kucintai adalah Dia.
Jika ada kata selain maaf yang bisa menggambarkan betapa menyesalnya aku melakukan ini padamu. Aku benar-benar akan melakukannya. Asal itu tidak membuatmu terluka. Tapi aku tidak punya pilihan kau pasti akan terluka jika mengetahui ini.
“Lim...Menurutmu mungkinkah ini saat yang tepat untuk melangkah lebih jauh lagi.”
“.........” Lim terdiam.
“Apa kau...?.” Ucap Carol ragu.
“Aku belum siapa.” Tandas Lim, memotong ucapan Carol.
“Dan Tidak akan pernah siap....” Ucap Lim dalam hati.
“Baiklah...” Jawab Carol.
Bukan berarti Caroline tidak peka melihat keraguan Lim, tentu dia bisa melihat semua itu. Tapi dia tahu Lim adalah pria yang tidak akan bisa menyakitinya. Cepat atau lambat Lim juga akan mewujudkan keinginan Caroline, untuk menikahinya.
...****...
✉️ Chen Xu
Bukankah besok ada acara di AB Group?
^^^✉️Carmel^^^
^^^Ya benar sekali. Ada apa Tuan Chen menghubungi ku?^^^
✉️Chen Xu
Hari ini aku memberimu diskon potongan 10.000 yuan, bagaimana?
^^^✉️Carmel^^^
^^^Apa Tuan Chen serius?^^^
✉️Chen Xu
Tentu, dengan syarat...
^^^✉️Carmel^^^
^^^Syarat seperti apa yang Tuan Chen tawarkan?^^^
✉️Chen Xu
Aku mengirimkan paket untukmu, mungkin sudah di kantormu sekarang. Lihatlah, dan kau akan tahu. Semoga kau menyukai tawaran ini.
Setelah membaca pesan dari Chen, Carmel langsung mencari tahu apakah Chen Xu serius mengirimkan sesuatu untuknya.
Dan ternyata....
Chen benar-benar serius. Ia mengirimkan sesuatu yang entah apa isinya. Tanpa banyak berpikir Carmel langsung membukanya.
“Apa ini..Ini bukan seperti penawaran, bukankah ini lebih seperti pemberian.” Pikir Carmel.
📞Carmel memanggil Chen Xu...
“Bagaimana ?.”
“Apa ini semua? Aku tidak menemukan penawaran apapun disini, apa kau salah mengirim paket Tuan Chen?.” Tanya Carmel heran.
“Sudah ku bilang ini penawaran yang menguntungkan Carmel.” Jawab Chen dengan nada mengintimidasi.
“Apa ? Jangan bilang kau ingin aku memberikannya pada seseorang wanita di sini?.”
“Hahahaha. Tidak ! Tidak ! Itu untukmu. Pakailah di acara besok.”
“Apa kau serius? Kenapa aku harus memakainya.”
“Karena itu syaratnya. Kau tidak bisa membayar 350 ribu yuan dalam sekejap kan. Aku sudah berbaik hati padamu. Tidak pernah ada penawaran seperti ini nona Carmel.” Tekan Chen.
“Maaf tuan Chen. Aku tidak bisa menerima ini semua.”
“Baiklah sampai ketemu di pengadilan...”
“Eh... Tuan...Tuan... Baiklah. Tapi kau harus berjanji, kau tidak sedang menjebak atau merencanakan sesuatu yang jahat padaku kan ?.” Tanya Carmel ragu. Kerena Chen adalah orang yang dirugikan disini, penawaran seperti ini jelas akan semakin merugikan baginya.
“Baiklah selamat siang nona Carmel.” Chen mengakhiri panggilan begitu saja.
Sekarang Carmel malah di bingung kan, apa sekarang Tuan Chen tersinggung dengan kata-katanya, dan apa tawaran ini masih berlaku.
....
Malam harinya, sepulang Carmel dari kantor. Ia masih memikirkan tentang kotak yang diberikan Chen padanya, ia masih ragu. Apakah orang seperti Chen bisa di percaya. Dia baru saja bertemu orang itu, namun Chen bersikap seolah sedang ingin bermain-main dengannya.
Tok...Tok...Tok..
“Iya sebentar...” Seru Carmel.
Ia menggeser pintu perlahan untuk memastikan siapa yang datang berkunjung semalam ini.
“Kau. Bagaimana bisa kau menemukan ku disini.” Tanyanya terkejut.
“Apa yang tidak bisa kutemukan.”
“Jangan-jangan masuk kedalam.” Carmel melarang Lim untuk masuk. Karena ia tahu tempat ini tidak akan cocok untuk pria nya itu.
“Kenapa ? Aku mau masuk...” Lim menggeser pintu Carmel agar ia bisa masuk kedalamnya.
Lim masuk dan melihat ke sekeliling. Carmel hanya diam.
“Kenapa disana, ayo ke sini.” Panggil Lim lagi.
Carmel datang perlahan.
“Duduklah disini...” Carmel memberi tempat untuk Lim duduki.
Hening....
“Jika kau tidak nyaman berada disini. Pulanglah sekarang. Kita bisa berbicara besok di kantor.” Ucap Carmel. Ia tahu Lim tidak nyaman dengan rumah barunya ini.
“Apa aku pernah bilang aku tidak nyaman disini.” Lim bertanya.
“Tidak. Tapi aku tahu kau tidak menyukai tempat ini.” Jawab Carmel sambil menunduk.
Lim menggendong Carmel ke atas tempat tidurnya.
Kemudian...
Cup. Lim mencium pucuk kepala Carmel, entah kenapa ia sangat mencintai wanita yang ada di pelukannya ini.
“Yang menentukan nyaman atau tidaknya aku disini bukan tempat ini Carmel.... Tapi siapa yang menempatinya ! Jika kau ada disini, maka aku juga akan ada disini. Karena kenyamanan ku sesungguhnya berasal dari mu. Kau suka disini, mari hidup disini bersama.”
“Hidup bersama ? Bukankah aku sudah lama hidup bersama denganmu. Hanya saja saat ini....” Carmel mengehentikan ucapannya.
“Ya...Saat ini kita harus terpisah.” Lim meneruskan ucapan Carmel.
Carmel menempelkan wajahnya kedalam dada Lim. Ia hanya tidak ingin Lim melihat wajahnya yang sedang bersedih.
“Maaf... Aku selalu mengorbankan perasaanmu. Apa kau marah padaku? .”
“Sangat....” Jawab Carmel jujur.
“Aku suka kau jujur dengan perasaanmu. Lalu apa ada lagi...”
“Lim apa kita akan memiliki masa depan?.”
“Tentu. Dimasa depan aku akan selalu menggenggam tanganmu, menunjukan pada dunia, bahwa kau milik ku, Lalu kita akan bahagia, mempunyai anak, dan menua bersama.” Jawab Lim.
“Lalu setelah itu kita tersadar bahwa kita hanya bermimpi indah.” Sambung Carmel.
“Aku akan mewujudukan mimpi itu. Aku janji padamu. Kau percaya padaku kan..”
Carmel mengangguk. Tanda bahwa ia sangat mempercayai Lim sepenuhnya.
Bersambung...