Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 7



Beri Vote


Beri Like


Beri Rate ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️


Beri Komentar


Jika kalian menyukai cerita ini. Dukungan kalian adalah salah satu bagian untuk motivasi author dalam berkarya.


📞27 Panggilan tak terjawab Lim


💌Lim


Sayang..


💌Lim


Apa semua baik-baik saja.


💌Lim


Maaf Caroline sedang sakit, aku harus menemaninya.


Carmel baru saja sadar dari tidur panjangnya, ia merasa bahwa tidurnya semalam sangat nyenyak dan.....


“Astaga....” Ucap Carmel, dalam posisi langsung terduduk. Ia melihat sekeliling, tapi Carmel sama sekali tidak tahu dimana ia berada sekarang. Ia melihat dirinya, dan untunglah pakaiannya masih sangat lengkap.


Krek, pintu terbuka.


“Lim...” Ucap Carmel. Tapi itu bukanlah Lim, sama sekali bukan.


Chen tersenyum sinis kearah Carmel, ia tidak mengerti mengapa wanita itu menyebut nama Lim, apa dia pura-pura mabuk lagi sekarang, pikir Chen.


“Kau sudah bangun !.”


Bukannya menjawab Carmel malah memasang wajah ketakutan.


“Mana-mana ponsel ku.” Carmel mencari-cari dimana ponselnya berada. Untunglah ia langsung menemukannya.


Lim


Lim


Lim


Carmel dengan cepat mencari kontak Lim di ponselnya.


📞Memanggil Lim...


“Halo...” Jawab suara dari sana. Mendengar itu rasanya hati Carmel menjadi sangat ciut. Itu jelas bukan Lim, tapi Caroline.


Carmel langsung memutuskannya begitu saja, kali ini dia hanya bisa pasrah.


“Jangan dekat aku...Ku mohon lepaskan aku.” Pinta Carmel.


“Jangan banyak drama lagi. Aku tahu orang sepertimu.” Seru Chen.


“Aku hanya staf biasa, aku sama sekali bukan orang berada. Kau tidak akan mendapat apa-apa dengan menculik ku.” Ucap Carmel polos.


“Nona, apa kau sehat ? Semalam kau pingsan, apa kau tidak ingat ? Kau juga muntah di pakaianku.”


Ingatan Carmel kembali mundur ia mengingat saat ia mulai merasa mabuk, muntah, dan kehilangan kesadaran. Setelah mengingat semua itu Carmel menunduk malu, ia ingat siapa pria yang ada dihadapannya ini. Dia adalah Chen Xu pimpinan Evergrande Group.


Carmel berdiri dan berlutut dihadapan Chen.


“Aku benar-benar minta maaf padamu tuan.” Sesal Carmel.


Membuat Chen benar-benar tidak habis pikir dengan sikap wanita yang ada dihadapannya ini.


“Setelah memuntahi ku, menuduh ku sebagai penculik, sekarang kau malah minta maaf padaku. Apa kau sudah mengingat semuanya?.” Tanya Chen.


Carmel mengangguk.


Kali ini Chen mulai tertarik dengan wanita yang ada di hadapannya ini.


“Aku akan menuntut mu atas perbuatan tidak menyenangkan.” Ancam Chen.


“Tuan....” Rengek Carmel. Ia benar-benar takut sekarang.


“Kecuali kau....”


“Kecuali apa...” Tanya Carmel.


Chen menatap Carmel dengan seksama. Membuat Carmel curiga dengan apa yang diinginkan Chen padanya.


“Tidak, aku tidak mau.” Carmel menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


“Bodoh apa yang kau pikirkan. Karena kau sudah merusak bajuku, kau harus menggantinya.” Ucap Chen.


“Mengganti, oke baiklah. Aku akan mengganti semuanya aku janji. Berapa katakan saja.” Seru Carmel merasa lega.


“350 ribu yuan ..”


“Kau yakin harganya segitu.” Tanya Carmel lagi.


“Lupakan saja.”


“Eh. Baik Aku akan membayarnya, 350 ribu Yuan. Beri aku waktu. Aku janji aku tidak akan kabur, ini identitas ku lihat lah.” Carmel memberi kartu identitasnya pada Chen agar dia percaya bahwa Carmel tidak akan kabur.


“Carmel Abigail.” Ucap Chen membaca nama dikartu identitas tersebut.


“Ya itu namaku. Aku kerja di AB Group. Aku mengatakan ini semua agar kau percaya bahwa aku tidak akan kabur. Sekarang aku harus pergi dulu...Kumohon.” Pinta Carmel.


“Pergilah.” Ucap Chen memberi jalan bagi Carmel untuk pergi.


Meskipun Carmel belum memikirkan bagaimana cara mengganti pakaian dari Chen Xu, ia bisa sedikit lega karena telah lepas dari pria itu untuk sementara.


...****...


Sementara itu Caroline sedang bertanya-tanya tentang panggilan yang masuk pada ponsel Lim.


“Siapa Carmel.” Ucap Caroline dalam hati. Tapi ia enggan mengatakan pada Lim. Mungkin saja itu panggilan kantor, ia tidak ingin Lim pergi meninggalkannya lagi hari ini.


“Ada apa...” Tanya Lim.


Carol hanya menggelengkan kepala.


“Ini makanlah...” Lim ternyata menyiapkan bubur untuk sarpan Carol.


“Suap...” Pinta Carol manja.


“Makanlah dulu sebentar, aku ingin menghubungi orang kantor.” Ucap Lim kemudian menggambil ponselnya dari genggaman Caroline.


Lim mulai mengecek ponselnya, ternyata benar ada 1 panggilan masuk dari Carmel untuknya, Lim yakin pasti Carol yang menjawabnya, tapi ia tidak mengatakan apapun pada Lim.


“Apa tadi ada yang menghubungiku.” Lim langsung bertanya pada Carol.


“Oh.Iya aku lupa memberitahu mu sayang. Kupikir hanya telpon biasa, dia langsung memutuskan panggilannya, aneh sekali.” Ucap Carol berbohong, karena sebenarnya ia sengaja tidak memberi tahu Lim.


“Aku harus ke kantor hari ini, ada rapat yang harus kuhadiri sayang... Kau disini dulu ya.” Lim segera bersiap, tanpa menunggu jawaban dari Carol.


Entah kenapa firasat Lim mengatakan bahwa Carmel sedang membutuhkannya sekarang. Carmel tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apalagi sampai harus menelpon.


Bahkan sekarang ponsel Carmel tidak dapat dihubungi lagi.


ABRAHAM GROUP


Feng, Karin dan Daren menemukan hal aneh lagi hari ini, Carmel tidak datang berkerja.


“Mana Carmel.”


“Entahlah... Apa dia sedang marah pada kita bertiga?. Semalam dia langung menghilang tanpa mengatakan apapun.” Sesal Feng.


“Tidak mungkin... Apa terjadi sesuatu padannya. Ah entah kenapa aku jadi mencemaskan nya.” Karin pun merasakan hal yang sama dengan Feng dan Daren.


“Nomor nya juga sudah tidak aktif lagi.” Feng mencoba menghubungi Carmel.


“Eh...Bos datang...Bos datang...” Bisik Karin.


“Selamat pagi Tuan Lim.” Semua serempak memberi hormat pada Bos besar itu.


Mata Lim melihat sekeliling, namun ia sama sekali tidak menemukan Carmel di manapun.


“Dimana teman mu itu...?.” Lim langsung bertanya pada Feng.


“Kurasa dia tidak masuk hari ini Tuan.” Jawab Feng ragu, karena ia takut itu akan membahayakan pekerjaan Carmel.


Mendapat jawaban seperti itu, Lim sadar ia tidak akan mendapatkan apa-apa dari Feng dan teman-temannya.


Tidak lama berselang, Carmel datang dengan langkah yang sangat terburu-buru.


“Maaf Tuan, saya terlambat.” Ucap Carmel, menunduk dihadapan Lim.


“Keruangan ku sekarang.” Titah Lim. Kemudian berlalu.


“Mel. Apa kau baik-baik saja?.”


“Maaf soal kemaren seharusnya kami tidak memaksamu.” Semua begitu menyesal pada Carmel.


Carmel sebenarnya masih sangat kesal, karena gara-gara ulah mereka Carmel hampir saja dituntut oleh Chen Xu.


“Sudahlah. Nanti kita bahas itu lagi. Aku harus menghadapi Tuan Lim sekarang.” Ucap Carmel.


“Jika kau dipecat, aku juga akan memundurkan diri dari sini.” Ucap Feng.


“Jangan seperti itu. Itu tidak akan terjadi. Aku pergi dulu sekarang.” Carmel beranjak dari meja kerjanya.


Tok...Tok...Tok...


Carmel masuk tanpa mengucapkan permisi. Ia tahu saat ini Lim pasti ingin memarahinya.


“Duduk...” Tegas Lim.


Carmel duduk perlahan, mematuhi perintah kekasihnya itu.


“Apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku.” Tanya Lim kembali pada Carmel.


“Maaf...” Ucap Carmel.


“Kenapa apa terjadi sesuatu? .”


“Tidak...” Jawab Carmel singkat


“Carmel...”


“Kenapa ? Apa aku tidak boleh menghubungimu...” Carmel jadi emosional karena Lim seperti sedang menghakiminya. Padahal ia baru saja mendapat masalah.


“Bukan begitu sayang...”


“Oh iya aku tahu, aku tidak boleh melakukan itu. Karena saat ini kau sedang bersama tunangan mu... Aku yang salah. Mungkin ada baiknya setelah ini aku memang tidak perlu menghubungimu lagi.” Ucap Carmel, kemudian beranjak pergi.


“Sayang...Sayang...Tunggu...” Lim mencegahnya pergi.


“Lim aku perlu waktu untuk memikirkan ini.” Carmel menahan langkah Lim untuk tidak mendekatinya untuk sementara.


“Arghhhhh....” Lim mendengus frustasi. Tidak dapat mencegah Carmel untuk pergi.


Mata Carmel berkaca-kaca keluar dari ruang kerja Lim. Feng, Karin, dan Daren langsung cepat-cepat menghampirinya.


“Mel... Kenapa...?.” Daren menariknya, untuk berkumpul.


“Bagaimana apa kata Pak Lim?.”


“Tidak ada !.” Jawab Carmel sedapatnya.


“Apa kau di pecat ?.” Tanya Karin lesu.


“Tidak. Hanya sedikit mendapat teguran.” Jawab Carmel, agar teman-temanya tidak merasa khawatir.


“Ah...Syukurlah. Maaf ya Mel, gara-gara kami, kau jadi mendapat masalah seperti ini.”


“Ya tidak masalah. Aku baik-baik saja.” Ucap Carmel, memberi senyum simpul kepada ketiga orang itu.


Bersambung...