
Beberapa hari kemudian...
“Ibu kenapa Lim tidak juga menghubungiku. Apa, jangan-jangan dia berubah pikiran sekarang?.” Cemas Carol.
“Kau ini ! Lim itu bukan seorang pengangguran sayang. Tunggu saja !.”
“Apa aku harus menghubungi nya.” Carol segera meraih ponsel nya yang tergeletak di atas meja.
Buru-buru Naomi segera menahannya.
“Jangan ! Biarkan dia yang menghubungimu. Kau harus sabar nak !.”
“Kalau begitu. Aku mau kembali ke Shanghai saja secepatnya. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya ibu.” Ucap Carol.
“Kita sudah membicarakan ini sayang, bersabarlah maka kau akan mendapatkan yang kau inginkan. Lagipula kau tidak bisa kembali sekarang. Ibu masih ada beberapa hal yang ingin diselesaikan di sini. Dan kau harus membantuku. Kau tidak mungkin meninggalkan ibumu begitu saja kan !.”
“Aku harus bicara dengan Lim bu!.”
“Carol sayang, dengarkan aku... Beberapa hari ini tetaplah disini. Ibu mohon...” Pinta Naomi, sementara ia memikirkan cara untuk segera bertemu dengan Lim.
“Begini saja. Besok ibu ada beberapa pekerjaan, kau tetap disini...Dan setelah itu, aku janji kita akan kembali ke Shanghai bersama. Lagipula lelang belum selesai sayang, kau harus mendapatkan itu dulu untuk ku.” Naomi terus berusaha mengulur waktu putrinya.
“Baiklah. Tapi pekerjaan apa yang ingin ibu lakukan !.” Jawab Carol lesu.
“Setelah ini ibu akan menceritakan padamu. Yang jelas ini akan menguntungkan untuk kita.” Naomi mengelus pipi putrinya itu.
“Kau seperti sedang merahasiakan sesuatu dari ku !.”
“Hahaha...Sejak kapan ibu bisa melakukan itu.” Tawa Naomi. Meskipun begitu ia juga tidak bisa menjelaskan apapun pada Carol untuk menghilangkan prasangka putrinya itu, padanya.
...----------------...
ABRAHAM GROUP.
Diam-diam di jam makan siang Lim dan Carmel mencuri waktu untuk bertemu.
“Lim kau jangan macam-macam disini.” Bisik Carmel saat berjalan bersama, di lorong panjang menuju ruang kerja pria itu.
“Sudah lah, tidak ada siapapun disini sayang.” Lim menarik dan merengkuh pinggang Carmel.
“Lim....” Bisik Carmel pelan, sambil melihat ke sekitar, memastikan tidak ada siapapun disana.
“Sekarang kau miliki ku seutuhnya. Apa yang kau khawatirkan sayang.”
Lim menahan Carmel di pertengahan lorong panjang itu.
“Tapi yang orang tahu, kita hanya....”
“Sssttssss.... Sekarang orang hanya boleh tahu bahwa kau miliki ku, dan siapapun tidak diperbolehkan mengambil itu dari ku.”
“Lim... Kau tahu kan.. ini bisa menjadi gunjingan dimana-mana.” Ucap Carmel.
“Aku tidak perduli. Yang aku ingin... Kau dan aku... Kita bisa seperti itu setiap harinya.”
Cup💕
Tanpa seijin Carmel Lim lagi-lagi mencuri ciuman dari bibirnya, bahkan Lim sama sekali tidak peduli dengan sekitar mereka lagi.
“And you know.... you know how much I love you, right !? .”
“Biarkan orang juga mengetahui itu sekarang. Biarkan mereka tahu, bahwa aku sangat mencintaimu.” Ucap Lim menatap lurus pada mata Carmel.
“Tapi ini terlalu cepat Lim...Aku takut.”
“Setidaknya aku tidak terlambat kan ?.” Balas Lim.
Carmel hanya diam.
“Sudahlah jangan dipikirkan.” Ucap Lim, menarik Carmel menuju ruang kerjanya.
....
Lagi-lagi Lim dan Carmel tertangkap basah sedang bermesraan, tanpa mereka ketahui.
“Kau melihatnya kan...”
Feng hanya mengangguk-angguk, tanpa berkata-kata.
“Apapun yang kita lihat, kita harus merahasiakannya.” Ucap Feng.
“Tapi... Bagaimana bisa, apa Carmel menggoda tuan Lim !?...” Tebak Karin.
“Tapi dia bukan tipe orang seperti itu.” Pikir Feng lagi.
“Tapi kita tidak pernah tahu benar-benar semua tentangnya. Tapi melihat Tuan Lim memperlakukan Carmel seperti itu, sepertinya mereka memiliki hubungan yang cukup jauh...” Karin mulai berasumsi.
“Kau ingat beberapa minggu lalu, saat berita tentang Tuan Chen beredar. Bukankah Tuan Lim pernah sangat marah saat itu...”
“Kau benar. Pasti saat itu Tuan Lim sangat cemburu... Dan itulah sebabnya kita tidak pernah tahu tentang hubungan asmara Carmel... Karena dia adalah selingkuhan dari Bos kita sendiri...”
Karin dan Feng terus berspekulasi, dan mengaitkan segala hal yang berhubungan dengan Carmel.
“Tapi bagaimana bisa? Bahkan aku tidak pernah melihat gerak gerik mencurigakan dari mereka...”
“Kau pikir perselingkuhan itu di lakukan secara terang-terangan... Mereka benar-benar bermain cantik...Aku yakin sekali...” Yakin Karin lagi.
“Bagaimana dengan nona Caroline ya ! Tapi apapun yang terjadi kita harus bersikap biasa saja...” Ucap Feng.
“Ya kau benar ! Dan Daren tidak boleh sampai mengetahui ini.. Ini antara kita saja.” Balas Karin.
“Ya...!!!.”
...****...
Sementara itu ditempat lain Naomi sedang mengurus dan merencanakan kepulangan dirinya ke Shanghai mendahului Caroline. Dia ingin memastikan sendiri apa yang terjadi disana dan bagaimana cara agar Lim mau membatalkan niatnya untuk berpisah dari putrinya.
Tentu saja rencana itu di lakukan Naomi tanpa sepengetahuan dari Carol sendiri.
“Sayang besok ibu akan meninggalkan mu. Tugas mu disini adalah, kau harus memenangkan lelang itu untuk ku. Aku sangat menginginkan tas itu, keluarkan berapapun untuk mendapatkannya, apa kau mengerti !.”
“Tapi ibu kenapa tidak kau saja. Aku sudah mulai bosan berada disini. Kenapa harus meninggalkanku !.”
“Kau ingat gelang giok yang pernah ku ceritakan pada mu. Giok putih langkah itu...”
“Bukankah kau bilang barang itu sudah di ambil oleh orang lain...”
“Ya kau benar. Tapi kali ini dia ingin memberikannya. Dengan penawaran yang baik. Kau tahu ibu mu kan... Aku harus mendapatkannya, jika aku sudah menginginkan sesuatu...” Tegas Naomi.
“Kurasa itu terlalu berlebihan bu...” Ucap Carol.
“Ya ibu tahu. Tapi ibu sudah menginginkannya sejak lama. Jika.terlambat sedikit saja...aku bisa kehilangan benda itu lagi.” Jawab Naomi lesu, seolah-olah semua yang dikatakan olehnya adalah sebuah kebenaran.
“Baiklah. Tapi setelah lelang selesai... Aku tidak mau tahu. Aku harus kembali ke Shanghai, tanpa ijin darimu sekalipun. Aku akan tetap pulang...” Tegas Carol.
“Iya ibu janji Padamu....”
....
Dret....Dret...Dret...
Ponsel Lim berdering.
📞Ayah memanggil....
Lim melihatnya, tapi ia enggan untuk menjawab panggilan itu.
“Kenapa sayang...Jawablah...” Titah Carmel, yang juga menatap lurus pada ponsel yang berdering itu.
“Tidak nanti saja !.” Tolak Lim.
“Jawab saja... Mungkin itu penting !.” Balas Carmel lagi.
Belum sempat Lim menjawab, panggilan itu sudah terputus.
Ting 1 pesan masuk dari Giorgino pada putranya.
✉️Ayah.
TELFON AKU KEMBALI ! ATAU KAU AKAN MENYESALINYA.
Pesan singkat yang terlihat seperti ancaman untuk Lim, tapi dia sama sekali tidak terganggu dengan pesan itu, karena apapun yang akan terjadi, Lim sudah siap dengan konsekuensinya.
Beruntung Carmel tidak sempat membaca pesan itu, karena Lim lebih dulu mengambil ponselnya. Yang Lim takutkan saat ini hanya jika Giorgino sampai melakukan sesuatu pada Carmel. Tapi selama wanita itu masih berada disisinya, maka Carmel akan baik-baik saja.
Bersambung....