
...Flashback On...
Berlin, Jerman
“Kau tahu kenapa aku mengajakmu ke tempat ini Carmel?.”
“Ya. Karena kau tidak memiliki teman...” Jawab Carmel meledek.
“Ya itu jawaban yang cukup jujur.” Balas Lim.
“Kerena tunangan mu tidak kesini ! Aku tahu pasti karena itukan.”
Lim hanya tersenyum tanpa menjawab nya.
“Mel...selamat tahun baru !.” Cup Lim mencium kening Carmel.Membuat wanita itu mundur beberapa langkah, ia tidak mengerti tapi jantungnya berdebar begitu cepat sekarang.
“Kenapa?.” Tanya Lim, melihat reaksi Carmel.
“Tidak apa-apa. Selamat tahun baru Lim.” Ucap Carmel mencoba biasa.
“Lagipula mencium adalah hal yang sangat lumrah disini. Tapi kenapa rasanya sangat berbeda saat Lim melakukannya, jantung ini tidak bisa tenang, aku bahkan bisa merasakannya berdebar sangat kencang.” Batin Carmel.
“Ini akhir tahun terindah untuk ku.” Ungkap Lim, sambil tersenyum.
“Bukankah tiap tahun sama saja.” Sambung Carmel.
Lim berbalik menatapnya.
“Kenapa apa aku salah bicara.” Tanya Carmel bingung.
“Apa mimpi mu ? Setelah selesai disini. Apa kau akan bekerja dan menikah ?.”
“Pfft...Lim ada apa denganmu?.” Tanya Carmel menahan tawa, mendengar pertanyaan aneh itu keluar dari mulut seorang Lim Abraham.
“Apa yang kau sukai Carmel. Bisa kau jelaskan padaku. Apa mimpi mu...” Ucap Lim serius.
“Mimpiku...” Ucap Carmel sambil berpikir.
“Mungkin berkeliling dunia, menjadi kaya raya, menjadi jutawan... Atau menjadi nyonya besar.”
“Hei. Aku serius ?.” Singgung Lim lagi.
“Mmmh. Aku tidak tahu Lim. Jika memikirkan masa depan, aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia. Aku tidak berharap untuk memiliki banyak, hanya cukup saja. Cukup untuk hidupku dan keluargaku. Dan mungkin jika Tuhan memberi lebih, aku sangat ingin memiliki rumah dipinggir laut...”
Lim dan Carmel terdiam beberapa saat.
“Kenapa sangat aneh ya? .” Seru Carmel, merasa malu.
“Itu tidak aneh...Sama sekali tidak... Kau ingin itu. Akan aku wujudkan semuanya untukmu.” Ujar Lim.
Deg. Mata Carmel membulat.
“Kau ini bicara apa ! Itu mimpiku dan keluarga kecil ku nanti Lim. Dasar Bodoh... Tentu saja aku akan mewujudkannya bersama suamiku kelak.” Pikir Carmel.
“Jika aku bersedia melakukan semua itu untukmu. Bolehkah aku jadi pria dimasa depanmu itu Mel...?.”
“Lim... Dibanding memikirkan mewujudkan mimpiku, bukankah kau lebih baik berpikir untuk mewujudkan mimpimu dan tunangan mu. Kita hanya sedang berandai-andaikan.” Ucap Carmel, kali ini ia bukan hanya gugup, tapi ia mulai merasa resah dengan semua pertanyaan Lim.
“Baiklah jika ini permainan seandainya. Lupakan tentang status dan apapun. Jika hari ini aku mengatakan aku mencintaimu. Apa yang akan kau jawab ?.”
“Lim kurasa aku harus pulang sekarang.”
Lim menahan Carmel.
“Jawab saja dulu...” Pinta Lim.
“Apanya?.”
“Ya aku juga mencintaimu Lim. Mungkin...Aku juga tidak tahu. Seandainya aku bisa mengatakan itu.” Carmel segera pergi dan menghindar dari hadapan Lim.
Tak...
Tak..
Tak..
“Mel...” Lim mencoba menyusul langkah Carmel yang begitu cepat berlari.
“Mel tunggu...”
“Jangan mengikuti ku...” Ucap Carmel terus berlari.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Kenapa kau lari.”
“Kau tidak mengerti juga. Aku ingin menjauh darimu.” Balas Carmel.
“Kau tidak akan bisa menjauh dariku.” Ucap Lim, ia berhasil menangkap Carmel, dan mengangkat tubuh wanita itu diatas bahunya.
“Lim turunkan aku...” Berontak Carmel.
....
“Kau tahu, apa alasanku mengakhiri tahun ini denganmu ? Apa kau tidak pernah bertanya kenapa aku tidak berpikir untuk pergi ketempat lain, dan malah berada disini bersamamu? Carmel jawab aku ! .” Titah Lim
“Apa alasannya?.” Tanya Carmel.
“Aku jatuh cinta padamu...”
“Lalu... Kau lupa dengan ini.” Carmel mengangkat tangan Lim dan menunjukan cincin di jari pria itu.
“Aku tidak sedang mempermainkan mu dengan benda yang melingkar ini. Tapi aku memintamu Carmel, aku mencintaimu... Kau tahu berapa lama aku menahan semua ini. Hampir sejak pertama kita bertemu.”
“Kau egois jika melakukan ini Lim...”
“Ya. Tentu ! Ini hal teregois yang ku lakukan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku ingin menjadi egois sekali ini saja, benar-benar egois. Aku menginginkanmu.”
“Lim...”
“Stttttsss... Sekarang giliran mu.” Ucap Lim.
Carmel terdiam beberapa lama. Ia juga telah jatuh cinta pada Lim. Tapi
“Jika aku diberi kesempatan untuk benar-benar egois. Aku juga ingin memiliki mu, tanpa perduli statusmu, tanpa perduli siapa wanita mu. Bagiku, aku adalah satu-satu wanita di hidupmu... Kau dengar itu ! Aku terlalu egois jika sampai melakukan itu. Jadi jangan mencoba Lim, kau akan menyesalinya.” Setiap kalimat yang keluar dari mulut Carmel terasa begitu penuh dengan tekanan.
“Egois lah. Aku tidak akan akan menyesal, sekalipun suatu saat kau berpikir aku akan menyesalinya..”
“Kau gila...”
“Gila karena sangat menginginkanmu. Aku gila karena benar-benar mencintaimu.” Ungkap Lim lagi.
“Lim jangan membuat akuuu....Mmbb...”
Lim membungkam mulut Carmel dengan bibirnya. Carmel terus menolak dan mendorong, namun Lim tetap berusaha agar Carmel mau menyambutnya dan membalas ciumannya.
“Apa aku bisa melakukan ini? Lim... Jika kau melakukan ini, aku akan semakin mencintaimu. Aku tidak akan menghindar lagi jika kau tidak melepaskan ku sekarang...Kumohon akhiri ini.” Batin Carmel.
Cukup lama Lim mencoba, akhirnya Carmel bisa menyambut ciuman itu dengan tempo yang sama.
“Aku tahu kau juga mencintaiku...” Batin Lim.
“Aku mencintaimu.” Balas Carmel. Seakan pikiran mereka saling berbicara.
...Flashback Off...