
Muaz melihat para anak buahnya tetap berdiri didepan apartemennya,ia pun langsung menyuruh semuanya kembali ke tempatnya. Muaz langsung masuk kedalam apartemen.
"huft,capek." Muaz berjalan mengambil minuman dingin dikulkasnya,setelah meneguk habis ia pun langsung masuk kedalam kamar. Ia sedikit merasa heran lampu kamarnya mati,tapi ia tidak memperdulikan itu dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah itu ia pun memakai pakaiannya dan membaringkan dirinya dikasur tanpa menyadari jika ada seseorang tengah tertidur pulas. Muaz memiringkan badannya sambil memeluk Hazel yang ia kira bantal gulingnya.
kenapa bantal ini harumnya seperti Hazel?. Gumamnya dalam hati tapi ia kembali memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk itu. Ia lupa jika dirinya sendiri yang menyuruh Hazel tidur ditempatnya.
Pagipun tiba,sinar menerpa jendela kamar membuat salah satu manusia yang nyenyak dalam tidurnya terganggu dengan sinar yang mengenainya. Hazel membuka matanya perlahan terkejut melihat wajah tampan suaminya. Seperti biasanya Hazel ingin memotret wajah damai suaminya,tetapi baru menyadari jika dirinya kini dalam pelukan suaminya. Hazel sama sekali tidak bisa bergerak dari tempatnya,dengan perlahan-lahan ia bergerak tanpa membangunkan seseorang disampingnya. Dilepasnya tangan Muaz yang melingkar di pinggangnya,lalu bergerak sedikit menjauh.
Muaz merasa terganggu dengan tidurnya,perlahan ia membuka mata melihat Hazel berusaha menjauh darinya,ia tersenyum tipis tanpa Hazel sadari. Muaz seketika baru teringat,jika Hazel tidur ditempatnya dan artinya semalaman yang ia kira memeluk bantal guling ternyata adalah istrinya.
Pantas saja tidurku nyenyak. gumamnya senang langsung menarik Hazel dalam pelukannya.
"kyaa." pekik Hazel terkejut Muaz ternyata sudah bangun dan menariknya dalam pelukan pria itu.
"kenapa?" tanya Muaz menatap lekat istrinya.
gleek.
"ya ampun suaranya seksi banget." gumam Hazel tanpa sadar terucap dari mulutnya. Muaz menahan tawanya menatap istrinya,lalu mengecup pelan pipi istrinya, "kau itu jujur kali." gelaknya membuat Hazel tersipu malu menenggelamkan wajahnya didada suaminya.
"boleh?" tanya Muaz menatap istrinya lagi,Hazel mendongak menatap bingung kearah Muaz.
"boleh apa?" tanya Hazel polos menatap suaminya.
Muaz menghela napas lalu mencium bibir istrinya. Hazel terkejut dengan tindakan Muaz tiba-tiba, seketika ia mengerti maksud suaminya. Hazel langsung mengalungkan tangannya ditengkuk suaminya.
"boleh." jawab Hazel tersipu malu.
***
Beyza bangun dari tidurnya sambil menggaruk-garuk punggungnya berjalan gontai keluar kamar.
"hoaam." Ia melirik sekeliling apartemen tidak menampakkan siapapun. Lalu ia mendengar ada suara yang aneh dari kamar sebelah,perlahan ia mendekati kamar itu tetapi suara dering ponselnya berbunyi keras dari kamarnya. Beyza berdecak kesal langsung mengambil ponselnya ke kamar Hazel.
"hallo."
"maaf bos kami mengganggu ini darurat." seru Eddy dari seberang sana.
"ada apa?" tanya nya sambil mencuci muka,lalu mengenakan jaketnya.
"dua tawanan kita lepas." ucapnya pelan takut akan disemprot oleh bosnya. Beyza menghela napas kasar, sambil menyisir rambutnya dengan tangan berjalan kearah pintu apartemen, "aku akan kesana." ucapnya langsung mematikan ponselnya,ia sempat melirik kearah kamar yang membuatnya penasaran.
"apa yang sedang mereka lakukan disana? ck sudahlah untuk apa aku peduli." gerutunya pelan sambil memasang sepatu sneakersnya.
Beyza langsung keluar dari apartemen langsung menuju parkiran. Tanpa sengaja ia melirik kearah mobil Muaz.
"apa dia pergi semalam?" gumamnya saat sudah masuk kedalam mobil Muaz. Ia pun langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran.
"maaf bos." lirih mereka bersamaan sambil menunduk didepan Beyza. Beyza kini melirik kearah ruangan tempat penyekapan Daren dan pria paruh baya itu terlihat berantakan.
"katakan apa yang terjadi semalam!" serunya langsung duduk dikursi didekatnya menatap tajam kearah semua pengawalnya.
Beyza hanya mengangguk mengerti,tetapi tidak ada menunjukkan tanda-tanda kemarahan diwajahnya.
"baguslah." ucapnya sambil menepuk kedua tangannya sekali,lalu tersenyum kearah semuanya. Semua pengawalnya dibuat melongo menatap tidak percaya kearah bosnya yang hanya santai dan bersikap biasa saja tentang masalah ini.
"kenapa kalian menatap ku seperti itu? santai saja aku nggak marah kok." ucapnya lagi.
"maafkan kami bos." lirih mereka menunduk hormat kearah bosnya.
"ku maafkan kalian,hmm tapi aku ada tugas khusus untuk kalian." ujarnya sambil melirik sekitar ruangannya.
"apa itu bos? akan kami lakukan sepenuh hati kami." ucapnya dengan yakin.
"lima orang membersihkan semua tempat ini dan selebihnya ikut aku." titahnya langsung dianggukan oleh anak buahnya.
Beyza berjalan keluar markasnya,ia pun melirik tanah becek disekitar markasnya.
"satu,dua,tiga....hmm ternyata mobil yang menjemputnya banyak juga." gumam Beyza melihat jejak bekas ban mobil di sekitaran tanah.
"Eddy!" panggil Beyza
Eddy langsung menemui bosnya, "ada apa bos?"
"kau ada merekam apa yang aku suruh kan?" tanya Beyza langsung dianggukan Eddy.
"bagus,kirim filenya ke emailku,dan kalian selidiki lagi kenapa bisa mereka masuk kesini tanpa kalian tau. Cari tau penyebabnya sekarang." titah Beyza langsung dikerjakan anak buahnya.
Beyza melihat sosok bayangan dibalik rumah kecil disekitar markasnya. Sangat mencurigakan dengan perlahan Beyza langsung menghampiri bayangan itu.
Tanpa ia duga,sosok bayangan itu langsung menyergapnya dari belakang. Beyza berusaha lepas dari cekalan pria itu,saat ia mau memukul dengan sikunya tiba-tiba pria itu menyuruhnya tetap diam.
"ssttt diam,kalau kau berisik kau bisa mati." bisiknya membuat Beyza berhenti memberontak. Tunggu,ia mengenal suara pria yang menyergapnya itu yang tak lain adalah Iram.
"kau?!" ketusnya hampir saja ia menggigit keras lengan pria itu sebelum kepala nya ditahan oleh Iram.
"cih,tenanglah." bisiknya lagi
"lepaskan aku atau aku teriak!" ancam Beyza
"baiklah...baiklah." pasrah Iram langsung melepaskan Beyza,Beyza berbalik dan menampar keras pipi Iram.
Plaak. Beyza menatap nyalang kearah Iram,sedangkan Iram terdiam sambil memegang pipinya yang habis ditampar Beyza. Iram menatap Beyza dingin,sorot matanya membuat Beyza secara tidak langsung menelan salivanya. Iram langsung memegang kuat lengan Beyza hingga Beyza meringis kesakitan. Beyza harus berputar otak mencari cela agar keluar dari cengkraman pria gila itu. Saat Beyza memberontak tiba-tiba Iram jatuh pingsan kearahnya. Ia begitu syok karena tubuhnya menempel dengan tubuh Iram.
"oi bangun!! Iram! Ram!" panggil Beyza berusaha menggeser tubuh Iram darinya. Tidak ada sahutan dari pria itu,membuat Beyza sedikit cemas.
"Hei Ram jangan bercanda!" serunya sambil menepuk pipi Iram berulangkali,namun tidak ada juga sahutan dari pria itu.
"astaga seriuslah? masa iya kau pingsan Ram?!" Beyza sedikit panik berusaha membangunkan Iram dengan segala cara. Tidak membuahkan hasil Beyza melihat pernapasan Iram naik turun,artinya pria itu masih hidup.
"aku tidak mungkin membawanya sendiri,lihatlah badan kecilku tidak akan mungkin kuat mengangkatnya." gerutu Beyza,ia ingin menyuruh pengawalnya mengangkat Iram. Tapi, entah kenapa hari nuraninya mengatakan jika kedatangan Iram tidak boleh diketahui dulu.
"hmm apa aku dekatin saja mobil kesini yaa??" gumamnya sambil memikirkan ide untuk membawa Iram. Sekilas melirik pria itu,tanpa berpikir lagi Beyza langsung mengambil mobilnya.