Silent Love

Silent Love
My Partner in Bed 25



Sepanjang hari hanya dihabiskan Lim dan Carmel di atas tempat tidur. Entah karena cuaca yang membuat mereka lebih memilih bermalas-malasan atau mungkin sesuatu membuat mereka lebih betah untuk terus berada di atas tempat empuk itu. Apapun alasannya, sekarang Lim dan Carmel tampak lebih baik dari sebelumnya.


“Jangan melakukan itu lagi...”


“Melakukan apa?.”


“Kau masih bertanya !? Jangan pergi seperti itu lagi Carmel. Apa kau mengerti... Berhenti membuat ku ingin mati karena harus mencintaimu dan kehilangan mu disaat bersamaan. Itu buruk sekali sayang...” Ujar Lim.


“Dan kau berhenti melakukan hal bodoh ! Kau tahu itu benar-benar bisa membunuhmu Lim.”


“Kau takut kehilanganku kan?.” Goda Lim.


“Jika terjadi sesuatu pada mu malam itu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.” Ucap Carmel dengan nada sendu.


“Kau memang takut kehilanganku.” Balas Lim.


“Aku takut setiap kali kau melakukan hal bodoh.”


“Stttssss. Sayang jangan marah-marah terus, kau membuat ku tidak tahan untuk mencium bibir mu itu.” Lim menahan, agar Carmel tidak berbicara lagi. Karena dia tahu wanitanya itu terlalu mengkhawatirkannya sekarang.


Cup.


Lim mencium bibir Carmel sekilas, kemudian melepaskannya.


...****...


Malam harinya, Lim tiba-tiba mendapat ide untuk membawa wanita yang di cintai nya itu berkeliling sambil menikmati suasana malam ditengah kota. Sesuatu yang sangat, bahkan hampir tidak pernah mereka lakukan sejak berada di Shanghai.


“Lim...Apa kau yakin. Ini terlalu ramai sayang.” Ucap Carmel yang tampak ragu.


“Kenapa aku tidak yakin ! Ayo sini...” Lim menggenggam tangan Carmel melewati banyak mata yang memandang mereka.


“Bukankah aku tidak pernah melakukan ini. Sekarang kita bisa melakukannya.” Tambah Lim lagi.


Carmel hanya bisa mengikuti kemauan Lim. Tapi jika dipikir-pikir Lim dan Carmel memang tidak pernah bergandengan tangan di depan umum seperti ini.


“Bukankah kita seperti berada di Berlin sekarang ? Saat kita bisa melewati banyak mata tanpa peduli siapa pun yang melihat kita.” Ucap Lim.


Carmel hanya tersenyum simpul.


“Bahkan aku bisa melakukan ini disana. Mencium mu berkali-kali, memeluk mu, menghabiskan banyak waktu denganmu. Aku tahu, kau pasti sangat merindukan ini kan.” Seru Lim, meminta jawaban dari Carmel.


“Aku hanya merindukan kita yang tidak bersembunyi, dan tidak bersandiwara disana. Kau ingat, aku bahkan tidak menyadari bahwa kekasih ku adalah tunangan wanita lain saat itu. Karena kau selalu bersama ku Lim. Tetapi aku mendadak harus sadar, bahwa kau bukan milik ku seutuhnya, saat kau membawa ku ke kota ini.”


“Ya... Kesalahan terbesarku bukan di kota ini. Tetapi, kesalahanku adalah, aku masih membuka pintu untuk wanita itu, sementara kau sedang berada di dalamnya.” Ucap Lim.


“Kau menyadarinya. Aku pikir kau tidak pernah berpikir tentang itu...”


“Bagaimanapun aku tidak pernah berniat membawa siapapun masuk kedalam hatiKu Carmel. Kau mungkin bukan yang pertama aku temui sebelum Carol. Tapi kau wanita pertama yang benar-benar aku cintai.” Ungkap Lim.


Sepanjang jalan Lim terus menggenggam erat tangan Carmel.


“Lim....”


“Terkadang aku sangat ingin lepas darimu. Aku ingin pergi dari kota ini, dan menemukan pria selain dirimu.”


Mendengar ucapan itu tentu saja membuat Lim tidak bisa berkomentar. Dia sadar wanita manapun, tidak akan ada yang ingin berada di posisi Carmel saat ini.


“Aku serius aku berpikir itu, hampir ratusan kali... Tapi aku gagal Lim. Nyatanya aku memiliki ribuan kali lebih banyak alasan untuk bertahan denganmu. Aku tidak tahu kenapa ! Mungkin aku bodoh. Tapi aku tidak perduli. Aku hanya ingin bersamamu.” Carmel dan Lim berbicara seolah hanya ada mereka saja di tempat itu sekarang.


“Ayo kita pulang...” Ajak Lim.


“Hei. Arah rumah ku ke sana. Kenapa memilih jalan ini.” Tahan Carmel.


“Kita tidak pulang ke sana sayang. Kita sudah punya tempat kita sendiri.”


“Aku tidak ingin ke apartemen Lim.”


“Sejak awal aku memilih tempat itu, bukan hanya untukku saja. Tapi untuk kita. Hari ini kau harus pulang. Kau sudah terlalu lama meninggalkan rumah.” Meskipun harus dengan memaksa, Lim benar-benar harus membawa Carmel pulang malam ini. Bagaimana pun tempat itu sejak awal Lim pilihkan untuk dirinya dan Carmel, bukan untuk wanita lain.


Dengan sedikit paksaan akhirnya Carmel mengikuti kemauan pria itu.


“Lim... Aku tidak siap membayangkan sesuatu tentang tempat itu...”


Tanpa menjawab Lim terus membawa Carmel dalam genggamannya.


Bersambung dulu yaa....