
“Lim...”
“Sayang--- Hei....” Carol menyentuh pundak Lim.
“Ya. Kau bicara apa tadi?.”
“Aku bilang, ibu ku lusa minta di temani ke paris ! Ada apa denganmu, kau sama sekali tidak memperhatikan ucapan ku sejak tadi !.”
“Apa ada sesuatu ?.”
“Darwin Wang baru mengeluarkan rancangan baru miliknya, ibu tidak ingin melewatkan itu. Kau akan ikutkan?.” Tanya Caroline.
“Apa itu sangat penting ?.”
“Tentu saja. Sebelum wanita lain memilikinya, ibuku harus memilikinya terlebih dahulu.” Ucap Carol sambil terkekeh.
“Aku tidak ikut ! .”
“Lim kau harus ikut kali ini saja.” Pinta Carol.
“Aku tidak bisa. Ada yang lebih penting dari itu semua.” Ucap Lim tertegun.
“Apa pekerjaan lagi ? Kenapa kau tidak bisa meluangkan waktu untuk ku Lim.”
“Aku sudah meluangkan banyak waktu ku untukmu. Sampai aku melupakan yang terpenting itu.”
“Apa ada yang lebih penting dariku ?.” Tanya Carol, dengan suara berat.
Lim yang tersadar, bahwa ia terlalu banyak memikirkan Carmel, hingga ia lupa dengan siapa ia, bicara saat ini, tentu saja Lim tahu itu akan menyakiti wanita dihadapannya ini.
“Lupakan saja. Aku tidak bisa ikut, karena memang banyak hal yang tidak bisa ku tinggalkan disini. Ini ambilah.” Lim memberi kartu kreditnya pada Carol.
“Apa ini ?.”
“Aku tidak bisa ikut, jadi bawalah ini. Pakai saja berapapun yang kau dan ibumu inginkan.” Ucap Lim.
“Kau serius sayang?.” Tanya Carol.
“Ya.”
“Kau sangat perhatian sekali, baru menjadi tunangan mu saja, kau sudah memanjakan ku seperti ini.” Ucap Carol sambil tersenyum senang.
“Aku ada janji, tidurlah... Jangan menungguku.”
“Janji apa? Apa aku boleh ikut.”
“Tidak.”
“Kenapa?.” Tanya Carol lagi.
“Karena aku tidak ingin.” Tegas Lim.
“Tapi KENAPA? Kau tidak ingin kenapa.” Carol merasa kecewa dengan jawaban Lim, yang sangat dingin padanya.
“Honey...”
“Jawab saja ! .” Seru Carol lagi.
Lim mengendus panjang, membuang sedikit tekanan yang begitu berat di dadanya.
“Ini sudah malam sayang !.” Ucap Lim.
“Kau pikir aku anak kecil !.”
“Lupakan saja. Aku tidak akan pergi.”
“Kenapa?.”
“SEBENARNYA BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPI MU? KAU MEMINTA IKUT, KARENA INGIN BERSAMAKU ! SEKARANG AKU TIDAK PERGI KAU MASIH BERTANYA ! APA KAU TIDAK SADAR, AKU SELALU MELAKUKAN SEGALA YANG KAU INGINKAN...APA ITU BELUM CUKUP CAROL... SETIAP KALI AKU INGIN MELAKUKAN SESUATU YANG SANGAT KU INGINI... AKU TERPAKSA MENGORBANKAN SEGALANYA, HANYA UNTUK MEMENUHI SEMUA KEINGINANMU DULU--- BAHKAN AKU LUPA DENGAN KEINGINANKU SENDIRI. HANYA KARENA DIRIMU.. DAN KAU MASIH INGIN BERTANYA MENGAPA DAN KENAPA !!!.”
“Lim....” Ucap Carol terkejut dengan reaksi pria itu. Ini adalah pertama kalinya Lim berbicara sekeras itu padanya.
“APA LAGI !.”
“Maafkan aku...”
“Tidak aku yang minta maaf, kau selalu ingin aku melakukan itukan.”
“Tidak...” Tangis Carol.
“AKU MINTA MAAF !.”
“Tidurlah, aku akan tidur di ruang tamu malam ini.” Lim mulai menurunkan nada bicaranya. Ia tidak ingin berdebat lagi. Sekarang cukup hanya masalahnya dengan Carmel saja, ia tidak ingin memikirkan hal lain termasuk perdebatan malam ini.
“Tidak aku tidak mau...”
Lim menatap kearah Caroline, entah kenapa setiap ucapan Carol menjadi sebuah ucapan intimidasi untuknya. Bahkan jika ia tidak ingin melakukannya, ia tetap harus melakukan hal itu.
“KAU MULAI LAGI.” Ucap Lim, kemudian berdiri, dan menuju kamar tidur. Disusul dengan Caroline di belakangnya.
“Kau tidak tahu Caroline. Tapi aku minta maaf. Aku pernah mencoba, tapi aku tidak bisa memberimu cinta, seperti yang kau berikan padaku. Karena sejak awal aku tidak pernah benar-benar yakin dengan pertunangan kita. Tapi bagaiman cara mengatakannya sekarang, aku benar-benar tidak tahu. Aku bahkan kehilangan wanita yang benar-benar kucintai, hanya untuk mu yang sama sekali tidak bisa untuk kucintai... Dimata ku kau masih Caroline yang sama, sahabat yang selamanya hanya bisa ku jadikan sahabat.” Kata hati Lim.
“Kau marah padaku...”
“Lupakan itu semua.” Ucap Lim.
“Kau memaafkan ku.”
“Berapa lama kau akan ke paris?.” Tanya Lim
“Mungkin 2 minggu. Kau mau ikut sekarang?.”
“Tidak. Setelah dari sana, temuilah aku secepatnya. Kita perlu bicara.”
“Apa? Kenapa tidak sekarang saja.”
“Nikmatilah liburanmu itu. Baik-baiklah disana.” Ucap Lim.
“Tapi apa?.”
“Aku mengantuk, kau juga tidurlah.” Ucap Lim mengelus lembut pucuk kepala Carol, kemudian berbalik memunggungi wanita itu.
...****...
Keesokan hari nya
ABRAHAM GROUP
Kantor sedang gempar dengan berita utama pagi ini.
Diam-diam Pengusaha dan pemilik Evergrande memiliki wanita X dari perusahaan AB Group.
Dan semua orang menduga itu adalah Carmel, karena beberapa kali Tuan Chen memang terlihat bersamanya.
“Apa itu benar?.” Tanya orang-orang.
“Kalian tahu media selalu seperti itu. Orang besar sepertinya dekat dengan siapapun akan langsung jadi berita utama.” Ucap Carmel, tidak terlalu menanggapi berita konyol itu.
“Tapi jika bukan itu, kenapa kalian bisa sedekat itu.”
“Hanya hubungan kerja sama. Sudahlah... Intinya berita itu tidak benar, jikapun dia memiliki wanita X itu. Aku yakinkan itu sama sekali bukan aku. Lagipula kita ini hanya staf biasa, berhentilah menjadi cinderella.” Ujar Carmel.
“Ya dia ada benarnya juga...” Semua orang kembali mempercayai Carmel.
Kecuali Lim, dia sangat yakin setelah berpisah darinya Carmel mulai membuka hatinya untuk pria lain, dan itu adalah Chen Xu.
“CARMEL !.” Panggil Lim dengan nada tinggi. Semua orang menatap kearahnya, melihat reaksi Lim yang terdengar sangat kasar menyebut nama itu.
“KAU IKUT DENGANKU !.” Ucap Lim.
Melihat ke sekitar, dimana semua mata fokus pada dirinya dan Lim, membuat Carmel tidak memiliki pilihan untuk tidak datang pada pria itu.
“Baik Tuan... ” Ucap Carmel meninggalkan meja kerjanya.
Dan orang-orang kembali membicarakannya.
“Ada apa ya?.”
“Apa mungkin karena berita itu?.”
“Tapi apa hubungannya itu dengan Tuan Lim ?.”
“Bisa saja, Tuan Lim dan Carmel....”
“Tuan Lim sepertinya berpikir bahwa Carmel adalah mata-mata dari Evergrande, kalian tahukan. Perusahaan itu selalu ingin menempati level tertinggi menyaingi perusahan kita, meskipun itu mustahil.”
....
“Apa kau gila?.” Kesal Carmel, berbisik.
“Ya aku hampir gila, karena mu.”
“Lakukanlah, aku sama sekali tidak peduli, sekalipun kau benar-benar gila.”
“Sampai kapan kau akan seperti ini.” Tanya Lim.
“Sampai kita bisa bersikap biasa. Sampai kita bisa melupakan semua yang pernah ada diantara kita. Sampai kau dan aku bisa bersikap hanya sebagai bawahan dan atasan !.” Jawab Carmel.
“Jika aku tidak bisa, bagaimana ?.”
“Itu bukan urusanku ! .” Jawab Carmel.
“Mel...” Lim meraih tangan Carmel.
“Lepas...”
“Dengarkan aku dulu. Aku benar-benar tidak bisa Mel. Yang ada aku semakin tersiksa karena merindukanmu...”
“KAU PIKIR HANYA KAU YANG TERSIKSA? BERHENTILAH EGOIS HANYA UNTUK DIRIMU SENDIRI. DAN SATU LAGI BERHENTI BERTINGKAH SEPERTI TADI, KAU INGIN AKU DICACI MAKI OLEH ORANG DISINI LIM---AKU SUDAH BENAR-BENAR MUAK DENGAN SIKAP MU !.”
BERSAMBUNG...