Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 43



🚩Di kediaman Naomi.


“Apa kau sudah baik-baik saja?." Tanya Martin.


“Ada apa dengan Carol, apa terjadi sesuatu?.” Naomi balik bertanya. Setahunya putrinya tampak baik-baik saja.


“Kemarin aku hanya tidak enak badan !.” Jawab Carol.


“Kalau begitu silahkan teruskan. Ibu ada janji dengan beberapa clien. Bram... Jika ingin sesuatu, minta saja pada Carol ya !.”


“Baik. Terima kasih, maaf merepotkan.”


“Tidak...Tidak... Ibu senang kau bisa ke sini.” Ujar Naomi lagi, lalu kemudian pergi meninggalkan keduanya.


“Oiya, ini aku punya sesuatu untukmu.” Menyodorkan sesuatu pada Carol.


“Apa ini...” Tanya Carol, melihat kotak kecil yang diberikan Bram padanya.


“Buka saja nanti kau juga akan tahu !.” Balas Pria itu.


Meskipun ragu, Carol tetap membukanya perlahan.


“Anting !.” Seru Carol, kembali menatap Bram. “Aku sedang tidak berulang tahun atau merayakan sesuatu !.”


“Ya...Aku hanya ingin menghadiahi mu sesuatu saja. Apa kau menyukainya?.”


“Tentu aku menyukainya, tapi ini terlalu berlebihan. Kau tahu !.”


“Mmhh. Kalau kau menyukainya. Itu tandanya kau tidak akan menolak pemberianku kan?.” Tanya Bram. Mempertegas bahwa ia tidak ingin Carol menolaknya.


“Aku tahu ini mahal.”


“Aku tidak memintamu menilainya. Tapi aku ingin kau menerimanya.” Pinta Bram lagi.


“Hanya kali ini saja. Lain kali aku tidak ingin kau melakukan sesuatu tanpa alasan, seperti ini.”


“Aku selalu memberi sesuatu dengan alasan Nona Carol. Kau tahu itu...”


Hening...


“Apa kau haus ?.” Tanya Carol, sepertinya ia tidak ingin pembicaraan yang terlalu jauh dengan Pria di hadapannya itu.


“Ya..."


“Baik tunggulah, aku akan mengambil minuman segar untuk mu !.” Beranjak pergi.


.........


Saat Carmel masih berkutat di depan layar komputernya, tiba-tiba saja, Karyawan lain datang menghampirinya, dengan wajah yang sulit di artikan.


“Kenapa?.” Tanya Carmel.


“Carmel, bukankah kau dulu, pernah berkerja di Abraham Group?.” Tanya Jessica antusias.


“Ya..Lalu kenapa?.”


“Berarti kau selalu bertemu dengan orang itu."


“Siapa?.” Tanya Carmel lagi.


“Astaga kau ini lugu atau apa? Siapa lagi... Tentu saja Lim Abraham. Kau lihat ini...” Teman sekantor Carmel yang lain, menyodorkan majalah terbaru yang baru di rilis Minggu ini. Berita terbaru, bahwa perusahan Abraham, kini telah menggandeng artis, sekaligus model terkenal Lee Si Young, untuk brand terbaru mereka.


“Dia tampan sekali...” Ucap Grace, memandangi cover majalah yang mencetak dengan jelas wajah Lim.


“Hey kenapa kau diam saja... Apa kalian tidak pernah bertemu?.”


“Dia bos ku, mana mungkin kami tidak bertemu.” Ucap Carmel memperlihatkan wajah bingung.


“Kau sangat beruntung sekali Carmel. Seandainya saja itu aku, entah apa yang akan ku lakukan.” Seru Grace.


“Bukankah dia sudah bertunangan. Tapi terakhir aku dengan hubungan itu berakhir begitu saja ya. Carmel apa kau tahu sesuatu, ayo ceritakan pada kami.” Semua orang meminta Carmel untuk menjelaskan sesuatu yang ia ketahui tentang pemilik AB group.


“Aku tidak tahu apapun.” Ucap Carmel.


“Tidak mungkin. Yang benar saja? Ayolah sedikit saja...” Pintanya lagi.


“Carmel...” Suara bariton itu menyebut nama Carmel dengan tegas. Membuat semua orang juga ikut menoleh kearah suara itu berasal.


“Maaf Tuan..." Sesal Carmel.


“Kau bisa keruangan ku sebentar.” Titah Martin.


“Baik...” Carmel segera berdiri mengikuti langkah Martin di depannya.


Setiap langkah terasa semakin mencekam, apalagi Martin belum bicara sepatah katapun, sampai mereka berada di depan pintu ruang kerja Martin.


“Ayo silahkan...” Ucap Martin.


“Ya...” Carmel buru-buru masuk.


“Silahkan duduk Nona Carmel...”


Carmel segera duduk mengikuti perintah.


“Apa kau sibuk?.”


“Lumayan. Soal kejadian tadi, aku minta maaf. Tapi aku sama sekali tidak ada niat mengganggu pekerjaan teman-teman yang lain Tuan."


“Tenanglah. Aku tidak membahas tentang itu.” Ujar Martin, ia tahu wanita itu telah salah paham tentang semuanya.


“Ah. Ya, maaf Tuan saya tidak tahu.”


“Biasanya aku tidak suka kata maaf. Bisakah kau jangan mengulangnya terus.”


“Ya....” Jawab Carmel.


“Begini. Sebenarnya aku tidak ada niat untuk menganggu mu. Tapi nanti malam putra ku akan berulang tahun. Bisakah kau menggantikan ku untuk pertemuan malam ini. Ini hanya jamuan makan biasa. Kau hanya perlu melapor apa yang sedang mereka bahas di sana. Bagaimana Carmel apa kau setuju?.”


“Putra. Apa kau sudah menikah?.” Tanya Carmel tanpa sadar.


“Ehemm....” Dehem Martin.


“Hah. Baik Tuan saya bisa menggantikan mu untuk nanti malam. Tentu saja bisa.” Sambar Carmel, karena ia sadar telah membuat kesalahan lagi.


“Tidak apa-apa. Nanti biar supir ku yang akan menjemput mu. Aku mengandalkan mu untuk malam ini.”


“Sudah tugasku. Semoga acara putramu berjalan dengan lancar.”


“Ya. Terimakasih. Kau bisa kembali ke tempat mu sekarang. Untuk waktunya akan ku kabarin lagi setelah ini.” Ujar Martin.


“Baik Tuan.” Hormat Carmel kemudian meninggalkan ruangan kerja Martin.


....


Jam makan siang.


“Jadi bagaimana soal tadi? Soal Lim Abraham kita belum selesai membahas orang itukan.”


“Sejujurnya aku tidak tahu apapun tentangnya.” Jawab Carmel berbohong.


Setelah sekian lama tidak mendengar tentang orang itu, nama Lim kembali di sebut-sebut lagi. Hal yang selama ini selalu di hindari olehnya, akhirnya datang kembali.


“Padahal aku sangat ingin tahu tentangnya.”


“Ngomong-ngomong Tuan Martin memiliki putra, apa kalian tahu itu.”


“Seluruh kantor juga sudah tahu Tuan Martin memiliki putra, Mel... Putranya itu sangat lucu dan tampan sekali. Sayangnya dia tidak seberuntung itu."


“Kenapa?.”


“Kau ini tidak mencari tahu apapun ya, sebelum masuk ke perusahaan ini?.” Kesal Grace, karena Carmel tampak tidak mengetahui apapun.


“Sayangnya tidak...” Jawab Carmel, meledek Grace.


“Kisah mereka, seperti kisah di film-film. Kau tahu... Dari semua keberuntungan yang Tuan Martin miliki. Kesuksesan, perusahan besar, dan hidup yang bergelimang harta . Dia, harus rela kehilangan istrinya, saat usia putra mereka baru menginjak 1 tahun.”


“Apa yang terjadi?.” Tanya Carmel lagi.


“Bisakah kau jangan memotongnya dulu. Makanya dengarkan ini.... Jadi istri Tuan Martin itu, dikabarkan mengidap penyakit kanker stadium akhir. Yang kudengar mereka sudah mencoba segala macam pengobatan untuk kesembuhan istrinya kala itu. Tapi takdir berkata lagi. Ia akhirnya harus kehilangan istrinya. Dan beberapa tahun ini, yang kudengar, putranya juga terdiagnosa mengidap penyakit yang sama seperti mendiang ibunya. Aku tidak tahu mengapa orang baik seperti itu selalu di terpa cobaan seberat ini.”


“Aku benar-benar tidak tahu bahwa di balik semua sikap tegas, dan rendah hatinya. Dia memiliki cerita seperti itu.” Ungkap Carmel.


“Itu sebabnya apapun yang dia lakukan. Dia selalu mengutamakan putranya itu. Karena kita tidak akan tahu umur seseorang kan. Tapi kuharap semoga ada keajaiban untuk putra kecilnya itu. Tuan Martin itu orang yang sangat baik. Dia sangat peduli dengan orang-orang kecil dan karyawan nya.” Harap Grace penuh harapan.