Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 41



“Makanan disini enak-enak. Apa kau biasa makan di sini?.”


“Ya dulu Lim selalu membawa ku ke sini. Kau lihat ini... Ini adalah salah satu makanan kesukaan kami.” Jawab Carol antusias.


Bram hanya tersenyum simpul mendengar jawaban nyeleneh Carol. Tidak di sangka, hanya dengan membahas Lim, Carol terlihat sangat berbeda.


“Tentu semua orang menyukai ini. Kau juga pasti menyukainya kan.” Ujar Carol, menyadari sikapnya.


“Ya tentu. Kapan-kapan kau juga harus mencoba makanan kesukaanku.”


“Tentu saja.” Jawab Carol canggung, sambil menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga.


“Aku ke toilet sebentar...” Sambung Carol, kemudian pergi.


“Aku seharusnya senang berada di sini, tapi aku belum bisa terbiasa dengan kehadiran Bram... Padahal pria itu sangat baik.” Batin Carol.


💌Caroline


Apa kau sedang sibuk? Bisa jemput aku ?


Carol mengirim pesan tersebut pada Lim. Tak beberapa lama pria itu langsung menghubunginya.


📳📞


“Apa ada masalah?.”


“Tidak ada. Apa kau sibuk?.”


“Tidak...” Jawab Lim singkat.


“Bisakah kau menjemput ku. Di restoran biasa.” Pinta Carol


“Kenapa tidak memintanya untuk mengantar mu pulang. Apa terjadi sesuatu?.”


“Tidak Lim. Semua baik-baik saja. Hanya saja, aku ingin kembali segera.”


“Tunggulah beberapa menit lagi.”


“Baiklah aku akan menunggu mu datang.” Jawab Carol senang.


“Aku tidak akan ke sana, asisten ku yang akan menjemputmu. Bersabarlah, aku akan meminta nya segera ke sana.”


“Tapi Lim ....”


“Baiklah. Aku tutup sekarang, aku akan menghubungi nya untuk menjemputmu.” Tutup Lim, tanpa memberi kesempatan Carol untuk berbicara lagi.


Sekembalinya Caroline, ia langsung berpamitan pada Bram, dan mengatakan bahwa tiba-tiba saja ia tidak enak badan.


“Mau ku antar kembali sekarang, atau kita perlu ke dokter?.” Tawar Bram khawatir.


“Tidak..Tidak.. Kurasa tidak perlu seperti itu. Orangnya Lim akan menjemput ku sebentar kau tenang saja.” Ucap Carol menolak halus, kebaikan Bram.


“Baiklah. Aku disini sampai orang itu datang, oke ! .”


“Terima kasih Bram, kau sudah sangat baik padaku.”


“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Nona Carol, apa kau keberatan jika besok aku mengunjungi mu di rumah?.”


“Tidak. Datanglah... Ibu ku pasti senang kau datang.”


“Lalu kau....”


Hening....


“Tentu saja, sebagai Tuan rumah yang baik, aku akan menyambutmu dengan senang hati.” Balas Carol, setelah hampir beberapa detik mereka saling terdiam.


.


.


Tak beberapa lama, jemputan Carol sudah datang tepat waktu, tepat usai Bram mencium kening Caroline.


“Ke mana Tuan mu itu ?.”


“Tuan sedang di apartemen.”


“Kalau begitu antar aku ke apartemen sekarang.” Titah Caroline.


“Ya setelah dari sana !.” Tegas Carol lagi.


“Baiklah...” Tuturnya, tanpa membantah. Dan segera menuju apartemen Lim.


.


.


.


Di belahan dunia lainnya, seorang wanita cantik baru saja selesai dengan pekerjaan, yang baru digelutinya, beberapa bulan terakhir ini. Tidak di sangka bahwa perusahan sebesar ini mau menerima orang sepertinya, bahkan ia tidak perlu melakukan wawancara seperti yang lainnya. Tentu saja karena Carmel adalah salah satu, mantan staf di perusahan terbesar di Shanghai Abraham Group, bahkan seluruh dunia mengakuinya. Meskipun banyak pertanyaan lain yang tidak bisa untuk dijelaskan olehnya. Mengapa memilih mundur di tempat di cemerlang itu.


Namun siapa yang peduli, apapun alasannya. Carmel bisa menjadi salah satu aset baru buat perusahan barunya yang ia tempati sekarang.


“Maaf membuat mu, harus lembur malam ini. Aku tahu hanya kau yang bisa melakukannya.”


“Tidak masalah Tuan. Ini sudah tugas ku. Justru seharusnya aku yang minta maaf. Membuat atasan ku harus berada disini bersama ku. Seharusnya kau sudah bisa beristirahat sekarang.”


“Hahaha... Kau terlalu kaku nona Carmel. Baiklah selamat malam. Aku kembali sekarang.”


“Tuan Martin...”


“Terima kasih, untuk makan malam nya ini.” Mengangkat sekotak makanan yang di belikan Martin untuknya.


“Ya. Aku tidak mungkin membuat karyawan ku kelaparan. Sampai ketemu besok Carmel.” Ucap Martin menyiratkan senyum disudut bibirnya.


“Ya...” Jawab Carmel, membungkukkan tubuhnya, menghormati atasannya itu.


.


.


.


(Tin...Tin...Tin...Tin... Carol menekan sandi pintu apartemen Lim, dan pintu itu terbuka dengan sempurna)


“Lim...” Panggil Carol, menelusuri semua ruangan mencari keberadaan pria itu.


“Astaga Lim...” Ucap Carol, mendapati pria itu terbaring lemah di lantai kamarnya. Terlihat jelas bahwa Lim benar-benar sedang mabuk berat, terlihat botol anggur kosong, yang berada tidak jauh dari tubuhnya.


“Kau ini kenapa lagi sekarang... Bangunlah...” Carol memapah Lim, yang masih setengah sadar.


“Maafkan aku...” Ucap Lim lemah.


“Sudahlah, ada apa lagi denganmu.” Balas Carol, membaringkan Lim kembali ke atas tempat tidurnya.


“Maafkan aku...Maafkan aku...” Tangis Lim, seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya.


“Kau mabuk bodoh. Sadarlah....” Kesal Carol.


“Aku tidak mengerti, kenapa dia pergi. Apa dia ingin menghukum ku? Berapa lama lagi dia ingin menghukum ku. Bahkan aku sudah mengatakan untuk tidak pergi... Tapi kenapa dia pergi?!.”


“TIDAK BISAKAH KAU MELUPAKANNYA. KENAPA KAU MASIH MEMIKIRKAN ORANG YANG JELAS-JELAS TELAH PERGI BEGITU SAJA!?.”


“Bahkan aku telah mencoba. Dan aku selalu gagal melakukannya.” Jawab Lim.


“Tapi yang ada disini sekarang adalah aku Lim. Tidak bisakah kau melihat ku. Bahkan satu-satunya wanita yang ada sekarang hanya aku. Tapi kenapa Carmel lagi... Satu-satunya yang bertahan di sini untukmu adalah aku, tidakkah itu berarti untukmu? Tidak bisakah kau mencintaiku ?.” Suara hati Carol mengatakan itu.


“Carmel...” Panggil Lim. Tanpa menyadari ada Caroline yang sedang menangis dalam diam di sampingnya.


“Kenapa kau lebih memilihi menderita seperti ini Lim. Sementara di sisi mu masih ada aku yang jelas sangat mencintaimu. Meskipun aku tidak bisa mengatakannya lagi. Aku tidak ingin dijauhi oleh mu, karena perasaan ini. Aku masih menunggumu... Masih berharap, suatu hari nanti kau akan menyadari bahwa hanya aku yang bisa mencintaimu seperti ini.” Batin Carol.


Setelah selesai dengan Lim. Caroline memutus untuk kembali pulang, dan meninggalkan pria itu sendiri di sana.


...Caroline POV...


Aku mencoba, mendekati seseorang. Tapi sepertinya itu tidak berpengaruh apapun padaNya. Bahkan dia sama sekali tidak terganggu saat aku mengatakan memiliki janji makan malam hari ini. Carmel sudah tidak ada di sini. Seharusnya itu sudah tidak menjadi masalah lagi untuk ku. Karena dia pergi dengan sendirinya... Tapi bahkan wanita itu terus saja mengacaukan segalanya, bahkan setelah kepergiannya.


Lalu bagaimana caranya Lim akan melihatku ? Sementara bayangan Carmel terus menghantui Lim.


Tapi aku tidak akan menyerah. Lim pasti akan kembali pada ku. Carmel sudah pergi.


Cepat atau lambat, Lim sendiri yang akan datang padaku, dan meminta ku untuk kembali padanya. Sampai dia sadar bahwa hanya aku yang benar-benar tulus untuknya.