
Brak...
Tanpa sengaja Carmel menyenggol seseorang saat berlari keluar dari Restoran. Namun bukannya minta maaf wanita itu hanya menunduk dan langsung pergi.
“Ada apa dengan wanita itu. Tuan Chen kami mohon maafkan kami.” Ucap pelayan Restoran tersebut, yang merasa kurang enak dengan apa yang menimpah tuan muda itu.
“Tidak masalah..” Jawab Chen.
“Ada apa dengannya kali ini !.” Pikir Chen. Namun pertanyaan itu segera terjawab, saat ia melihat Naomi baru saja keluar, dari ruangan yang sama dengan Carmel.
Naomi keluar dan hanya melemparkan senyum sinis padanya.
“Tuan kau mau kemana?.”
“Katakan rapat malam ini kita tunda saja, ganti acara malam ini, hanya untuk jamuan makan malam.” Ucap Chen segera berlari, ia berharap masih sempat untuk menemukan Carmel yamg pergi entah kemana.
“Tapi Tuan...”
“Aku ada keperluan mendadak.” Ucap Chen sambil berlari.
Sementara itu Carmel sudah berjalan cukup jauh, ia menangis terisak-isak. Semua orang yang melewatinya dibuat bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan wanita cantik itu.
“Tega-teganya kau berbohong padaku. Kau bilang telah mengakhirinya... Kenapa kau membuatku seperti ini. Aku pikir kau bersungguh-sungguh. Ternyata aku keliru. Aku pikir aku mengenalmu, ternyata aku tidak benar-benar tahu siapa dirimu...” Suara hati Carmel berkata.
“Argh...” Teriak Carmel, terduduk ditengah kerumunan orang. Kekuatan kakinya tiba-tiba saja menghilang, bahkan untuk bertumpu dan menahan dirinya untuk berdiri saja tidak bisa.
“Eh ada apa dengannya...” Semua orang bertanya-tanya. Namun tidak ada satupun yang mendekatinya, untuk sekedar menolong atau bertanya.
“Carmel berdirilah semua orang melihat mu.” Chen akhir nya menemukan wanita itu. Hampir saja ia kehilangan jejaknya, untung saja kerumunan orang-orang itu, berhasil mencuri perhatiannya.
Hiks...Hiks...Hiks...Hiks...
Tangis yang tak ada henti-hentinya, tangis seperti ia baru saja kehilangan seseorang yabg berarti dalam hidupnya.
“Berdirilah...” Ucap Chen.
Carmel tetap pada posisinya, ia bersih keras untuk tetap berada di tempat itu. Tidak ingin menjadi bahan tontonan orang, Chen akhirnya memutuskan membopong tubuh wanita, untuk segera menjauh.
“Turunkan aku apa yang kau inginkan.” Ucap Carmel sambil menangis.
“Aku menolong mu. Apa lagi !.” Jawab Chen.
“Aku tidak butuh bantuan siapa-siapa, turunkan dan tinggalkan aku disini.”
“Apa yang orang itu katakan padamu?.” Chen bertanya.
Hiks...Hiks...Hiks...
“Kalau kau menangis terus bagaimana aku bisa meninggalkanmu ! Ayolah berhenti menangis.” Pinta Chen.
Di tempat lain Lim mulai diresahkan karena Carmel belum juga pulang, padahal ini sudah lewat dari waktu yang mereka sepakati.
💌Lim
Kapan kau akan pulang. Katakan pada Daren jika dia tidak membawa mu kembali sekarang. Besok bersiap-siaplah mengangkat kaki dari perusahaan.
Lim mengirimkan pesan gertakan, agar Carmel segera pulang. Namun sudah hampir beberapa lama menunggu, firasatnya berkata hal yang lain sekarang.
📞Memanggil Daren...
Daren yang terkejut dengan nama yang muncul di ponselnya segera mengangkat.
“Halo selamat malam Tuan...”
“Apa kau mau mati, mana dia... Bawa dia kembali sekarang !.” Geram Lim.
“Dia.... Maksud anda. Apa itu Carmel !.”
“Daren aku tidak suka bermain-main. Aku tahu kau adalah sahabat Carmel. Jadi suruh wanita itu kembali sekarang !.” Ucap Lim lagi.
“Tuan Lim. Carmel tidak bersama denganku..”
“Apa dia sudah kembali ? .”
“Kembali kemana tuan?.” Tanya Daren semakin dibuat bingung.
“Kau tidak tahu?.”
“Tidak...” Jawab Daren bersungguh-sungguh.
“Dia mengatakan ingin bertemu denganmu. Jadi dia tidak bertemu denganmu?.” Tanya Lim lagi.
Sekarang Daren mulai mengerti, bahwa Carmel mungkin menggunakannya, sebagai alasan untuk pergi. Tapi sekarang bagaimana dia bisa melindungi Carmel, ia sudah berbicara semuanya.
“Sebenarnya...”
“Benar, Tuan... Tapi mungkin dia bertemu Karin dan Feng..”
Tit. Lim langsung mengakhiri panggilan itu.
Sekarang Lim tahu ada yang tidak beres dengan Carmel. Wanita itu sama sekali tidak pernah berbohong, jika malam ini dia melakukan itu pasti ada sesuatu.
“Carmel ke mana kau sebenarnya !.” Kesal Lim, bercampur rasa khawatirnya. Dan segera pergi.
Segala cara sudah Lim coba, menghubungi, mengirimkan pesan, dan mengarahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan kekasihnya itu. Tapi seakan di telan dunia Carmel menghilang. Chen sudah menyembunyikan wanita itu, bahkan ia menghapus semua jejak perjalanan Carmel dengan mudah.
“Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang ?.”
“Aku tidak tahu. Tapi aku ingin Lim mengatakan semuanya padaku. Aku tidak tahu Tuan Chen. Apa aku harus mempercayai Nyonya Naomi ?.” Tanya Carmel.
“Aku tidak tahu Carmel. Kau seharusnya tahu, siapa yang harus kau percaya saat ini. Tapi aku sudah pernah bilang kan, pria itu tidak akan serius dengan hubungan kalian !.” Ucap Chen. Yang semakin menggoyahkan Carmel.
“Kau benar. Aku hanya mencari alasan untuk bertahan dengannya. Sebenarnya aku tahu hubungan seperti ini tidak akan berhasil.” Air mata Carmel keluar lagi.
Sementara itu di tempat lain, Lim akhirnya tahu apa yang terjadi sebenarnya, dia sudah mendapat informasi, bahwa Carmel baru saja menemui seseorang di Deng Dei Restoran, dan orang itu adalah Naomi.
“Dia pasti telah mengatakan sesuatu yang membuat Carmel pergi. Aku harus menjelaskan semuanya. Ibu Caroline sudah keterlaluan sekali. Dia bertindak dibelakang ku.” Pikir Lim.
📞Memanggil Naomi...
“Apa yang kau lakukan?.” Tanya Lim.
“Ada apa?.” Naomi balik bertanya
“Kau seharusnya tidak mengusiknya sama sekali. Tapi kau sangat berani ternyata.”
“Bahkan sopan satun mu telah hilang sekarang. Wanita itu sepertinya mengubah mu seperti aku bukanlah ibu mu lagi sekarang !.” Seru Naomi.
“Kau memang bukan ibu ku. Kau hanya ibu dari sahabatku.”
“Sahabat? Hahaha...Lim sahabat apa maksudmu. Putriku adalah tunangan mu. Sampai detik ini status kalian masih pasangan.”
“Aku sudah bilang akan mengakhiri ini. Aku pikir bisa menyelesaikannya dengan baik dengan mu dan putrimu. Tapi sepertinya aku salah, kau membuatku sangat kecewa. Ku tegaskan sekali lagi padamu. Aku tidak akan menikahi Caroline. Katakan itu padanya. Karena aku benar-benar tidak ingin melihat wajah mu lagi.”Ucap Lim penuh tekanan.
“Lim kau....”
Tit. Lim mengakhiri panggilan itu.
💌Lim
Aku sudah tahu semuanya. Kau harus mendengarkan ku Carmel. Aku bisa menjelaskan semuanya. Apapun yang di katakan Naomi padamu. Itu hanya kebohongan.
💌 Lim
Kau bisa lihat ini. Aku benar-benar sudah mengatakannya hari itu. Aku sudah mengakhirinya Carmel. Aku bersumpah padamu.
💌 Lim
Kali ini saja dengar aku. Kita harus bertemu, katakan kau dimana sekarang. Aku akan menjemput mu.
📞Memanggil Carmel. Namun nomor itu sudah tidak aktif lagi sekarang.
Dan di hari yang sama pula, Caroline memutuskan kembali ke Shanghai, ia mengambil penerbangan malam agar bisa tiba di Shanghai lebih cepat. Dia sudah tidak sabar melihat hal apa yang telah di persiapkan ibunya dan juga Lim untuk pesta pernikahan mereka.
✉️ Caroline.
Besok aku akan tiba di Shanghai. Maaf bu tapi aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Sampai jumpa besok. Jangan katakan apapun pada Lim. Aku ingin memberinya kejutan.
Setelah menerima pesan dari putrinya itu sekarang Naomi semakin tambah cemas, apa lagi setelah hari ini. Ia benar-benar tidak siap untuk melihat putrinya bersedih.
✉️ Ibu.
Sayang tidak bisakah kau menunda. Ini akan merusak acara yang Lim siapkan.
✉️ Caroline.
Tidak ibu. Jangan khawatir. Biar aku yang menangani pria itu. Tapi ibu janji ya... Jangan mengatakan apapun soal kepulangan ku.
✉️ Ibu.
Ya...
Bersambung...
...----------------...