
*Ting, satu pesan masuk ke ponsel Carmel, saat dirinya masih bersama Lim. Ia membacanya sekilas dan menyembunyikannya dari Lim.
✉️Unknown Number
Temui aku, jika kau masih punya malu. Malam ini Deng Dei Restoran pukul 8.
“Ada apa sayang?.”
“Tidak. Bukan apa-apa !.” Jawab Carmel berbohong.
“Sepertinya tadi ponsel mu bunyi. Siapa?.” Lim bertanya kembali.
“Tidak ada. Itu hanya Daren. Dia ingin mengajak ku keluar malam ini.”
Lim menaikan alisnya menatap Carmel, seperti ada yang tidak beres.
“Untuk apa Daren mengajak keluar? Apa dia tidak tahu aku pasti tidak akan mengijinkan mu . Apa lagi bersama pria lain.”
“Maksudku bukan Daren saja, Feng dan Karin juga ikut . Jadi ijinkan aku malam ini ya...” Pinta Carmel, memaksa Lim untuk mengijinkannya.
“Tidak. Kalian bisa bertemu di kantor besok. Aku tidak ingin mereka mencoba meminta mu untuk meninggalkan ku lagi.” Tegas Lim.
“Lim, Please...Kau tahu itu tidak akan terjadi kan...” Melas Carmel.
“Baiklah tapi aku harus ikut. Siapa yang bisa menebak, apa yang akan terjadi disana. Jika aku tidak menemanimu.”
“Lim. Ini masih terlalu awal. Kita baru saja mengatakan ini pada mereka. Beri waktu untuk teman-temanku bisa menerima semua ini dulu. Aku mohon padamu...” Pinta Carmel begitu lembut. Membuat Lim benar-benar tidak bisa menolaknya.
“Tapi Sayang... ”
“Lim...” Tahan Carmel.
“Aku mohon ya...” Tatap Carmel penuh harapan.
“Baiklah. Kali ini saja Carmel, setelah ini, kemanapun kau pergi. Aku akan menemanimu. Dengan atau tanpa ijin darimu. Apa kau mengerti !.” Seru Lim.
“Ya aku mengerti. Kali ini saja. Terima kasih sayang.” Girang Carmel, karena pria posesifnya itu melunak juga.
“Waktumu hanya 3 jam, tidak lebih dari itu.”
“Tentu tidak !.” Seru Carmel, tanpa membantah.
“Maaf Lim.Aku tidak bisa mengatakan padamu... Kau selalu melindungi ku, kali ini biarkan aku menghadapinya sendiri. Tapi aku janji setelah bertemu dengan orang misterius itu, aku akan menceritakan semuanya padamu. Aku berjanji...” Suara hati Carmel berkata.
“Tapi kau tidak bisa pergi sebelum aku benar-benar puas dengan mu. Kau tahu aku tidak bisa jauh darimu kan.”
“Lim, sayang...!.” Tahan Carmel.
“Kenapa lagi, kau ingin menolak ku lagi. Aku sudah melakukan yang kau minta.”
“Aku tidak akan menolak mu. Tapi bisakah kita melakukannya nanti setelah aku kembali.”
“Tapi aku menginginkanmu sekarang.” Lim mencium tengkuk Carmel lembut. Sehingga membuat wanita itu menarik nafas panjang. Tapi Carmel benar-benar tidak bisa sekarang, ia harus menahan diri untuk itu.
“Aku akan lelah jika melakukannya sekarang. Kau tahukan aku akan keluar. Setelah ini saja ya. Aku janji padamu.”
“Sebentar saja..Sayang aku tahu kau juga menginginkan ini kan.” Tangan Lim membelai lembut kaki jenjang itu.
“Kau membuat aku tidak bisa menolak mu, baiklah kita selesaikan dengan cepat.” Ucap Carmel kemudian melingkari tangannya di tengkuk Lim.
...----------------...
Malam hari nya.
Carmel benar-benar datang memenuhi undangan dari seseorang yang tidak dikenal nya itu. Tapi dia sangat tahu undangan ini pasti berhubungan dengan Lim dan dirinya.
“Nona Carmel.” Seorang waiters menghampirinya.
“Ya itu aku.”
“Silahkan ikut kami...” Ucap nya menuntun langkah Carmel.
Tak.
Tak.
Tak.
Langkah Carmel menuju sebuah ruangan VVIP yang tertutup rapat di ujung sana.
“Silahkan Nona.”
“Kau datang juga !.” Seru wanita yang masih membelakanginya itu.
“Siapa kau?.” Tanya Carmel berjalan mendekat.
“Kau tidak kenal aku?.” Wanita itu segera berbalik.
“Nyonya Naomi.” Seru Carmel, menunduk memberi hormat.
“Kau sangat tahu aku ternyata, berarti aku tidak perlu menjelaskan siapa aku lagi kan !.”
“Apa ini soal Lim !.” Tanya Carmel.
“Tidak ini bukan hanya soal Lim tapi juga Putri ku ! Kau memanggil ku Nyonya, tapi kau sama sekali tidak menghormati ku. Katakan apa yang kau inginkan, aku akan memberikan mu apapun. Kau mau uang, atau kau mau apa saja katakan padaku !.” Ucap Naomi langsung ke intinya.
“Aku tahu kau ingin meminta ku menjauh dari Lim. Tapi aku tidak akan melakukannya !.”
“Cih. Kau ternyata sangat pintar dan licik. Aku tahu kau tidak akan perlu apapun dariku. Karena kau bisa mendapatkan semuanya jika bersama Lim kan. Tapi kau tidak akan mendapatkan apapun Carmel ! .”
“Aku tidak peduli itu !.”
“Tapi Lim butuh itu semua... Kau tidak akan cukup dan pantas untuknya!.” Naomi terus saja merendahkan Carmel.
“Aku tidak akan terpengaruh sama sekali ucapan mu. Aku mencintai Lim. Dan aku tidak akan meninggalkannya.” Tegas Carmel.
“Aku tahu semua tentang mu ! Kau lahir dan apa yang menimpah keluargamu aku tahu semua itu. Carmel kau adalah penyebab kematian ayah dan ibu mu kan. Itu sebabnya kau di buang begitu saja.” Serang Naomi lagi.
“Tidak itu tidak benar...” Tolak Carmel.
“Tentu saja itu benar. Aku mengerti kau tidak sempat mendapat didikan dari orang tua mu. Kau sendirian, dan itu membuat mu tidak memiliki perasaan sama sekali. Kau bahkan tega merebut Lim dari putriku.”
“Hentikan. Aku sama sekali tidak ingin mendengarkan ini.”
“Carmel tunggu. Aku berbicara ini sebagai seorang ibu dan wanita. Kau tidak akan mengerti. Kau sudah terbiasa hidup sendiri tapi putri ku tidak sepertimu, dia hanya bisa menjalani hidup jika bersama Lim.” Pinta Naomi.
“Maaf Nyonya, aku tidak bisa !.” Meskipun begitu hati kecil Carmel pun tidak bisa menapik bahwa memang benar, dirinya lah yang salah berada di tengah-tengah hubungan Lim dan Caroline. Dialah yang membuka pintu agar Lim masuk kedalam hidupnya. Dan sekarang seseorang datang dan meminta Carmel untuk mengusir Lim pergi. Tentu bukan hal yang mudah melakukannya, bahkan Carmel juga sudah mengorbankan banyak waktunya untuk bersama Lim selama ini.
Tapi melihat seorang ibu memohon. Meskipun dia tidak tahu bagaimana rasanya memiliki ibu, Carmel jelas tahu, seorang ibu akan memperjuangkan apapun untuk putrinya.
“Jangan karena kau merasa kesepian dengan hidupmu, kau bisa merebut apapun dari hidup seseorang. Jika kau perempuan baik-baik kau tidak akan melakukan ini.” Teriak Naomi.
Carmel menghentikan langkahnya. Dan berbalik membalas ucapan Naomi padanya.
“Nyonya aku memang tidak baik. Tapi kau perlu tahu satu hal. Disini bukan hanya aku yang mencintai Lim, tapi Lim juga mencintaiku.”
“Jika Lim mencintaimu. Dia tidak akan membuat mu seperti ini. Kau tahu, Lim sudah meminta Caroline untuk menikah dengannya. Mereka akan menikah. Tapi aku tidak ingin seseorang merusak kebahagiaan putriku.”
“Tidak kau berbohong.”
“Untuk apa aku berbohong. Kau bisa tanyakan itu pada Lim. Jika pria itu mau berkata jujur padamu.”
“Tidak itu tidak mungkin.” Carmel terus menolak mempercayai ucapan Naomi.
“Kau tidak percaya. Kau bisa menanyakan itu pada putriku.” Naomi segera mengeluarkan ponselnya.
Memanggil Caroline...
Tidak perlu menunggu lama panggilan itu langsung dijawab dengan sangat cepat.
“Halo ibu...” Jawab Caroline.
“Hai sayang...” Balas Naomi, seakan tidak terjadi apa-apa.
“Kapan kau akan kembali kesini? Aku ingin cepat kembali ke Shanghai ibu.”
“Aku sedang di Shanghai saat ini.”
“Apa benarkah? Kau keterlaluan sekali. Bagaimana, apa Lim dan ibu sedang mempersiapkan sesuatu sekarang. Lim keterlaluan sekali, setelah mengatakan ingin menikahi ku, dia malah tidak bisa dihubungi. Ibu apa kau bersama Lim sekarang?.” Tanya Caroline.
“Lim... Dia sedang.... Eh sayang nanti ibu telpon lagi ya.”
“Tapi ibu...”
Tit. Naomi langsung mengakhiri panggilan itu.
“Kau dengarkan Carmel ? Putri ku sedang bahagia saat ini, karena Lim sudah mengatakan ingin menikahinya. Kau seharusnya mundur sekarang, karena Lim, dia bukan mencintaimu... Dia hanya nyaman dengan keberadaan mu, karena sedang jauh dari putriku.”
“TIDAK. KAU BOHONG.” Kali ini ucapan Naomi benar-benar membuat pertahanan Carmel runtuh. Ia berlari pergi dan tak ingin mendengar apapun lagi.
Naomi hanya tersenyum puas, karena ia merasa telah berhasil membuat Carmel akan benar-benar melepaskan Lim kali ini. Dan putrinya akan bahagia.
Bersambung....