Shattered

Shattered
The Last



Keberuntungan berpihak pada mereka,hujan mengguyur deras membuat padam api yang membakar lahap rumah itu. Muaz dapat mendengar derasnya hujan dari bawah tanah.


"Az,hujan?" tanya Hazel,wanita itu baru saja menenangkan kedua putranya yang menangis kencang. Tentu saja,mereka kewalahan untuk keluar lantaran tidak ada jalan keluar selain menunggu didalam tempat yang pengap. Hazel walaupun sudah melahirkan tetapi dirinya sedang diambang kondisi tidak stabil. Banyaknya pendarahan yang diakibatkan saat melahirkan tidak pada waktunya membuat wanita itu terkulai lemas dan mulai pucat.


Muaz sangat khawatir dengan keadaan istrinya,ia terus berpikir mencari cara agar keluar dari tempat dan segera membawa Hazel kerumah sakit.


"sial!" umpatnya pelan karena merasa buntu tidak tau harus berbuat apa.


Bruuk.


Muaz terkejut mendengar suara jatuh itu,ia pun bergegas melirik kebelakang dan terkejut mendapati Hazel tidak berdaya dilantai.


"Hazel!!!" Muaz langsung menggendong Hazel berbaring di kasur. Dapat ia lihat darah kembali keluar dari bawah istrinya. Muaz semakin cemas dan bingung ditambah lagi, anak-anaknya menangis kencang.


"ya ampun,apa yang harus kulakukan?"


***


Beyza merasa gelisah,lalu bergegas menghampiri suaminya.


"Iram,sudah dapat kabar?" tanyanya menatap penuh harap dengan pria itu. Iram menggeleng pelan,baru kali ini ia tidak bisa melacak keberadaan adik iparnya itu. Beyza yang mendengar hal itu semakin gelisah menatap ponselnya. Berharap Muaz ataupun Hazel menghubunginya.


"tenanglah sayang,kau sedang hamil."


"bagaimana aku bisa tenang,sedangkan adik-adikku dalam bahaya,ditambah Hazel berperut besar. Aku tidak ingin mereka kenapa-napa ram." lirih Beyza lagi. Iram langsung memeluk istrinya lembut, "kita berdoa aja yang terbaik,semoga mereka segera ketemu."


Braaak. suara pintu itu langsung membuat kedua manusia terkejut menoleh kearah seseorang.


"ma-maaf tuan,nyonya. Saya mengagetkan kalian,hosh...hosh adik-adik anda sudah ditemukan!"


"dimana?!"


"di daerah terpencil tuan,mari ikut saya." ucapnya lagi lalu membimbing tuan dan nyonyanya menuju tempat dimana Hazel dan Muaz berada.


Menggunakan pesawat pribadi mereka langsung menuju ke tempat lokasi Hazel dan Muaz berada. Disana Beyza menjerit histeris saat melihat rumah yang hangus terbakar adalah tempat Muaz dan Hazel berada.


"tenang sayang,tenang." lirih Iram menenangkan istrinya,ia terus memeluk istrinya yang tengah menangis itu.


"bagaimana bisa aku tenang Ram?! tidak mungkin!!!" histeris Beyza lagi,ia tidak menyangka adik-adiknya telah tiada.


"Tuaaan!!!" teriak salah satu pengawalnya membuat mereka menoleh kearah pengawal itu.


"ada apa?" tanya Iram langsung berjalan kearah pengawal itu diikuti Beyza.


"tuan,ada pintu kecil disini!" ucapnya lagi spontan membuat Iram langsung membuka pintu itu cepat.


"Ram,apa mereka??"


"sepertinya,kau tunggu diluar aja, biar aku masuk. Kalian jaga Beyza!" titah langsung masuk kedalam ruang bawah tanah itu. Ia pun berjalan pelan sampai ia menemukan satu pintu kayu yang tertutup. Samar-samar ia mendengar suara tangisan bayi didalamnya,dibukanya alangkah terkejutnya ia mendapati Muaz tergeletak tak berdaya sambil menggendong bayi begitu juga Hazel yang menggendong bayinya satu lagi.


"astaga,jangan bilang Hazel melahirkan disini??" Ia pun langsung bergegas memanggil pengawalnya untuk membawa mereka berdua keluar. Beyza langsung menggendong salah satu bayi Hazel begitu juga dengan Iram yang ikut menggendong bayi Hazel yang satu lagi.


"syukurlah,mereka baik-baik saja." ucap Beyza lega ternyata adiknya masih hidup


"bawa Muaz dan Hazel kerumah sakit sekarang!!" pintanya langsung dianggukan semuanya.


Beyza menitik air mata saat melihat kedua putra adiknya terlihat tampan dan cubby.


"untung kita tidak terlambat Ram," lirihnya masih memandang kedua bayi itu.


"tidak kusangka Hazel melahirkan disitu,kau bilang waktu itu Hazel masih delapan bulan kan?"


"iya,jadi mereka??"


"aku rasa mereka harus dirawat dulu,biarkan dokter yang memeriksa mereka semua. Papaku hampir saja membunuh mereka semua didalam itu. Untung saja mereka langsung masuk kedalam ruang kecil itu."


"aku harus melaporkan kejahatan papamu Ram,ini sudah keterlaluan!"


"aku setuju,walaupun dia papaku. Tapi tindakannya sudah diluar akal sehat. Aku tidak ingin terjadi lagi seperti ini." lirihnya pelan menatap bayi yang ia gendong saat ini.


***


Samar-samar Hazel mendengar suara orang dan ada cahaya putih disekitarnya, Hazel membuka matanya perlahan dan terkejut mendapati dirinya saat ini di rumah sakit.


"Hazel tenang." ucap Beyza sambil menggendong bayi Hazel,Hazel melirik kakak iparnya ia pun langsung memeluk kakak iparnya.


"kak,aku takut." lirihnya sambil memeluk Beyza.


"tenanglah,kau sudah aman sekarang. Nih lihat anakmu." ucap Beyza menunjukkan bayi Hazel pada wanita itu.


"oh sayang mama." ucap Hazel langsung menggendong putranya itu.


"ternyata kau sangat hebat ya Zel." ucap Beyza membuat Hazel menoleh kearahnya,"hebat kenapa kak?"


"kau melahirkan diusia kandungan delapan bulan, itu sebenarnya sangat fatal melahirkan di usia kandungan segitu. Dan juga kau banyak mengalami pendarahan yang hebat,untung saja kami langsung membawa kalian kerumah sakit." jelas Beyza lagi,sesekali wanita itu mencubit pelan hidung mancung putranya Hazel.


"dimana putra keduaku?" tanya Hazel lagi memandang Beyza hanya membawa putra sulungnya.


"tenang lah, putramu baik-baik saja,sekarang dia inkubator dulu." ucap Beyza menenangkan Hazel. Hazel menghela napas lega,lalu merasa janggal melirik sekeliling ruangan.


"dimana Muaz?" tanya Hazel tidak melihat sama sekali suaminya.


Beyza sedikit terdiam,lalu menoleh kearah seseorang yang tengah terbaring disebelah kasur Hazel. Hazel pun mengikuti arah pandang Beyza terkejut mendapati suaminya masih dalam keadaan tidak sadar.


"Az,dia kenapa?" tanya Hazel seraya ingin menggapai suaminya, Beyza menahan Hazel.


"Hazel,kau jangan banyak bergerak dulu,Muaz baik-baik saja. Hanya saja dia belum sadarkan diri." ucap Beyza.


"dia sakit apa?" tanya Hazel.


Beyza menghela napas pelan, "Muaz mengalami cedera dibagian perutnya,karena dia sempat memuntahkan darah dan tidak segera diobati waktu itu membuat infeksi luka pada bagian perutnya. Tapi tenang,kata dokter dia akan baik-baik saja."


"syukurlah."


"kau juga harus banyak istirahat Zel,kasian anak-anak kalian,mereka membutuhkan asi mu."


"baiklah kak,"


"hmm kalian sudah memberi nama belum pada mereka?" tanya Beyza penasaran.


"Baiklah,istirahatlah kalian dulu."


"oke kak,sekali lagi terimakasih kak sudah menolong kami." ucap Hazel tulus.


"sama-sama sayang,kalian memang sangat berharga bagiku. Jaga diri kalian baik-baik. Untuk urusan ini biar aku yang tangani."


"kak." panggil Hazel menatap ragu kearah Beyza.


"ada apa?" tanya Beyza menatap adik iparnya.


"biar aku yang menangani masalah Papa Iram,tapi sebelum itu aku ingin berbicara dengan suamimu kak, boleh?" tanya Hazel menatap Beyza,Beyza mengangguk pelan lalu keluar memanggil Iram.


Iram masuk bersama Beyza berjalan kearah Hazel.


"apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Iram langsung.


"apa kau tidak akan mencegah hukuman untuk Papamu nanti kan?" tanya Hazel menatap Iram yang kini menjadi kakak iparnya.


Iran melirik kearah Beyza lalu menoleh kearah Hazel lagi. "tidak, lakukan apa yang menurutmu benar Zel. Apapun keputusanmu akan aku setujui. Papaku sudah membuat kalian dalam bahaya,jadi hukum seadil-adilnya."


"lalu kakakmu akan setuju dengan keputusanku?" tanya Hazel lagi.


"jika kau memikirkan perasaan orang dibawah penderitaan mu sendiri,kau tidak akan bisa pernah bahagia dan mendapat keadilan. Kau,Muaz,bahkan mama sekalipun adalah korban dari keegoisan Papaku. Lakukan dengan benar Hazel." ucap Iram tegas. Hazel mengangguk pelan, "terimakasih Ram."


"sama-sama yasudah kami pulang dulu. Beyza tidak boleh terlalu lelah." ucapnya sambil mengelus perut istrinya. Lalu ia menoleh kearah seseorang disamping Hazel, "aku yakin,ada orang yang sedang menunggu mengusir kami secara halus,kami pulang dulu yaa." sindir Iram menatap Muaz yang masih terbaring.


Hazel tersenyum simpul melihat kemesraan mereka, "semoga pernikahan kalian semakin harmonis."


"kau juga,aku berharap Muaz segera siuman." ucap Beyza sambil tersenyum tipis. Mereka pun berpamitan dengan Hazel dan keluar.


"apa mereka sudah pergi?" tanya seseorang membuat Hazel terkejut menoleh kesamping.


"kamu sudah si-siuman??!" teriak Hazel saat menoleh menatap Muaz sudah duduk ditempatnya. Muaz mengangguk pelan lalu menatap putranya yang kini dalam pangkuan Hazel


"sudah daritadi,anak kedua kita masih diinkubator ya?"


"iyaa."


"kami mau ngasih nama anak kita apa?" tanya Muaz menatap putranya yang sudah tertidur pulas. Hazel melirik kearah Muaz, "Arshal untuk anak pertama kita dan Daiyan untuk anak kedua kita." ucap Hazel lalu menatap putra sulungnya.


"nama yang bagus aku suka itu." ucap Muaz turun dari kasurnya perlahan-lahan lalu duduk dibibir kasur Hazel.


"aku mencintaimu Zel, terimakasih sudah mau bertahan." ucapnya tanpa basa-basi langsung mencium bibir Hazel. Hazel terdiam lalu tak lama ia pun membalas ciuman suaminya.


***


"saya menyatakan akan memberikan hukuman mati kepada tuan Liam Alfred. Pernyataan ini saya buat berdasarkan kasus dan korban yang dibuat oleh beliau!" ucap Hakim tegas sambil mengetuk palunya yang menyatakan pernyataannya tidak bisa diganggu gugat.


Benar,Liam sudah ditangkap semalam disaat pria itu lengah tanpa pengawal yang biasanya selalu mengikutinya dan juga Bahar memberikan surat cerai padanya tepat disaat dirinya ditangkap. Membuat Liam semakin memberontak dan berusaha melepaskan dari jeratan polisi. Namun,kini ia sudah terjebak dan tidak bisa melakukan apa-apa.


Daren yang menatap Papanya akan dihukum mati hanya bisa pasrah menatap dari balik jeruji besi. Ia sedikit muak dengan keadaannya saat ini. Sedangkan Iram hanya menatap dingin kearah Papanya yang sudah dinyatakan hukum mati itu. Ia pun menghela napas pelan,menemui Papanya.


"Papa,kalau waktu boleh diputar. Seharusnya kau tidak melakukan kesalahan ini semua." ucapnya dingin lalu membawa Beyza keluar dari ruang sidang itu tanpa menoleh atau mengucapkan perpisahan pada Papanya itu


Begitu juga Bahar hanya sesekali menitik air mata sambil menggendong Ara menuju tempatnya Liam.


"kau boleh melihat anakmu sekali ini aja Liam,setelah itu kau bisa tenang disana. Maaf aku tidak bisa lama-lama disini." ucap Bahar sedikit dingin. Liam semakin memberontak ingin merampas anaknya,untung saja aparat keamanan langsung mencegahnya.


"bawa dia keruang eksekusi!!!"


Bahar langsung berbalik badan dan berjalan keluar dari ruang sidang itu. Rasa hatinya sedikit longgar dan tentram saat menginjakkan kaki keluar dari sana.


"nak,kita sudah bebas sayang." ucapnya menatap putri kecilnya yang menggemaskan itu. Begitu juga Hazel dan Muaz mereka sama-sama menggendong bayi mereka masing-masing menghampiri bundanya.


"bunda." ucap Muaz membuat Bahar menoleh kearahnya.


"sayang,ya ampun cucu bunda imut sekali." ucap bunda sambil menoel pipi tembam Daiyan. Sedangkan Arshal berceloteh ria dengan Ara.


"Bunda,adeknya imut sekali." ucap Ara memandang Arshal lekat.


"iyaa sayang,nah kamu sekecil ini sudah punya dua keponakan lucu." ucap Bunda.


"bukan dua bunda, nih tambah satu." ucap Beyza yang baru saja nimbrung bersama Muaz dan yang lainnya. Mereka sesekali tertawa pelan melihat aksi kecil yang ditunjukkan oleh Ara.


Hazel sangat bahagia melihat keluarga Muaz akhirnya berkumpul lagi,begitu pun juga dengan keluarganya yang saat ini sudah sangat menyayanginya. Mami dan Papinya turut bahagia berkumpul bersama mereka. Mereka pun memutuskan untuk tinggal bersama dirumah besar milik keluarga Hazel. Tidak ada yang merasa keberatan justru malah bahagia karena kini mereka sudah bersatu dan suasana tampak ramai.


Hazel bersyukur semuanya sudah tersenyum,dan tidak ada lagi permusuhan. Hazel melirik suaminya yang juga melirik kearahnya. Sambil berpegangan tangan masuk kedalam rumah besar itu.


"aku mencintaimu Hazel."


"aku juga mencintaimu Az."


Mereka pun akhirnya masuk dan menyambut suka ria rumah itu.


Tamat


Note :


Assalammualaikum, halo semuanya.


Terimakasih sudah bersedia menjadi pembaca novelku. Memang terasa singkat,tapi memang dari awal tujuanku hanya membuat 60 bab saja. Aku sangat berterimakasih pada kalian,berkat kalian juga novel ini akhirnya tamat.


Jangan lupa tinggalkan jejak like,comment,dan favorit nya agar aku lebih semangat mengupload novelnya lagi.🥰


Aku menunggu feedback dari kalian,supaya kedepannya aku bisa menulis lebih baik lagi. Maaf jika selama pembuatan novelnya,aku tidak setiap hari. Dikarenakan aku buntu dalam ceritanya dan juga ada kesibukan duniawi hehehehe.


Nah, kalian juga bisa baca novelku yang lain. Tinggal klik profilku maka muncul novelku yang lainnya. Aku tunggu kehadiran kalian yaa,kita berjumpa lagi di novelku yang lain.


Kalau boleh kalian bisa memfollow Ig ku : _water_blue2


Wassalamu'alaikum.


Salam hangat dariku,


WaterBlue🥰