
Malam harinya, dalam perjalan menuju Min Jiang Restoran. Tempat dimana para kolega bisnis Martin sedang berkumpul malam ini.
“Ngomong-ngomong, apa anda sudah bekerja lama dengan Tuan Martin.” Tanya Carmel, membuka obrolan, agar perjalan ini tidak terlalu membosankan.
“Saya sudah bersama Tuan Martin, sejak ia masih belum berkeluarga Nona.” Jawabnya.
“Wah. Itu bukan waktu yang sebentar pak.” Ujar Carmel. “Hari ini putranya ulang tahun, berapa usianya sekarang?.” Tanya Carmel.
“Sekarang usia Tuan muda genap 6 tahun. Tuan muda itu anak yang sangat ceria sekali, sangat jahil.”
“Itulah yang akan di lakukan anak seusianya kan.”
“Dia tampak baik-baik saja, meskipun ....” Ucapannya terhenti.
Carmel tahu, semua mengasihani putra dari bos nya itu. Bahkan semua seperti bisa merasakan, tidak mudah menjadi anak seusia dirinya, dengan penyakit yang kapan saja bisa membahayakan dirinya. Entah dia menyadarinya atau tidak....
“Aku mengerti...” Seru Carmel
“Jika anda melihatnya. Anda pasti akan mengatakan, dia anak yang sehat dan baik-baik saja.”
“Kurasa dia memang anak yang kuat.” Ucap Carmel.
.............
Sesampainya di Min Jiang Restoran. Carmel segera di sambut dan diarahkan ke meja yang telah di siapkan.
Kejutan lain ternyata datang menyambut Carmel malam itu.
“Selamat datang, silahkan duduk Nona Abigail.” Sebut orang itu. Hanya ada satu orang yang terakhir kali menyebut nama itu, dan memang dialah orangnya.
“Tuan Chen !.” Ucap Carmel pelan. Meskipun ia amat terkejut dengan pertemuan tidak direncanakan ini. Carmel berusaha menunjukan profesionalitas nya pada tamu lain yang ikut bergabung di sana.
“Selamat malam semuanya. Terima kasih atas jamuan makan malam hari ini.” Ucap Carmel, kemudian duduk di kursi yang telah Chen siapkan untuknya.
“Baiklah karena kita sudah lengkap sekarang. Mari kita mulai makan malam ini.” Ajak Chen pada semuanya. Tidak heran Chen adalah tamu penting di acara malam ini.
Makan malam berjalan lancar...
“Nona Carmel. Martin pernah bercerita pada ku. Kau adalah mantan staf di Abraham Group. Benarkah begitu?.”
Seperti duga Carmel, pertanyaan yang selalu orang-orang lontarkan padanya..
“Ya dulunya seperti itu.” Jawab Carmel seadanya.
“Apa kau di pecat?.”
“Tidak. Aku mengundurkan diriku.” Tegas Carmel.
“Bukankah sayang sekali meninggalkan pekerjaan itu.”
Carmel menunduk terdiam.
“Tidak perlu ada yang di sayangkan Tuan Kevin. Lagipula nona Carmel telah menetapkan keputusannya. Tentu saja dia tidak akan menyesalinya. Justru mereka akan kehilangan 1 orang berbakat ini.” Ujar Chen. Setalah ucapan Chen barusan, semua orang tampak mengahlikan pembicaraan, seakan tahu bahwa pria itu sedang memihak pada wanita di sampingnya.
Setelah selesai dengan acara mereka. Chen dan Carmel menyisihkan waktu mereka untuk ngobrol sebentar sebagai orang yang pernah saling mengenal.
“Jadi kau memilih menetap di sini Nona Abigail?.”
“Ya.” Jawab Carmel tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum. Sepertinya kau ingin menertawai sesuatu.” Cerca Chen
“Tidak. Aku heran saja. Kau selalu menyebut namaku, berbeda dari yang lainnya.”
“Sepertinya kau sangat bahagia disini?.” Tanya Chen lagi.
“Aku selalu bahagia dimanapun aku berada.....”
"Bagaimana dengan shanghai? Kurasa tempat itu juga sangat merindukanmu sekarang. Apa kau tidak merindukannya?." Tanya Chen.
"Aku disini berkerja, jika aku seorang penganguran. Mungkin aku bisa kembali ke sana..."
Chen menatap Carmel dalam. Ia sangat tahu tidak bagi wanita dihadapnya saat ini, melalui ini semua.
“Kau tahu, aku sangat senang bisa bertemu dengan mu lagi. Senang bisa melihat mu baik-baik saja...” Ucap Chen.
“Lagi-lagi kita bertemu di tempat yang tak terduga seperti ini.” Ujar Carmel, terkekeh.
“Setidaknya hari ini kau tidak muntah di baju ku lagi.” Goda Chen.
Mereka pun tertawa bersama.
“Apa kau pergi karena Lim, nona Abigail?.” Chen mulai bertanya hal yang serius.
“Entah kenapa, bahkan setelah aku memutuskan pergi. Orang-orang masih terus menyebut nama itu di depanku...”
“Dia bukan orang biasa. Semua orang mengenalnya.”Jelas Chen.
Hening beberapa saat....
“Sudah lupakan saja. Aku akan menetap beberapa minggu di sini. Aku sangat senang jika kau bersedia menemaniku beberapa hari di kota ini.”
“Tidak masalah, waktu ku sangat fleksibel untuk menunggu mu, setidaknya sebelum aku pergi kau harus membawaku mengelilingi kota ini.”
“Baiklah, tapi aku tidak berjanji untuk bisa menepatinya.”
“Ooo..Ayolah Carmel.” Seru Chen, melihat keraguan dari wanita itu. “Boleh pinjam ponselmu!.”
“Ini...” Carmel langsung memberikannya.
Chen segera merampas nya, dan memasukan nomor ponsel nya di sana.
“Aku tunggu kabar dari mu nona Abigail.” Seru Chen lagi.
“Baiklah. Kalau begitu aku kembali sekarang ya.” Seru Carmel seperti terburu-buru.
“Aku antar!.” Tawar Chen.
“Tidak... Bos ku sangat baik. Dia menyediakan supir untuk mengantar jemput ku pulang untuk pertemuan malam ini.”
“Seharusnya dia tidak melakukan itu. Agar aku bisa mengantar mu.” Canda Chen lagi.
Carmel kembali tertawa. “Kalau begitu aku kembali sekarang. Bye ....” Pamit Carmel.
“Selamat malam Carmel Abigail. Aku tunggu kabar dari mu.”
Chen terus memperhatikan langkah wanita itu, sampai ia benar-benar pergi.
...Carmel POV...
Aku tidak mengerti, apa dunia ini memang terlalu kecil, sehingga ada perjumpaan lain yang disediakan oleh semesta untuk seseorang sepertiku. Yang masih sedang mencoba meninggalkan masa lalu, demi melanjutkan hidup.
Entah kenapa... Alasan ku untuk melanjutkan hidup, membuat hidupku seakan terhenti begitu saja. Waktu yang ku lalui, seakan tak pernah benar-benar berarti. Sejauh ini masih terus mencoba, tetapi benar kata Chen ! Orang yang ku hindari bukanlah orang biasa. Kemanapun langkah ku, namanya akan terus ku dengar.
Bahkan setelah kepergian ku, kau masih saja terus menyiksaku Lim. Apa ini hukuman untuk ku?
“Nona, kita sudah sampai.” Seru Ben.
Carmel bahkan sampai tidak sadar bahwa ia sudah berada di depan lobby apartemennya.
“Hah iya...” Ucap Carmel. “Oya. Pak... Bisa berikan ini pada tuan Martin.” Carmel.l, memberikan sekotak kado, dari paper bag yang dibawanya sejak tadi. “Ini kado untuk putranya. Aku tidak tahu apa dia akan menyukainya. Tapi sampaikan selamat ulang tahun untuk nya.” Pinta Carmel, tulus.
“Baik Nona, akan saya sampaikan.” Jawab Ben.
..........
✉️ Chen
Apa kau sudah sampai dengan selamat Nona Abigail
✉️ Carmel
Ya baru saja.
✉️Chen
Baiklah. Kalau begitu selama Istirahat nona Abigail.
✉️Carmel
Ya selamat malam tuan Chen.
...Kediaman Martin...
“Tuan Nona Carmel menitipkan ini untuk tuan muda?.”
“Apa ini?.” Tanya Martin
“Ini kado untuk Tuan Muda.”
“Baiklah kau bisa pergi sekarang.” Titah Martin.
Martin masih memperhatikan kado kecil itu, dan bertanya-tanya apa yang diberikan wanita itu untuk putranya, dan haruskah dia memberikannya pada Billy putra kecilnya itu.
“Daddy !.” Panggil Billy, yang ternyata memperhatikan ayahnya.
“Hai sayang, kemari lah.” Panggil Martin
“Apa ini hadiah untukku?.” Tanya Billy melihat sekotak kado di atas meja kerja Daddy nya.
“Tidak ini bukan...”
“Berikan itu padaku.” Pinta Billy sebelum Martin mencegahnya.
“Iya ini hadiah mu, dari salah satu karyawan ayah di kantor.”
“Sepertinya karyawan mu itu sangat baik. Selama ini tidak ada yang pernah memberikan kado untuk ku, selain Daddy.” Ujar Billy lagi.
“Ya dia memang baik." Jawab Martin.
.........Bersambung........