
“Jadi kau akan tetap bersamaku kan?.”
“Lim kau selalu saja memintaku untuk menjawab itu !.”
Hampir setiap kali Lim dan Carmel berbicara serius, pria itu selalu menanyakan hal yang sama padanya.
“Jika ingin aku akan pergi.” Tegas Carmel.
“Carmel bukan itu yang ingin aku dengar!.” Cegah Lim, sebelum wanita itu semakin membuatnya tertekan dalam sepatah kalimat yang keluar dari bibir mungil itu.
“Aku akan disini Lim ! Sampai saat ini aku masih bersamamu.”
“Kau tahu ! Aku hanya takut kehilanganmu !.”
“Cih. Jika kau kehilanganku. Kau masih banyak pilihan sayang... Aku tahu pria seperti mu, akan sangat mudah mendapatkan apa yang kau inginkan ! Lim Abraham Pengusaha tampan, muda, dan sangat kaya raya. Wanita mana yang akan menolak pesona mu itu !.”
“Aku anggap itu pujian darimu. Dan seperti katamu, aku memiliki segalanya. Bukankah kau cukup beruntung mendapatkan ku Nona Carmel Abigail.” Bisik Lim.
“Akan jauh lebih beruntung. Jika pria tampan dan kaya raya itu, benar-benar mencintaiku !.” Balas Carmel, menatap kearah kekasih hatinya itu.
“Hei. Kau tahu aku bukan hanya mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Dan begitu menginginkan mu terus di sisiku.” Lim mengatakannya begitu tegas dan yakin, seakan tidak ada kebohongan, dibalik tatapan mata coklat itu.
Carmel tersenyum saat mendengarnya, meskipun itu sudah berkali-kali Lim ucapkan, tetap saja rasanya seperti baru pertama kali mendengar kalimat itu. Kalimat cinta yang selalu menenangkan hati dan pikiran, membuat jantung berdebar-debar seperti ini adalah pertama kalinya kedua insan itu saling jatuh cinta, atau mungkin mereka kembali jatuh cinta setiap harinya.
“Kau tersenyum... Itu tandanya kau sangat menyukai jawabku !.” Simpul Lim.
“Ya... Aku selalu menyukai setiap kalimat manis mu itu. Saat kau mengatakan sangat mencintaiku... Apa kau tahu ? Hati ku sedang bersorak begitu keras didalam sini.” Carmel menyentuh dadanya, menunjukan bahwa tubuhnya bisa bereaksi sehebat itu, hanya dengan sebuah kalimat cinta yang di ungkapkan Lim padanya.
“Aku serius mengatakannya sayang.” Lim mulai merengkuh pinggang langsing milik wanita cantik itu dari arah belakang.
“Ya aku tahu. Aku sangat percaya padamu Lim. Bukan hanya kau yang merasakan itu. Aku juga sama, aku sangat mencintai mu lebih dari apapun... Kau benar. Aku beruntung, tapi yang paling membuatku benar-benar beruntung saat ini, karena aku memilikimu. Memiliki pria yang begitu mencintaiku.” Carmel memutar tubuhnya, sehingga ia bisa menatap wajah tampan pria yang masih dengan setia merangkul pinggangnya dengan sangat mesra.
Carmel kembali tersenyum, dan melingkarkan tangannya dengan sempurna di tengkuk Lim.
Cup.
Carmel mengecup bibir Lim sekilas. Dan dibalas dengan kecupan yang sama oleh Lim
Cup
Cup
Cup
Semakin lama, semakin dalam, dan semakin menggebu-gebu.
“Kita tidak akan menyelesaikannya secepat ini sayang.” Bisik Lim lagi.
“Apa kau ingin menyiksaku?.” Ucap Carmel, mengendus panjang.
“Aku ingin kita menikmatinya perlahan-lahan.” Ucap Lim, dengan nafas yang masih tidak beraturan setelah ciuman mereka tadi.
“Kau hanya ingin mempermainkan ku !.”
“Bahkan aku ingin lebih dari itu Mel !.”
“Pfffttt...” Carmel menahan tawa.
Bruk.
Lim menjatuhkan tubuh Carmel di atas sofa. Wanita itu jatuh dengan sempurna.
“Aku benar-benar menginginkanmu. Sangat menginginkanmu !.”
“Awww....” Pekik Carmel, saat Lim mengangkat dan menahan tangannya keatas. Namun itu tak berlangsung lama, suara itu perlahan berubah menjadi sebuah desahan lembut, saat satu tangan Lim mulai menjamah tiap inci bagian tubuhnya.
“Ahhh....”
“Kau sangat sensitif sayang.” Ucap Lim, kemudian menarik tangannya, dari balik baju Carmel. Lalu mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.
Setelah berhasil ia kembali mendekat dan membenamkan bibirnya di atas bibir merah muda wanitanya itu. Permainan bibir yang lembut, kemudian bertambah cepat dan sangat bergairah.
“Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.” Lim segera membalikan tubuh Carmel dan mulai memasukinya dari belakang.
Walaupun ini bukan pertama kalinya, entah kenapa selalu saja terasa begitu nikmat, ketika Lim mulai menyentuhnya seperti ini.
“Kau sempurna Carmel.” Puji Lim, sambil terus bergerak.
Dan Carmel. wanita itu bahkan sudah tidak bisa berkata-kata lagi, hanya ada desahan demi desahan lembut yang keluar dari mulutnya.
Sementara Lim dan Carmel sedang menikmati malam panjang indah mereka. Naomi baru saja mendarat di Shanghai, dan ia sudah menyiapkan segalanya, termasuk dengan tujuannya kembali, tanpa membawa putri kesayangan dan satu-satunya itu.
BERSAMBUNG...
Lanjut Sabtu....