
“Sayang aku akan merindukanmu...” Ucap Caroline, memeluk Lim.
“Ya.. baik-baiklah disana.”
“Kau akan merindukanku juga kan !.” Tanya Carol lagi.
“Ya tentu saja.” Jawab Lim.
“Ayo kita berangkat sekarang atau kau akan terlambat !.” Ajaknya lagi.
“Ya baiklah...”
...****...
Hari ini di kantor untuk menebus rasa bersalahnya karena telah membuat ketiga rekan kerjanya itu khawatir, Carmel memutuskan untuk mengajak Feng, Karin dan Daren untuk makan malam diluar bersama malam ini.
“Apa kalian sibuk?.” Tanya Carmel.
Ketiganya hanya menatap dan diam.
“Baiklah. Padahal aku baru saja berpikir untuk mentraktir kalian semua makan malam nanti !.” Pancing Carmel.
“Benarkah?.” Tanya Feng antusias.
“Aku tidak sibuk...” Ujar Karin.
“Aku juga tidak.” Celetuk Feng lagi.
“Dan Daren? Bagaimana denganmu ?.” Tanya Carmel.
Wajah Daren tampak sangat serius, membuat semua orang penasaran apakah dia tidak berminat untuk ikut !
“Bagaimana aku bisa menolak makan malam gratis ku...Tentu saja aku ikut...” Ucap Daren.
Semua bersorak.
“Ah. Orang ini. Kenapa wajahmu harus seserius itu..” Kesal Karin, ingin memukul kepala Daren.
“Hei... Apa yang salah dengan wajahku.” Balas Daren berlaga bodoh.
Dan semuanya tertawa bersama.
“Tapi ngomong-ngomong apa kau sedang merayakan sesuatu? Kenapa tiba-tiba mengajak keluar...” Sahut Daren lagi dari meja kerjanya yang hanya berjarak beberapa meter dari Carmel.
“Owh.. Apa jangan-jangan.....”
“Jangan-jangan apa....” Tanya Feng.
“Jangan-jangan Carmel sudah berpacaran dengan Tuan Chen !.” Ucap Karin.
“Oh My God... Mel... Apa itu benar... Akhirnya kau menemukan jodoh mu.” Ucap Feng haru.
“Hei... Pikiran bodoh apa itu. Tidak ada hal seperti itu. Aku hanya merindukan kalian !.” Seru Carmel.
“Benarkah? Sayang sekali padahal aku berharap---.”
“Berharap apa? Jangan berharap hal seperti itu ! Itu tidak akan terjadi...” Balas Carmel.
“Tapi itukan bisa saja !.”
“Ah. Sepertinya makan malam kali ini kita batalkan saja !.” Ucap Carmel.
“Eh. Aku hanya bercanda... Jangan dimasukan kehati seperti itu.” Ucap Feng, agar Carmel tidak membatalkan niatnya.
“Hahaha. Iya aku juga hanya bercanda. Tapi aku serius jangan membahas tentang Tuan Chen lagi !.” Ucap Carmel memperingati.
....
Malam harinya.
Carmel pulang setelah menghabiskan waktunya bersama Karin, Feng dan Daren. Tapi ia malah dikagetkan dengan adanya Lim, seseorang yang paling tidak ingin di lihat Carmel saat ini.
“Lim ? Apa yang kau lakukan disini !?.”
“Menunggu mu ! Dari mana saja kau ?.” Tanya Lim.
“Pulanglah...” Carmel melewati dan mengabaikan Lim begitu saja.
“Carmel bisakah jangan seperti ini ? Berhentilah.” Sahut Lim, memohon.
“Kenapa? Apa kau sudah lelah sekarang ? Itu hal yang bagus !.”
“Tidak ada yang bisa menghentikan ku !.” Tandas Lim.
“Apa kau sudah selesai. Aku mau ke rumah sekarang. Selamat malam Tuan Lim.” Ucap Carmel berjalan lurus, tak ingin banyak berkata, tak ingin banyak berdebat, ia hanya ingin segera menjauh dari pria ini.
Jpppsstt...Suara yang membuat langkah Carmel akhirnya terhenti lagi.
“Lim...” Ucap Carmel. Melihat Lim yang terjatuh di atas tumpukan salju yang menumpuk.
“Lim...Aku tidak suka kau bercanda seperti ini !.”
Carmel sempat ragu, tapi melihat Lim yang tidak menjawabnya. Membuat Carmel segara kembali untuk menolong pria itu.
“Lim...Lim...” Carmel mencoba menyadarkan Lim. Wajah dan tangannya sangat dingin, entah sudah berapa lama dia berada di sini menunggu Carmel.
“Mel...Maafkan aku !.” Pinta Lim lemah.
“Dasar bodoh ! Kau masih bisa mengatakan itu. Cepat bangun...” Carmel menarik Lim berdiri dengan sekuat tenaganya. Setelah berhasil. Lim langsung memeluk Carmel.
“Aku merindukanmu.” Ucap Lim, terus memeluk Carmel.
“Berapa lama kau berada disini? Apa kau ingin mati konyol !.” Omel Carmel.
“Aku akan disini sampai kau mau mengubah keputusanmu. Aku tidak mau kau pergi Carmel..” Pinta Lim.
“Aku tidak bisa... Jadi pulanglah, percuma menyiksa dirimu sendiri seperti ini !.”
“Kalau begitu pergilah. Jangan pedulikan aku... Aku tetap akan disini, sampai wanita yang kucintai mengatakan bahwa dia juga sangat mencintaiku !.” Tegas Lim.
“Kalau begitu katakan kau tidak akan meninggalkanku ! .”
“Tidak ! .” Tolak Carmel.
“Baik. Kalau kau masih berkeras hati. Pergilah masuk kedalam. Karena aku hanya akan pergi jika kau mau mengatakan hal tadi.” Tandas Lim.
“Jangan membuatku menjadi jahat hanya karena hal bodoh seperti ini Lim...” Marah Carmel.
Lim hanya diam....
“Oke baik. Aku pergi. Terserah sampai kapan kau mau berdiri disini. Tapi ku sarankan kau pergi saja, karena itu percuma.” Carmel serius, ia pergi meninggalkan Lim ditempat itu.
Carmel menatap keluar jendela. Salju terus berjatuhan dengan derasnya. Entah Lim sudah pergi atau tidak... Tentu saja Carmel sangat mengkhawatirkan pria itu.
Ku harap kau sudah pulang Lim, kau tidak perlu membuat dirimu seperti ini. Jika ada yang harus tersakiti, jika harus ada yang terluka biarkan itu hanya aku saja !
Carmel terus berharap, tapi dia terus saja berpikir bahwa Lim masih berada disana. Bagaimana jika Lim tidak bertahan, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Semua pikiran buruk terus menghantui Carmel.
“Jika kau masih disana aku akan menghajar mu Lim !.” Umpat Carmel, dia berlari sambil berharap tidak terjadi hal buruk disana. Apa lagi ini sudah hampir satu jam lebih, Carmel meninggalkan pria itu di luar sana dengan cuaca seburuk ini.
Carmel sampai ditempat ia meninggalkan Lim tadi, ia bisa bernafas lega karena pria itu tidak ada lagi disana.
“Bodoh ! Seharusnya aku tidak mengkhawatirkan orang itu !.” Batin Carmel.
“Uhuk..Uhuk...”
Baru saja beberapa langkah Carmel mau meninggalkan tempat itu, niatnya terhenti, karena jelas masih ada seseorang di tempat itu.
“LIM ABRAHAM HARUS BERAPA KALI AKU BILANG PADAMU, BERHENTI MELAKUKAN INI !.” Kesal Carmel, menghampiri Lim yang duduk di sudut jalan sana.
“Kenapa kau melakukan ini !.”
“Karena aku mencintaimu !.”
“Apa kau tidak bisa berhenti mengatakan itu.”
“Tidak. Aku mencintaimu.” Ulang Lim.
“Kau tidak bisa seperti ini Lim !.”
“Aku mencintaimu Carmel.” Lim terus mengatakan kalimat itu berulang-ulang.
“Ayo ikut aku kenapa kau membuat ini sulit untuk kita !.” Marah Carmel. Meskipun begitu, ia tidak bisa menutupi kekhawatirannya melihat Lim yang sekarang.
“Tidak sebelum kau mengatakan itu. Aku tidak akan pergi dari tempat ini.” Lim tetap ngotot bertahan.
“LIM ! Aku mohon. Kau bisa sakit jika terus berada disini. Ayo kita bicara di tempatku !.”
“Katakan Mel !.” Pinta Lim. Wajahnya sudah memucat, dan tumbuhnya terlihat sangat menggigil.
“Lim aku mohon..” Carmel menangis meminta Lim untuk menuruti permintaanya.
“Aku juga memohon Carmel...”
“Kenapa kau harus seperti ini. Ayo berdirilah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Carmel kembali menarik Lim. Tapi pria itu terus berkeras hati untuk tetap disana.
“Kau tidak tahu betapa sakitnya aku melihatmu seperti ini---” Tangis Carmel.
Lim akhirnya mau berdiri setelah melihat Carmel menangis tersedu-sedu dihadapannya.
“Kau harus mengatakan itu dulu Carmel, jika tidak aku---.”
“Ya oke fine. AKU SUDAH MEMAAFKAN MU LIM.” Ucap Carmel menyerah.
“Kau---.” Belum sempat Lim menyelesaikan kalimatnya, Carmel kembali memotongnya lagi.
“YA AKU SANGAT MENCINTAIMU LIM. SEKARANG KAU MAU APA ! KAU MAU MEMBUATKU SEPERTI ORANG BODOH LAGI.”
Hiks...Hiks...Hiks...
“Mel...”
“Jangan bicara... Sekarang ikut denganku !.” Carmel menarik Lim untuk menyingkir dari tempat itu.
.....
Hening....
“Ini pakai ini...” Carmel menyelimuti Lim dengan beberapa selimut yang dia miliki di rumah. Tapi tetap saja itu tidak bisa terlalu membantu, nyatanya Lim masih saja merasakan dingin.
“Kita ke rumah sakit sekarang ! .” Carmel segera bangkit, ia tidak tahan melihat tubuh Lim yang terus menggigil seperti itu.
Taapps.. Lim menahan tangan Carmel.
“Aku tidak ingin kemana-mana...Aku hanya ingin disini.”
“Tapi Lim...”
Brugh... Carmel terjatuh di samping Lim yang sengaja menariknya agar tidak pergi.
“Begini saja... Aku akan baik-baik saja.” Pinta Lim menarik masuk Carmel dibawah bed cover yang diberikan Carmel padanya barusan.
“Lim----”
“Sttttssss... Aku tidak ingin apa-apa Mel.” Ucap Lim, memeluk Carmel.
“Kau dingin sekali...” Carmel bisa merasakan dingin nya kulit Lim yang menyentuh tubuhnya.
“Ini akan segera hilang. Memelukmu saja sudah cukup menghangatkan ku.” Ucap Lim, terus memeluk Carmel.
Bersambung...