
“Carmel.. kau salah paham terhadapku.”
“Tidak aku benar ! kau sama brengseknya dengan yang lain.” Bantah Carmel.
“Aku mengatakan itu karena aku ingin kau berhenti. Aku tidak ingin kau melanjutkan hubunganmu dengan orang seperti dia...”
“Agar apa? Agar kau bisa menunjukan pada Lim bahwa wanitanya telah kau miliki, begitu kan !?.”
“Aku menyukaimu. Tidak bukan hanya itu aku jatuh cinta padamu. Bukan karena kau milik Lim atau siapapun. Hanya saja kau sangat berbeda Carmel.” Ucap Chen.
“Tuan Chen Xu. Pertama kita bertemu karena sebuah kecelakaan, kedua aku berhutang padamu. Jika ada alasan lain yang harus membuatku terlibat dengan mu, maka itu hanya karena kedua alasan itu saja.” Seru Carmel. Kemudian segera pergi.
Carmel begitu kesal karena Chen seperti sedang mempermainkannya. Bahkan ia sudah terlalu jauh mengikuti permainan Chen, yang ternyata tidak mengharapkan uang darinya sepeserpun.
“Carmel...” Beruntung Chen masih bisa menahan Carmel.
“Tuan Chen. Aku mau pulang...”
“Biarkan aku mengantarmu pulang.” Ucap Chen, meminta persetujuan Carmel.
“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri...”
“Carmel...Aku salah, apa kau tersinggung dengan ucapan ku tadi. Baiklah aku akan menggambil 10.000 yuan darimu, oke !.” Pinta Chen lagi.
“Oke...” Jawab Carmel acuh.
“Biarkan aku mengantarmu !.”
“Aku tidak mau tuan Chen. Apa kau tidak mengerti juga !.”
“Tapi diluar sedang hujan salju sekarang... Kau mungkin tidak akan sampai di rumah, jika tidak memilih jalan yang tepat. Dan Carmel... Semua tempat persinggahan akan tutup sebentar lagi. Kau mau kemana?.” Ucap Chen, memperingati Carmel.
“Ak---akk--kuuu....” Ucap Carmel terbata-bata.
“Ayolah biar aku membantu mu. Aku tidak berniat melakukan apapun dan mengharapkan apapun darimu kau tenang saja.”
“Ini pasti hanya akal-akalan mu saja !.”
“No.... Aku serius hanya ingin mambantu mu. Lagipula aku yang mengundang mu kesini. Jadi---”
“Baiklah. Antar aku pulang. Hanya mengantarku saja. Dan jangan berharap sesuatu yang lain, dan satu lagi jangan ada media. Seperti janjimu padaku !.”
“Ya tentu.” Ucap Chen. Dia senang Carmel mau menerima bantuannya.
Diperjalanan menuju rumah Carmel....
“Kenapa kau diam saja?.”
“Apa ada yang mau kita bicarakan lagi...?.” Ucap Carmel, menatap keluar.
“Kenapa kau begitu kesal? Padahal aku hanya mengungkapkan perasaanku padamu !.”
“Karena aku tahu tujuanmu ! Kau juga memanfaatkan ku.” Carmel masih enggan melihat Chen.
“Jika aku memanfaatkan mu, menurutmu untuk apa aku melakukannya?.”
“Tentu saja untuk bisnis. Apa lagi? Semua juga tahu persaingan antara AB Group dan Evergrande Group !.”
“Bisinis tetaplah bisnis. Masalah hati tidak termasuk disana !.” Jawab Chen sambil terkekeh.
“Lagipula Tuan Chen, apa yang kau lihat dari ku.... Karena aku berbeda? Semua wanita selalu berbeda, kau tidak akan menemukannya benar-benar sama. Itu tidak bisa kau jadikan alasan untuk jatuh cinta padaku. Dan sejujurnya aku benar-benar merasa dipermainkan dengan sikapmu yang sekarang. Aku benar-benar takut karena berhutang dengan orang sepertimu, bahkan untuk menutup mata saja kadang aku masih harus terbayang-bayang, berapa banyak lagi aku harus membayar Mu... Tapi tiba-tiba kau bilang tidak membutuhkan uangku. Tuan Chen kau keterlaluan sekali...” Ungkap Carmel.
“Aku hanya berharap setelah pertemuan itu, kita bisa bertemu lagi. Sejujurnya Carmel, awalanya aku hanya ingin bermain-main denganmu. Kau pikir aku peduli dengan uang mu. Tidak sama sekali !.”
“Tuan Chen...”
“Bisakah kau memanggil ku Chen saja. Kenapa kau berbicara seperti aku adalah orang asing lagi Carmel?.”
“Karena kita berbeda !.”
“Apa yang berbeda dari kita. Bagiku hanya ada satu perbedaan diantara kita, aku pria dan kau adalah wanita, selain dari pada itu kita sama...”
“Aku berhenti disini saja ! .” Pinta Carmel.
“Bukankah rumahmu masih didepan gang sana.” Tanya Chen.
“Benar. Tapi jalan disana mungkin sudah tertutup salju.”
Chen menuruti permintaan Carmel untuk berhenti di persimpangan jalan depan.
“Terima kasih tuan Chen !.” Hormat Carmel.
Chen hanya tersenyum.
“Carmel !!! .” Panggil Chen lagi.
“Apa kita punya masalah? Untuk apa menghindari mu? .” Jawab Carmel.
“Baiklah. Aku pulang sekarang. Berhati-hatilah.” Seru Chen.
Setidaknya jawaban Carmel barusan menunjukan bahwa Chen masih bisa bertemu dengan wanita itu, karena Carmel tidak menolaknya, walaupun untuk sekarang Carmel masih meragukannya.
“Lim Abraham dari mana kau menemukan wanita ini. Seandainya aku yang menemukannya lebih dulu...” Pikir Chen, sambil menyetir.
.....
Carmel tiba di rumahnya.
“Uuuuhhh.....” Carmel menghembus nafas panjang.
Ia segera membersikan diri dan bersiap untuk segera beristirahat.
Baru saja ia ingin memejamkan matanya. Matanya malah fokus pada paper bag yang tergeletak begitu saja disudut kamarnya.
Syal yang seharusnya diberikannya untuk Lim, malah menjadi sia-sia sekarang.
“Seharusnya kau tidak membeli itu Carmel.” Ucap Carmel. Kemudian bangkit dan membuang benda itu ketempat sampah.
Tapi lagi-lagi Carmel tidak bisa terlelap, sekalipun ia berusaha untuk melakukannya.
“Argaaaaahhhhh... Ayo Carmel tidur lah.” Carmel masih berusaha untuk tertidur.
Tek...Tek... Carmel menekan layar ponselnya, hanya berusaha mencari kegiatan, lalu akhirnya bisa tertidur. Tapi sepertinya itu pilihan yang sangat salah, dengan begini justru membuatnya tidak dapat menahan diri ku membaca semua pesan yang sudah dikirimkan Lim hampir berpuluh kali padanya. Dan semuanya hanya berisi permintaan maaf dan permohonan.
🔊Voice Note Lim...
Carmel mulai memutarnya.
Hai... Apa kau mendengarkan ku Mel?
Kapan saja kau mendengar ini, kumohon jawablah pesanku, karena aku selalu menunggu mu.
Aku tahu kau pasti selalu bertanya kenapa aku melakukan ini? Awalnya aku pikir mungkin, tidak perlu memberitahu mu tentang semua ini. Tapi melihatmu yang menjauh, aku tahu mungkin ada baiknya aku memberi tahu ini padamu.
Kau benar, aku selalu meninggalkanmu untuk kembali padanya. Kau juga benar, aku tidak bisa ada di setiap kau membutuhkanku, kau benar aku tidak bisa hanya memikirkan mu saja, pikiranku selalu terbagi.
Aku gila
Aku bodoh
Kau juga juga benar soal itu.
Aku bajingan, aku brengsek...
Bagaimanapun kau mengatakannya, aku tidak menolak semua itu, karena kau benar Carmel !
Aku terikat janji pada seseorang belasan tahun yang lalu. Janji untuk menjaga putrinya, janji untuk membuatnya bahagia. Entahlah... Aku tidak begitu mengerti bahwa janji adalah sesuatu yang berat seperti ini.
Dia adalah Leon Adison, ayah Caroline. Orang yang memintaku untuk menjaga putrinya. Untuk sesuatu hal aku tidak ingin melakukannya, tapi untuk alasan lain aku harus mengatakan “iya” hari itu ! Kau tahu kenapa? Leon menderita penyakit kanker darah, aku memang tidak mengerti itu penyakit seperti apa. Tapi aku tahu usianya mungkin tidak lama lagi, hari itu aku mengatakan aku akan menjaga putri satu-satunya itu untuknya, entah bagaimanapun caraku menjaganya, aku akan menjaganya. Beberapa hari setelah itu aku bertunangan dengan nya, tidak ada yang benar-benar ku pikirkan saat itu, kupikir beginilah cara menjaganya.
Dan itu adalah sebuah keputusan yang salah !
Beberapa tahun setelah itu ayah Caroline benar-benar meninggalkan Caroline dan ibunya untuk selamanya.
Dan aku malah bertemu denganmu.Seumur hidup, hanya ada dua wanita yang benar-benar aku kenal dengan baik di dunia ini, pertama ibuku dan yang kedua adalah Caroline, karena kami adalah sahabat sejak kecil.
Aku juga belum pernah mengatakan ini padamu kan ? sekarang kau harusnya sudah tahu !
Aku jatuh cinta padamu ! Seharusnya tanpa ku katakan pun, kau harusnya tahu aku jatuh cinta padamu Carmel. Saat itu aku baru tahu memang ada perbedaan antara perasaanku padamu dan pada Caroline.
Sampai kapanpun aku hanya bisa menyayanginya sebagai sahabat. Tapi saat bersamamu, saat itu aku sadar aku bukan hanya menyayangimu atau takut kehilanganmu, tapi aku juga mencintaimu.
Aku tahu kau takut bersama pria sepertiku. Pria yang terikat dengan wanita lain. Pria yang mungkin bagimu sangat membingungkan untuk bertahan dengan orang sepertiku ! Hari ini aku sudah berkata jujur padamu...
Sekarang kau tahu sampai dimana batas arti Caroline dan dirimu di hidupku Carmel. Sekarang kau tahu siapa yang aku cintai, dan kenapa aku tidak ada disaat kau membutuhkanku.
Setelah semua yang terjadi di antara kita. Aku akan memutuskan satu hal sekarang. Aku akan mengakhiri ini, aku tidak bisa harus kehilanganmu. Sudah cukup menyakitimu, sudah cukup untuk membuatmu bertanya-tanya tentang perasaan ku.
AKU HANYA MENCINTAIMU CARMEL KAU DENGAR ITU.
Tit. Carmel mengehentikan pesan suara itu.
Untuk kali ini tangisan Carmel harus pecah, ia tidak tahu betapa beratnya menjadi Lim selama bertahun-tahun ini. Bahkan saat ia merasa dia adalah orang yang paling menderita, Lim seharusnya juga merasakan hal sama dengannya.
“Kenapa aku harus bertemu dengan orang seperti mu. Kenapa kau harus mengatakan semua ini padaku ! Lim... ini perasaan yang bodoh, bahkan di saat seperti ini kenapa rasanya kita masih saling membutuhkan.”
Bersambung....