
Kembali ke Apartemen.
“Lim kemari lah...”
“Ada apa sayang ? Masih ada email yang harus ku kirim.” Sahut Lim dari ruang kerjanya.
“Sayang...Kemari lah sebentar saja.” Panggil Carol lagi.
Memaksa Lim akhirnya keluar untuk mencari keberadaan wanita yang memanggilnya sejak tadi.
“Carol. Ayolah aku tidak ingin bermain-main sekarang.” Ucap Lim. Namun tidak ada jawaban dari wanita itu.
“Jika kau tidak keluar, aku akan kembali keruang kerjaku sekarang. Ini bukan saatnya bermain-main.” Sambung Lim lagi.
“Ini bukan saatnya bermain-main tapi bersenang-senang Lim...” Ucap Caroline, ia keluar dengan pakaian tidur seksinya, yang membuat lekukan tubuhnya tercetak dengan jelas.
“Apa yang kau lakukan.” Tanya Lim, namun matanya terus saja memandangi tubuh Carol dengan seksama.
Wanita itu tersenyum menggoda padanya.
“Apa yang ingin kau lakukan jika melihatku seperti ini sayang..” Bisik Carol. Mendekap tubuh Lim.
“Hei kau ini kenapa...”
“Tubuhku panas sekali Lim, aku menginginkanmu untuk meredakannya.” Pinta Carol.
“Aku masih ada pekerjaan sayang...” Tolak Lim halus.
“Tapi aku tidak tahan lagi Lim...Aku ingin ini.” Pinta Carol meraba milik Lim. Membuat pria itu mengendus panjang, menahan rasa nikmaat yang Carol berikan padanya.
“Tolong jangan seperti ini.” Lim menjauhkan tangan Carol dari dirinya.
“Ahhh... Lim...tubuhku panas sekali... Sakit Lim...” Tangis Carol, tubuh nya menggelinjang di lantai.
Lim semakin tidak mengerti ada apa dengan Carol yang sekarang. Ia tidak pernah melihat sikap ini sebelumnya.
“Apa kau habis meminum atau memakan sesuatu...” Tanya Lim.
“Aku hanya mencampur makanan ku dengan suplemen yang diberikan ayah mu. Selain itu tidak ada lagi.” Ujar Carol.
“Shit...” Gerutu Lim dalam hati. Ia yakin ini bukan hanya suplemen tapi obat perangs*ng yang sengaja di berikan Giorgino agar Lim tidur dengan Caroline.
“Tenanglah aku akan membantu mu...” Lim segera mengangkat tubuh Carol menuju kamar.
Ia tidak memiliki cara lain, selain memberikan apa yang Carol inginkan. Tapi tentunya bukan dengan cara menidurinya, Lim hanya bisa memberi Carol kenikmatan dengan cara memasuki bagian sensitif Carol dengan jemari telatennya.
“Argh...Lim....Oh....” Pekik Caroline, kala jari-jari itu bergerak di dalamnya.
Dengan setengah pertahanan Lim mencoba menahan semua hasrat dalam dirinya, termasuk dengan tangan Carol yang terus memaksa untuk membuka bagian bawahnya.
“Lim....Sayang....” Ucap Carol, sambil memberi sentuhan pada benda milik Lim.
“Ahhh...Jangan-jangan ini...” Ucap Lim. Menjauhi tangan Carol dari dirinya.
Beberapa menit kemudian wanita itu mulai tenang dan tertidur pulas. Lim segera memperbaiki dan merapihkan pakaian Carol yang sudah terbuka, bahkan hanya menutupi separuh tubuhnya.
....
Krek...
“Lim... Kenapa ke sini?.”
“Bertanya nya nanti saja sayang... Aku ingin memakan mu dulu sekarang.” Dengan cepat Lim membopong tubuh Carmel keatas tempat tidur.
“Kenapa tiba-tiba seperti ini.” Tanya Carmel bingung. Namun Lim sama sekali tidak meresponnya. Dan malah sibuk melucuti pakaiannya dan Carmel.
“Aku merindukan mu Mel...” Ucap Lim, mencium tengkuk Carmel dan menghis*p nya kuat.
“Ini sudah jam 12 malam Lim. Kau dari mana saja.” Carmel tetap tidak bisa diam, sebelum Lim menjelaskan semuanya.
“Aku tidak dari mana-mana dan kemana-mana.” Lim semakin menempel pada Carmel.
“Kau aneh sekali, seharr......Mmpph..” Carmel tidak bisa melanjutkan ucapannya. Karena Lim sudah ******* bibirnya.
“Ahhkkk....”
.....
Beberapa menit kemudian, setelah usai dengan permainannya, Lim melepas penyatuan tubuhnya dan Carmel, setelah berkali-kali memberi pelepasannya di dalam Carmel.
“Kau mabuk?.” Ucap Carmel, lemas.
“Tidak... Mana mungkin aku melakukan itu, kecuali kau ada bersamaku.” Ucap Lim. terengah-engah.
“Lalu kenapa? Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya...”
“Aku merindukanmu...”
“Apa kita bisa lebih dekat lagi. Kau sudah terlalu lama jauh dariku... Ikut aku pulang saja, kita kembali ke apartemen sayang.” Pinta Lim, kemudian kembali memeluk Carmel.
“Kau mau membawaku dengan adanya Caroline disana. Kau gila Lim.”
“Lalu bagaimana lagi, aku bisa semakin gila jika jauh dari mu sayang?.”
“Kau yang paling mengerti caranya...!.” Ujar Carmel.
“Aku akan menyewa 1 unit lagi untuk kita. Bagaimana...”
“Aku tidak ingin kemana-mana. Aku suka dengan tempat tinggal ku yang sekarang...”
“Ya... Aku tidak akan memaksamu... Kalau begitu terima aku disini bersamamu.” Ucap Lim memanja pada wanitanya itu.
“Lim jangan seperti anak kecil... Kau bisa datang kapan saja kesini kan.” Ucap Carmel mencubit perut keras kekasihnya itu.
“Tidurlah... Aku akan menjagamu..” Bisik Lim, mengusap-usap rambut Carmel.
“Kau tidak pulang...” Tanya Carmel pelan.
“Tidur, aku akan disini malam ini...” Ucap Lim semakin memperat pelukannya pada pinggang Carmel.
Meskipun kehadiran Lim menyisahkan tanda tanya bagi Carmel, tapi ia cukup lega karena pria itu bersamanya sekarang.
Bersambung....