Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 8



Beri Vote


Beri Like


Beri Rate ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️


Beri Komentar


Jika kalian menyukai cerita ini. Dukungan kalian adalah salah satu bagian untuk motivasi author dalam berkarya.


Sepulang kerja Carmel memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru, entah kenapa ia sangat yakin Lim akan datang mencarinya. Tapi kali ini Carmel benar-benar butuh waktu untuk sendiri.


Carmel sudah mencari beberapa rumah murah yang bisa di sewanya untuk sementara, disaat seperti ini Carmel malah harus melakukan banyak pengeluaran, sementara ia masih memiliki banyak hutang pada Tuan Chen Xu.


“Ini rumahnya memang sedikit kecil, tapi kau tenang saja tempat ini aman dan bersih.”


Tanpa berlama-lama Carmel langsung memutuskan deal dengan pemilik rumah sewa tersebut. Lagipula ia juga tidak memiliki pilihan jika harus mencari lagi.


....


Seperti dugaan Carmel sebelumnya Lim datang ke penginapan Carmel. Tapi wanita itu benar-benar serius dengan ucapannya, dan memilih pergi.


“Mel dimana kau sekarang !.” Lim benar-benar merasa kebingungan dengan perginya Carmel.


Apa lagi ini adalah pertama kalinya dia melihat Carmel benar-benar marah dan mengatakan butuh waktu untuk berpikir. Yang ada di kepala Lim saat ini hanya, apapun yang terjadi Lim tidak ingin kehilangan Carmel.


💌Lim


Aku benar-benar minta maaf sayang. Dimana kau sekarang beritahu aku. Aku akan menjemputmu kita pulang ke Apartemen ya...


....


Carmel baru saja selesai membenah rumah baru sederhananya. Ia hampir lupa mengisi daya ponsel nya yang sudah mati sejak pagi tadi.


Baru beberapa detik menyala sudah banyak pesan dan laporan panggilan yang belum sempat terjawab di ponsel Carmel, tentu saja dari sekian banyak Lim lah yang menempati urutan pertama. Carmel membaca satu persatu pesan Lim. Carmel sadar Lim sangat mengkhawatirkannya, sejak semalam. Tapi kejadian di kantor tadi, membuat Carmel merasa bahwa Lim terganggu karena Carmel menelfon saat jelas-jelas Lim sedang bersama Caroline.


Carmel merasa bahwa dibanding dirinya, Lim jelas akan lebih memihak pada Caroline. Bukan berarti ia ingin diutamakan, Carmel hanya ingin Lim mengerti bahwa dia juga sedang tidak baik-baik saat ini.


^^^💌Carmel^^^


^^^Lim... Aku belum bisa mengatakan aku dimana sekarang. Kurasa kita butuh waktu untuk sama-sama berpikir.^^^


💌Lim


Aku tidak butuh waktu. Aku butuh kau sekarang di sini bersamaku !


^^^💌Carmel^^^


^^^Beri aku aku waktu. Aku mohon...^^^


💌Lim


Hanya waktu untuk menenangkan pikiran ! Kau tidak boleh memikirkan hal lain.


^^^💌Carmel^^^


^^^Ya.^^^


💌Lim


Lakukan apapun. Tapi jangan berpikir untuk pergi dariku. Aku mencintai mu Carmel.


Setelah membaca pesan terakhir dari Lim, Carmel memutuskan untuk tidak menjawabnya lagi.


Carmel mulai duduk dan merenungkan, tentang hubungannya bersama Lim. Dari awal hingga sekarang, inilah pertama kalinya Carmel bisa mengatakan ia perlu waktu untuk sendiri. Padahal memikirkan untuk jauh dari Lim saja sudah begitu berat.


Terkadang Carmel tertawa


Terkadang ia juga bisa tiba-tiba menangis.


Banyak hal-hal indah yang Carmel miliki bersama Lim, hampir dari sejak mereka bertemu hingga sekarang. Tapi ada satu celah yang membuat kebahagian itu terasa semu. Saat Carmel menyadari ia berada diantar Caroline dan Lim.


Cemburu ?! Tentu saja Carmel cemburu. Ia seperti sedang membagi prianya untuk wanita lain. Seakan Carmel baik-baik saja, tapi ia sedang terluka.


Setelah cukup lama berpikir, akhir membuat Carmel tertidur pulas dengan air mata yang masih membasahi wajah cantiknya.


“Lim...Aku mencintaimu.” Ucap Carmel, entah apa yang sedang ia mimpikan saat ini.


...****...


“Honey... Apa ada masalah.” Tanya Carol, yang melihat bahwa Lim sangat banyak diam hari ini.


“Ya sedikit.”


“Ada apa, berbagilah padaku mungkin aku bisa membantu.”


“Masalah pekerjaan?.” Carol masih mencoba.


“Car... Apa yang akan kau lakukan jika aku lenyap dari dunia ini.”


Carol, tertawa mendengar pertanyaan konyol Lim.


“Ikut lenyap bersamamu... Untuk apa ada disini jika aku hidup, namun tanpa ada Lim Abraham didalamnya.” Jawab Carol.


“Tidakkah kau akan meneruskan hidupmu.” Tanya Lim.


Caroline tersenyum...


“Sebenarnya kemana arah pertanyaan mu ini. Kenapa aku merasa takut mendengarkannya. Kau seperti ingin mengatakan selamat tinggal padaku.” Ucap Carol menebak, matanya memerah, seolah menahan sesuatu yang berat di dadanya.


“Tidurlah ini sudah sangat larut. Kau baru saja pulih.” Suruh Lim.


“Tidak. Aku lebih baik sakit selamanya, agar kau bisa terus menemaniku dan memperhatikanku.”


“Car tidur lah.” Lim benar-benar tidak ingin berdebat sekarang, pikirannya sudah cukup berantakan karena Carmel, sekarang Caroline juga menambahnya.


“Aku akan disini bersamamu. Aku tidak mau kemana-mana.” Carol memeluk Lim erat.


“Aku mencintaimu Lim, terlalu mencintaimu.” Carol mengatakannya dengan air mata yang mengalir tanpa ia sadari.


Melihat air mata Caroline, membuat Lim juga menyimpan sedikit rasa bersalah padanya. Seharunya ia tidak membuat ini semakin rumit, jika saja ia bisa mengatakan pada Carol bahwa ia telah jatuh cinta dengan wanita lain. Dan Lim sangat mencintai wanita itu.


Tapi mendengar jawaban dari Carol membuat Lim takut, ia tahu betapa rapuhnya hati Caroline, bahkan cintanya bisa membuatnya akan melakukan apapun untuk melukai dirinya sendiri.


Lim menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Carol.


“Jangan menangis. Apa yang kau tangisi. Tenanglah.” Bisik Lim, menenangkan Carol.


“Mel...Apa kau juga sedang menangis saat ini.” Ucap Lim dalam hati. Ia bisa membayangkan disini ia sedang menenangkan Carol, sementara Carmel, apakah dia bisa menenangkan dirinya sendiri...


.....


Dret...Dret...Dret...


Ponsel Carmel berdering, sehingga membuatnya yang tertidur menjadi terbangun.


“Halo....” Jawab Carmel, tanpa melihat siapa yang menelponnya selarut malam ini.


“Halo...” Jawab Carmel lagi.


“Ehm...Halo...” Jawab suara dari ujung sana.


“Siapa ini ?.” Tanya Carmel.


“Ini aku Chen Xu...”


Sekali mendengar nama itu saja membuat mata Carmel yang sayup, terbuka lebar.


“Eh Tuan Chen..” Ucap Carmel ramah.


“Apa yang kau lakukan Carmel ? Apa kau sedang memikirkan bagaimana mengganti pakaianku ?.” Tanya Chen.


Membuat Carmel bingung untuk menjawab pertanyaan pria itu, tentu saja seharusnya itulah yang Carmel lakukan, tapi ia malah tertidur.


“Apa kau berpikir untuk kabur sekarang.” Tanya Chen.


“Hah. Tidak... Mana mungkin, aku akan menggantinya. Tapi bolehkah aku mencicilnya 10.000 yuan setiap bulan.” Tawar Carmel.


Chen berdiam. Entah kenapa itu membuat Carmel berpikir bahwa Chen Xu berpikir untuk menuntutnya saja sekarang.


“Baiklah... 10.000 yuan setiap bulan.” Jawab Chen.


“Argh.. Benarkah kau menyetujuinya. Kau sangat baik hati sekali tuan Chen.” Ucap Carmel memuji terlalu berlebihan.


“Dengan satu syarat !.”


“Syarat ! Kenapa harus bersyarat...”


“Jika kau tidak mau kita batalkan saja...”


“Eh. Iya baiklah-baiklah... Apa itu ?.” Tanya Carmel.


“Ini syarat yang sangat menguntungkan kau tenang saja.”


“Apa?.” Tanya Carmel lagi.


“Nanti kuberi tahu, sekarang tidurlah. Selamat malam.” Tit. Chen mengakhiri panggil mereka.


Bersambung...