Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 16



“Kenapa kau meninggalkan ku semalaman Lim?.”


“Apa kau benar-benar tidak tahu apa yang diberikan ayahku padamu ? Carol kau itu orang pintar dan cerdas. Apa kau bisa percaya begitu saja setelah ayahku memberikan itu padamu.”


“Ya aku percaya...” Tegas Carol.


“Kalau begitu jangan mendengarkan ku lagi mulai sekarang.” Tegas Lim.


“Lim...” Carol mengejar langkah Lim. Tapi pria itu terus mengabaikannya.


“Lim...Tunggu...Maafkan aku...” Pinta Carol.


“Kau tahu itu obat seperti apakan !.”


“Ya aku tahu. Tapi kau lihat sendiri, bahkan ayahmu saja tidak keberatan kita melakukan itu Lim.” Ucap Carol.


Lim berbalik kembali kearah Caroline.


“Carol, aku tidak mengerti, mengapa kau melakukan itu semua. Bahkan kau tahu itu membahayakan nyawamu sendiri !.” Kesal Lim. Ia sudah dapat menduga Carol tahu obat itu, tapi ia tetap meminumnya.


“Aku minta maaf Lim...” Tangis Carol.


“Kau mau marah...Silahkan lakukanlah.”


“Aku marah. Karena kau menyakiti dirimu sendiri seperti itu...”


Mendengar ucapan itu membuat Carol benar-benar sangat bahagia, ia tidak tahu bahwa Lim begitu mengkhawatirkan dan memperdulikannya.


“Terima kasih Lim.” Ucap Carol, menangis dalam pelukan Lim.


“Tolong jangan melakukan hal apapun yang menyakiti mu !.”


“Ya...” Jawab Carol, sungguh-sungguh.


...****...


Beberapa minggu kemudian...


Karena hari ini adalah hari Libur Carmel memilih untuk berjalan-jalan di tengah pusat kota. Ia hanya ingin menikmati sedikit waktu luangnya untuk sedikit bergembira.


Beberapa orang sedang berlalu lalang disana, dan beberapa lagi seperti sedang berkumpul, sepertinya ada sesuatu yang sangat menarik sedang ditonton, membuat Carmel juga sedikit penasaran dan masuk menerobos kerumunan tersebut.


“Wah. Romantis sekali ya...”


“Iya...Wanita itu pasti bahagia sekali di perlakukan seperti itu oleh pasangannya.”


“Permisi...Permisi...” Ucap Carmel. Matanya menatap hangat kearah depan. Menemukan sepasang insan sedang melakukan marriage proposal.


“Setelah sekian lama, akhirnya aku berani memutuskan ini.... Yumi hari ini aku minta mu menikahlah dengan ku, temani aku seumur hidupku.”


Wanita itu mengangguk-angguk, memberi arti bahwa ia menerima lamaran prianya itu.


Carmel tersenyum. Entah untuk alasan apa, tapi dia bisa merasakan betapa bahagianya menjadi wanita itu, dan seandainya itu adalah Lim dan dirinya. Tapi itu tidak akan mungkin.....


Setelah melihat hal manis itu, Carmel kembali melanjutkan langkahnya, ia teringat sesuatu, sebentar lagi musim dingin dan ia sangat ingin memberi syal rajutan untuk Lim.


Di salah satu pusat perbelanjaan, Carmel sedang memilih-milih syal yang cocok dengan Lim.


“Bungkus kan yang navy untuk ku.” Ucap Carmel menunjuk kearah pilihannya.


“Yang ini nona...”


“Ya yang ini...” Ucap Carmel lagi.


Carmel berjalan membawa paper bag yang berisi Syal itu dengan sangat gembira.


....


“Sayang, tunggu sebentar....” Tahan Carol


“Apa lagi...”


“Ini coba dulu...” Carol langsung melilitkan syal berwarna brown ke leher Lim.


“Untuk apa benda ini?.”


“Kau ini, sebentar lagi musim dingin kau tahu ! Ini apa kau suka dengan ini. Aku lihat ini cocok denganmu.” Carol memperhatikan dengan seksama.


“Kau mau yang ini nona?.” Tanya penjaga toko itu.


“Ya yang ini. Aku ingin sepasang dengan warna yang sama, apa ada?.” Tanya Carol lagi.


“Ya tentu... Aku akan mengambilnya untukmu.” Ucap Penjaga toko itu ramah.


Dari jarak beberapa meter Carmel dibuat terkejut dengan adanya Lim dan Caroline ditempat ini, ia pun segera memutar arah untuk menghindari kedua orang itu.


“Kenapa harus ditempat seperti ini...” Gerutu Carmel sambil berjalan dengan langkah cepat.


“Nona Abigail...” Panggil seseorang. Tentu saja Carmel sudah tahu siapa yang bisa menyebut namanya seperti itu.


“Kenapa kau terburu-buru sekali. Apa kau sengaja menghindari ku.” Tanya nya.


“Hah. Bukan, tidak seperti itu Tuan Chen....”


Chen menatap tajam kearah Carmel.


“Maaf maksud ku Chen...” Ulang Carmel. Ia bingung karena sebenarnya ia memang sedang menghindari seseorang sekarang tapi itu sama sekali bukan pria ini.


“Apa itu.” Tanya Chen.


“Hah. Ini hadiah...” Ucap Carmel gelagapan.


“Untuk ku...” Tanya Chen.


“Mana mungkin...” Jawab Carmel spontan.


“Maksud ku, kau tidak mungkin suka barang murahan seperti ini. Sebenarnya ini hadiah untuk seseorang.” Ujar Carmel jujur.


“Ah...Tidak...Tidak...” Batin Carmel. Matanya semakin membesar kala melihat Lim dan Carol dari depan menuju ke arahnya.


Carmel hanya menunduk, dan berpura-pura tidak melihatnya, tapi Lim cukup jeli dari kejauhan pun, ia tahu itu adalah wanitanya.


“CARMEL...” Seru Lim. Kali ini, ia tidak bisa berbahasa formal, apalagi melihat kekasihnya sedang bersama pria lain.


“Hai Carmel...” Sama Caroline yang masih menggandeng lengan Lim. Dan semakin memperlihatkan kemesraan dirinya dan Lim.


“Wow, Lim dan Nona Caroline? Apa kalian juga menghabiskan akhir pekan kalian disini.” Ucap Chen.


“Apa yang kau lakukan disini?.” Tanya Lim.


“Tuan Lim...” Hormat Carmel.


“Kau ini lucu sekali, ini tempat umum... Siapapun bisa datang ke sini kan.” Sambar Chen, seolah membalas semua ucapan yang diberikan Lim pada Carmel.


“Carmel...” Ulang Lim.


“Sayang... Kau tidak lihat dia juga sama seperti kita.” Ucap Caroline. Ia memperhatikan paper bag yang dibawa oleh Carmel.


“Hei. Apa kau juga membeli syal...Aku baru saja membeli sepasang disana.” Tambah Carol, mengangkat paper bag yang dibawanya.


“Ya nona...” Jawab Carmel.


“Carmel, apa kau tidak ingin menjelaskan apapun padaku ?.” Lim terus menatap Carmel yang sama sekali tidak ingin melihat matanya.


“Aku... Aku...Aku...” Jawab Carmel gugup.


“Dia bilang ingin memberi hadiah untuk seseorang. Kenapa Tuan Lim sangat penasaran sekali...” Sambar Chen.


Hening...


“Ya, tadinya aku ingin memberikannya pada seseorang sangat spesial. Tapi aku berubah pikiran. Kurasa ini bukan hadiah yang tepat, mungkin saja seseorang sudah memberikan ini juga. Bodoh sekali...” Ucap Carmel sambil tersenyum, meskipun hatinya seperti sedang teriris-iris mengatakan hal itu.


“Sayang sekali Carmel...” Sambung Caroline.


“Berikan itu padanya...” Seru Lim.


“Tidak... Karena hari ini juga aku baru saja berpikir bahwa ini tidak akan berhasil. Aku harus mengakhirinya.” Tegas Carmel.


“Tuan Lim, Tuan Chen, nona Caroline. Aku pergi sekarang.” Pamit Carmel, dan berjalan cepat.


“Carmel...”


“Lim..Sudah biarkan saja sepertinya dia wanita yang sedikit aneh.” Ucap Carol, menahan Lim tetap disisinya.


“Aneh? Nona Caroline ini, sepertinya tidak paham atau sedang bersandiwara...” Singgung Chen, sembari memberi senyum aneh di sudut bibirnya.


Carol hanya menatap Chen Xu, diam.... Entah apa maksudnya, hanya dirinya dan Chen Xu yang tahu.


“Sayang ayo kita pergi dari sini.”


“Aku tidak bisa. Kau pergilah dulu.”


“Lim... Aw....” Cegah Caroline.


“Ada apa?.”


“Kepala ku sakit sayang.” Ringis Carol lagi.


“Baiklah... Kita ke rumah sakit sekarang.”


“Tidak aku hanya ingin pulang... Mungkin hanya kelelahan... Kau tidak mungkin meninggalkanku seperti ini kan.” Melas Carol.


“Baiklah...” Lim kembali mengalah. Padahal ia sangat ingin mengejar Carmel sekarang, tapi Carol tiba-tiba aja seperti ini.


Bersambung...