
Sama sepertinya. Aku begitu mencintainya. Seakan tak pernah ada kata bosan memiliki rasa itu setiap hari. Lim adalah salah satu bagian terpenting dalam hidupku, dia sama berartinya dengan mata, telinga, tangan, dan kaki ku. Bisa dibayangkan, jika aku tanpanya, maka itu sama artinya aku kehilangan salah satu bagian dariku.
...****************...
ABRAHAM GROUP
“APA JADI MEREKA !.”
“Sttsss pelan-pelan Mel !.” Bisik Daren, menutup mulut Carmel.
“Bagaimana mereka tahu aku dan Lim. Apa kau mengatakannya.” Cemas Carmel. Sekarang semua terjawab. Inilah sebab dari perubahan sikap Karin dan Feng padanya.
“Aku juga tidak tahu, bukan aku yang mengatakannya. Mereka pasti tidak sengaja melihatmu bermesraan dengan tuan Lim.”
“Astaga cerobohnya aku !.” Carmel memukul ringan kepalanya.
“Apa kau tidak ingin menjelaskan apapun pada mereka ? Feng dan Karin. Kau tahu seberapa polosnya mereka. Mereka tidak akan bisa memahaminya, sampai kau mengatakan semuanya.” Ucap Daren.
“Mereka tidak akan mengerti Ren ! Aku sangat tahu Karin dan Feng, pikiran mereka sangat realistis. Mereka mungkin tidak akan mau mendengarkan ku. Lagipula aku memang salahkan !.” Ucap Carmel pasrah.
“Ini bukan masalah salah dan benar. Salah dan benar biarkan itu hanya menjadi masalah mu dan Tuan Lim. Tapi mereka. Mereka adalah sahabat kita...”
Carmel tertegun sejenak.
“Ya kau benar. Tapi bagaimana aku mengatakannya.” Ucap Carmel pasrah.
Tiba-tiba dari arah samping seseorang datang menghampiri Carmel dan Daren.
“Kau mau mengatakan apa?.” Tanyanya.
Sekarang Carmel benar-benar tidak berkutik, ketika mendapati kedua orang sahabatnya itu datang padanya.
“Kau ingin mengatakan apa Carmel.” Tanya Feng.
“Iya kau ingin mengatakan apa? Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu dari kami?.” Tebak Karin.
“Tidak bukan itu !.” Jawab Carmel.
“Lalu apa? Kau tidak ingin mengatakannya pada kami. Ya baiklah aku dan Karin pergi saja.”
“Tidak...Tidak... Feng, Karin tunggu !!!.” Tahan Carmel, sehingga kedua wanita itu kembali berbalik arah.
“Aku tidak ingin menyembunyikan apapun lagi dari kalian. Daren sudah mengatakan semuanya padaku. Aku tahu, kalian sudah menangkap basah diriku dan Tuan Lim. Kalian benar, aku dan Tuan Lim, diam-diam memiliki hubungan.”
“Kenapa kau mengatakannya pada kami?.” Tanya Karin.
“Karena kalian sahabatku !.”
“Kenapa kau melakukannya Carmel. Kau tahu tuan Lim sudah bertunangan. Apa kau tidak peduli dengan itu?.” Kesal Karin.
“Hei, kalian seharusnya dengarkan dulu penjelasan Carmel. Kenapa kalian jadi menyalahkannya !.” Cegah Daren, menengahi pembicaraan pelik itu.
“Kalian benar... Tapi seandainya aku bisa tidak mempedulikannya ! Aku dan Lim, serius dengan hubungan ini...”
“Hah. Carmel kau sudah gila ya!.” Celah Feng yang benar-benar kesal dengan cara berpikir Carmel.
“Feng, Karin dan Daren... 3 tahun lalu kita hanya orang asing yang tidak saling mengenal ditempat ini. Tapi aku sudah mengenal Lim jauh sebelum aku mengenal kalian.”
“Maksudmu? Jadi kau memang sudah menjadi kekasih gelap tuan Lim sejak dulu?.” Tebak Karin.
“Hubungan kami, bukan hubungan seperti itu. Kami tidak pernah menyembunyikan hubungan kami... Tapi itu dulu, saat Lim dan aku berada di Jerman... Kami layaknya pasangan biasa yang menghabiskan waktu bersama setiap harinya.”
“Aku tahu, apa kalian masuk di Universitas yang sama. Aku pernah mendengar bahwa Tuan Lim memang lulusan terbaik di Universitas bergengsi di Berlin.” Sambung Feng.
“Ya kami berada di Universitas yang sama. Dan Lim adalah seniorku. Kami saling jatuh cinta disana... Aku tidak pernah berpikir bahwa, kami akan melangkah sejauh ini. Aku pikir cepat atau lambat kami memang akan berakhir. Tapi itu tidak pernah terjadi hingga sekarang...”
“Tuan Lim sudah bertunangan saat itu, apa kau tidak mengetahuinya.”
“Aku tahu...Dan itulah kesalahan terbesarnya.”
“Kau tahu Tuan Lim tidak mungkin serius dengan hubungan kalian. Dia sangat mencintai nona Caroline. Jika tidak seperti itu, Tuan Lim pasti sudah melepaskan nona Caroline sejak dulu.” Sambar Karin.
“Karin, Feng... Aku sudah mengatakan semua yang seharusnya kalian ketahui. Masalahku dan Lim, biarkan itu menjadi urusanku sendiri.”
“Kau keterlaluan Carmel. Kau Egois... Kau harusnya meninggalkan Tuan Lim, relakan dia. Ini demi kebaikanmu. Karena pria sepertinya, tidak mungkin bisa membahagiakanmu. Lihat saja, kalian sudah lama bersama, seharusnya jika dia mencintaimu, dia sudah menikahi mu sekarang ! Tapi bagaimana itu bisa terjadi, sedangkan dia tidak pernah melepaskan nona Caroline. Kau sendiri lihat kan, bagaimana sikap Tuan Lim pada nona Caroline. Dia sangat mencintainya.” Ucap Karin.
“Carmel dengarkan kami, ini demi kebaikanmu. Kau harus menjauhi Tuan Lim. Kau harus putus darinya.” Kekeh Feng, mendoktrin Carmel agar melakukan keinginannya.
Carmel diam tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Carmel tinggalkan Tuan Lim. Kau bisa melakukannya.” Karin dan Feng terus memaksa.
“Hei..Sudahlah jangan membuat Carmel tertekan lagi. Dia sudah mengatakan semuanya. Sudahlah hentikan sikap kalian ini.” Tegur Daren. Sebagai pria satu-satunya disana, dia harus bisa memperbaiki keadaan.
Entah sejak kapan Lim berada disana, tapi pria itu sepertinya telah mendengarkan semuanya sejak tadi.
“Tuan....”
“Tuan Lim...” Ucap mereka serempak, kecuali Carmel yang hanya menunduk pasrah.
“Kalian semua, ikut keruang kerja ku sekarang !.” Titah Lim, dan segera beranjak dari tempat itu.
Kemudian disusul dengan langkah siput Carmel dan kawan-kawan, yang mengekor dibelakang Bos besar itu.
...Tek...Tek...Tek...
Suara jam berdetak, sudah hampir 10 menit empat orang sahabat itu duduk di ruang kerja Lim tanpa pembicaraan apapun.
Sedangkan Lim masih duduk dimeja kerjanya dan membaca beberapa laporan seakan lupa ada orang lain yang menunggunya dari tadi.
“Carmel !.” Ucap Lim.
Setelah lama menunggu, kalimat pertama yang keluar dari mulut Lim adalah nama Carmel.
Semua mata langsung menatap wanita itu.
Tak.
Tak.
Tak.
Langkah kaki yang terdengar begitu mencekam, saat Lim datang mendekati mereka semua.
“Apa kalian tahu mengapa kalian aku panggil kemari?.” Tanya Lim.
Semua membisu, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Lim.
“Baiklah. Aku ulangi lagi. Apa kalian tahu kenapa kalian aku bawa kemari?.” Lim mengulang pertanyaannya.
“Ya aku tahu Tuan Lim. Anda pasti tidak ingin orang lain mengetahui ini kan. Baiklah kami akan menutup mulut kami. Dan satu lagi, tinggalkan Carmel jika kau hanya ingin mempermainkannya. Aku tahu Carmel wanita baik, dia hanya sedang jatuh cinta padamu. Seharusnya anda tidak boleh mempermainkan perasaan wanita.” Karin dengan tegas menjawab pertanyaan Lim.
“Ternyata kalian begitu mempedulikannya ya!.” Balas Lim lagi.
“Tentu saja. Karena dia adalah sahabat kami. Meskipun dia juga salah. Tapi Carmel seperti ini pasti karena dia sangat mencintaimu !.” Feng mulai ikut berkomentar.
“Karin..Feng...” Ucap Carmel, merasa benar-benar terharu, ia bahkan tidak tahu bahwa mereka begitu mempedulikannya selama ini.
“Tuan Lim dan Carmel saling mencintai. Dia tidak akan melakukan itu.” Ucap Daren.
“Daren kau sudah tahu ini, tapi mereka tidak !.” Ucap Lim.
“Setelah ini jika kalian ingin mengatakannya pada siapapun. Aku tidak akan mencegahnya. Tapi katakan ini, bahwa aku sangat mencintainya. Bahwa aku tidak sedang bermain-main dengan perasaanku padanya. Karin, Feng...Kalian adalah sahabat Carmel. Dan aku tegaskan, jangan memintanya untuk pergi dariku, bukan dia yang tidak bisa tanpaku. Tapi akulah yang tidak akan bisa tanpanya. Jika ada yang disalahkan. Bilang pada mereka, bahwa bajingan itu adalah aku. Wanita ini, bahkan jika ia ingin egois, mungkin dia akan melakukannya sejak dulu.. Tapi akulah yang terlalu egois. Aku tidak ingin kehilangannya, biarkan Carmel tetap bersamaku.”
“Tapi Nona Caroline?.”
“Untuk hubunganku dengannya, aku tidak bisa menjelaskannya pada kalian. Kecuali Carmel. Dan hari ini ku tegaskan satu hal lagi, bahwa satu-satunya wanita yang bersama ku saat ini adalah Carmel Abigail, DAN TIDAK ADA WANITA SELAIN DIRINYA LAGI.” Lim mengatakannya dengan lantang.
“Aku mencintai sahabat kalian ini. Bahkan sejak awal aku hanya mencintainya.” Ucap Lim lagi.
“Jadi artinya hubunganmu dengan nona Caroline sudah berakhir sekarang?.”
“Aku sudah mengatakannya kan! Wanita satu-satu yang kumiliki dan ingin kumiliki saat saat ini hanya DIA.” Tegas Lim. Menatap Carmel yang hanya diam.
“Feng...Karin...Daren... Aku minta maaf pada kalian. Aku sudah membohongi kalian semua tentang hubunganku dengan Lim. Ini terlalu rumit untuk dijelaskan, bahkan untuk diriku sendiri saja ini terasa begitu rumit. Sekarang kalian sudah tahu. Aku tidak akan meminta apapun pada kalian, termasuk menyembunyikan hubungan kami.” Ucap Carmel lemah.
“Kau pikir kami sejahat itu. Lagipula Tuan Lim sudah menegaskan bahwa dia hanya mencintaimu. Mana berani aku melakukannya.” Celetuk Feng.
Semua tatapan tajam mengarah kearah Feng.
“Apa aku salah bicara?.” Tanya Feng ragu.
“Carmel. Aku tidak membenarkan sikap mu. Tapi aku mengerti bagaimana kau dan Tuan Lim, benar-benar berjuang untuk hubungan kalian ini. Setelah ini apapun itu. Biar kau dan Tuan Lim saja yang menyelesaikannya... Dan Tuan Lim kami minta maaf atas kejadian tidak mengenakan ini.” Ucap Karin meminta maaf.
“Carmel. Kau dengarkan ! Mereka menerimanya. Sekarang kau akan baik-baik saja kan.” Seru Lim.
“Apa kalian akan tetap menjadi sahabatku?.” Tanya Carmel sedih.
“Ya tentu saja kita sahabat.” Jawab Daren, di ikuti anggukan dari Feng dan Karin.
Carmel tersenyum lega saat ia tahu bahwa Feng, Karin dan Daren, masih mau berteman dengannya.
“Baiklah. Masalah sudah selesai. Sekarang kalian bisa keluar. Kecuali kau ” Tunjuk Lim kearah Carmel.
Bersambung...