Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 24



“Lim kau sudah bangun !!.”


“Aku tidak bisa tidur sejak semalam.” Ucap Lim.


Carmel langsung reflek menyentuh dahi Lim.


“Kenapa? Apa kau sakit... Apa yang kau rasakan! Sudah aku bilang, sebaiknya kita kerumah sakit saja kan...” Cemas Carmel.


“Bukan itu. Aku takut kau pergi... Aku hanya ingin terus memastikan kau tetap disini bersamaku.” Ucap Lim mengambil tangan Carmel.


Carmel menarik tangannya dari genggaman Lim. Dan segera beranjak dari tempat tidur.


“Aku akan membuatkan mu teh hangat, setelah ini pulanglah.”


“Kalau aku tidak mau pergi bagaimana ?.” Tanya Lim.


“Kau tidak mungkin bertahan disini.”


“Aku akan disini. Sampai kau mau ikut dengan ku kembali ke sana...” Tekan Lim


“Aku tidak bisa Lim...!.”


“Kenapa? Sejak awal tempat kita disana !.” Lim menyibak selimutnya dan berdiri tepat dihadapan Carmel.


“Kita kembali ketempat kita semula sayang. Kembali padaku dan hidup seperti dulu lagi. Hidup bersama-sama denganmu, itu hal yang paling ku inginkan saat ini...”


“Jangan mengatakan sesuatu yang selamanya tidak akan pernah bisa kau lakukan. Kau hanya menciptakan dongeng untuk kita ! Apa kau tidak sadar itu.”


“Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi. Aku hanya sangat ingin memelukmu saat ini.”


Tap.


Lim kembali memeluk Carmel.


“Lim...Aku mengatakan itu bukan karena aku serius mengatakannya. Aku tidak mencintaimu lagi.” Ucap Carmel, agar Lim mau melepaskannya.


“Tapi semalam yang kudengar bukan itu. Aku tahu, kau tidak mencintaiku di mulutmu. Tapi di hatimu, kau sangat mencintaiku Carmel...” Balas Lim.


“Kau salah Lim....”


“Sttttsss.Akan lebih salah jika aku menganggap bahwa itu benar...”


“Lepaskan aku atau...”


“Awww.....Awwww....” Ringis Lim, bahkan Carmel belum sama sekali menyentuhnya.


Carmel yang melihat itu sontak saja terkejut.


“Lim kau kenapa? Katakan padaku dimana yang sakit ?.” Tanya Carmel dengan wajah cemasnya.


Lim tersenyum melihat reaksi Carmel, dari sini Carmel mulai menyadari bahwa Lim hanya ingin mempermainkannya saja.


“Lim aku serius sebaiknya kau pulang sekarang !.” Usir Carmel.


“Kau ini... Jelas-jelas sangat peduli. Bagaimana bisa kau mengelak lagi.... Kau jelas sangat memperdulikan ku Carmel. Kau tidak mungkin tidak mencintaiku.” Lim begitu memahami Carmel, bahkan ia tahu kapan wanita itu jujur dan kapan dia berbohong. Tapi satu hal Carmel tidak bisa menatap mata Lim, saat ia sedang berbohong. Dan sejak tadi wanita itu terus saja menghindari kontak mata dengannya.


“Lihat aku... Kau harusnya melihat lawan bicaramu.” Ucap Lim.


“Tidak mau !.” Tolak Carmel.


“Carmel, apa sebaiknya kita kembali ke Jerman saja !.”


Kalimat itu membuat Carmel sama sekali tidak mengerti mengapa Lim tiba-tiba mengatakan ingin kembali ke Jerman.


“Kurasa kita lebih bahagia disana... Bukankah banyak hal yang tidak bisa kita hindari di sini.” Tambah Lim lagi.


Carmel hanya diam. Dan itu membuat Lim cukup lelah sehingga ia memaksa wanita ikut duduk bersamanya.


“Ah. Kenapa kau diam saja. Aku sampai lelah menunggumu berbicara.” Lim menarik Carmel duduk di atas pangkuannya.


“Lim... !.” Ucap Carmel pelan.


“Jangan pernah membawaku lari bersamamu. Aku bukan pelari yang handal. Sekali, dua kali, mungkin kita bisa menghindar, tapi mungkin yang ke tiga kali----”


“Carmel...Sekalipun ketiga, empat atau lima kali kita tidak bisa menghindar, aku tidak akan pernah meninggalkanmu ditengah jalan sendirian..Aku sikap menghadapi apapun untuk mu.” Tandas Lim.


“Tapi aku tidak siap menghadapi semua ini bersamamu Lim. Banyak beban yang harus ku tanggung. Kau lihat aku tidak bisa bersabar lagi...Kau akan terus melihat ku yang seperti ini seterusnya. Carmel yang pemarah, Carmel yang cemburu, dan Carmel yang akan terus mengatakan ingin berpisah darimu, dan Carmel yang akan menghindari mu... Apa aku salah Lim? Aku hanya ingin menyelamatkan hatiku, meskipun sudah sangat terlambat untuk menyelamatkannya... Tapi setidaknya, aku masih punya setitik harapan, untuk tidak membuatku hancur sepenuhnya...” Ungkap Carmel dengan nada berat dan sendu.


“Aku yang salah Carmel. Kau marah, kau cemburu, kau ingin berpisah pun... Itu semua karena ku. Aku yang salah.”


“Carmel...” Lim kembali memeluk Carmel.


“Aku akan mengakhiri semua ini, tolong kali ini saja beri aku waktu...” Pinta Lim.


“Tapi janji mu !.”


“Tenanglah, aku tidak akan melupakan janji itu. Aku bisa menepatinya. Tanpa harus mengorbankan mu. Aku akan mengatakan itu pada Carol.”


“Dia tidak akan bisa menerima keputusan bodoh mu ini. Dia mencintaimu Lim.” Ucap Carmel.


Bohong jika Carmel tidak bisa melihat itu, Carmel juga seorang wanita dan dia tahu dimata wanita itu, Caroline jelas mencintai Lim. Bahkan dia selalu berusaha menunjukan pada semua mata bahwa hanya dia satu-satunya wanita yang dapat menaklukkan hati Lim.


“Tapi aku tidak. Bukankah aku berniat menjaganya ! Jika aku bersamanya namun tidak mencintainya. Untuk apa Carmel ?! Aku tidak bisa... Aku ingin bersamamu bukan bersamanya, jadi jangan bertanya mengapa aku selalu mencari mu setiap waktu. Karena yang aku butuhkan jelas bukan dia, tapi KAU ! Aku tidak membuatmu menjadi pelarian ku sama sekali, jadi jangan berpikir aku ada disini hanya untuk meniduri mu. Itu sebuah kekeliruan...” Lim terus berusaha meyakinkan Carmel bahwa hatinya, pikirannya, semuanya hanya untuk wanita itu.


“Aku akan memberimu sekali lagi kesempatan. Dan ini yang TERAKHIR. Hanya untuk kali ini saja. Aku tidak ingin berada di hubungan seperti ini selamanya Lim. Aku tidak ingin pria yang ku miliki hanya sekedar datang dan pergi, dan menghabiskan banyak waktu dengan seseorang diluar sana. Aku mau kau tetap ada bersamaku... Aku tidak ingin lagi melihatmu bermesraan dengan wanita selain aku. Di manapun, kapanpun kau tidak boleh lagi melakukan itu.... Sudah cukup bertahun-tahun kau menyakitiku dengan memperlihatkan itu semua.” Ucapan Carmel terhenti, ia memukul dadanya.Seakan ada sesuatu yang sangat menekan. Hingga ia sangat kesulitan untuk bernafas.


“APA KAU BISA ! .” Tanya Carmel. Mata nya terasa panas, seperti tidak bisa mengontrol emosi dan rasa sedihnya. Hingga air matanya tak bisa di bendung lagi.


Jika kau tidak bisa maka lupakan saja...Aku tidak---”


“Aku bisa. Aku akan melakukannya sayang. Aku janji padamu. Kau tidak akan melihat apapun lagi, tidak kecuali hal yang akan selalu membuat tersenyum--- Aku janji padamu Carmel. Sekarang kau sudah memaafkanku...”


Carmel menjawabnya dengan mengangguk.


“Aku sangat merindukanmu Mel...” Ucap Lim.


“Aku juga, aku sangat tersiksa karena ini.” Tangis Carmel.


Lim yang melihat air mata Carmel kembali keluar, segara menghapus dengan ibu jarinya. Tetapi itu tidak bisa meredakan tangis Carmel.


Hiks...Hiks...Hiks...


Carmel menangis tersedu-sedu, bahkan nafasnya sampai terputus-putus hanya karena terus menangis.


“Jangan menangis lagi sayang. Apa aku menyakitimu lagi sekarang?.” Tanya Lim, mengusap-usap punggung Carmel, agar wanita nya itu bisa lebih tenang.


“Ak---uhhh pik---iirrr. Selamanya kit---ah tidak aka--an seperti i---in lagi.” Carmel terbata-bata, karena tangisnya yang tidak bisa dikontrol olehnya.


“Itu tidak mungkin sayang. Aku tidak mungkin sanggup kehilanganmu.”


“Sekarang lihat aku. Apa kau mau kita menikah ?.” Tanya Lim. Mengangkat wajah Carmel dan menahannya.


“Lim kau tidak. mungkin serius kan?.”


“Apa aku terlihat main-main?.” Lim balik bertanya.


“Setelah semua ini selesai. Aku akan mendaftarkan pernikahan kita.”


Tanpa menunggu persetujuan dari Carmel, Lim langsung mencium bibir ranum kekasihnya itu. Bibir yang sangat ia rindukan, ******* demi ******* yang meninggalkan kesan lembut disetiap akhir sentuhannya.


“Mmmh...” Desah Carmel. Lim berhenti disaat Carmel masih menginginkan bibir seksi itu.


“Mel...Apa aku boleh...” Tanya Lim yang ingin melepas kaos yang Carmel kenakan.


“Tapi jangan berpikir-----.”


“Ya. Kau boleh...” Ucap Carmel memotong ucapan Lim. Dan membiarkan tangan kekar pria itu meloloskan kain yang menutupi tubuhnya.


💕


Bersambung....