Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 17



“Ikut denganku, kita perlu bicara.”


Carmel menghempas tangan Lim.


“Aku tidak ingin bicara apapun denganmu.”


“Kau tidak ingin ikut denganku ! Oke kita bicara disini, biar semua orang dengar... Carmel...”


“Lim...” Cegah Carmel sebelum semua orang menyadari apa yang tengah dilakukan Lim padanya.


“Ikut aku...” Lim menarik paksa Carmel.


“Lim lepas, orang akan melihat ini...” Carmel berusaha menarik tangannya dari genggaman Lim.


Brak.


Lim membawa Carmel ke tangga darurat.


“Ada apa denganmu. Apa kau sedang menghindari ku ?.”


“Kau yang kenapa Lim...” Carmel menunduk.


“Chen Xu... Kenapa kau bisa bersama orang itu !.”


“Kenapa apa kau mencurigai ku !.”


“Carmel. Aku sedang bertanya padamu...”


“Apa yang harus ku jawab? Kau marah !? Lalu bagaimana denganku ? Apa kau pernah memikirkan perasaanku? Aku selalu dipaksa melihat hal yang tidak ingin aku lihat, apa kau perduli itu Lim?.”


“Aku tidak pernah mengabaikan mu Carmel...”


“Kau bergurau ! Kau jelas mengabaikan ku.” Balas Carmel.


“Aku tidak pernah !.” Tegas Lim lagi.


“Lim ! Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Chen.”


“Cih. Kau bahkan menyebut namanya. Apa kalian dekat?.” Decak Lim.


“Kau masih bilang bahwa kau memperdulikan ku? Bahkan kau tidak tahu apapun.... Aku jadi ragu, apa kau pernah berpikir tentangku... Tentang apa yang kulakukan, tentang bagaimana perasaanku, bagaimana aku harus dituntut memahami keadaan kita. Ya aku tahu ini sulit, karena hati mu terbagi Lim. Saat kau bilang kau mencintaiku, apa ada jaminan untukku bahwa kau tidak akan mengatakan itu pada wanita selain aku. Sementara kau menghabiskan banyak waktu mu dengannya !.”


“CARMEL..Kau hanya cemburu.”


“Ya aku cemburu, tentu saja. Apa kau tidak tahu betapa cemburunya aku ! Aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan apapun padamu. Disaat aku juga membutuhkanmu, wanita lain juga sedang membutuhkanmu. Apa kau pernah peduli itu, kau selalu membuat ku kalah darinya. Jelas bukan aku yang kau cintai. Hanya aku yang terlalu memaksa.”


“Mel... Kau salah paham. Aku selalu memikirkan mu sayang.” Bujuk Lim.


“Bagaimana caranya kau memikirkan ku? Apa kau hanya memikirkan ku? Aku selalu memikirkan Mu Lim... Tapi aku tahu dipikiran mu tidak hanya ada aku saja.”


“Mel... Please....”


“Tidak. Aku tidak bisa lagi, ini terlalu sakit, berapa kali lagi aku harus menanggung ini...” Tutup Carmel. Ia berusaha tegar mengatakan itu, walau hatinya sedang menangis kencang sekarang.


“Mel...” Lim berlutut dihadapan Carmel memohon pada wanita itu.


“Maaf Lim...” Carmel menghapus air yang diam-diam mengalir, begitu saja dari sudut matanya, kemudian meninggalkan Lim disana.


...Carmel POV...


Maaf Lim. Kau tahu ini terlalu berat bagiku, bagaimanapun aku berusaha tetap disisimu. Tidak ada satupun jaminan untuk kita mendapat akhir yang bahagia, bahkan setelah bertahun-tahun bersama, kita tetap berada ditempat yang sama tanpa melakukan apapun. Sementara orang orang sudah mengambil langkah jauh, kita masih di bimbangkan dengan jalan yang harus kita tempuh.


Pada akhirnya seorang wanita hanya akan bertahan untuk sesuatu yang tidak akan menjadi sia-sia untuk hidupnya. Dan aku baru sadar, ternyata Carmel dan Lim tidak memiliki itu untuk bertahan.


Ya... Bukankah ini benar ? Semuanya hanya kesia-siaan. Bertahan dan mencoba tegar untuk sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan hati nurani. Bertahun-tahun dicoba pun rasanya akan sama saja, aku tidak bisa melihatmu bersamanya. Aku tidak akan terbiasa. Karena aku juga mencintaimu...


Tapi siapa yang perduli itu ? Bahkan orang yang kucintai pun tidak pernah menyadarinya.


...****...


“Duaaaarr....Mel... Bengong aja.” Daren mengejutkan Carmel.


“Apa kau ingin membuatku serangan jantung mendadak disini?.”


“Kenapa Mel?.” Tanya Daren, ia tahu bahwa Carmel pasti sedang memikirkan sesuatu sekarang.


“Tidak ada apa-apa. Mana Karin dan Feng?.” Tanya Carmel mengalihkan topik.


“Mereka di tugaskan ke kantor cabang hari ini. Apa kau tidak tahu?.”


“Benarkah, berapa lama?.” Tanya Carmel lagi.


“Katakan saja ada apa ! Aku lihat kau dan Tuan Lim, sepertinya sedang ada masalah...”


“Tidak lagi setelah hari ini.” Ujar Carmel dengan tatapan kosong.


“Oh. sudah berbaikan...”


“Aku mengakhirinya ! Kami sudah berakhir.”


“Apa yang terjadi. Apa tuan Lim akhirnya memilih nona Caroline.”


“Bukankah dia memang hanya memiliki satu pilihan itu...” Ucap Carmel.


“Lalu kau?.”


“Aku... Apa aku sangat berarti untuknya? Aku ragu, apakah aku termasuk dalam salah satu pilihannya, yang kutahu dia tidak pernah memilihku.”


“Benar-benar aneh...” Ceplos Daren.


“Maksudmu ? Apa aku sangat bodoh Ren?.”


“Tidak. Kau sudah melakukan yang terbaik Mel, bertahan ataupun mengakhiri, aku tahu kau sudah berpikir cukup jauh hingga pada titik ini.” Ujar Daren tanpa ingin menghakimi Carmel.


“Ya...” Jawab Carmel, masih dengan tatapan kosong.


✉️Tuan Chen Xu


Apa kau ada waktu hari ini? ingin menemaniku keluar?


^^^✉️Carmel^^^


^^^Tidak. Mungkin lain waktu, maaf mengecewakanmu.^^^


✉️Tuan Chen Xu


Apa kau sakit?


^^^✉️Carmel^^^


^^^Aku baik-baik saja.^^^


“Apa itu tuan Chen...?.” Tanya Daren.


“Ya...”


“Terima saja ajakannya. Apa salahnya. Dibanding meratapi kesedihanmu dirumah.” Ucap Daren memberi ide pada Carmel.


Meskipun itu terdengar cukup bodoh, namun Carmel pikir-pikir omongan Daren ada benarnya juga, setidaknya ia tidak akan terus dihantui tentang bayangan Lim untuk beberapa saat.


^^^✉️Carmel^^^


^^^Tuan Chen. Apa tawaranmu masih berlaku?^^^


✉️Tuan Chen Xu


Tentu.


Carmel jangan menyebut namaku seperti itu !


^^^✉️Carmel^^^


^^^Maaf Chen. Baiklah aku mau menemanimu.^^^


✉️Tuan Chen Xu


Aku jemput ?


^^^✉️Carmel^^^


^^^Jangan aku akan datang sendiri, tidak perlu repot-repot seperti itu.^^^


✉️Tuan Chen Xu


Baiklah. Di Madalva Jam 7 malam ini. Aku menunggumu nona Abigail.


^^^✉️Carmel^^^


^^^Ya .^^^


Bersambung...