Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 38



“Aku bisa membantu mu untuk menjauh darinya. Katakan saja kau ingin kemana?.” Ucap Chen meyakinkan Carmel untuk menjauhi Lim.


“Ini tidak ada hubungannya denganmu. Tanpa kau katakan pun, aku memang akan pergi.”


“Tapi aku tahu, kau mungkin tidak akan semudah itu pergi darinya nona Abigail.” Seru Chen.


“Aku mau pergi !.” Ucap Carmel beranjak.


Tapi itu terjadi, karena Chen kembali menahannya.


“Kau mau pergi kemana. Dia akan menemukanmu !.”


“Meskipun dia menemukanku. Itu sudah tidak berarti apapun lagi setelah ini ! Minggir... Aku harus pergi.” Pinta Carmel, menghempaskan tangan Chen dari bahunya.


“Jika kau butuh sesuatu katakan padaku. Katakan kau ingin pergi kemana saja, aku pasti akan membantumu !.”


Tanpa membalas ucapan Chen, Carmel hanya bisa pergi. Dia sangat tahu itulah yang Chen harapkan, namun bagi Carmel, ia tidak butuh siapapun untuk membuatnya pergi kali ini.


...Carmel POV...


Kau bilang sekali saja. Aku memberimu kesempatan itu, tapi kau malah membohongiku. Lim, jika kau bukan orang yang melakukan itu padaku, mungkin aku tidak akan sesakit ini, tapi aku benar-benar sakit kali ini. Lebih dari semua hal yang pernah membuatku kecewa padamu. Hari ini hatiku benar-benar hancur. Kau memperlakukanku, seolah-olah, semua itu benar. Tetapi, apa ! Kau malah ingin menikahi wanita itu. Seharusnya aku tidak perlu terlalu banyak berharap apapun, aku hampir mempercayaimu. Bahkan aku benar-benar mempercayaimu.


Aku pikir selain dirimu tidak ada siapapun yang benar-benar mencintaiku. Tenyata aku salah, sejak awal aku hanya sendiri. Aku hanya berharap bahwa kehidupanku tidak akan lebih buruk jika denganmu, tapi lagi-lagi itu pikiran yang salah. Mengenal mu adalah sebuah kesalahan terbodoh.


...----------------...


“Carmel...!!!.” Suara pria yang tak asing itu menahan langkahnya.


Setelah mencari ke sana kemari hampir semalam penuh, akhirnya Lim menemukan Carmel.


Lim melihat wanita itu, dari atas kebawah melihat betapa berantakan Carmel saat ini, terlihat jelas dari mata sembab dan makeup nya yang mulai luntur, karena terus menangis.


“Carmel tenanglah aku bisa jelaskan ini semua...”


Carmel hanya diam, kali ini dia tidak ingin mendengar apapun lagi. Sudah cukup. Saat Lim memintanya untuk kembali. Saat itulah Carmel memutuskan bahwa itulah kesempatan terakhir untuk Lim, memperbaiki segalanya.


“Lepas !.”


“Kau... Ku mohon dengarkan ini dulu?.” Paksa Lim.


“Lim apa kau tidak sadar ? Sudah berapa banyak aku mendengarkan mu. Dan berapa banyak aku memberimu kesempatan. Kali ini kau yang harus mendengarkan ku. AKU TIDAK AKAN MEMPERCAYAI APAPUN LAGI DARI MU. Bahkan jika itu sebuah kebenaran, aku menolak percaya !.”


“Carmel, aku sudah mengakhirinya. Meskipun tidak mengatakannya langsung. Itu sudah berakhir !.” Terang Lim lagi.


“Ya ! Anggap lah itu benar. Tapi aku sudah selesai dengan itu semua, kau mau mengakhirinya atau tidak...Aku sudah cukup Lim.”


“Kau mau kemana?.”


“Itu bukan urusanmu !!! Setelah membereskan baju-bajuku, aku akan pergi.”


“Kau tidak akan pergi.Kau tetap di sini bersamaku!.” Titah Lim.


“Aku bukan siapa-siapa. Kau tahu, aku bukan siapa-siapa kan? Urusan mu hanya satu saat ini, nikahi saja wanita itu. Itu lebih baik, dibanding kau ada disini hanya untuk mempermainkan ku.” Ucap Carmel berderai air mata.


“Dia bener Lim. Kau memang lebih baik bersama nya ! Aku yang salah, kau seharusnya memang bersamanya.”


“Carmel, tidak bisakah kau hanya percaya padaku. Apa kau masih meragukan ku?.”


“Aku selalu ragu Lim. Dan keraguanku selalu berdasar, sampai kapanpun kau hanya bisa melakukan ini padaku !.” Tegas Carmel.


“Kau salah Carmel, aku tidak pernah ingin melakukan ini. Justru aku ingin mengakhiri semuanya, untuk tetap menahanmu.”


“APA, MENAHAN KAU BILANG!?. LIM... BERAPA LAMA KAU MENAHAN KU UNTUK INI SEMUA? APA KAU SADAR? .” Emosi Carmel.


“Mel...”


“Tidak... Aku tidak ingin mendengarkan apapun darimu.” Sanggah Carmel lagi.


Dret...Dret...Dret...


Naomi memanggil...


Ditengah perdebatan Lim dan Carmel tiba-tiba saja panggilan dari Naomi masuk.


“Tunggu sebentar !.” Ucap Lim, sambil mencengkram kuat tangan Carmel agar ia tidak pergi.


...


“Ada apa lagi sekarang?.” Jawab Lim.


“Lim sampai terjadi sesuatu pada putriku, aku tidak akan memaafkan mu. Ini semua salahmu.” Ucap Naomi sangat histeris.


“Berhenti bersandiwara. Kau bisa membuat orang lain percaya padamu. Tapi aku tidak. Kau dengar Naomi. Kau tidak akan bisa memisahkan ku dengan Carmel. Aku sudah mengatakan itu sebelumnya. Tapi kau membuat ini semakin rumit untuk ku. Jadi hari ini ku putuskan, aku tidak pernah mengenal kalian sama sekali dalam hidupku.” Tegas Lim, sementara di sana masih ada Carmel yang dengan jelas mendengar pembicaraan mereka.


“Aku tidak sedang bersandiwara. Jika aku kehilangannya. Kau adalah orang yang pertama yang akan ku temui. Kau adalah orang yang paling bertanggung jawab atas ini semua... Sebenarnya apa salah putriku, sampai kau membuatnya seperti ini. Caroline tidak pernah mengecewakanmu, bahkan dia selalu menunggumu. Sampai hari ini dia memutuskan untuk kembali itu juga karena mu. Dan... Hari ini pesawat yang dia tumpangi kehilangan kontak. ITU SEMUA KARENA MU LIM. JIKA KAU TIDAK SEPERTI INI, AKU TIDAK MUNGKIN TERUS MEMBOHONGINYA. TAPI PUTRIKU ITU, DIA TIDAK BERSALAH... AKU BAHKAN TIDAK TAHU KABARNYA SEKARANG.” Jerit Naomi keras.


“Apa yang kau katakan ini?.” Tanya Lim, masih mencerna perkataan Naomi.


“KAU TIDAK MENGERTI JUGA? AKU KEHILANGAN PUTRIKU. PESAWAT YANG DIA TUMPANGI KEHILANGAN KONTAK BEBERAPA MENIT YANG LALU. KAU...DAN KAU.... ADALAH ORANG YANG PALING BERSALAH UNTUK KEJADIAN INI.” Tangis Naomi.


“Ibu... Kau dengar aku baik-baik. Itu tidak akan terjadi padanya. Aku akan memastikannya untukmu.” Lim mulai menurunkan nada bicaranya. Ia tahu saat ini keadaan tidak sedang baik-baik saja.


“Aku bukan ibumu lagi. KAU HANYA MASALAH BUAT HIDUPKU DAN PUTRIKU.”


“Tenanglah. Beri aku waktu... Ini belum beberapa jam kan. Aku akan langsung memastikannya. Untuk sementara tenanglah.”


Tit. Lim mengakhiri panggilannya.


“Carmel. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku janji, aku akan meluruskan semua kesalahpahaman ini. Beri aku waktu beberapa jam dari sekarang. Kau dengarkan...” Ucap Lim, entah kenapa saat ini, perasaannya jadi tidak menentu karena mendengar kabar dari Naomi.


“Kumohon tunggulah di Apartemen.” Pinta Lim lagi.


“Kau harus menungguku Carmel. Aku harus pergi sekarang...” Tanpa mengucapkan banyak hal, Lim pergi dengan terburu-buru meninggalkan Carmel. Ia tidak bisa mengatakan banyak hal, karena Lim tahu saat ini ada seorang ibu yang sedang mengkhawatirkan putrinya, dan semua ini adalah karena dirinya.


“Maaf kan aku Carol. Tapi aku mohon kau baik-baik saja sekarang.” Pinta Lim dalam hati, terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju airport.