
....
✉️Carmel
Hai... Apa kau sibuk? Hari ini aku akan memberi 10.000 yuan pertama ku padamu. Bisakah kau membantuku ? Kemana aku harus mengirimkannya?
✉️Chen Xu
Temui aku di Delix Hong.
✉️Carmel
Maaf ! Apa aku tidak boleh hanya mentransfernya saja?
✉️Chen Xu
Ada apa? Kau tidak ingin bertemu denganku?
✉️Carmel
Sedang mengetik....
📞Panggilan masuk Chen Xu...
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba menolak ajakan ku?.” Sambar Chen.
“It---uuu... Berita diluar sana. Aku tidak ingin membuatmu dalam masalah hanya karena kita harus bertemu.”
“Berita itu? Kau tidak perlu takut. Aku baik-baik saja dengan itu.”
“Tapi berita itu sama sekali tidak benar.”
“Kau takut menyakiti seseorang. Apa ini berhubungan dengan cinta rumit mu itu?.” Tanya Chen menebak.
“Ahhh...Itu. Mana mungkin seperti itu...”
“Begini saja. Kali ini aku pastikan tidak akan ada berita apapun lagi tentang kita. Bagaimana? Lagi pula bukankah Bos mu itu sudah menangani semuanya.” Ujar Chen.
“Bagaimana kau tahu itu?.”
“Aku tahu segalanya. Dan sama seperti yang dilakukan Lim Abraham. Aku juga akan melakukan itu untukmu Carmel.”
“Tapi Chen...”
“Baiklah aku tidak akan memaksa mu. Tapi maaf Carmel, aku tidak suka memberi nomor atau pun sesuatu yang pribadi pada orang asing !.”
“Baiklah aku paham. Kalau begitu aku akan menemui mu nanti ! Beritahu aku jam berapa kita bisa bertemu?.”
“Jam 7 malam ini !.” Jawab Chen.
“Baiklah tunggu aku disana.”
“Oke. Aku tutup sekarang !.”
“Ya.”
“Baiklah.” Tutup Chen.
.....
“Siapa? Tuan Chen lagi...” Tanya Daren.
“Ya...”
“Kalian akan bertemu lagi? Mel, bagaimana jika berita itu muncul lagi?.”
“Dia sudah berjanji tidak akan ada berita seperti itu lagi.” Ucap Carmel.
“Lalu bagaimana dangan Tuan Lim ?.”
“Bisakah kita jangan membahas orang itu sekarang.” Carmel memegang kepalanya. Seperti orang yang sangat terbeban sekali.
“Lalu untuk apa kau meminta bertemu? Lagipula masalahmu sekarang, pasti berhubungan dengannya lagi kan.” Tebak Daren.
“Ahhh.. Kau benar ! Kepala ku rasanya ingin pecah. Entah kenapa semakin dicoba semakin sulit. Kau lihat dia selalu saja membuatku tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan setelah berpisah, aku tetap merasa terus terikat dengannya.” Ujar Carmel frustasi.
“Pria memang seperti itu Carmel, untuk sesuatu yang diinginkan, ia akan berjuang mati-matian untuk mendapatkannya.”
“Apa kau juga seperti itu? Tapi bagaimana bisa ini disebut perjuangan. Kau lihat sendiri bagaimana kami kan.”
“Dan kau juga bisa melihat sendiri bagaimana repot nya semua orang karena bos yang sedang patah hati. Bahkan aku tidak pernah melihat Tuan Lim yang seperti ini sebelumnya.”
“Dia hanya belum terbiasa Ren !.” Celetuk Carmel.
“Lalu apa kau sudah terbiasa?.”
“Terbiasa? Mana mungkin aku bisa terbiasa, sejujurnya ini sama sulitnya bagiku.... Enam tahun Ren! Enam tahun aku terus bersamanya. Meskipun itu tidak akan sebanding dengan hubungannya bersama nona Caroline. Tapi akulah yang selalu terus menemaninya...”
“Kenapa kau tidak meminta Tuan Lim memilih? Kupikir kau baik-baik saja dengan hubungan seperti ini !.”
“Awalnya aku baik-baik saja. Mungkin ! Seandainya aku tidak melihatnya bersama yang lain. Aku mungkin akan baik-baik saja... Aku tidak pernah berpikir untuk memintanya memilih, aku tidak pernah memintanya untuk terus bersamaku, apalagi memintanya meninggalkan nona Caroline untuk bersamaku. Aku tidak pernah melakukan itu !.” Setiap kali membahas tentang Lim, Carmel selalu tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
“Lalu karena kau tidak bisa memintanya memilih ! Kau memilih mundur?.” Tanya Daren lagi.
“Bolehkah aku memberimu saran ! Jika kau masih ragu-ragu sebaiknya jangan melakukannya, karena itu percuma Mel. Tapi itu pilihanmu...Dan untuk Tuan Lim, sejauh yang aku tahu, dia sangat berusaha menjagamu. Itu terbukti dari sejak enam tahun ini, tidak ada satupun orang yang mengetahui bahkan mengendus tentang hubungan kalian. Bukankah sangat aneh, jika itu hanya sebuah keberuntungan.” Ujar Daren.
“Keberuntungan atau tidak, kau benar dia selalu menjagaku. Secara keseluruhan dia memang melakukan itu, tapi dia tidak bisa melindungi hatiku.”
“Kalau begitu kau harus bisa melupakannya sekarang. Lakukan itu, untuk menyelamatkan hatimu Mel. Kau tahu Karin dan Feng sangat mengkhawatirkan mu belakangan ini. Cobalah untuk menjadi Carmel yang seperti biasa.” Tegur Daren, yang sudah mulai bosan dengan masalah yang ikut membawa dirinya.
“Ya... Maafkan aku. Berpisah dengan Lim begitu menyita banyak waktuku. Tapi kau tenang saja aku akan mencobanya.” Ucap Carmel meyakinkan Daren.
...****...
📍Delix Hong
Carmel datang dengan style yang tidak biasa, dia datang dengan kacamata hitam, mantel dan boot hitam. Chen yang melihat itu ikut terheran-heran melihatnya.
“Ada apa dengan penampilanmu ini?.” Tanya Chen heran.
“Stttttssss. Jangan banyak bicara. Ini uangmu. In cash 10.000 yuan, hitunglah cepat, setelah itu aku akan pergi.” Ucap Carmel berbisik.
“Ikut denganku...” Chen manarik tangan Carmel.
“Kemana?.”
“Bukankah kau tidak ingin seseorang melihatmu.” Ujar Chen
Ting.
Chen membawa Carmel masuk kedalam lift menuju lantai 23.
“Kenapa harus berpakaian seperti ini? Apa kau tidak percaya aku akan melindungi mu?.”
“Hanya untuk berjaga-jaga saja.” Ucap Carmel membela diri.
“Hahaha. Kau meragukan ku ternyata !.” Tawa Chen.
Ting.
Pintu lift terbuka.
“Sebenarnya kita mau kemana?.” Tanya Carmel. Karena langkah Chen begitu terburu-buru menariknya.
“Sudah ikut saja...” Jawab Chen, sampai mereka berada tepat didepan sebuah ruangan.
“Ayo masuk sini.” Ajak Chen.
Carmel melihat ke sekeliling.
“Dimana ini?.”
“Ini ruangan khusus untuk ku. Sebenarnya aku sangat jarang menggunakannya, tapi melihat mu seperti tadi, lebih baik membawa mu ke sini saja.”
“Maafkan aku.” Ucap Carmel merasa bersalah, merepotkan Chen.
“Jangan seperti itu duduklah.”
Carmel duduk perlahan.
“Jadi kau ingin memberikun10.000 yuan pertama?.”
Carmel mengangguk.
“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?.”
“Apa? Aku hanya bisa memberimu 10.000 yuan untuk sekarang !.” Ucap Carmel, khawatir Chen meminta lebih padanya.
“Tidak bukan itu... Carmel, kenapa kau sangat takut dengan media ? Bukankah cukup menguntungkan bagimu, jika berita itu benar?.”
“Maksudmu?.” Tanya Carmel.
“Biar ku tebak...Kau mengkhawatirkan hubungan rumit mu itu ? Kau takut dia salah paham tentang kita?.”
“Chen aku tidak ingin membahasnya.” Tandas Carmel lemah.
“Carmel... Kau ingat pertama kita bertemu? Pagi hari saat kau sadar di tempatku. Bukankah kau sedang berusaha menghubungi seseorang. Lim !? Apakah itu Lim Abraham ? Apa itu cinta rumit mu ?.” Tanya Chen.
“Apa yang kau mau dariku? Sejak kapan kau mengetahui itu.” Carmel balik bertanya.
“Aku hanya ingin tahu. Tapi mendengar jawabanmu sepertinya itu benar Lim Abraham. Itu sebabnya kau berlari pergi saat kita bertemu di mall beberapa minggu yang lalu. Kau cemburu melihatnya bersama Caroline ?.”
“Kurasa aku harus pulang. Tidak seharusnya aku datang malam ini.”
“Tunggu Carmel !.” Tahan Chen.
“Aku tidak sedang menghakimi mu. Tenanglah...”
“Lalu apa yang ingin kau lakukan. Seharusnya aku tidak mempercayaimu sama sekali Chen. Kau ingin menjadikanku alat untuk menyerang Lim ! Kau tidak akan bisa melakukannya. Karena aku dan Lim sudah berakhir. Jadi jangan bermimpi kau bisa melakukan itu..” Ucap Carmel lantang.
“Sepertinya kau salah paham padaku... Carmel, sepertinya aku harus jujur padamu. Jika sekarang kau tidak bersama Lim. Bisakah kau menjadi milik ku? Aku akan memperlakukanmu lebih baik dibanding Lim. Dan tentu saja akan menjadikan mu satu-satunya.”
“Cih. Kalian orang kaya sama saja. Apa kalian pikir kami wanita hanya seperti barang? Setelah lepas kemudian menyerahkan diri pada yang lainnya. Tuan Chen, aku memang wanita simpanan Lim... Tapi jangan memandangku mudah untuk bisa kau dapatkan ! Aku bukan wanita yang ada dipikiranmu !!!.”
Bersambung....